
Azimah masih berada di rumah Andra meski dirinya sedang merajuk pada Andra karena Andra yang tak ingin memberhentikan Maria sebagai pengasuh Anastasia. Andra sendiri nampak serba salah menanggapinya.
"Aku pulang!" ujar Azimah ketus.
"Ya sudah. Kita pulang sekarang" jawab Andra menyetujui dan mulai beranjak dari tempatnya.
"Kau yakin tidak akan memecat Maria meskipun aku yang memintanya?" tanya Azimah sekali lagi.
Andra menghela nafas panjang mendengarnya. Entah mengapa Azimah begitu ingin memecat Maria padahal Maria tidak memiliki kesalahan selain kesalahan kelalaiannya tempo hari. Namun itu sudah berlalu, Andra tidak bisa menggunakan alasan itu untuk memecat Maria sekarang.
Andra menarik Azimah kembali untuk duduk, ia mencoba memberikan pengertian karena ia takut ketika keinginan Azimah tersebut tidak dipenuhi maka mereka akan kembali bertengkar dan Andra sudah sangat jengah dengan hal tersebut.
"Beri aku waktu untuk memecat Maria. Aku tidak ingin dikatakan sebagai manusia yang tidak berperasaan memecatnya secara sepihak" kata Andra.
Azimah tidak menjawabnya, ia hanya menatap Andra tajam seakan tidak puas akan jawaban yang Andra berikan padanya.
"Azimah, percayalah. Maria pasti aku pecat! Tapi tidak sekarang" tambah Andra kembali mencoba meyakinkan Azimah.
"Sekalipun hubungan kita sebagai taruhannya?" tanya Azimah lagi.
Andra semakin tidak mengerti jalan pikiran Azimah. Apa kaitannya antara hubungannya dan pekerjaan Maria.
"Apa maksudmu, Azimah? Kau cemburu padanya atau kau meragukanku?" tanya Andra masih dengan nada pelan.
"Aku tidak meragukanmu, And. Aku hanya tidak percaya pada Maria. Dia terlihat begitu ingin merebut kau dariku. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Aku ....,"
"Siapa yang akan merebutku darimu kalau aku yang memilih kamu sendiri?" ucap Andra tulus. Azimah nampak diam dibuatnya.
__ADS_1
"Azimah, aku mencintaimu dan aku tulus dengan hal itu. Aku tidak pernah melirik wanita lain ataupun akan tergoda pada wanita lain. Apakah cintaku saja tidak bisa membuatmu yakin, huh?" tanya Andra yang mulai meninggikan suaranya.
"Aku tidak mau tahu, aku ingin dia di pecat, And. Entah kenapa perasaanku tidak enak tentang dia. Pokoknya aku ingin dia di pecat!" kekeh Azimah membuat Andra kehabisan akal dibuatnya.
"Kita baru saja tenang. Tidak bisakah kau membuat hari-hari kita aman-aman saja?" keluh Andra.
"Aku akan aman saat dia jauh darimu. TITIK!" kata Azimah menekankan kata terakhirnya.
"Aku akan memecat dia, tapi tidak sekarang. Aku tidak bisa memecat seseorang hanya karena permintaan konyolmu ini, Azimah" teriak Andra frustasi.
"Permintaan konyol katamu? Kekhawatiran yang aku miliki kau bilang permintaan konyol. Andra sebenarnya yang menjadi kekasihmu itu siapa? Aku atau Maria? Kenapa kau begitu membelanya daripada aku?!" teriak Azimah tidak kalah lantang.
Andra mengusap wajahnya kasar. Semalaman penuh ia tidak tidur hanya untuk mewujudkan apa yang Azimah inginkan dan sekarang Azimah kembali meminta permintaan yang sulit baginya. Andra sudah kehabisan kesabaran untuk menghadapi Azimah kali ini. Ia pun memilih menghindar.
"Sebaiknya kita pulang dan kita bicarakan ini lagi nanti" kata Andra hendak beranjak namun Azimah kembali menahannya.
Andra membulatkan mata mendengarnya. Tidak percaya bahwa Azimah akan mengatakan hal itu setelah ia bersusah payah untuk memenuhi segala keinginan Azimah. Menjadi seperti yang ia mau dan Azimah dengan mudahnya mengatakan kata perpisahan dengan begitu lugas.
"Apa hubungan kita serapuh ini sehingga saat ada masalah kau selalu menginginkan perpisahan? Apakah kau yakin bahwa kau memang mencintaiku atau kau hanya ingin memiliki aku agar ambisi dalam hatimu itu tercapai?!" kata Andra dengan nada suara berat menyiratkan kemarahan yang tertahan.
"Aku hanya ingin dia pergi dari kehidupan kita, Andra! Apa itu begitu sulit bagimu?" balas Azimah berteriak.
"Baiklah. Aku pecat dia! Apa kau puas!" teriak Andra lantang hingga membuat Azimah ketakutan. Dengan langkah lebar Andra meninggalkan kamar itu dan membanting pintu dengan begitu kuat hingga membuat Azimah tersentak kaget.
Azimah tertegun sejenak, selintas ia menyadari kalau ia terlalu keras dengan Andra. Ia menyadari kesalahannya. Namun ketika melihat Maria memandangnya remeh dan seakan ingin merebut Andra darinya membuat Azimah tidak ingin mengambil resiko kehilangan Andra untuk kesekian kalinya.
Azimah turut keluar kamar menyusul Andra masih dengan perasaan takut. Azimah melihat Andra tengah bicara pada Maria di ruang tamu. Andra duduk di sofa sedangkan Maria berdiri dengan kepala tertunduk. Azimah mendekat perlahan.
__ADS_1
Andra yang melihat kedatangan Azimah hanya bisa menatap tajam dengan tarikan nafas yang panjang.
"Maafkan saya, Maria. Tapi saya harus memberhentikanmu. Maaf" ujar Andra dengan raut wajah yang tidak tega.
"Tapi, Tuan. Apa kesalahan saya? Bukankah saya melakukan semua tugas yang Tuan berikan pada saya. Lalu kenapa saya dipecat tiba-tiba begini?" tanya Maria dengan raut wajah memelasnya.
Andra diam. Ia sendiri tidak tahu alasan apa yang masuk akal yang bisa ia berikan pada Maria. Sementara Azimah perlahan duduk di sisi Andra.
"Sebentar lagi aku dan Andra akan menikah, Anas akan aku rawat dengan tanganku sendiri. Dan juga, beberapa waktu ini Anas dan Andra tidak tinggal di sini. Jadi, Andra memecatmu karena kami tidak membutuhkan tenaga pengasuh lagi. Aku harap kau mengerti, Maria" kata Azimah dengan nada pelan namun tegas.
"Tapi kalian belum menikah! Aku tidak terima di pecat seperti ini. Alasan kalian tidak masuk akal!" teriak Maria tidak bisa mengontrol lagi emosinya.
"Kenapa tidak masuk akal? Aku adalah ibu sambung Anastasia. Apakah aku salah jika aku ingin mendekatkan diri pada Anas, huh?" teriak Azimah tidak kalah lantangnya.
Andra yang melihat itu hanya bisa mengusap wajahnya.
"Jangan membawa Anas sebagai alasanmu, Azimah. Aku tahu betul bahwa kau memang ingin menyingkirkanaku dari rumah ini. Kenapa? Kau merasa tersaingi olehku? Atau kau merasa aku akan merebut Tuan Andra darimu?!" kata Maria.
Azimah tersenyum sinis mendengarnya. Tidak di sangka bahwa Maria akan mengatakan hal itu tepat di saat Andra tengah berada di dekat mereka.
"Ya, kau terlalu liar untuk aku biarkan tinggal di rumah suamiku" jawab Azimah sarkas.
"Apa ini cinta yang kau katakan? Kau tidak mempercayai Tuan Andra dan hanya mengikuti egomu saja. Apa tidak cukup kau mengganti semua yang ada rumah ini dengan kemauanmu dan memaksa Tuan Andra melupakan Nyonya yang sebenernya dari rumah ini? Kau bahkan tidak mengizinkan anaknya untuk mengenang Ibunya sendiri, Azimah. Kau terlalu egois ...,"
Plakk ....,
Belum selesai Maria bicara sebuah tamparan mendarat di pipinya. Dan pelakunya adalah Azimah sendiri. Ia tidak bisa menoleransi lagi kelancangan mulut Maria saat dia mendikte semua yang Andra lakukan padanya. Andra yang melihat itu pun sangat terkejut. Ia tidak menyangka jika Azimah akan melakukan hal sampai sejauh itu.
__ADS_1