
Azimah masih berdiam diri di kamar Andra setelah tiga jam lebih Andra meninggalkannya tanpa melihatnya sedikitpun. Azimah ingin menangis karena mendapatkan perlakuan Andra yang demikian. Namun ia pun tidak ingin menjadi keras kepala lagi yang akhirnya membawa mereka berdua dalam pertengkaran yang lebih besar.
Hari sudah mulai gelap, Azimah kini tengah berbaring di atas ranjang Andra. Ia tidak bersuara maupun bergerak. Tatapannya kosong mengarah pada balkon yang menampakan langitnya yang mulai menggelap dengan warna kuning kemerahan.
Tak lama pintu terbuka, Azimah tidak tertarik untuk menoleh pada siapa pelaku yang membuka pintu tersebut. Ia hanya mendengar derap langkah yang perlahan mendekatinya.
"Non, ini baju Nona Azimah. Jika ada yang lainnya lagi silahkan katakan saja" ujar wanita yang tak lain adalah asisten rumah tangga Andra.
Azimah tak menjawab. Ia hanya diam saja, tanpa bergeming sedikitpun dari tempatnya.
Asisten rumah tangga Andra yang menyadari Azimah tidak ingin bicara, segera meninggalkan kamar itu dan hendak melaporkannya pada Andra.
Setelah asisten rumah tangga Andra keluar, Azimah hanya bisa menarik nafasnya pelan. Mencoba menenangkan hatinya yang sudah sangat kesal dijadikan Andra tawanan dalam kamarnya.
Tak lama setelah asisten rumah tangga Andra keluar, pintu kembali terbuka. Dan reaksi Azimah pun sama halnya seperti yang pertama namun kali ini derap langkah yang mendekatinya terdengar berbeda di mana kini suara derap langkah itu lebih berat.
Azimah merasakan ranjang yang ia tiduri bergerak. Namun ia tetap tidak tertarik untuk melihat.
"Mandilah. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang!" kata si empunya derap langkah berat yang tak lain adalah Andra.
Azimah masih tidak bergerak, hal ini membuat Andra khawatir. Ia pun menarik Azimah untuk menghadap padanya.
"Sayang ....," ucap Andra ketika ia menyadari Azimah tengah menangis dalam diam.
Andra menarik Azimah dalam pelukannya. Ia merasa menyesal telah bersikap keras pada Azimah. Melihat Azimah menangis dalam diam membuat hatinya terluka.
"Maaf ...," ucap Andra menyesal.
Azimah terisak mendengarnya. Mendengar kata maaf Andra membuatnya semakin sedih.
"Apakah nanti ketika kita menikah dan bertengkar kau akan mengurungku seperti ini?" tanya Azimah dalam tangisnya.
Andra menarik wajah Azimah untuk menatap padanya. Azimah menengadahkan wajahnya yang penuh air mata pada Andra. Andra semakin tidak kuasa melihatnya.
"Maafkan aku, Sayang. Maaf!" ujar Andra berulangkali sambil mencium dua belah kelopak mata Azimah yang berair.
Azimah masih menangis. Ia meringkuk bak udang panggang di sana.
"Seharusnya kita tidak bertengkar oleh karena Maria. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu. Apakah itu salah?" tanya Azimah lirih.
"Iya, aku tahu. Aku salah. Maafkan aku. Jangan seperti ini, Azimah. Duduk dan berhenti menangis!" pinta Andra.
__ADS_1
Azimah tidak memenuhi keinginan Andra. Ia malah menutupi wajahnya dengan bantal dan terisak di sana.
"Azimah, Sayang ..., Hei ...," bujuk Andra.
"Aku ingin pulang!" kata Azimah dengan suara yang tersumbat akibat terhalang bantal yang menutupi bagian wajahnya.
"Kita pulang tapi tidak dengan keadaan seperti ini. Segarkan dirimu dan aku akan membawamu pulang" jawab Andra.
"Aku ingin pulang!" ulang Azimah namun kali ini suaranya lebih keras dengan isak-tangis yang mengakhiri permintaannya.
"Azimah, jika kau keras kepala maka akupun bisa melakukannya. Kita pulang tapi setelah kau mandi dan suasana hatimu lebih baik. Atau kita tidak pulang sama sekali!" kata Andra.
Azimah tidak menjawab. Ia hanya terus-terusan terisak. Entah mengapa ia merasa sakit diperlakukan Andra seperti ini.
"Azimah ...," panggil Andra sambil menarik tangan Azimah namun ditepis olehnya.
Andra yang sudah kehilangan akal untuk membujuk Azimah akhirnya ikut berbaring di sisi Azimah sambil memeluknya. Berkali-kali Azimah berontak bahkan memukul dada bidang Andra. Namun Andra tidak melepaskan pelukannya. Ia malah lebih erat mendekap Azimah.
"Jangan bergerak atau kau membangunkan yang lainnya!" kata Andra mencoba menggoda Azimah.
Menyadari apa yang Andra maksud, Azimah pun membiarkan Andra memeluknya. Andra hanya tersenyum penuh kemenangan melihatnya.
Saat Azimah tidak lagi berontak dan malah membalas pelukan Andra. Andra mencoba bicara lagi pada Azimah untuk membujuknya mandi. Namun deru nafas teratur membuat Andra menyadari bahwa kini Azimah tengah tertidur.
Pukul delapan malam kurang Azimah terbangun dan menyadari bahwa ia masih berada dalam pelukan Andra dengan Andra yang juga ikut tertidur di sisinya. Entah ini kali ke berapa Andra tertidur disisinya. Tapi rasanya masih tetap canggung ketika ia terbangun dengan seorang pria di sampingnya.
Azimah mendongakkan wajah untuk melihat wajah yang nampak tenang dalam tidurnya. Tanpa sadar Azimah tersenyum, rahang tegas Andra kian membuat Azimah mengagumi sosok yang telah ia cintai sedari kecil itu.
Azimah melukis bayang di atas wajah Andra, menirukan lekuk wajah namun tidak sampai mengenai wajah Andra. Tanpa sadar tangan mungil yang tengah asik melukis itu di tangkap Andra dengan cepat. Hingga membuat Azimah salah tingkah karena kelakuannya yang tertangkap basah oleh Andra.
"Apa yang kau lakukan, hm?" ujar Andra dengan suara seraknya.
"Hanya mengusir lalat saja!" elak Azimah yang masih kesal pada Andra
"Ternyata kau begitu mencintai aku, ya. Ah, kau hanya gengsi mengatakannya" goda Andra.
"Aku lapar!" kata Azimah ketus dan mulai beranjak dari sisi Andra.
"Aku akan meminta Bibi menyiapkan makan malam kita. Tunggu sebentar" ujar Andra yang kemudian beranjak dari tempat tidurnya namun di tahan Azimah.
"Kenapa?" tanya Andra heran.
__ADS_1
"Kau yang buat" kata Azimah.
"Apa yang kubuat?" tanya Andra bingung.
"Kau yang membuat makan malam kita! Aku ingin makan malam hasil dari tanganmu" jelas Azimah.
"Aku tidak bisa memasak, Azimah" jawab Andra jujur.
"Aku akan turun setelah mandi. Jika kau ingin maafku, maka buatkan aku makan malam dengan tanganmu sendiri, oke!" tukas Azimah.
Azimah beranjak ke kamar mandi sambil menahan senyum melihat wajah bingung Andra.
"Hei, aku tidak sepenuhnya salah, Azimah!" teriak Andra.
"Oh, jadi aku yang salah. Begitu?" tanya Azimah dari dalam kamar mandi.
Andra diam. Ia tidak berani menjawab lagi karena sudah pasti semua jawabannya akan salah di pihak Azimah. Ia pun hanya menarik nafas pelan dan keluar kamar sambil menggerutu kesal.
Azimah yang merasakan bahwa Andra sudah meninggalkan kamar tertawa pelan karena berhasil membuat Andra kesusahan dengan ulahnya.
"Ini hukuman untuk kamu, Paman Andra yang kusayang" kekeh Azimah yang kemudian menyirami tubuhnya dengan air shower.
* * *
Andra keluar kamar dengan kesal. Langkahnya tidak semangat saat menuju dapur. Sesampainya di dapur, Andra malah bingung harus melakukan apa. Ia tidak tahu nama peralatan dapur, ia juga tidak tahu apa nama bahan-bahan dapur. Selama ini ia terbiasa dilayani dengan satu kata saja maka semua yang ia inginkan sudah berada dihadapannya. Dan sekarang, wanita yang ia cintai menginginkan dirinya untuk memasak makan malam untuk mereka berdua.
"Ini adalah penyiksaan, Azimah!" keluh Andra yang mulai mendekati pintu kulkas.
Andra membuka kulkas dan melihat isi didalamnya dengan bingung. Tiba-tiba asisten rumah tangganya datang dan menyapanya.
"Tuan ...," panggilnya pelan.
"Ah, Bi ...," ujar Andra canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa yang Tuan lakukan?" tanya Asisten rumah tangga itu.
"Anak Iyas dan Selma sedang menyiksaku, Bi. Dia meminta aku membuatkannya makan malam. Bibi tahu sendiri kalau aku tidak pernah memasak sebelumnya" keluh Andra.
Wanita parubaya itu tersenyum kecil mendengarnya. Sudah lama sekali ia tidak melihat majikannya itu kesusahan hanya karena seorang wanita. Setalah Adelina pergi meninggalkan mereka untuk selamanya, majikannya itu tidak pernah terlihat bersemangat seperti saat ini. Ia pun mendekatinya.
"Boleh saya bantu, Tuan?" tanyanya lembut.
__ADS_1
"Aku sangat ingin, Bi. Tapi lebih baik jangan. Karena jika dia tahu maka dia tidak akan membiarkan aku selamat lagi setelahnya" gerutu Andra.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi Tuan" ujarnya pada Andra. Andra hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala tanpa menoleh pada wanita yang sudah mengurus rumahnya lebih dari delapan tahun itu.