Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
48


__ADS_3

Andra berdiam diri di dalam kamar mandi. Ia berusaha memendam bara api dalam dirinya yang sedang berkobar...


"Ah sial. Kenapa Azimah harus memanggilku Paman pada saat seperti ini. Buat perasaan jadi kacau." kesal Andra.


Sementara Azimah masih menunggu Andra dengan tanda tanya. Mengapa Andra menghentikan aksinya di saat gejolak gairah sudah membakar keduanya..


Cukup lama Andra berada di kamar mandi membuat Azimah tak sabar untuk menunggunya lagi. Ia pun berdiri dan mengetuk pintu kamar mandi..


"Paman, kau baik-baik saja?" tanya Azimah pelan.


Tak ada jawaban. Azimah pun mengulanginya lagi tapi belum sempat itu terjadi Andra sudah lebih dulu membuka pintu kamar mandinya.


"Kau kenapa?" tanya Azimah heran melihat raut wajah Andra yang kusut dengan rambut acak-acakan..


Andra memandang Azimah dan mengumpat dalam hatinya...


"Apa dia benar-benar tak sadar dengan apa yang sudah ia lakukan? Aku harus menjinakkan juniorku saat ia sedang tegang-tegangnya." umpat Andra..


"Hei, mengapa kau melihatku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" tanya Azimah bingung.


"Tidak ada, kau selalu benar!" ketus Andra. Azimah pun semakin kebingungan dibuatnya..


"And.." panggil Azimah pelan namun Andra mengabaikannya dan berbaring di sisi Anastasia sambil menutupi wajahnya dengan bantal.


"Andra, ada apa?" ujar Azimah lagi. Ia merasa bersalah karena tiba-tiba Andra menghentikan kegiatan mereka..


"And..." panggil Azimah sambil menarik lengan Andra dan menggoyang-goyangkan tubuhnya..


Andra menarik bantal yang menutupu wajahnya. Ia menatap Azimah dengan perasaan tak karuan. Antara kesal dan juga marah.


"Ada apa? Katakan jika aku melakukan kesalahan?" ucap Azimah pelan.


"Sekarang ayo kita perjelas. Kau kekasihku atau keponakanku?" tanya Andra.


"Ma..maksud paman apa?" Andra kembali di buat kesal dengan kata PAMAN yang kembali Azimah lontarkan padanya..


"Oh Tuhan, mengapa kau memberikan rasa ini pada anak sahabatku sendiri." geram Andra dalam hati..


"Jawab!" bentak Andra tak sabar.

__ADS_1


"Ada apa? Mengapa kau membentakku?" ujar Azimah yang tak terima Andra membentaknya tanpa alasan.


"Jawab saja. Ini akan menentukan bagaimana kita bersikap kedepannya. Aku butuh jawabanmu!" tegas Andra.


Azimah menelan salivanya kasar. Ia malu mengatakannya karena ini seperti ia yang memberikan pengakuan pada dirinya sendiri bukan Andra.


"Menurut kau, aku ini, ah maksudku kau menganggap aku seperti apa? Bagaimana perasaanmu padaku?!" tanya Azimah gagap..


Andra mengacak rambutnya kasar. Ia terlihat sangat kesal karena Azimah yang tak bekerjasama dengan suasana hatinya saat ini.


Andra pun berdiri meninggalkan Azimah. Meraih korek dan rokok lalu duduk di sisi jendela kamarnya. Azimah mengamatinya lalu mendekat pada Andra.


"Apa sangat sulit mengatakan jawabannya? Apa yang masih kau ragukan pada diriku Azimah?" tanya Andra pelan sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.


"Bukan begitu, maksudku ini aneh jika aku mengatakannya." kata Azimah mencoba memberi penjelasan.


"Aneh bagaimana? Kau hanya perlu mengatakan apa yang ada dalam hatimu. Bagaimana perasaanmu saat bersama denganku? Dan posisi apa yang kau tempatkan saat bersamaku? Azimah ini membuatku gila memikirkannya!" jelas Andra kesal. Azimah diam dan menundukkan wajahnya.


"Kau gengsi? Atau kau malu mengatakannya?" tebak Andra tanpa mengalihkan pandangannya keluar jendela.


"Paman..." Dengan cepat Andra menatap pada Azimah saat kata itu kembali keluar dari mulut Azimah...


"Lalu aku harus memanggilmu apa? Bukankah tidak sopan jika aku memanggilmu Andra di depan semua orang?" ungkap Azimah.


"Kenapa tidak sopan jika kita adalah sepasang kekasih!" jelas Andra.


"Kau benar, tapi kau lebih tua dariku. Kau bahkan lebih tua dari ayah dan ibu. Akan tidak sopan memanggilmu dengan nama sementara umur kitaaa" Azimah tak melanjutkan kalimatnya saat mata Andra dengan tajam menatap dirinya. Azimah pun baru sadar dengan apa yang ia katakan..


"Iya, kau benar. Aku sangat tua. Mengapa aku harus jatuh cinta pada bocah sepertimu." geram Andra. Namun Azimah tersenyum mendengarnya. Ia merasa jika saat ini wajah Andra terlihat sangat menggemaskan...


"Tertawalah jika kau ingin tertawa. Aku sadar aku memang sudah tua!" gerutu Andra yang salah tingkah. Azimah pun terkekeh mendengarnya. Azimah melingkarkan tangannya di leher Andra. Andra masih membuang muka. Ia tak ingin memperlihatkan wajahnya yang memerah di depan Azimah.


"Apakah rokok itu lebih nikmat dari bibirku?" tanya Azimah membuat Andra semakin salah tingkah.


"Jangan menggodaku, Azimah. Aku tak peduli jika ini rumahmu. Aku akan membuatmu tak bisa berjalan besok jika kau masih tetap menggodaku!" ancam Andra.


Azimah pun semakin menantang dengan menarik tengkuk Andra mendekat padanya. Menyatukan kening mereka berdua dan mengecup pelan bibir Andra. Tak lama, hanya sekilas namun berhasil membuat Andra kembali bergetar..


"Biar kutebak, kau berhenti tiba-tiba karena aku memanggilmu paman, bukan?" tanya Azimah. Andra pun kembali menampakkan wajah kesalnya..

__ADS_1


"Kau kejam, aku sedang panas-panasnya kau malah mengatakan kata seperti itu"


"Memangnya kenapa dengan kata Paman itu?" Azimah merasa heran karena Andra kesal pada masalah sepele seperti ini.


"Jangan pernah mengucapkan kata itu terutama saat kita hanya berdua. Kau tahu, aku seperti pedofil anak-anak!" kesal Andra jika mengingatnya lagi.


Tawa Azimah pecah mendengar penjelasan Andra. Ia tak menyangka jika Andra bisa memikirkan hal yang sangat jauh seperti itu..


"Baiklah, sekarang aku harus memanggilmu dengan nama atau sayang?" goda Azimah.


"Azimah.." Andra menarik pinggang Azimah semakin dekat padanya hingga membuat bagian dada mereka bersentuhan. Nafas mereka kembali menyapu kulit wajah. Membuat bara api yang tadinya terpadam kini menyala kembali. Sejenak Azimah melupakan semua rasa takut yang ia rasakan tadi. Andra membelainya dengan lembut. Membawanya melayang jauh hingga tak ingin menapak lagi ke bumi..


"And.." panggil Azimah di sisa-sisa nafasnya.


"Ehm.."


"Kita tak bisa melanjutkannya. Jika ibu dan ayah tahu maka kita akan dapat masalah!" jelas Azimah..


"Azimah..." panggil Andra geram. Azimah tak berani memandang Andra karena ia tahu Andra kembali kesal dengan ulahnya...


"Kau sangat kejam, Azimah. Kau membuatku tersiksa dua kali malam ini. Jika kau tak ingin mengapa harus memulainya." Kesal Andra.


"Maaf.."


"Aku bahkan tak bisa mandi hanya untuk meredam semuanya. Aku mendapatkan luka, Azimah. Apa kau tak kasihan?" ujar Andra berusaha membujuk Azimah.


"Hentikan, And. Jangan membuat masalah sekarang. Kita masih punya banyak waktu, oke. Untuk sekarang lebih baik kau tidur. Aku akan kembali ke kamarku!" kata Azimah kemudian berbalik meninggalkan Andra dengan segala perasaan yang ada dalam dirinya. Andra hanya bisa mengangakan mulut mendapatkan batu yang mengeras di ujung juniornya..


***


NB:


Ingin tahu cerita sebelumnya dari Azimah. Baca karya novelku "Pernikahan kontrak".


Baca juga, ceritaku yang lainnya...


"Haruskah aku mengalah pada takdir?"****


Jangan lupa Like, Coment dan tambahkan ke favorit ya..

__ADS_1


Makasih ...


__ADS_2