Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
91


__ADS_3

Andra dan Azimah sedang makan siang di sebuah restoran yang Azimah sukai. Namun sedari tadi Azimah hanya mengaduk-aduk makanannya. Pikirannya masih tertuju pada kota beludru berwarna hitam tadi.


Melihat Azimah yang hanya mengaduk piringnya, Andra melepaskan sendoknya. Ia menatap pada Azimah yang masih tidak menyadari kalau kini sikapnya itu tengah mengundang perhatian Andra. Dengan lembut Andra menggapai tangan Azimah.


Azimah tersentak dan mengangkat kepalanya yang sedari tadi hanya tertunduk.


"Ada apa?" tanya Andra serius.


Azimah menggelengkan kepalanya, mengabaikan pertanyaan Andra yang benar-benar penasaran dengan sikapnya saat ini.


"Aku perhatikan sejak kita keluar dari butik kau lebih banyak melamun. Apa terjadi sesuatu?" tanya Andra lagi.


"Tidak ada. Aku hanya tidak lapar!" jawab Azimah sekenanya.


"Kau yakin?" tanya Andra memastikan. Azimah mengangguk sambil tersenyum kecil.


"Ya sudah, kalau kau tidak lapar kita sudahi saja makan siang kita. Aku akan mengantarmu pulang sekarang!" ujar Andra.


Andra berdiri dan beranjak namun Azimah segera menahannya.


"Ada apa?" tanya Andra bingung.


"Aku merindukan Anas. Boleh aku ikut pulang bersama denganmu?" tanya Azimah beralasan.


"Tapi Bibi Emma, maksudku Nenek, Azirah dan Alex menunggumu" kata Andra mengingatkan.


"Tidak apa, aku bisa bicara dengan mereka besok. Ayo!" kata Azimah yang langsung memimpin jalan.


Andra hanya menuruti apa yang Azimah inginkan meski dirinya sendiri merasa aneh dengan perubahan sikap Azimah yang begitu cepat. Mereka pun pergi menuju rumah Andra.


* * *


Tiba di rumah Andra, Azimah langsung mencari Anastasia yang ternyata tengah bermain di ruang bermainnya.


"Anas ...," teriak Azimah memanggil Anastasia.


Anastasia yang mengetahui Azimah datang langsung berlari dan memeluknya. Andra hanya bisa tersenyum dan membiarkan anak dan calon istrinya itu untuk melepas rindu.

__ADS_1


Azimah tidak berbohong, meski kedatangannya hari ini untuk melihat kebenaran dari apa yang disembunyikan Andra, tapi ia memang merindukan Anastasia. Sudah terbiasa bermain dan menghabiskan waktu bersama Anastasia membuat Azimah sudah terbiasa dengan kehadiran Anas di sisinya. Mereka pun bermain dengan riang dan untuk sesaat pikiran Azimah tentang kalung yang Andra beli teralihkan.


Hari sudah mulai sore, Azimah sudah menidurkan Anas setelah mereka puas bermain. Kini ia mencari Andra di ruang kerjanya.


Samar-samar Azimah mendengar ada yang sedang berbincang dengan Andra. Mereka tampak akrab dan sangat bahagia. Dan perlahan tapi pasti suara itu kian jelas.


"Suara wanita?" batin Azimah.


Azimah kian melangkah pasti ke muka pintu. Tangannya meraih handle pintu dan membukanya sedikit.


Azimah bisa melihat Andra tersenyum lebar sambil bercengkrama dengan seorang wanita dihadapannya. Mata mereka nampak fokus pada sebuah kotak yang terletak di atas meja.


Azimah membulatkan mata ketika mengetahui bahwa kotak itu adalah kotak yang ia temukan di mobil Andra tadi.


Azimah mundur beberapa langkah. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Ia pun tidak bisa memutuskan apakah harus masuk dan ikut berbincang bersama ataukah membiarkan semuanya seperti tidak mengetahui apa-apa.


Azimah kembali pergi menuju kamar Anastasia. Ia menenangkan hatinya yang sangat kacau saat ini. Pikirannya ingin mengatakan bahwa apa yang tengah hatinya rasakan saat ini adalah salah. Namun matanya menolak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Andra tidak pernah akrab dengan wanita seperti tadi. Akankah itu wanitanya?" batin Azimah menerka.


"Alangkah teganya dia membawa wanita lain saat aku sedang berada didekatnya!" gerutu Azimah yang kian tidak bisa mengendalikan perasaannya lagi.


Baru saja Azimah hendak meraih tasnya, pintu kamar terbuka. Menampakkan Andra dengan wajah bahagianya dan seorang wanita yang menurut Azimah itu sangat cantik dan cukup dewasa.


"Sayang ...," panggil Andra sembari melangkahkan kakinya mendekat pada Azimah.


"A-ada apa?" tanya Azimah gugup.


"Kau kenapa? Kau tidak enak badan?" tanya Andra sambil menempelkan punggung tangannya pada dahi Azimah.


"Tidak, aku hanya terkejut saja!" jawab Azimah beralasan.


"Oh, iya. Kenalkan dia Laura, Sekretarisku!" kata Andra mengenalkan wanita cantik yang berdiri di sampingnya kini.


"Laura!" Laura mengulurkan tangan untuk berkenalan namun Azimah berpikir untuk meraihnya. Kehangatan yang tadi ia lihat antara Andra dan Laura terlalu menusuk hatinya.


"Sayang ...," panggil Andra yang membuat lamunan Azimah terbuyar.

__ADS_1


"Ah iya. Azimah!" kata Azimah mengenalkan dirinya.


"Di mana Anas?" tanya Andra pada Azimah.


"Dia baru saja tidur, sebaiknya kita bicara di luar saja. Nanti Anas terbangun!" jelas Azimah.


Andra merangkul Azimah dan membawanya ke ruang keluarga. Sementara Laura, ia mengiringi keduanya dari belakang sambil sesekali tersenyum.


"Laura, kau ingin minum atau makan atau apa? Sudah lama kau berada di rumahku namun aku belum memberimu apapun!" kata Andra ketika tiba di ruang keluarga.


"Apa saja. Aku pemakan segala, Pak!" jawabnya setengah bergurau pada Andra sambil tertawa kecil.


Andra terkekeh mendengarnya, berbeda dengan Azimah yang merasa seperti diabaikan keduanya. Ia pun hanya diam sambil memainkan ponselnya.


Andra berteriak memanggil Asisten rumah tangganya. Memintanya untuk membawakan mereka minuman dan makanan ringan sebagai teman mengobrol mereka.


"Sayang ...," panggil Andra setengah berbisik di telinga Azimah.


"Em ..., ada apa?" tanya Azimah pelan.


"Kau murung? Apa terjadi sesuatu?" kata Andra bertanya.


"Tidak, And. Aku tidak apa-apa dan tidak ada apapun yang terjadi!" jawab Azimah.


"Aku tidak suka melihat kau murung seperti ini. Tersenyumlah!" pinta Andra sambil menggunakan kedua tangannya untuk membuat senyuman di wajah Azimah.


Azimah tersenyum kecil hingga membuat Laura dan Andra tertawa bersamaan. Namun tak lama Azimah kembali diam dan murung lagi.


Asisten rumah tangga Andra membawakan mereka teh dan camilan lainnya. Andra memberikannya pada Azimah dan Laura. Mereka berbincang ringan meski perbincangan itu hanya terjadi antara Luara dan Andra, sedangkan Azimah tengah sibuk dengan ponselnya.


Azimah hendak menyingkir dari Andra maupun Laura. Ia terlalu jengah dengan perbincangan yang hanya kedua orang itu ketahui. Namun saat ia melihat cincin yang melingkar di jari manisnya, Azimah tersenyum miris.


"Andra adalah milikku! Aku tidak akan membiarkan orang lain mengambilnya dariku" batin Azimah berteriak.


Azimah menggeser duduknya dan menyadarkan diri dalam pelukan Andra. Dan seketika perbincangan antara Laura dan Andra pun terhenti.


"Ada apa, Sayang?" tanya Andra yang merasa aneh dengan sikap Azimah kali ini. Tidak biasanya Azimah bersikap seperti ini di depan orang asing.

__ADS_1


"Aku mengantuk!" jawab Azimah santai sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Andra.


Andra hanya tersenyum dan membalas pelukan Azimah. Dan untuk sesaat Azimah merasa tenang.


__ADS_2