
Pagi ini, entah sudah berapa kali Azimah di panggil untuk sarapan bersama namun Azimah belum juga turun. Azimah malah sibuk di depan meja riasnya untuk menyembunyikan tanda merah keunguan karena perbuatan Andra padanya kemarin siang.
Berkali-kali Azimah mengumpatkan nama Andra saat ia tengah memoleskan foundation kelehernya.
"Awas saja jika ia masih berani melakukan ini, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhky lagi!" gerutu Azimah dalam keselnya.
Azimah kembali bergelut dengan peralatan make up yang jarang ia gunakan itu. Ia benar-benar tidak ingin Ibu serta ayahnya tahu tentang tanda itu. Ia tidak ingin menyulitkan diri dengan larangan-larangan yang akan Selma berikan padanya lagi.
Selain itu, ia tidak ingin memperkeruh persahabatan Andra dan orang tuanya jika sampai tanda tersebut diketahui kedua orang taunya.
Setelah selesai me-make over bagian lehernya. Azimah keluar dengan raut wajah yang ia buat sesantai mungkin. Mungkin dia akan dihujani pertanyaan-pertanyaan seputar 'mengapa ia lama sekali turun dari kamarnya' namun itu bisa ia atasi selama tanda merah keunguan itu tidak diketahui oleh kedua orang tuanya terlebih Selma.
Azimah melenggang menuju ruang makan, di sana sudah ramai anggota keluarganya, termasuk Andra dan Anas. Selma pun sudah ada di sana dengan semua kegiatannya yang mengatur meja makan.
Azimah mendekat, menarik satu kursi yang berdekatan dengan adik bungsunya, Axel.
"Kakak baru bangun?" tanya Axel. Azimah mengangguk pelan.
"Kakak begadang tadi malam?" tanya Axel lagi.
"Tidak" jawab Azimah. "Sudah. Kau jangan banyak bertanya lebih baik habiskan saja sarapanmu" sergah Azimah.
Selma dan Andreas menatap heran pada Azimah. Tidak biasanya Azimah membentak Axel hanya karena pertanyaan sepele seperti itu.
"Kau kenapa, Azimah? Kenapa membentak adikmu seperti itu?" tanya Selma.
"Maaf, 'Bu." jawab Azimah. "Maaf, ya Axel!" seru Azimah pada Axel.
Semuanya pun kembali sibuk menikmati sarapan mereka. Hanya Azimah saja yang terlihat tidak tenang untuk makan dan terkesan buru-buru. Andreas pun menanyakan hal itu.
__ADS_1
"Kau kenapa, Azimah? Ayah lihat kau seperti ingin cepat selesai. Apa ada yang mengganggumu?" tanya Andreas sambil melirik pada Andra.
"Tidak kanapa- kenapa, Ayah" jawah Azimah canggung.
Andra melihat semua itu, ia pun bertanya ada apa gerangan dengan Azimah. Namun sejenak ia tinggalkan karena masih ada Selma dan Andreas di sana.
"Iy ..., maksudku, Ayah mertua" sontak saja Selma maupun Andreas tersedak makanan mendengar kalimat pertama Andra.
"Apa katamu tadi, And?" tanya Andreas memastikan.
"Ayah mertua" jawab Andra santai.
Selma dan Andreas saling menatap, mereka bingung sekaligus heran dengan tingkah Andra pagi ini. Mengertiakan tatapan kebingungan dari kedua sahabatnya itu, Andra pun menjelaskan perihal panggilannya kini kepada Selma dan Andreas.
*Jadi begini, Azimah menginginkan aku menaiki menantu yang baik dengan menghormati dan menghargai kalian sebagai orang tua Azimah, terlepas bahwa kalian berdua adalah sahabatku" jelas Andra tenang.
Seketika Azimah menepuk dahinya dengan keras. Hal itu dilihat Andra, Selma dan Andreas.
"Azimah ...," panggil Selma.
Azimah melirik pada Selma yang menatapnya begitu lekat.
"Ada apa, 'Bu?" jawab Azimah gugup.
*Kau tidak berniat mencari pacar yang seusiamu saja? Jujur saja Ibu tidak suka panggilan Andra pada Ibu. Dia harus memanggil Ibu dengan panggilan Ibu mertua, Oh Tuhan cobaan apa ini?" gerutu Selma pada dirinya sendiri.
"Selma, apa kau begitu tidak menyukaiku? Sehingga meminta Azimah memilih pria lain saat dia sudah menjadi kekasihku? Kau seperti bukan sahabatku saja" sela Andra.
Selma hanya menatapnya sekilas. Bukan karena ia tidak menyukai Andra, namun karena semuanya canggung jika Andra akan menjadi menantunya.
__ADS_1
"Kitalepaskan dulu tentang persahabatan kita selama ini, And. Aku ingin bertanya padamu. Apakah kau tak risih dengan panggilan itu? Bahkan usiamu jauh lebih tua daripada kami berdua!" jelas Selma.
Andreas dan Azimah hanya menyaksikan perdebatan itu tanpa berani menyela. Bukan takut pada Andra, melainkan pada Selma yang akhir-akhir hormonnya sedang tidak baik.
"Apa menurutmu aku suka memanggil kalian dengan panggilan seformal itu? Aku juga tidak ingin. Namun karena kekasihku yang menginginkannya aku bisa apa?" jawab Andra seadanya.
"Aku hanya ingin membuat Azimah senang. Mungkin dengan memanggil kalian dengan panggilan yang seharusnya dipanggil seorang kekasih anak kalian, Azimah akan senang. Aku pun bingung dengan keadaan ini!" seru Andra.
"Kau tidak perlu bingung, tinggalkan saja azimah dan carilah kekasih yang seusia denganmu dan kita akan tetap menjadi keluarga. Kau memanggilku dengan namaku begitu juga dengan Iyas, pun sebaliknya kami akan melakukan itu" tukas Selma yang membuat perdebatan semakin menegang.
Andra mencoba untuk menjawab namun segera Azimah sela agar perdebatan ibunya dan kekasihnya itu tidak semakin panjang.
"Andra ...," tahan Azimah dengan memegang lengan Andra. Andra pun diam. Sementara Andreas bingung harus bersikap apa.
Setelah semuanya cukup tenang, dan kini mereka sudah meninggalkan meja makan. Barulah Andreas menyikapi permasalahan ini.
"Menurutku, kau tidak perlu memanggil kami dengan panggilan formal itu, And. Kita saling memanggil nama seperti biasanya saja. Jujur aku sedikit risih dengan panggilan itu" ujar Andreas.
"Dan Azimah, kami tidak perlu dihormati dan dihargai hanya untuk dianggap sebagai kedua orang tuamu. Jika Anda menganggap kami sebagai orang tuamu, maka cukup tidak menyakiti kamu itu sudah lebih dari cukup bagi kami berdua" lanjut Andreas. Azimah mengangguk pelan mengiyakan kata-kata ayahnya itu.
"Dan Selma, seperti yang sudah aku katakan, tentang jodoh kita tidak pernah tahu pada saat akan berlabuh. Entah umur mereka yang tidak sama, atau dari kalangan yang berbeda, mungkin juga karakter mereka yang bertentangan. Semua sudah diatur oleh yang Maha kuasa. Kita tidak pernah bisa menebak siapa jodoh kita dan kita tidak bisa memilih kepada siapa kita akan berjodoh. Oleh karena itu, aku tidak ingin ada perdebatan hanya seputar panggilan seperti ini yang akan mengganggu ketentraman persahabatan kita ataupun rumah kita. Maka dari itu, sebelum Azimah dan Andra melangkah ke jenjang pernikahan, maka biarkan saja semuanya berjalan seperti biasanya" jelas Andreas dengan semua orang diam mendengarkannya.
"Apa kalian bisa melakukan ini demi keluarga kita? Demi kekerabatan kita? Jangan menambahkanmasalah baru yang sebenarnya tidak penting sementara permasalahan yang sebenarnya sudah ada di depan mata kita" tambah Andreas.
Selma, Azimah dan Andra mengangguk paham. Kali ini Andreas berdiri di tempat seharusnya, tidak sebagai sahabat, atau sebagai suami, juga tidak sebagai seorang Ayah. Ia menyelesaikan masalah dengan keputusan yang bisa diterima oleh Andra, Azimah maupun Selma.
"Kalau begitu aku akan pergi ke kantor, aku sudah terlambat" kata Andreas sambil mengelus pundak sang isteri kemudian melabuhkan kecupan ringan di sisi kening Selma.
*Aku pergi, ya" ujar Andreas pada Selma. Selma mengangguk dan mengantar suaminya itu ke depan pintu. Sementara Andra dan Azimah hanya diam saling memandang namun pandangan Azimah lebih seperti pandangan yang siap memakan Andra bulat-bulat.
__ADS_1
"Ikut aku!" kata Azimah pada Andra.
"Matilah aku sekali ini" gumam Andra dalam hati.