Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
36


__ADS_3

Azimah dan Mei sedang makan malam bersama namun Azimah tak berselera karena selalu memikirkan Andra. Mei yang mengetahui itu hanya bisa menghela nafas kasar. Ia tahu sebesar apa rasa cinta Azimah pada Andra. Ia sudah mengetahuinya sejak mereka di sekolah menengah. Semua ia ketahui karena Azimah selalu menolak jika ada pria yang akan mendekatinya. Alasannya sepele, ia ingin fokus dengan pendidikannya. Itu pun memang benar adanya. Azimah selalu menjadi murid terpintar di sekolah mereka.


"Andai saja Andra tak menghubungi Azimah lagi, mungkin Azimah tidak akan semurung ini" batin Mei.


"Hei ..., katamu kau akan melupakannya? lalu kenapa kau masih murung, huh?" tanya Mei.


"Sekeras apa pun aku ingin melupakannya, kurasa aku tak akan bisa melakukan itu. Terbukti, hanya dengan panggilan teleponnya saja sudah membuatku begini" lirih Azimah.


Mei mengerti memaksa hati bukanlah perkara gampang. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kadang apa yang hati inginkan tak sejalan dengan apa yang ingin pikiran lakukan. Inilah dilema terbesar jika sudah berurusan dengan hati.


"Terlalu banyak yang aku lewati bersama dengannya, meski hanya dengan bayangannya saja. Aku ingat saat pertama dia menolongku. Wajahnya begitu datar namun matanya menampakkan kesedihan. Saat itu aku berada dalam gendongannya, dan kau tahu apa yang dia katakan padaku?" tanya Azimah menatap lekat pada Mei. Mei hanya menganggukkan kepalanya. Entah sudah berapa ratus kali ia mendengar cerita ini dari Azimah, cerita itu selalu di ulang-ulang seperti Azimah sendiri tak bosan untuk mengulangnya lagi dan lagi.


"Dia mengatakan, 'tenanglah Azimah' Andra bahkan berkali-kali meneriakkan namaku. Raut wajah khawatirnya masih bisa kuingat dengan jelas hingga saat ini. Mungkin itulah mengapa aku sulit melupakan dia" sambung Azimah.


Kini tak hanya suaranya yang sendu, wajahnya pun menampakkan kesenduan yang mendalam jika mengingat bagaimana ia bisa mencintai Andra.


"Jangan memaksakan sesuatu yang akhirnya membuatmu semakin terluka. Jika memang kau tak bisa melupakan Andra, maka biarkan saja. Biarlah waktu yang akan merubah semua. Entah itu menjadi lebih baik atau malah sebaliknya. Azimah, aku tahu bagaimana perasaanmu pada Andra, aku sangat tahu. Tapi jika kau selalu bersedih karenanya aku tak bisa membiarkan ini. Kau harus bisa menata hidupmu demi dirimu dan juga orang-orang yang menyayangimu" kata Mei


Azimah hanya menunduk sambil meneteskan air matanya.


"Jangan menangis lagi, hapus airmatamu itu. Temui saja Andra besok agar semuanya jelas. Malam ini tidurlah, aku sangat lelah kau pun juga. Jangan terlalu menyiksa dirimu hanya karena hatimu tak bisa beranjak dari pemiliknya." nasihat Mei.


Malam itu pun Azimah lalui dengan menginap di apartemen Mei. Ia tak sanggup sendirian, jika begitu ia akan larut dalam kesedihannya. Azimah beruntung memiliki Mei sebagai sahabatnya. Mei selalu sabar dan memberinya semangat saat Azimah mulai rapuh pada perasaannya....


*


Pagi ini Azimah bersiap untuk bekerja. Ia sudah memutuskan akan menemui Andra dikantornya. Ia menyiapkan semua berkas yang diperlukan untuk dibahas nantinya. Ia hanya ingin memulai hari-harinya tanpa beban lagi. Perlahan tapi pasti, Azimah mulai merelakan rasanya meski itu masih terlalu sulit baginya. Setidaknya saat ini ia mempunyai alasan untuk melupakan Andra.

__ADS_1


Azimah memasuki kawasan gedung Lee Company. Ia singgah pada resepsionis untuk menanyakan keberadaan Andra. Azimah sengaja tidak mengabari Andra karena ia takut bahwa dugaannya salah.


Azimah melangkah dengan tatapan banyak mata yang mengintainya. Apa yang terjadi pada Andra dan Azimah saat itu sempat tersebar meski hanya melalui mulut demi mulut pegawai dua perusahaan itu. Seperti biasa, Azimah mengabaikan semua tatapan tajam orang-orang kepadanya. Ia melangkahkan kakinya dengan anggun dan pasti menuju ruangan Andra.


Sesampainya diruangan Andra, Azimah menarik nafas pelan. Kemudian mengulurkan tangan dan mengetuk pintu ruangan Andra.


"Masuk!" terdengar suara berat dari dalam ruangan. Suara yang selalu Azimah kenali bahkan tanpa melihat wajahnya. Cinta kadang membuat kita lebih banyak tahu tentang seseorang.


Azimah melangkah, ia cukup kaget melihat ruangan Andra yang terbiasa rapi kini sedikit berantakan walau tak bisa dikatakan begitu berantakan. Andra masih setia menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Ia memejamkan mata dengan penampilan yang tidak rapi di waktu sepagi ini.


Azimah memungut beberapa kertas yang berserakan di lantai. Andra yang mendengar ketukan heels itu berhenti membuka matanya. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui Azimah berada diruangannya.


"Kau ...," ucap Andra gugup.


"Sepertinya saya datang di waktu yang salah. Apakah saya harus kembali nanti?" tanya Azimah bersikap formal.


"Sejak kapan anda akan menyadari kedatanganku?" sindir Azimah. Andra pun hanya tersenyum kaku.


"Sudah sarapan?" Andra mulai berbasi-basi untuk menghilangkan kecanggungannya.


"Saya kemari untuk membicarakan masalah proyek perusahaan kita. Bisa tunjukkan apa yang Anda keluhkan, Tuan Lee?" tanya Azimah masih bersikap formal.


"Azimah ...,"


"Tolong panggil saya dengan sebutan Manager Azimah" kata Azimah yang kembali membuat Andra melemah.


"Apakah jarak kita sudah sejauh itu?" Andra mulai tak tahan dengan sikap Azimah akhirnya membuka suara.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bicarakan ini pada Manager Charlotte juga" sela Azimah acuh.


Andra berdiri dari tempatnya, berbalik dan mengusap rambutnya kasar. Azimah memperhatikan semua itu dari sudut matanya. Namun ia kembali acuh seolah sedang sibuk mengerjakan sesuatu.


"Bisa kita mulai, Tuan Lee?" pinta Azimah yang kembali membuat Andra risih dengan cara panggil Azimah padanya.


Ia mendekat dan duduk di sisi Azimah, Azimah berusaha tenang meski sebenarnya ia sudah tak tahan berada lebih lama lagi dengan Andra. Bendungan air di kelopak matanya akan meluncur bebas jika Andra terus saja bersikap seperti ini padanya.


Menyadari Azimah yang tak meresponnya. Andra kembali berdiri, ia terlihat gusar dan tak tahu harus bersikap bagaimana menanggapi sikap Azimah saat ini. Ia berjalan ke sana-kemari dibelakang Azimah. Membawa tangannya di atas kepala dan sesekali menghembuskan nafas beratnya.


"Saya akan menghubungi Manager Charlotte" kata Azimah yang hendak meraih ponselnya namun segera Andra tahan dengan memeluk Azimah dari belakang.


"Maaf ...," kata Andra pilu. "maafkan aku!" lirih Andra terdengar di telinga Azimah. Azimah mematung karena tak tahu harus menyikapinya.


Cukup lama Andra memeluk Azimah, membenamkan kepalanya di belakang kepala Azimah. Menghirup aroma shampo Azimah dan mengeratkan pelukannya pada Azimah.


"Tolong jaga sikap, ini kantor!" pinta Azimah.


"Maaf ..., " hanya satu kata itu yang Andra ucapkan berkali-kali membuat Azimah kembali bingung untuk menanggapinya.


"Mungkin lain kali kita akan bicarakan ini. Saya permisi." Azimah hendak menarik tubuhnya namun Andra masih menahannya.


"Lepaskan aku" mohon Azimah.


"Aku mencintaimu ...,"


* * *

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2