Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
65


__ADS_3

Selma menatap canggung pada Andra. Perasaan bersalah masih terus terasa, terlebih saat ia melihat wajah Andra yang biasa saja menatapnya. Seakan tidak terjadi apapun.


"Apa Iyas yang memberikannya?" tanya Andra lagi.


"Hm" jawab Selma singkat dengan gumamannya.


"Apa yang dia lakukan sehingga membelikan kau kalung semahal itu?" ujar Andra.


"Apa aku salah membelikan istriku kalung? Itu hal yang wajar. Bukankah begitu, Sayang?" tanya Andreas meminta persetujuan Selma namun ditanggapi Selma dengan senyuman sinis.


Andra tertawa melihat hal itu. Melihat Andreas diabaikan Selma menjadi sesuatu hal yang menyenangkan baginya. Bukan karena apa, Andreas dan Selma adalah dua insan yang tidak bisa mengabaikan satu sama lain. Dan bila itu terjadi, bisa dipastikan ada hal yang sudah membuat salah satunya marah. Di sini Andra meyakini Andreas-lah yang bersalah.


"Kalian bicaralah, aku ingin tidur!" kata Selma pada Andra dan Andreas.


Andra mengangguk, sementara Andreas tersenyum menggoda Selma namun tanggapan Selma membuat senyuman manis itu menjadi kecut.


Setelah cukup mengobrol dengan Andreas. Andra kembali kekamarnya. Namun ia terkejut saat melihat Azimah berada dikamarnya sedang tertidur di atas ranjangnya dengan Anastasia di samping dirinya.


"Oh Tuhan, cobaan ini terlalu berat bagiku" keluh Andra sesaat setelah ia membuka pintu kamar.


Andra mendekat dan menyelimuti keduanya. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan baju tidur. Setelah semuanya selesai, Andra ikut bergabung bersama dengan Azimah dan Anastasia di bawah selimut yang sama.


Pertama kali bagi Andra di temani seorang wanita tidur bersama Anastasia setelah kepergian Adelina, dan itu sangat aneh. Meski Andra sudah mencintai Azimah, namun saat Azimah tidur di sisinya menggantikan tempat Adelina ada perasaan yang tak karuan menyerang dirinya.


"Sepertinya aku merindukanmu, Adelina" batin Andra sebelum ia memejamkan mata untuk larut dalam mimpinya.


'

__ADS_1


Sayup-sayup sebuah cahaya menyilaukan mata Andra. Andra membuka matanya perlahan dan mendapati seorang wanita sedang bermain ayunan di sebuah taman yang sangat indah. Tidak pernah Andra melihat taman seindah itu selama hidupnya.


Andra melangkahkan kakinya menuju wanita yang sedang asik bermain ayunan. Semakin dekat semakin Andra mengenali sosok yang tengah tertawa saat ayunan yang ia duduki membawanya terbang melayang ke udara. Hingga saat wanita itu menoleh membuat nafas dan detak jantung Andra terasa berhenti seketika.


"Adel ...," ucap Andra ditengah keterkejutannya. Wanita itu hanya tersenyum dan mengajak Andra mendekat padanya.


Andra mendekat, meraih tangan yang melambai padanya itu. Adelina meminta Andra mendorongnya lebih kuat, Andra kembali menurutinya. Andra seperti terhipnotis karena melihat wajah yang begitu ia rindukan itu.


Ketika ayunan itu berhenti, Adelina turun dan langsung berlari ke sana kemari mengitari taman indah yang berisi bunga-bunga cantik.. Semerbak harumnya tidak pernah Andra temui selama ini. Andra tidak ingin kehilangan wajah itu sekali lagi, ia mengejar Adelina tanpa henti meski nafasnya sudah tersita karena kekurangan oksigen namun Andra tidak ingin menyerah dan terus mengejar dan mengejar Adelina hingga Adelina berhenti di sebuah gubuk kecil.


Gubuk itu memang kecil namun begitu cantik dan rapi. Andra memasuki gubuk itu untuk mencari Adelina. Saat Andra masuk, ia melihat Adelina sedang duduk di sebuah kursi kayu. Andra mendekati Adelina dan duduk disisinya tanpa bicara. Hingga hanya ada keheningan yang ada di dalam gubuk kecil itu.


"Adel ...," panggil Andra pelan.


Adelina menoleh dan tersenyum pada Andra.


"Aku merindukanmu" jawab Andra dengan bibir bergetar.


Adelina tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil mengusap lembut wajah Andra. Andra meraih tangan Adelina. Dengan segenap kerinduannya ia berkali-kali mengecup tangan Adelina. Berulang kali hingga membuat Adelina kegelian.


"Hentikan, And. Kau membuatku geli" ujar Adelina dengan kekehan kecilnya.


"Ayo kembali bersama!" kata Andra mengajak Adelina namun orang yang di ajak malah berdiri dan menjauh dari Andra.


"Adelina ..., Adelina ...," panggil Andra berulang kali.


Bukannya berhenti dan berbalik Adelina kian melangkah jauh dari jangkauan Andra. Andra terus menerus mengejar sambil memanggil Adelina hingga tiba di suatu tepi jurang Adelina berhenti dan berbalik, menatap pada Andra.

__ADS_1


"Adel ..., jangan pergi lagi. Aku mohon" lirih Andra memohon pada Adelina.


Sekali lagi, Adelina hanya menatap Andra dengan senyumannya. Senyuman yang tidak dimengerti Andra. Andra berusaha mendekat namun Adelina menahannya dengan rentangan telapak tangannya yang lebar. Andra kian bingung menatap Adelina.


"Pulanglah, Andra!" ucap Adelina yang seperti kilatan petir di telinga Andra.


"Pulanglah!" ucap Adelina lagi. "Ada orang yang harus kau jaga di sana. Aku di sini baik-baik saja."


Hening sejenak, Andra menatap kaku wajah Adelina yang menyampaikan semua itu dengan senyumannya. Ia bahkan mengatakan itu tanpa kendala sedikitpun, begitu lugas hingga menusuk relung hati Andra yang paling dalam.


"Aku merindukanmu, aku sangat mencintaimu, Adelina" ucap Andra kembali dengan bibir bergetar.


"Cukup simpan semua itu untuk anak kita, Anastasia. Jaga dia dengan baik dan berikan ia Ibu yang menyayanginya lebih dari menyayangimu. Itu sudah cukup bagiku" kata Adelina tenang.


Andra terduduk lemah. Ia bahkan menangis sejadi-jadinya hingga membuat dadanya sesak. Saat itu Adelina mendekat, ia mengusap punggung Andra dengan lembut dan memeluk didadanya.


"Mereka sudah menunggumu, Andra. Kembalilah! Ini bukan tempatmu. Percayalah, aku selalu mencintaimu, aku selalu ada didalam hatimu dan tidak pernah meninggalkanmu. Tapi kini, tempatku tidak sebesar dulu, ada tempat yang telah terisi untukmu dan Anas di sana. Aku bahagia asal kalian berdua bahagia. Sungguh!" ucap Adelina tulus.


Andra mendongakkan kepalanya, menatap nanar pada Adelina. Bagaimana bisa orang yang saling mencintai bisa mengatakan kata perpisahan dengan begitu mudah, tidak sedikitpun ragu bahkan begitu yakin membuat Andra tidak lemah lunglai mendengarnya dan melepaskan pelukannya dari Adelina.


Saat pelukan itu terlepas. Adelina berdiri dan berjalan mundur beberapa langkah sambil melambaikan tangan pada Andra. Andra diam tanpa kata. Dirinya sudah cukup lemah dengan kata-kata Adelina, wanita yang ia cintai.


"Mereka sudah menunggumu, Andra" ujar Adelina seraya menunjuk pada seorang wanita yang berdiri sambil merangkul anak kecil. Mereka menatap penuh harap pada Andra namun Andra belum berbalik menatap mereka, ia hanya menatap tajam pada Adelina hingga langkah kaki Adelina kian mundur menjauh dari Andra dan terjatuh ke dasar jurang.


"ADELINAAA!!!"


Teriak Andra begitu keras hingga sampai menggema di mana-mana. Ia menangis berlutut melihat kepergian Adelina yang tragis baginya. Hingga sebuah sentuhan membuat dadanya kian sesak dan ia meraih dan menggenggam tangan tersebut tanpa mau melepaskannya, sementara di mana-mana ia mendengar suara wanita yang memanggil namanya berulang kali.

__ADS_1


Andra jengah dengan orang-orang yang memanggilnya terus menerus itu dan untuk mengalihkan pendengarannya ia kembali berteriak memanggil Adelina.


__ADS_2