Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
22


__ADS_3

Azimah menoleh sekilas pada Andra yang sedang fokus mengemudi. Ia sedang bertanya-tanya tentang apa yang Andra lakukan padanya hari ini. Membingungkan, namun Azimah menyukainya. Seketika Azimah menggelengkan kepalanya dengan kuat hingga Andra mampu merasakan reaksi Azimah. Ia pun menoleh dan menatap Azimah bingung juga heran.


"Apa yang kau pikirkan, Azimah? Kau tak boleh luluh lagi" batin Azimah memantapkan hatinya


"Azimah ..., ada apa? Mengapa kau menggelengkan kepala begitu?" tanya Andra.


Azimah merapikan rambutnya yang setengah acak karena ulahnya tersebut. Lalu tersenyum singkat pada Andra dan kembali menatap keluar jendela.


Andra menggeleng pelan melihat tingkah Azimah yang menurutnya aneh itu. Ia pun kembali fokus dengan kemudinya.


Perjalanan kembali hening. Baik Azimah maupun Andra tak ada yang bicara. Azimah yang merasa lelah, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Memejamkan mata yang terasa perih karena terlalu lama menatap layar laptop.


"Kau sudah menerimanya?" tanya Andra tiba-tiba.


Azimah menoleh bingung dengan pertanyaan Andra.


"Menerima apa?" tanya Azimah.


"Buket bunganya!" jawab Andra tenang.


Azimah membulatkan mata dan duduk tegak menghadap Andra. Sedikit terkejut namun juga tak mengerti..


"Paman yang mengirimkannya?" Azimah memastikan kalimat Andra.


Andra mengangguk pelan kaget dengan reaksi yang diberikan Azimah padanya.


Azimah lemas mendengarnya. Ia kembali mengingat kata-kata yang ada di kertas pesannya. Azimah menatap Andra lekat.


"Kau berpikir bukan aku yang mengirimkannya?" tanya Andra pelan.


"Iya!" jawaban yang singkat namun membuat Andra mengeluarkan nafasnya dengan kuat.


Azimah masih menatap Andra. Ia mengamati setiap pergerakan yang Andra lakukan. Jakun Andra yang naik turun seperti menandakan ada yang tertahan di tenggorokannya.


"Lalu apa maksud dari seorang yang akan memperjuangkanmu?" tanya Azimah masih dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Andra menepikn mobilnya. Berbalik dan menatap Azimah. Mereka saling menatap dalam waktu yang cukup lama. Andra bingung harus mengatakan apa meski ia sudah mengatakan semuanya tadi pagi. Apakah Azimah masih meragukan keinginannya pada Azimah? Andra pun meraih tangan Azimah dan menggenggamnya. Mengusap punggung tangan yang mungil itu dan menatapnya hangat..


"Bukankah tadi pagi aku sudah mengatakan jika aku ingin mencobanya?" ucap Andra pelan.


Azimah menarik tangannya, menelan saliva yang terasa banyak di mulutnya.


"Kau tak percaya padaku?" tanya Andra memastikan.


Azimah menatap lurus kedepan.


"Sudah kukatakan jika kau belum yakin maka jangan lakukan!" jawab Azimah.


"Bagaimana aku bisa yakin jika aku tak melakukannya?" tanya Andra sambil menarik wajah Azimah agar menatap padanya


"Aku perlu bantuanmu untuk meyakinkan hatiku. Aku memang tak bisa memastikan jika aku sudah mencintaimu. Tapi aku sudah bisa memastikan jika aku mulai menyukaimu sebagai seorang wanita. Aku marah saat melihat kau bersama pria lain. Aku pun ingin memukul orang yang sudah berani menciummu dan merangkulmu dengan hangat. Aku marah melihatmu tertawa dengan pria lain" ungkap Andra lirih sambil mengusap lembut pipi Azimah dengan ibu jarinya.


Azimah tak menjawab. Ia ingin mendengarkan semuanya. Itu terasa indah di telinganya.


"Apa kau mau memberikanku kesempatan itu?" tanya Andra sambil menatap kedalam mata Azimah.


Azimah kembali menelan salivanya. Mencoba menghindari kontak mata dengan Andra namun Andra menahan rahangnya dengan lembut.


Andra menurunkan tangannya dari wajah Azimah. Menatap kearah depan dan mengambil nafas sejenak. Azimah tersenyum melihat tingkahnya. Senyuman sinis yang mengejek yang di peruntukkan untuk dirinya sendiri.


"Paman, aku sangat mengenalmu. Kau bukanlah seorang pejuang tangguh yang akan berjuang untuk mencapai keinginanmu. Kau tak pernah tertarik dengan suatu hal yang tak pasti. Begitu pun sekarang. Kau tak akan bertanya lagi jika kau memang ingin memperjuangkanku. Ada atau pun tak ada kesempatan kau akan terus melakukan itu jika memang kau menginginkan aku!" jelas Azimah dengan suara bergetar.


Andra menatapnya tajam. Ia melihat lirih dari ucapan Azimah yang memang benar adanya. Selama ini ia tak pernah keluar dari zona nyamannya. Ia terbiasa dengan hidup yang apa adanya tak ingin membuat perubahan. Ia teringat dulu saat dirinya Adelina bersama, ia tak berjuang karena memang Adelina lah yang berjuang untuknya. Meski akhirnya mereka bersama namun ia akui, Adelina-lah yang memulai segalanya.


Kini ia tahu Azimah mencintainya. Menginginkannya ..., Ia hanya perlu sedikit perjuangan untuk bisa meraih Azimah ke dalam pelukannya namun mengapa itu terasa sulit baginya. Bukankah dia menyukai Azimah atau memang belum merasakan apa-apa pada Azimah.


Azimah menatap lurus kedepan. Mengabaikan Andra yang masih menatapnya tajam. Helaan nafas panjang pun terdengar di telinga Andra.


"Paman belum menyukaiku. Paman hanya marah melihat aku melakukan semuanya dengan pria lain. Paman marah jika perasaanku bukan untuk Paman lagi. Itulah yang Paman lakukan saat ini. Maaf, mungkin pernyataanku sedikit melukai harga diri Paman, tapi inilah kenyataannya. Paman hanya ingin mendominasi aku dengan dalih belajar mencintaiku. Menyedihkan!" geram Azimah.


Andra terhenyak mendengarnya. Ia kehabisan kata-kata untuk menyangkal semua ucapan Azimah. Ia pun tertunduk lemah.

__ADS_1


"Saat aku mulai merasa nyaman dengan seseorang mengapa Paman harus mengacaukan hatiku? Harusnya Paman tetap berada di tempat dan membiarkan aku bahagia dengan yang lain. Namun karena keegoisan Paman, Paman melangkah mendekatiku yang tanpa sadar itu lebih menyakitiku!" lirih Azimah.


Air matanya kembali tumpah. Meski tak deras namun itu cukup mewakili perasaanya saat ini.


"Azimah ...," ucap Andra mengulurkan tangan menghapus air mata Azimah yang menetes. Azimah menoleh menatapnya dengan tatapan memelas.


"Aku terlihat menyedihkan, bukan?" tanya Azimah lirih.


Andra menelan salivanya. Ia tak menyangka perbuatannya bisa menyakiti Azimah sedalam ini.


"Maaf!" ucap Andra sambil menempelkan keningnya pada kening Azimah, menahan tengkuk Azimah dan memejamkan mata menepis isakan Azimah.


"Paman kejam!" ujar Azimah lagi.


Andra tak membantah. Saat ini ia pun merasakan sakit melihat Azimah terluka karenanya.


Azimah mengurai pelukannya menatap Andra penuh tanda tanya.


"Apa ini Paman, tadi pagi Paman memeluk dan menciumku. Sekarang paman juga memelukku! Apa paman memang terbiasa memeluk seorang wanita?" tanya Azimah tiba-tiba.


Andra menggaruk tengkuknya yang tak gatal. lalu tersenyum canggung pada Azimah.


"Aku, itu ..., aku, ah entahlah ..., aku hanya melakukan ini pada kau dan Adelina saja!" bantah Andra dengan suara tinggi. Azimah kaget karena Andra tiba-tiba berteriak. Namun kemudian ia menahan senyum karena Andra yang salah tingkah karenanya.


"Azimah ...," panggil Andra kemudian.


"Maaf jika aku menyakitimu. Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya memperjuangkan seorang wanita. Maaf jika caraku begitu membuatmu terluka. Mungkin kau benar jika aku belum memiliki perasaan apa pun padamu. Aku akui, aku pun meragukan hatiku. Tapi, aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku akan belajar mencintaimu. Aku mengatakan ini karena satu hal yang aku sadari, aku takut kehilanganmu!" ungkap Andra pelan.


Azimah tertegun mendengarnya. Ia tak menyangka jika Andra akan bicara demikian. Ia pun tersenyum lalu memegang pundak Andra..


"Baiklah, aku akan menunggu waktunya tiba!" ujar Azimah yang membuat Andra kembali bersemangat.


"Aku akan buktikan itu!" seru Andra yakin.


Azimah hanya tersenyum melihat binar mata Andra yang menampakkan kesungguhan atas kata-katanya. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang..

__ADS_1


* * *


...Bersambung ......


__ADS_2