Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
31


__ADS_3

Andra memasuki gedung kantor Lu Company dengan tergesa-gesa. Ia mengabaikan setiap sapaan orang yang menyapanya. Dengan langkah yang lebar dan tatapan yang datar ia memasuki Lift sehingga membuat semua orang bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada Andra saat ini.


Selama ini semua pegawai kantor Andra mau pun Andreas sudah mengetahui sifat dingin Andra. Meski begitu, Andra selalu tenang dengan segala kebekuan dalam dirinya. Tak pernah mereka lihat Andra yang terburu-buru seperti saat ini.


Lift terbuka tepat di depan ruangan Azimah. Andra langsung masuk tanpa permisi hingga membuat Azimah keheranan.


"Pam ..."


Belum sempat Azimah bicara Andra sudah menarik tengkuk Azimah hingga melabuhkan sebuah ciuman yang begitu kasar.


Azimah berontak namun Andra memegang kedua tangannya dan membawanya kebelakang tubuh Azimah. Azimah terus berontak dengan menggeleng-gelengkan kepalanya hingga akhirnya ia berhasil.


Azimah kembali berusaha melepaskan genggaman tangan Andra dari tangannya setelah terlepas.


Plakkk....


Sebuah tamparan melayang ke wajah Andra. Begitu kuat hingga Andra membekas di pipi Andra yang mulus tanpa bulu halus sedikit pun.


"Apa yang kau lakukan? Kau pikir aku ini apa? Pelacur?" teriak Azimah berapi-api.


Andra tersadar akan perbuatannya. Ia menatap sorot mata Azimah yang begitu membara seakan-akan siap membakar sekujur tubuhnya saat ini.


Teriakan Azimah yang keras itu terdengar oleh Andreas yang memang jarak ruangannya tak jauh dari Azimah. Andreas segera berlari keruangan Azimah. Saat ia tiba sudah banyak orang yang berkumpul di depan ruangan Azimah.


Andreas pun kian panik hingga ia masuk dan mendapati Andra dan Azimah saling tatap. Mata Azimah nampak memerah menahan bendungan air di kelopak matanya.


"Azimah ..., A-aku...,"


Belum sempat Andra bicara lebih banyak, Andreas menariknya dan melayangkan sebuah pukulan ke wajah Andra. Azimah terkejut dan menahan Andreas untuk bertindak lebih jauh lagi.


"Ayah ...," lirih Azimah pada Andreas.


Tubuh Azimah gemetar setelah ia melihat kemarahan yang begitu besar di wajah Andreas. Ia menahan dengan memeluknya. Sementara Andra, Andra hanya bisa terpaku melihat Andreas dengan kemarahan yang besar kepadanya.


"Iyas, Aku bisa jelaskan! Aku ...,"

__ADS_1


"Mulai hari ini, aku melarang kau menemui Azimah. Jangan pernah datang atau mengganggunya lagi!" Kata Andreas dengan jari telunjuk yang mengarah ke wajah Andra.


Azimah terisak dalam pelukannya. Andreas mencoba menguasai dirinya dan membalas pelukan Azimah dengan hangat.


"Tenanglah, Sayang. Ada ayah di sini" sorot mata Andreas masih tajam menatap Andra meski suaranya kini sudah melemah di telinga Azimah.


"KELUAR!!!" Teriak Andreas dengan tegas pada Andra.


Andra masih mencoba untuk memberikan penjelasan namun rentangan telapak tangan Andreas membuatnya berhenti. Sorot mata tajam Andreas tak berkurang sedikit pun membuat Andra melangkah mundur menerobos kerumunan pegawai yang sudah menyaksikan kekonyolannya hari ini.


"APA YANG KALIAN LIHAT?! AKU MEMBAYAR KALIAN UNTUK BEKERJA BUKAN UNTUK BERDIRI DI SANA SAJA!!!" Andreas kembali melampiaskan kemarahannya pada pegawai kantornya.


Setelah semua orang meninggalkan ruangan Azimah. Andreas membawa Azimah duduk dikursinya. Memberikannya segelas air lalu menenangkannya. Azimah masih terisak walau air matanya kini tak mengalir lagi.


Andreas mengambil tissue yang berada di meja Azimah. Membersihkan lipstik Azimah yang belepotan di kedua sisi wajah Azimah. Bagaimana Andreas takkan marah ketika melihat kondisi Azimah yang tak pernah ia bayangkan seumur hidupnya. Ia begitu menjaga anak-anaknya meski mereka bukanlah terlahir dari benihnya. Namun dengan mudah Andra merusak semua penjagaannya selama ini. Ia mengizinkan Andra karena ia percaya Andra bisa menjaga Azimah dengan baik. Tapi apa kenyataannya, Azimah malah mendapatkan perlakuan buruk alih-alih balasan cinta yang membahagiakan.


Azimah masih menangis dengan kepala tertunduk. Ia memainkan jari-jarinya di atas paha. Tak berani menatap Andreas yang dari deru nafasnya sudah Azimah ketahui begitu menahan amarahnya.


"Jangan menangis ..., Selma tak akan memaafkan ayah jika melihat keadaanmu seperti ini" ujar Andreas lembut menyebutkan nama istrinya sebagai alasan agar Azimah diam. Tapi bukannya diam, Azimah kian terisak mendengarnya. Ia memeluk Andreas dengan erat dan kembali menangis di bahu Ayah tirinya itu.


"Ma-maaf-kan aku, Ayah!" kata Azimah di sela isak tangisnya.


Semua kembali normal. Azimah kini berada diruangan Andreas. Ia berbaring diruangan pribadi Andreas. Melihat keadaannya saat ini, tak mungkin ia menyuruh Azimah pulang. Selma akan terkejut bahkan mungkin pingsan jika mendapati Azimah pulang dengan keadaan yang berantakan.


Azimah tertidur setelah lelah menangis. Ia terluka dengan sikap Andra yang menganggapnya seperti wanita murahan. Menciumnya tanpa ampun seperti hendak menelan Azimah ke dalam mulutnya.


Andreas meraih ponselnya. Amarah yang tenang kembali memuncak ketika mengingat bagaimana ia menemukan Azimah diruangannya tadi. Ia menelpon Andra dan menemuinya.


Sementara Andra nampak menyesali perbuatannya pada Azimah. Ia terlalu berpikir cepat hingga membuat orang-orang yang ia sayangi kecewa. Tak pernah ia lihat kemarahan di mata Andreas selama ini. Bahkan saat berhadapan dengan ayah kandung Azimah pun ia tak melihatnya. Kini tatapan marah itu tertuju padanya. Andra hanya bisa menerima apa pun yang akan Andreas berikan padanya sebagai hukuman.


Andreas tiba di sebuah jembatan di mana sudah terdapat mobil Andra. Andra duduk di kursi kemudi dengan pintu terbuka. Matanya jauh menerawang kehamparan danau yang luas hingga ia menyadari kedatangan Andreas dan ia pun beranjak dari kursinya.


Andreas datang dengan amarah yang tak terbendung. Ia menarik kerah baju Andreas dan memukulnya berkali-kali. Wajah Andra sudah mengeluarkan banyak darah namun Andreas belum menghentikan pukulannya. Andra tak membalas karena ia tahu ia memang pantas mendapatkannya.


"Pukul aku semau kau, Iyas. Tapi ..., tapi jangan pinta aku meninggalkan Azimah. Aku mohon!" mohon Andra di sela-sela pukulan yang bertubi-tubi ia terima.

__ADS_1


Andreas menghentikan pukulannya dan mendorong keras tubuh Andra yang hampir terjatuh ke tanah namun di tahan oleh kedua tangan Andra sendiri.


"Jika kau menginginkannya mengapa kau melakukan hal memalukan seperti itu, Andra?!" teriak Andreas yang sudah hampir gila mengingat keadaan Azimah dengan lipstik yang belepotan dimana-mana.


"Aku cemburu melihat Azimah bersama Ronald. Aku marah karena aku tak bisa membuat Azimah tertawa sama seperti saat ia bersama dengan Ronald. Maaf!" balas Andra lirih.


"Mengapa kau harus cemburu saat kau belum bisa memberikan kepastian pada putriku? Apa kau kira aku tak pernah mengetahui semua tentang kalian? Kau tahu, tadi malam Azimah tak keluar untuk makan malam. Selma berkali-kali mengetuk pintunya namun tak mendapatkan jawaban apapun dari Azimah!"


Andra kembali menyesali perbuatannya. Ia bahkan menangis sambil memukul-mukulkan tangannya ke tanah.


"Apakah begini caramu menghargai perasaaan Azimah? Kau bukan lagi remaja yang tak tahu bagaimana harus menyikapi keadaan!" amarah Andreas kian memuncak. Ia berteriak dengan sangat keras sambil terus menunjuk-nunjukkan jarinya pada Andra.


Andra tak bisa bicara lagi. Mendengar Azimah melewatkan makan malam saja membuatnya sakit apa lagi saat melihat manik mata terluka yang Azimah tampakkan padanya tadi.


"Kau bahkan melakukannya di kantor, And." lirih Andreas mengingat kembali bagaimana keadaan Azimah menjadi tontonan pegawainya.


"Saat Azimah kehilangan Gio. Aku selalu berusaha memberikan kasih sayang padanya juga pada adik-adiknya. Aku melihat dia begitu terpukul dengan keadaan Selma dan Gio. Sebisa mungkin aku menjadi Ayah yang terbaik bagi mereka. DAN KAU!! KAU MERUSAK SEMUA USAHAKU! Aku gagal menjadi Ayah yang harus melindungi anak-anaknya!" Intonasi nada bicara Andreas berubah-ubah. Ia berteriak kadang kala melemahkan lagi nada suaranya pada Andra dan Andra kembali bungkam mendengar semua keluhan Andreas padanya.


Andra berdiri mendekat pada Andreas. Ia membawa tangan Andreas ke wajah dan tubuhnya.


"Hukum aku, Iyas. Aku pantas mendapatkannya. Maaf karena telah mengecewakanmu!" pinta Andra begitu memohon.


Andreas menarik tangannya dari genggaman Andra. Ia menunduk tak berdaya.


"Jauhi dia, And." kata Andreas lirih


"Yas ..., jangan ...,"


"Jika kau memang mencintainya maka jauhi dia. Dia akan semakin terluka jika kau terus berada di dekatnya. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya sendiri.


Andreas meninggalkan Andra yang masih berdiri kaku ditempatnya.


Setelah kepergian Andreas, Andra berteriak sekeras-kerasnya. Ia berkali-kali memukul kepalanya dengan kedua tangan. Mengabaikan darah yang sudah bersatu dengan salivanya. Ada juga darah yang mengalir di pelipis matanya bahkan juga di bawah kantung matanya. Rasa sakitnya saat ini tak sebanding dengan rasa sakit di hati Azimah karena perbuatannya.


Saat Andra sedang meratapi penyesalannya, Charlotte datang setelah mendapat telepon dari Andreas. Ia pun membawa Andra untuk segera di obati..

__ADS_1


***


...Bersambung ......


__ADS_2