
Azimah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Ia kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Sesampainya di kamar, Azimah melihat Anastasia masih terbaring dalam lelapnya. Azimah hendak membangunkan namun Andra menahannya..
"Biarkan saja, hari ini aku akan mengajaknya ke makam Adelina..." ujar Andra sambil mengeringkan kepalanya yang basah dengan handuk..
"Kau mandi?" tanya Azimah memastikan dan di jawab Andra dengan anggukannya..
"Pakai handukku?" tanya Azimah lagi. Andra pun kembali menganggukan kepalanya..
"Kau tidak sopan!" ketus Azimah..
"Hei, aku tak membawa peralatan mandi. Sudah sewajarnya aku meminjam peralatan mandimu. Lagi pula jika nanti kita menikah, kita akan lebih sering berbagi barang bersama" goda Andra..
"Memang siapa yang mau menikah denganmu? Hallo Tuan, jangan terlalu percaya diri..." ketus Azimah lagi..
"Benarkah kau tak ingin menikah denganku?" Andra berjalan mendekat pada Azimah. Hal sebaliknya dilakukan Azimah. Setiap kali Andra melangkah maju maka setiap itu pula Azimah melangkah mundur.
Azimah tak bisa bergerak karena kini punggungnya sudah menyentuh tembok. Sementara Andra kini sudah berada didepannya sambil memandang lekat pada wajah Azimah..
"Menyingkirlah..., aku harus ke kantor..." kata Azimah namun Andra tak mengindahkan perkataan Azimah melainkan mengurung Azimah dengan kedua tangannya...
"Hentikan Andra. Anas bisa melihat nanti!"
"Katakan lagi jika kau memang tak ingin menikah denganku!" pinta Andra..
Azimah menatap lekat pada Andra. Tak mengerti mengapa Andra kini lebih agresif dan selalu memancingnya untuk terus mengikuti kata-katanya...
"Andra... hentikan.." suara Azimah bergetar tak kalah tangan Andra sudah melingkar dipinggangnya. Andra sedikit menundukkan wajah dan mendaratkan keningnya pada kening Azimah...
"Katakan..." ucap Andra pelan..
Azimah lama bungkam. Ia tak bisa berpikir dengan benar saat ini. Di tambah gerakan Andra selalu membuatnya terbuai. Azimah berusaha menguasai dirinya. Mengatur nafasnya yang kian menderu terdengar. Lalu dengan berani menatap ke dalam mata Andra..
"Sejak dulu aku pernah berharap bisa sedekat ini denganmu. Tapi kini, aku tak yakin keinginan itu masih ada. Setiap yang kau lakukan selalu membuatku meragukanmu. Sikapmu yang tiba-tiba berubah, perhatianmu, keinginanmu dan semuanya. Aku merasa seperti melihat Andra yang lain didepanku. Jujur kukatakan, aku takut pada dirimu yang sekarang..." jawab Azimah tenang...
Andra tersenyum, membelai pipi Azimah yang lembut kemudian berkata...
"Lalu katakan apa yang kau mau, aku akan melakukannya jika itu bisa membuat kita bersama. Kau tahu, sikapmu saat ini menyiksaku. Kau menjauh dariku dan itu membuatku gila..." jelas Andra..
__ADS_1
"Aku tak ingin merubah siapa pun karena perasaanku. Aku hanya ingin kau menjadi dirimu sendiri tanpa paksaan, tanpa perubahan. Kau tahu aku mencintaimu dengan segala kebekuan hatimu.."
Andra diam, menyimak semua kata-kata Azimah dengan seksama..
"Sebelum kau mengatakan jika kau akan mengejarku. Aku tak pernah berniat mendapatkan hubungan apa pun darimu. Namun setelah kau mengatakan itu, aku menjadi berharap. Tapi lagi-lagi kau membuatku ragu. Kemudian aku yakin lagi padamu dan lagi kau membuatku ragu. Aku lelah dengan keadaan itu. Dan aku memilih menyerah, tapi kini kau melakukan hal yang tak pernah kubayangkan. Kau membuatku kerepotan dengan semua keinginan konyolmu, kau menginap bahkan kau melibatkan Anas didalamnya. Andra, sampai kapan kau menarik ulur hatiku? Aku lelah..." adu Azimah..
"Aku sedang meyakinkanmu saat ini tapi kau selalu menolak keyakinanku itu. Kau inginkan kepastian, aku akan berikan itu. Tak bisakah kau mempercayaiku sekali ini saja?"
Azimah diam. Ia menyadari beberapa waktu ini Andra memang sudah berusaha meyakinkannya. Tapi entah mengapa Azimah tak bisa merasakan itu..
Andra dan Azimah masih di posisi yang sama. Mereka diam dalam penyatuan kening yang dalam. Saling merasai hembusan nafas yang menerpa wajah mereka. Tenggelam pada perasaannya masing-masing...
"Aku mencintaimu, Azimah. Bisakah kau mempercayai itu?" tanya Andra dengan nada yang bergetar..
"Aku harus bekerja, aku sudah telat. Makanan akan dingin..." elak Azimah yang masih merasa ragu...
Azimah menyingkirkan kedua tangan Andra. Perlahan menarik keningnya dan berusaha melepaskan kungkungan Andra. Azimah berhasil namun saat ia hendak melangkah, Andra menarik dirinya dan menciumnya dengan lembut. Azimah tersentak kaget dan hendak berontak namun Andra tak membiarkannya. Ia sudah kehabisan akal untuk meyakinkan Azimah..
Ciuman itu hanya hanya sekilas, Andra melepas saat belum sempat merasakan balasan dari pangutannya..
"Sekarang atau tak sama sekali?!" tanya Andra tajam..
"Aku butuh jawabanmu saat ini atau sama sekali tak perlu kau jawab dan kita sama-sama menyerah pada perasaan kita. Kau lelah, aku pun lelah. Aku tak tahu bagaimana cara pandangmu mengenai perasaan kita tapi aku, aku benar-benar ingin menjadikanmu belahan hatiku, pendampingku, kekasih hatiku. Aku bahkan ingin menjadikanmu istriku, ibu dari anak-anakku. Tak bisakah kau lihat keinginan besar itu dari mataku?" tanya Andra menggebu...
".."
"Jawab aku Azimah..." teriak Andra...
"Aku...Aku...Aku tak tahu..., aku bingung..." jawab Azimah pelan...
"Shit" Andra geram dan memukul tembok dengan keras hingga membuat Azimah kaget...
"Berarti tidak?!" kata Andra tajam...
Azimah hanya diam. Ia saat ini tak bisa berpikir dengan benar. Perasaannya begitu tak karuan mengartikan semuanya. Ada ketakutan yang begitu besar dalam hatinya. Ketakutan yang membuatnya tak bisa menjawab permintaan Andra...
"Maka kita menyerah. Kita menyerah saja. Kau lelah begitu pun aku..."
__ADS_1
".."
"Aku tak akan menganggumu lagi..." jelas Andra kemudian beranjak dari tempatnya dan mengambil Anastasia..
"Hei, Anas sedang tidur. Jangan bawa dia seperti ini" cegah Azimah..
"Tak usah pedulikan kami!" tepis Andra..
"Dia anak-anak, Andra. Jangan libatkan dia!!" Azimah kembali menahan Andra namun kali ini Andra menatap Azimah tajam hingga membuatnya tak bisa melakukan apa pun lagi. Ia membiarkan Andra mengambil Anastasia yang masih terlelap..
Anastasia terbangun karena Andra menggendongnya tiba-tiba...
"Ayah..." panggil Anastasia serak..
"Kita pulang, sayang" sahut Andra.
"Kakak, kami pulang dulu..." ucap Anastasia sambil mengusap-usap kedua matanya..
"Iya, Anas jangan...." Belum sempat Azimah menyelesaikan kata-katanya Andra sudah levih lebih dulu beranjak dan meninggalkan kamarnya..
Azimah mengejar keduanya namun langkah Andra begitu cepat. Azimah akhirnya menghentikan langkahnya. Ia menarik nafas dan berbalik kekamarnya lagi...
Azimah meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada Andra..
"Kau egois. Kau melibatkan Anas dalam hal ini. Kau sangat egois Andra..." tulis Azimah dalam pesannya.
Azimah menghempaskan ponselnya ke atas tempat tidur. Mengumpati Andra berkali-kali dalam kesalnya sebelum akhirnya ia beranjak dan membersihkan diri...
***
NB:
Ingin tahu cerita sebelumnya dari Azimah. Baca karya novelku "Pernikahan kontrak".
Baca juga, ceritaku yang lainnya...
"Haruskah aku mengalah pada takdir?"
__ADS_1
Jangan lupa Like, Coment dan tambahkan ke favorit ya..
Makasih ...