Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
42


__ADS_3

Andra membaca pesan dari Azimah. Ia hanya menghela nafas. Hari ini ia berniat mengunjungi makam mendiang istrinya. Membawa Anastasia untuk mengatakan bahwa ia akan memulai hidup yang baru bersama Azimah...


Kata-katanya tentang pernikahan bukanlah bualan semata. Ia memang benar-benar ingin menjadikan Azimah istrinya. Entah mengapa Azimah tak mempercayainya...


Di lain tempat, Azimah merasa malas untuk bekerja. Ia hanya membolak-balik berkas dan sesekali mengetik di layar komputernya..


Hari ini matanya hanya tertuju pada ponselnya. Berharap Andra menghubunginya kembali. Entah mengapa saat jauh dari Andra membuatnya merasa kehilangan. Tapi ketika berada di dekat Andra ia malah ingin membuat Andra pergi menjauh darinya. Perasaan inilah yang membuatnya tak yakin untuk memulai hal baru bersama Andra. Ia takut jika hubungan mereka akan kandas di tengah jalan dan makin memperkeruh keadaan...




Setelah hari itu, Andra benar-benar tak menghubungi Azimah lagi. Ia tak menganggu Azimah lagi. Ia benar-benar menjauh dari Azimah. Azimah masih tetap melakukan aktivasnya seperti biasa namun dengan semangat yang berbeda. Ia sekarang lebih sering diam dan menyendiri. Bahkan Ronald dan Mei yang ingin mengajaknya keluar pun selalu Azimah abaikan.



Ada perasaan bersalah dalam hati Azimah. Perasaan bersalah tentang penolakannya pada Andra...



"Apakah kau akan menyerah?" batin Azimah..



Yang Azimah tak tahu adalah, saat ini Andra masih memikirkan mereka. Namun ia tak ingin memaksakan keadaan jika memang Azimah masih meragukannya. Ia hanya berharap dengan adanya jarak di antara mereka akan membuat perasaan ragu itu terkikis meski harus mengambil resiko Azimah benar-benar tak bisa ia miliki...



Malam ini, Andra mendapat telepon dari seseorang yang tak di kenal, mengatakan jika Azimah sedang berada dalam sebuah bar dan bersama seorang lelaki. Mendengar hal tersebut Andra segera menyusul Azimah di bar tersebut. Namun siapa sangka jika itu adalah sebuah jebakan. Jebakan yang membuat dirinya dalam bahaya...



"Siapa kalian?" tanya Andra datar...



"Kau tak perlu tahu kami! Kau hanya perlu menuruti smeua keinginan kami!" teriak dari salah seorang pria dengan tubuh kekar berotot..



"Apa yang kalian mau? Di mana Azimah?!" wajah dingin Andra masih meliputi Andra. Namun sorot matanya kini berubah lebih tajam menatap satu persatu orang yang berada didepannya.



"Tenang saja, kekasihmu itu aman selama kau bisa memberikan apa yang kami mau!"



"Katakan apa yang kalian inginkan?"



"Batalkan pengajuan penyelidikan tentang bahan material di cabang kalian. Jika kau ingin kekasih sekaligus anak sahabatmu itu selamat..." tegas seorang pria yang entah dari mana datangnya..



Bibir Andra naik setingkat. Membentuk sebuah senyuman sinis yang tak di mengerti para lawannya saat ini...



"Untuk apa kau tersenyum begini. Kau ingin Azimah Lu mati, huh?" timpal seorang lagi...

__ADS_1



Andra mengamati sekelilingnya. Saat ini ada enam orang yang sedang mengepungnya. Andra tersenyum lalu menatap seseorang yang lebih mendominasi di sana..



"Perlihatkan padaku dulu di mana Azimah. Aku ingin tahu keadaannya..." pinta Andra untuk mengulur waktu...



"Kau tak mempercayai kami? Apa photo tadi belum bisa membuka matamu lebar-lebar..."



"Aku percaya, jika tidak bagaimana mungkin aku bisa sampai kemari. Tapi kalian tahu, aku seorang pengusaha. Bernegosiasi untuk keuntunganku adalah caraku. Jadi jika kalian ingin keinginan kalian terpenuhi maka lakukan apa yang aku minta..." tegas Andra...



Andra masih terus mengulur waktu untuk mencari cara aman untuk menyelamatkan Azimah...



"Telepon pengacaramu dan katakan bahwa kau membatalkan pengajuannya. Setelah itu aku akan memperlihatkan wanitamu.." jawab seorang yang paling pojok..



Andra mengambil ponselnya dan mengatur pengeras suara agar semua orang bisa mendengarnya...



"Halo Tuan Lee, ada apa menghubungiku selarut ini...?" tanya orang di seberang telepon...




"Aku katakan batalkan!" teriak seorang yang mulai melangkah mendekat...



"Akan aku batalkan jika kalian membawa Azimah kemari. Jika tidak maka jangan harap. Keluar dengan nama pun masalah ini akan tetap di usut. Andreas tak akan diam dengan hal seperti ini" jelas Andra percaya diri...



"Sial... bawa dia kemari..."



Andra masih menyalakan sambungan ponselnya. Ia ingin memastikan Azimah terlebih dahulu agar bisa memutuskan langkah selanjutnya...



Seorang wanita di bawa dengan paksa mendekati mereka. Kepalanya tertutup dengan kain hitam dan hanya menyisakan mata. Andra menatap lekat-lekat perempuan yang di bawa bersama mereka. Kemudian dengan yakin ia bicara...



"Lanjutkan pengajuan tersebut..." kata Andra yakin kemudian memutuskan sambungan teleponnya dengan santai...



"Kau benar-benar ingin melihat dia mati..." seorang mendekat dan membubuhkan sebuah tamparan pada wanita tersebut. Wanita itu mengerang namun Andra tetap tenang...

__ADS_1



"Jika kalian ingin menipuku, maka kalian salah orang. Aku sangat mengenal Azimah dengan baik. Kau tahu, iris matanya sudah terpatri dengan baik di otakku. Kalian sia-sia" ujar Andra penuh kemenangan...



Andra hendak berbalik namun seorang hendak memukulnya, beruntung Andra melihat dan masih sempat menghindar. Perkelahian pun tak terelakkan. Andra di serang bersamaan oleh pria-pria kekar itu...



Dengan perbandingan yang tak seimbang membuat Andra sedikit kewalahan. Ia kehabisan nafas karena terus menangkis semua serangan yang datang silih berganti..



"Brasss...." sebuah sayatan mengenai bagian lengan Andra. Kemudian menyusul sebuah pukulan mendarat di pipi sebelah kanannya. Andra tersungkur hingga terjatuh di atas tanah. Ke enam orang tersebut mendekat bersamaan. Tawa kepuasan terdengar di mana-mana. Sekali lagi Andra mencari cara untuk lepas dari cengkraman pria-pria kekar tersebut.



Andra melihat sebuah balok besar tepat dibelakangnya. Dengan cepat ia meraih balok tersebut dan melayangkannya pada pria-pria itu kemudian berdiri dan melarikan diri...



Andra berlari tertatih menuju mobilnya. Menahan rasa sakit dari lengan yang terluka akibat sabetan senjata tajam. Dengan nafas tersengal Andra berhasil sampai pada mobilnya namun sayang lagi malang. Belum sempat Andra memasuki mobilnya sebuah tembakan melesat dan mengenai punggungnya..



Andra mendongak karena merasakan punggungnya tertusuk sebuah benda yang sangat panas. Namun ia tak ingin kehilangan kesempatan yang ada. Ia segera masuk ke mobil dan meninggalkan tempat itu...



Beberapa orang masih mengejarnya, namun kian lama kian menghilang. Setelah menemui jalan besar barulah Andra bisa bernafas dengan lega dan mengurangi laju kendaraannya. Ia tak tahu mana tempat yang kini harus ia tuju. Pulang tak mungkin dengan keadaan seperti ini. Ia pun memikirkan keadaan Anastasia. Bagaimana jika ada yang mengincarnya. Andra pun segera meraih ponselnya. Memikirkan siapa orang yang harus ia hubungi untuk menyelamatkan Anastasia. Saat ini hanya satu nama yang terlintas dibenaknya, dengan cepat Andra menghubungi orang tersebut...



"Hallo..." terdengar suara serak di seberang sana. Suara seorang wanita...



"Selma, bantu aku membawa Anas kerumah kalian. Ada yang sedang mengincar anakku. Bantu aku, aku tak bisa pulang saat ini. Aku percayakan Anas pada kau dan Iyas.. Tolong..." ujar Andra tersengal-sengal dan langsung memutuskan panggilan teleponnya...



Dengan sisa tenaga yang ada, Andra mengendarai mobilnya menuju tempat yang begitu ingin ia pastikan. Sementara darah sudah mulai membasahi bajunya. Mengalir hingga kecelananya. Andra mengabaikan hal tersebut, ia hanya bisa bernafas lega ketika memastikan Azimah aman. Ya Azimah... Tujuannya adalah Azimah...



\*\*\*



NB:


Ingin tahu cerita sebelumnya dari Azimah. Baca karya novelku "Pernikahan kontrak".


Baca juga, ceritaku yang lainnya...


"Haruskah aku mengalah pada takdir?"



Terimakasih!

__ADS_1


__ADS_2