Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
27


__ADS_3

Andra memandang lemah ke arah Anastasia. Ia mengelus lembut puncak kepalanya dan mencium keningnya. Andra merasa telah gagal menjaga Anastasia seperti apa yang di inginkan mendiang istrinya.


3 tahun lalu ...


Di sebuah rumah sakit Andra menatap tubuh istrinya yang terbaring lemah penuh darah. Ia tak tahu harus berbuat apa, namun yang ia tahu saat ini perasaannya tak karuan. Melihat sang istri terbaring tak berdaya secara tak langsung membuatnya melemah. Ia memegang besi yang terdapat di sisi brankar. Entah suara isakan di luar sana sudah seperti apa ia tak mengetahuinya secara pasti. Ia hanya tahu jika itu berasal dari sang Ibu mertua yang syok melihat keadaan anaknya, Adelina.


Andra masih berdiam diri tanpa melewatkan sedikit pun kesempatan yang tersisa. Meski dokter telah mengatakan kemungkinan hidup bagi Adelina sangat kecil, namun ia tak ingin mempercayainya. Ia tahu, Adelina tak akan meninggalkan dia dan juga putrinya.


Sedikit samar, Andra bisa merasakan pergerakan di tangan Adelina. Secercah harapan pun muncul, Andra bergegas menekan tombol merah di sisi brankar. Tak lama beberapa dokter dan perawat datang bersamaan memeriksa keadaan Adelina.


Andra membiarkan mereka melakukan tugasnya namun ia tak beranjak sedikitpun dari sisi Adelina. Keluarga Adelina pun berhamburan masuk saat melihat dokter dan perawat juga masuk dengan tergesa-gesa. Saat dokter masih memeriksanya, dengan sudah payah Adelina menggerakkan tangan kepada Andra. Andra yang mengetahui pergerakan tersebut di peruntukkan untuknya, ia pun sedikit membungkuk sambil menggenggam jari mungil Adelina.


"Jaga ..., Anas Un-tukkuuu ...." ucap Adelina sudah payah.


Setelah itu terdengar suara bip yang cukup panjang menggema di ruangan tersebut. Andra melorot di samping tempat tidur Adelina. Suaranya tak bisa keluar meski ia ingin mengeluarkan banyak kata yang ada di pikirannya saat ini. Hatinya melemah seiring dengan isakan tangis yang pecah di ruangan itu. Entah apa yang terjadi selanjutnya, yang ia tahu adalah malam itu adalah malam terakhir ia bersama Adelina. Istri yang sangat ia cintai yang memberikannya seorang putri.


Andra mengeram dalam diam menyesali ketidak berhasilannya dalam menjaga Anastasia. Ia menunduk sambil menyatukan keningnya pada kening Anastasia dalam waktu yang cukup lama.


Ceklek ...


Suara pintu terbuka menyadarkan Andra dari termenungnya. Ia mengangkat tubuhnya dan menoleh ke arah pintu. Azimah berdiri di depan pintu dengan wajah ragu. Andra pun tersenyum, senyum yang di paksakan karena masih teringat dengan kata-kata Azimah tadi pada Maria...


"Kau tahu, aku harus meninggalkan pekerjaanku hanya karena ulahmu" kata-kata itu terngiang dengan jelas di pikirannya.


"Paman, aku akan pulang. Semoga Anas lekas pulih" ujar Azimah masih berdiri di depan pintu.


Andra mengangguk pelan, namun saat Azimah hendak berbalik, ia membuka suara.

__ADS_1


"Terimakasih karena sudah menjemput putriku! Dan maaf jika ini merepotkanmu" kata Andra menekankan kata putriku pada Azimah.


Azimah yang memang menyadari perubahan Andra sejak ia datang, mendekat pada Andra. Mengajaknya duduk di sofa karakter hello Kitty kesukaan Anastasia.


"Apa Paman terganggu dengan ucapanku tadi?" tanya Azimah langsung.


Andra tak menjawab, ia masih menunduk dengan wajah lesunya. Azimah pun semakin yakin jika dugaannya benar.


"Aku minta maaf untuk itu. Tapi aku tak mengatakannya sungguh-sungguh. Aku mengatakan ini karena kesal pada Maria yang tak menjaga Anas seperti seharusnya. Tapi bagaimana pun juga kata sudah terucap. Aku menyesal mengatakan ini. Sepertinya kata maaf pun tak akan merubah hati yang sudah terluka. Aku pulang, Paman" jelas Azimah yang bersusah payah menahan diri agar tak menangis.


Andra mengusap wajahnya kasar. Ia saat ini tak bisa berpikir dengan jernih. Wanita yang ia yakini bisa menjadi Ibu bagi anaknya itu mulai membuatnya ragu apakah benar dia akan membuka hati pada Azimah. Bagaimana pun Azimah masih terlalu muda untuk bisa merawat seorang anak.


"Aku ingin memulainya karena aku tahu bahwa Anas perlu seorang Ibu di sampingnya. Meski aku akui aku benar-benar takut kehilangannya, namun sangat konyol jika aku membuka hati hanya karena aku kesepian. Aku tidak pernah kesepian sekali pun tak ada seorang wanita di sampingku. Anas sudah lebih dari cukup untuk menemani hari-hariku. Tapi mengapa Azimah bisa mengatakan hal itu. Dia hanya menjemput Anas, bukan merawatnya seharian. Apakah mungkin karena harapanku pada Azimah terlalu besar? Tapi apakah aku salah berharap lebih pada Azimah? dia adalah wanita yang aku tuju untuk membuka hatiku" batin Andra membenarkan pemikirannya.


Andra kembali mendekat pada Anastasia, menarik selimutnya dan tidur bersama dengannya dalam satu dekapan hangat.


Sementara itu, Azimah yang baru tiba di rumahnya langsung membenamkan diri dalam bathtub. Meregangkan seluruh ototnya yang terasa lelah meski hari ini ia tak begitu banyak pekerjaan. Ia mengingat kembali wajah datar Andra yang tanpa ekspresi padanya. Meski ia tersenyum, namun Azimah pun tahu senyuman itu hanyalah senyum keterpaksaan Andra.


Ia menatap langit-langit kamar mandinya. Ingatan tentang wajah Andra yang sangat datar padanya membuat nyalinya menciut.


"Oh Tuhan ..., belum menjalin hubungan saja sudah begini, bagaimana jika nanti? Memikirkannya saja aku seperti akan gila" ujar Azimah dalam kesalnya.


Azimah mengalihkan pandangannya pada ponsel yang terletak di dekat wastafel. Azimah berdiri mengambilnya lalu menelpon sahabatnya, Mei.


Mendengar sedikit cerita Mei mungkin akan membuat dirinya sedikit tenang. Bicara dengan Mei adalah solusi yang tepat saat hatinya sedang gundah. Bagaimana pun sahabatnya yang satu itu selalu membuatnya merasa lebih baik. Azimah pun menekan tombol kontak di layar ponsel pintarnya. Tak lama tersambung mereka pun berbincang.


* * *

__ADS_1


Andra terbangun karena gerakan dari Anastasia, namun saat mengetahui mata Anastasia masih terpejam, Andra pun menjadi tenang. Anaknya saat ini bisa beristirahat dengan puas setelah menangis cukup lama. Andra pun beranjak dari tempat tidur dengan hati-hati. Meninggalkan kamar karena merasa haus. Ia menuju dapur dan melihat pelayan dan pengasuh Anastasia sedang berbincang ringan. Menyadari kedatangan Andra mereka pun menunduk hormat.


"Ada perlu apa, Tuan?" tanya pelayan kepercayaan Andra.


"Aku haus, 'Bi" jawab Andra seadanya.


Pelayan itu hendak bergerak mengambilkan majikannya itu minum, namun segera di dahului oleh Maria. Andra pun membiarkannya dan menarik kursi makan.


"Terimakasih" ujar Andra pada Maria.


Maria tersenyum hangat namun Andra mengabaikannya.


"Bagaimana keadaan Nona Anas, Tuan?" tanya Pelayan parubaya itu.


"Dia masih tidur. Mungkin karena kelelahan menangis hingga membuatnya tidur sangat lama" jelas Andra.


"Untung saja ada Nona Azimah. Nona Azimah sangat sabar membujuk Nona Anas tadi. Saat pertama datang, Nona Anas tak henti-hentinya menangis sambil mengeluhkan sakit di perutnya. Nona Azimah membujuknya untuk makan dan minum obat lalu menidurkannya meski harus membacakan dongeng yang sangat panjang." jelas pelayan tersebut memuji Azimah.


Andra bungkam. Sejenak ia menyesali karena mengabaikan Azimah dan membiarkannya pulang dengan penuh tanda tanya. Saat Andra hendak beranjak, Maria memegang lengan Andra dengan santai meski wajahnya terlihat memelas. Andra menatap sekilas pada tangan Maria yang berada di lengannya. Menyadari itu, Maria pun menurunkan tangannya.


"Tuan, maafkan saya. Tadi saya benar-benar ada urusan penting. Saya tidak bermaksud meninggalkan Nona Anas sendirian" ujar Maria masih dengan wajah melasnya.


Andra menatapnya tajam. Ia berdiri tegak mengamati Maria yang berdiri dengan kepala tertunduk.


"Saya bisa maafkan kamu kali ini, namun setelah ini tak ada lagi. Dan jika besok Azimah kemari, kau harus minta maaf atas kata-katamu. Azimah kekasihku saat ini" kata Andra dengan tegas kemudian berlalu dari dua orang pekerjanya itu.


Sementara itu, Maria dan pelayan kepercayaan Andra mematung tak percaya mendengar pernyataan majikan mereka.

__ADS_1


* * *


...Bersambung ......


__ADS_2