
Azimah masuk dan berteriak memanggil Nenek serta adik-adiknya, membuat seisi rumah menjadi bingung dengan tingkahnya itu.
"Apa ini cara anak gadis yang akan menikah, huh?!" ujar Emma berjalan mendekati cucu sulungnya itu.
"Nenek ..., aku benar-benar merindukanmu!" kata Azimah seraya memeluk Emma.
"Hentikan! Kau akan menikah tapi tingkahmu masih seperti anak remaja saja!" balas Emma tapi masih tetap membalas pelukan Azimah.
"Di mana Azirah dan Alex, Nek?!" tanya Azimah yang tidak melihat keberadaan kedua adiknya itu.
"Mereka sedang bersama ibumu. Melepas rindu!" jawab Emma sambil membawa Azimah untuk duduk serta meminta Azimah untuk berbaring dengan menjadikan pahanya sebagai bantal.
"Bagaimana persiapannya? Apa kau mendapatkan gaun yang kau inginkan, hem?!" tanya Emma kemudian.
Azimah mengangguk pelan dan memandangi wajah Emma yang mulai menua dan keriput.
"Aku tidak menyangka secepat ini Tuhan mengirimkan jodoh untukku. Padahal aku masih ingin bersenang-senang dengan masa mudaku, berkarier dan menjelajahi dunia lebih jauh lagi!" ungkap Azimah.
Emma tersenyum, mengusap lembut kepala Azimah. Gadis muda yang sudah mengubah kehidupannya dengan pemikiran-pemikiran dan kasih sayangnya.
"Jangan terpaku pada keinginanmu saja, karena sejatinya manusia itu memiliki banyak keinginan. Semakin dewasa usiamu, maka semakin banyak keinginanmu. Melihat orang lain bisa melakukan hal itu, sedikit banyak kita pun ingin melakukannya. Tapi sebagai seorang wanita, pada akhirnya titik akhir perjalanan hidup adalah menikah. Meski kelak kau tidak memiliki banyak waktu luang untuk dirimu sendiri atau kebebasan yang seperti kau rasakan saat ini, namun ketika menikah kau bisa menata jalan hidupmu. Kau memiliki tujuan baru. Menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier keduanya adalah pilihan yang bisa kau lakukan bersamaan jika kau mampu!" kata Emma memberi nasihat.
Azimah menarik nafas panjang, mendengar nasihat dari neneknya membuatnya pundaknya terasa sedikit lebih ringan.
"Menurut Nenek apa Andra bisa memahami semua sifatku?!" tanya Azimah memastikan.
"Tentu saja, dia pria yang sangat baik. Nenek sudah mengenalnya sudah cukup lama, semenjak dia masih dalam kandungan ibunya, hehe!" jawab Emma sambil terkekeh ringan.
"Nenek ..., aku sedang serius. Maksudku, apa kami bisa bertahan meskipun kami kerap bertengkar nantinya?!" kata Azimah menjelaskan.
"Tentu saja kalian bisa melalui semua itu. Buktinya kalian sudah tiba di tahap ini, itu saja sudah tidak mudah karena kalian harus menghadapi ibu dan ayahmu yang sangat overprotektif itu!" jawab Emma sambil berbisik di akhir kalimat.
Azimah berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Emma ada benarnya, mereka cukup sulit mendapatkan restu dari Andreas dan Selma, terlebih Selma. Sangat banyak hal buruk yang ia pikirkan tentang Andra, meski Selma sendiri sudah mengenalnya cukup lama.
"Nenek benar, ibuku sangat sulit ditaklukkan!" jawab Azimah membenarkan.
"Sudahlah, lebih baik kau tidur dan beristirahat. Kau harus menjaga kesehatanmu, jangan sering begadang. Aku tidak ingin saat acaranya nanti kau malah lelah atau bahkan sakit!" ungkap Emma.
"Baik, Nek. Nenek juga istirahat. Selamat malam!" Azimah beranjak, mengecup pipi Emma lalu berlalu dari hadapan Emma.
Sepeninggal Azimah, Emma memandangi seisi rumah yang terdapat jutaan kenangan tentang masa mudanya. Di mana dia memulai keluarga barunya di rumah itu, membesarkan Andreas dan berjuang bersama dengannya setelah ayah Andreas tiada. Tanpa sadar Emma menangis mengingat semua hal tersebut.
Kini rumah itu sudah memiliki keluarga baru yang lebih bahagia dari keluarga yang ia ciptakan dahulu. Dan sekarang, bertambah satu kebahagiaan lagi karena Emma masih memiliki kesempatan untuk melihat cucunya menikah, meski itu bukanlah cucu kandungnya sendiri.
"Ibu ...," tiba-tiba Selma datang dan membuyarkan semua bayangan Emma. Emma mengusap wajahnya yang mulai sembab. Ia menarik Selma untuk duduk bersama di sofa.
"Ibu menangis?" tanya Selma memastikan.
"Ibu hanya teringat masa lalu ibu di rumah ini. Dan tiba-tiba Ibu menjadi lebih emosional!" jawab Emma sambil tersenyum lebar.
Selma merangkul Emma dan menenangkannya.
__ADS_1
"Banyak yang terjadi di rumah ini. Kebahagiaanku di mulai dari rumah ini dan aku berharap kelak nafas terakhirku pun terlepas di rumah ini!" ujar Selma menambahkan.
"Apa yang kau katakan, jangan bicara sembarangan. Kau akan menikahkan Azimah. Kau harus bahagia, kita semua harus bahagia!" ujar Emma yang menarik tangan Selma dan menggenggamnya erat.
"Ini seperti mimpi, Bu. Sahabatku menikahi anakku sendiri. Aku tidak pernah membayangkannya, meski aku tahu Andra dan Azimah saling mencintai namun ada kekhawatiran dalam diriku akan perjalanan rumah tangga mereka nanti!" ungkap Selma.
Emma tersenyum, hal itu pernah ia rasakan ketika mendapati kenyataan Andreas menikah dengan Selma, seorang janda dengan tiga orang anak. Logikanya tidak bisa menerima kenyataan itu, meski ia sendiri telah melihat Andreas bahagia menjalani kehidupan rumah tangganya namun tetap saja ia mengkhawatirkan kelangsungan rumah tangga Andreas dikarenakan Selma yang pernah gagal. Dan pada akhirnya Emma menyadari bahwa rumah tangga bukanlah tentang sebuah kecocokan semata, melainkan keinginan untuk tetap bertahan meski diharapakan dengan banyaknya badai yang menerjang. Dan itu sudah Selma dan Andreas lalui dengan sangat baik.
"Setiap rumah tangga memiliki masalahnya sendiri, sama seperti rumah tanggamu yang dulu tidak berjalan mulus, Azimah dan Andra mungkin akan mengalami hal yang sama. Tapi, kita tahu meski Azimah keras kepala dia bukanlah orang yang egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Begitu juga dengan Andra, dia pria yang sangat pengertian, mereka pasti bisa melalui semuanya dengan baik. Percayalah, yang terpenting kau jangan seperti ibu dulu yang terlalu ikut campur dalam masalah kalian!" ujar Emma yang mengingat begitu buruk ia memperlakukan Selma dulu.
"Iyas pun menyarankan hal yang sama. Entahlah, mungkin karena aku masih belum rela melepaskan Azimah. Azimah selalu menemaniku selama Azirah dan Alex melanjutkan pendidikan mereka. Dia membuatku tidak kesepian karena selalu mendengarkan semua keluh kesahku. Dan kedepannya aku akan kehilangan momen-momen seperti itu" kata Selma yang memang merasa belum siap melepaskan Azimah secepat ini.
"Bayangkan saja kalau kau membiarkan Azimah meraih kebahagiaannya sendiri. Setiap hari ia akan menjalani hari bahagianya, maka semua kekhawatiran itu perlahan akan menghilang. Dan yang terpenting adalah, Azimah berada dengan orang yang tepat!" ujar Emma kembali menasihati menantunya itu.
Selma hanya diam, karena sebagai seorang wanita ia pernah gagal menjalani kehidupan berumah tangga. Ia takut karena perbedaan yang dimiliki Azimah dan Andra membuat keduanya meniti jalan yang sama seperti dirinya.
"Rumah tangga itu jika dipikirkan akan rumit. Banyak hal yang tidak bisa kita cerna dengan logika semata. Kadang kita bertengkar hebat seperti tidak ingin berbaikan lagi, berdiam diri dalam waktu yang lama, namun pada akhirnya, keluarga tetaplah keluarga, di mana setiap kasih sayang tercurah di sana!" tambah Emma menasihati Selma.
"Iya, ibu benar. Aku bahkan pernah berpikir untuk meninggalkan Iyas karena rasa cemburuku. Bertengkar hebat dengannya, namun pada akhirnya aku menyadari bahwa aku bisa kuat dan bertahan karena kasih sayang yang Iyas berikan padaku!" ungkap Selma saat mengingat masa-masa yang tidak mudah yang ia lalui bersama Andreas.
"Benar, bukan? Jadi, jangan terlalu memikirkan bagaimana cara Andra dan Azimah menjalani kehidupan mereka kedepannya. Biarkan mereka mendayung perahu mereka masing-masing, apapun yang terjadi pada keduanya kita hanya bisa menyaksikan saja, memberikan sedikit nasihat dan pada akhirnya hanya keduanyalah yang bisa menyelesaikan masalah mereka. Pertengkaran itu kadang perlu ada untuk saling menguatkan satu sama lain!" tambah Emma.
Emma mengangguk, menyetujui pernyataan Emma.
"Sudahlah, Ibu mau beristirahat. Punggung ibu pegal karena terlalu lama di pesawat!" adu Emma kemudian.
"Berbaringlah, aku akan memijat ibu!" ujar Selma menawarkan diri.
"Iyas sedang keluar mengurus sesuatu. Entah kapan akan pulang. Aku akan menunggunya sebentar lagi di sini, Bu!" ujar Selma.
"Baiklah kalau begitu. Ibu akan langsung ke kamar. Jika Iyas tidak kembali dalam satu jam, sebaiknya kau tunggu dia di kamar. Di sini dingin!" kata Emma mengingatkan sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkan Selma.
*
Andreas dan Andra berada dalam satu ruangan yang kecil dan juga gelap. Di hadapan mereka ada beberapa pria yang tadi mencoba mencelakakan Azimah.
"Apa yang harus kita lakukan dengan mereka?!" tanya Andra pada Andreas.
"Kurung saja dahulu. Biarkan Walikota menyadari sendiri kalau orang-orangnya kita tahan agar dia berhenti mengganggu orang-orang yang tidak bersalah!" ujar Andreas.
"Kalau begitu, lebih baik kita kembali sekarang. Selma dan Azimah pasti sudah menunggumu!" kata Andra menyarankan.
"Ya, Ayo!" Andreas dan Andra meninggalkan orang-orang suruhan walikota dalam ruangan tersebut. Membiarkan anak buah mereka menjaga dan mengurusnya.
"Jangan biarkan mereka lolos. Jaga mereka dengan baik dan berikan makanan serta minuman yang cukup. Ingat satu hal, jangan menyiksa mereka lagi!" kata Andreas pada anak buahnya.
"Baik, Tuan!" jawab pria dengan tubuh tegap nan kekar itu pada Andreas.
Andreas dan Andra masuk dalam satu mobil yang sama untuk kembali pulang.
"Bagaimana masalahmu dan Azimah? Sudah selesai?!" tanya Andreas memastikan.
__ADS_1
"Ya, setelah berdebat cukup lama akhirnya selesai!" jawab Andra sambil menghembuskan nafas beratnya.
"Kapan hubungan kalian bisa baik-baik saja tanpa pertengkaran-pertengkaran yang tidak perlu itu. Kalian akan menikah, bukannya semakin hangat kalian malah lebih sering bertengkar!" keluh Andreas.
"Azimah terlalu mudah menyimpulkan sesuatu yang belum ia ketahui kebenarannya. Dan yang aku tidak suka, dia memendam semuanya tanpa berniat menyelesaikannya padaku dan berakhir dengan membuat prasangka dalam hatinya!" ungkap Andra.
"Jangan terlalu menyalahkan putriku saja. Kau juga harus bisa mengerti tentang keadaan sekitar, jika Azimah mudah tersulut kau jangan memancingnya. Dari dulu kau selalu bersikap semaumu, merasa jika kau melakukan hal benar maka kau tidak perlu lagi memikirkan orang lain dan itu tidak bisa kau teruskan karena kadang pasangan butuh sebuah penjelasan meski mereka tidak mempertanyakannya secara langsung!" kata Andreas mengingatkan.
Andra menarik nafasnya, "Entahlah, Azimah dan Adelina sangat berbeda. Jika Adelina bisa mengerti semua yang aku lakukan tanpa harus aku jelaskan, tapi Azimah sebaliknya. Ini membuatku frustasi!" keluh Andra.
"Jelas mereka berbeda, mereka dua orang yang berbeda. Kau tidak bisa menyamakan karakter keduanya karena mereka memang berbeda. Kau yang harus bisa melepaskan bayangan karakter Adelina ketika bersama Azimah agar kau bisa mengenal Azimah lebih baik!" jelas Andreas.
Andra menoleh pada Andreas, menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kau sangat membela putrimu, Iyas. Jangan lupakan bahwa aku juga sahabatmu!" kata Andra kesal.
"Aku tahu, aku tahu itu. Oleh karena itu aku memberimu nasihat karena aku sangat mengenalmu. Kau itu terlalu asyik dengan duniamu sehingga kau mengabaikan sesuatu yang seharusnya kau bagi dengan pasanganmu. Hal ini tidak terjadi pada Adelina karena Adelina memiliki karakter acuh yang hampir sama denganmu. Berbeda dengan Azimah yang mempunyai sifat terbuka dan peduli. Itulah mengapa kau dan Azimah lebih sering bertengkar dibandingkan saat kau bersama dengan Adelina!" tukas Andreas menjelaskan.
Andra diam untuk sesaat, mencerna baik-baik apa yang Andreas katakan padanya.
"Baiklah, aku akan coba lebih terbuka lagi dengan Azimah" ujar Andra memutuskan percakapan mereka.
Andreas tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya pada Andra.
"Oh, iya. Ada yang ingin aku katakan padamu, Iyas!" kata Andra tiba-tiba.
"Apa?" tanya Andreas dengan tetap fokus pada jalan depan.
"Itu, aku dan Azimah akan menikah bulan depan!" kata Andra.
Andreas menginjak pedal remnya tiba-tiba hingga suara decitan ban yang begitu keras terdengar dari ban mobilnya.
"Apa?!!!" teriak Andreas sangat terkejut.
Andra menghela nafas sambil menganggukkan kepala dengan lemah. "Iya. Aku rasa sebaiknya kami cepat menikah agar kami lebih bisa membina diri kami masing-masing!" jawab Andra seadanya.
"Tapi kenapa mendadak sekali?! Bukankah minggu depan kalian bertunangan? Bagaimana Selma akan menyiapkan semua rangkaian acara dalam waktu sesingkat ini?!" ujar Andreas frustasi.
"Aku tahu, tapi pernikahan kami tidak perlu mewah. Dihadiri oleh orang terdekat dan kerabat serta teman-teman saja itu sudah lebih dari cukup. Aku ingin meyakinkan Azimah bahwa semua tentangku hanyalah dia!" ungkap Andra.
"Hei, bukankah lebih baik kalian memahami satu sama lain terlebih dahulu sebelum akhirnya menikah, sehingga jika ada hal yang tidak diinginkan akan lebih mudah untuk menyelesaikannya. Jika kalian menikah, maka keadaannya akan berbeda. Bukan hanya tentang cemburu lalu mengatakan kata pisah begitu saja! Pikirkan lagi, And. Tidak masalah jika kau memang ingin meyakinkan Azimah, tapi menikah dalam waktu dekat dan terburu-buru itu bukanlah keputusan yang benar. Kita memiliki keluarga besar dan nama baik, semua itu harus tetap terjaga, jangan hanya memikirkan ego kalian masing-masing!" tegas Andreas menolak keras keputusan Andra dan Azimah.
"Aku dan Azimah sudah memutuskannya. Semua akan diselesaikan dalam waktu satu bulan ke depan!" tukas Andra masih keras kepala.
Andreas menyalakan mesin mobil dengan kesal, menggerutu bahkan mengumpati Andra dalam hati.
"Kalian benar-benar keterlaluan! Kalian tidak memandang kami sebagai keluarga lagi, memutuskan semuanya sendiri. Kalian anggap apa aku dan Selma serta tetuah keluarga lainnya, hah?!" oceh Andreas. Dan sepanjang perjalanan Andreas terus saja mengocehi Andra tentang keputusannya.
"Jangan marahi Azimah, ini keinginanku!" sela Andra.
"Kau ..., arrghhhh ....!" teriak Andreas yang sudah kehabisan kata-kata.
__ADS_1