
Azimah menatap tajam pada Andra yang langsung mengambil ponselnya dan dengan sinis bicara pada Ronald.
"Apa kau tidak mempunyai wanita lain untuk kau rindukan, hah?" teriak Andra sambil menatap tajam pada Azimah.
Azimah terkejut dan tidak percaya jika reaksi Andra akan berlebihan seperti ini. Padahal ia hanya ingin menggoda Andra dengan kata-kata yang sebenarnya tidak Ronald katakan padanya.
Azimah mengambil segera ponselnya sesaat Andra memutuskan panggilan teleponnya.
"Mulai saat ini, jangan pernah menjawab panggilan dari Ronald atau sampai bertemu dengannya, jika tidak ...,"
"Jika tidak apa? Kau akan meninggalkan aku? Jangan menjadi manusia paling egois saat kau memiliki perasaan pada orang lain, Andra" sergah Azimah dengan nada yang cukup tinggi menantang Andra. Setelah mengatakan itu, Azimah segera menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Andra menatap kepergian Azimah dengan tatapan hampa. Kata-kata Azimah membuatnya semakin yakin jika Azimah benar-benar membencinya saat ini.
Selma yang memang mendengar keributan kecil, segera mendekat pada sumber suara dan mendapati Andra dengan matanya yang nanar memandang ke kamar Azimah.
Selma mendekat pada Andra. "Ada apa, And?" tanya Selma.
Dengan susah payah Andra mengatur raut wajahnya. Ia tidak ingin membuat semuanya kian sulit dengan Selma yang mengetahui permasalahan mereka saat ini. Andra pun menggelengkan kepalanya pada Selma.
Selma menatap tajam pada Andra. Dia bukan anak kecil yang semudah itu akan percaya dengan jawaban Andra saat ini. Sedari pagi ia sudah mengira jika Andra dan Azimah sedang bertengkar, namun kali ini ia sudah memantapkan diri untuk tidak ikut campur lagi pada hubungan Azimah dan Andra. Selma pun melenggang menjauhi Andra dan mendekat pada Anastasia.
"Anas, temani Ibu Selma memasak di dapur, mau?" tanya Selma pada Anastasia. Dengan antusias Anas pun mengangguk.
Selma meninggalkan Andra yang masih terpaku di tempatnya sambil terus memandangi kamar Azimah. Sementara Azimah di kamarnya sedang mengatur nafasnya yang menderu.
__ADS_1
"Aku membuat masalah baru" keluh Azimah.
Dengan lemah Azimah kembali menekan nomor Ronald untuk menjelaskan semuanya. Ia tidak ingin Ronald salah paham pada Andra karena ulahnya. Bagaimana pun Azimah menyadari bahwa semuanya berawal dari dirinya sendiri. Andai saja Azimah langsung memaafkan Andra tanpa harus bermain sebuah drama hanya untuk menggoda Andra.
Setelah Azimah menelpon Ronald dan menjelaskan semuanya, ia lega. Ronald bisa mengerti bahkan ia sendiri mendukung rencana Azimah. Sementara Azimah sendiri sudah malas untuk melanjutkan permainannya karena takut jika semuanya kian memburuk.
Andra mondar-mandir di bawah anak tangganya, menungggu Azimah turun agar mereka bisa bicara dari hati ke hati. Namun hingga satu jam berlalu dan hari sudah mulai menggelap, Azimah tak kunjung turun dari kamarnya membuat Andra kian frustasi memikirkannya.
Andra mengambil ponselnya dari saku celana. Mencari kontak Azimah dan menelponnya. Dan seperti dugaannya, Azimah mengabaikan panggilan darinya. Tapi Andra tidak menyerah. Perasaannya pada Azimah terlalu besar hingga membuatnya tidak akan menyerah dengan mudah dan membiarkan cintanya luput tanpa penjelasan.
Andra mengirimkan pesan pada Azimah, berharap jika Azimah bisa memberikannya satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
"Ayo bicara. Jangan seperti ini. Kita sudah merencanakan pernikahan kita, Sayang." Tulis Andra dalam pesannya.
Andra menunggu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. Dan untuk kesekian kalinya, Azimah hanya membaca pesan yang Andra kirim dan membuat Andra kehilangan kesabarannya.
Andra sudah tidak memiliki cara lagi untuk menunggu Azimah. Ia pun sudah kehilangan kesabaran untuk membujuk Azimah dengan cara yang halus. Mungkin dengan ancaman seperti ini bisa membuat Azimah mau menemuinya.
Dan benar saja, setelah pesan yang Andra kirim, Azimah membuka pintu kamarnya. Dengan penuh harap Andra menunggu Azimah turun dan menemuinya.
Sebenarnya bisa saja Andra naik ke lantai atas dan masuk ke kamar Azimah. Itu tidak akan membuat Selma ataupun Andreas berkomentar apapun. Namun karena ia sudah membuat janji pada Azimah untuk menghormati Andreas dan Selma sebagai orang tua Azimah selain daripada sahabat Andra, Andra memilih menunggu meski itu kian membuat hatinya kesal.
Azimah turun dengan langkah perlahan. Satu persatu anak tangga ia tapaki untuk mencapai Andra yang menunggunya di dasar tangga.
"Aku seperti terjebak sendiri dalam permainanku" batin Azimah yang terus menatap lekat pada Andra.
__ADS_1
Sesampainya di bawah, Azimah bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin baginya untuk mengatakan jika ia sedang menggoda Andra di saat mata Andra sudah menyiratkan kemarahan yang tertahan. Dengan angkuh Azimah membuka suara.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Katakanlah!" ujarnya pada Andra.
Andra menatap Azimah dengan senyuman kecilnya, "Kau yakin kita akan bicara di sini?" tanya Andra kembali bicara dengan nada mengancam dan terkesan menantang.
Azimah hanya diam sambil memutar matanya malas.
"Tunggu di sini!" ujar Andra pada Azimah. Belum sempat Azimah menjawab, Andra sudah berlalu dari sisinya.
Tak lama Andra kembali dengan jaket kulit yang sudah membalut tubuh bagian atasnya. Ia melangkah mendekati Azimah dan menarik tangannya.
"Ikut denganku!" titah Andra.
Dengan tangan yang di tarik Andra membuat Azimah terseret oleh langkah kaki Andra yang lebar. Mau tidak mau Azimah pun kembali menuruti Andra.
Andra membuka pintu mobil samping driver dan mendorong Azimah masuk kedalamnya. Setelah itu ia memanggil penjaga rumah dan bicara singkat lalu menyusul Azimah yang sudah berada di dalam mobil dan duduk di belakang kemudi setir.
"Kita akan kemana? Bukankah kita belum boleh keluar?" tanya Azimah sedikit cemas.
Alih-alih menjawab, Andra malah menyalakan mesin mobil dan membawa Azimah keluar dari halaman kediaman Keluarga Lu.
Andra mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, membuat Azimah sedikit takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka. Tiba-tiba saja bayangan hitam akan masa lalunya melintas memenuhi pikirannya dan membuat Azimah menarik tangan Andra.
"Andra, pelankan mobilnya. Aku takut!" lirih Azimah yang seperti menahan tangis.
__ADS_1
Andra tidak menggubris hal tersebut, ia tetap memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Menyalib beberapa mobil di depannya hingga akhirnya genggaman tangan Azimah membuatnya mengerti suatu hal.
Perlahan Andra menurunkan kecepatan mobilnya sambil melirik sekilas pada Azimah. Melihat wajah Azimah yang ketakutan membuatnya semakin merasa bersalah, namun saat ini bukanlah tempat yang tepat baginya untuk meminta maaf. Ia perlu mencari tempat aman bagi mereka berdua untuk bicara. Andra pun segera menggenggam tangan Azimah dengan erat berusaha menenangkan Azimah melalui sentuhannya. Dan kini ia kembali fokus mengemudi dengan kecepatan sedang sambil sesekali menoleh pada Azimah yang kini mulai tenang.