Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
92


__ADS_3

Azimah tetap memeluk Andra tanpa menghiraukan keberadaan Laura. Andra sendiri sebenarnya risih, merasa tidak enak karena sikap Azimah yang berlebihan. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Wanita paling tidak suka apa yang menjadi keinginannya di tentang sekalipun salah (Termasuk Author hehe). Dan akhirnya Andra membiarkan Azimah terus memeluknya.


"Pak, sepertinya Nona Azimah ingin berduaan saja dengan Bapak. Kalau begitu saya permisi dulu!" kata Laura menarik diri karena merasa ada yang lain dari Azimah saat menatap dirinya.


"Baguslah kalau sadar diri!" batin Azimah tersenyum puas.


"Baik ...," Andra hendak berdiri namun tidak bisa karena Azimah yang masih berada dalam pelukannya. Ia pun hanya pasrah.


"Terimakasih, Laura karena sudah merepotkanmu!" ujar Andra.


"Tidak masalah, Pak. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai sekretaris Bapak!" jawab Laura.


"Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke depan karena bayi besar ini yang ...,"


"Aku mendengarnya, And!" celetuk Azimah saat menyadari bahwa dirinya tengah di sindir.


Laura dan Andra tertawa melihat tingkah kekanak-kanakan Azimah itu.


"Kalau begitu saya permisi, Pak. Nona Azimah, selamat malam!" Laura pamit pada keduanya.


Sementara Andra mulai melepaskan Azimah dari pelukannya. Azimah membulatkan matanya melihat Andra yang tiba-tiba mengurai pelukannya setelah tadi ia membiarkannya begitu saja.


"Kenapa kau lepaskan?" teriak Azimah.


"Kau kenapa? Kau cemburu pada Laura, heh?" tanya Andra.


"Siapa yang cemburu. Kau saja yang tidak ingin memelukku!" ketus Azimah.


"Kau seperti anak kecil, Azimah. Tidak biasanya kau bersikap seperti ini. Untung itu Laura, jika orang lain itu akan membuatku malu!" kata Andra.


"Oh, jadi kau malu memiliki tunangan seperti aku? Begitu? Lalu kenapa kau mau bertunangan denganku? Lebih baik kita batalkan saja sebelum semuanya terjadi dan kau menyesal!" tukas Azimah.

__ADS_1


"Azimah, sebenarnya kau ini kenapa? Kenapa begitu berubah-ubah. Tadi kau selalu murung dan setelah itu kau bersikap kekanak-kanakan dengan memelukku terus menerus di depan Laura dan sekarang kau bersikap seperti ini. Kau kenapa? Makin ke sini sikapmu makin tidak jelas!" kesal Andra.


"Kalau tidak jelas kenapa kau mau menikahiku? Batalkan saja semuanya. Lupakan aku! Aku memang seperti ini, kekanak-kanakan dan semauku. Kalau kau tidak siap menerimaku maka lepaskan saja aku" teriak Azimah yang mulai mengeluarkan semua kekesalannya seharian ini.


"Bukankah kau sudah berjanji bahwa kau tidak akan mengatakan perpisahan lagi? Dan kau mengingkarinya, Azimah!" kata Andra tajam.


Azimah diam.


"Aku menikahimu karena aku menginginkanmu, aku mencintaimu dan ingin menghabiskan sisa waktuku bersama denganmu. Setelah semua yang sudah kita lalui dan kau masih meragukanku, lalu cara apa agar aku bisa meyakinkanmu? Cara apa?" teriak Andra kesal.


"Kau menyembunyikan sesuatu dariku, dan kau berbohong padaku!" kata Azimah yang mulai merendahkan nada bicaranya.


Andra menatap tajam padanya. Ia memegang kedua pundak Azimah karena merasa di tuduh yang bukan-bukan.


"Apa? Apa yang aku sembunyikan darimu? Kebohongan apa yang telah aku lakukan padamu? Katakan! Aku tidak suka berada dalam kesalahpahaman seperti ini!" ujar Andra.


"Kenapa kau tidak jujur saja. Aku sudah mengetahui semuanya dan aku hanya menunggu kau untuk bicara yang sebenarnya. Katakan saja, aku sudah siap menerima dan mendengar semua yang akan kau katakan itu!" kata Azimah yang kembali membuat Andra kesal.


"Kenapa kau tidak jujur! Kau saja yang jujur dan mengakui semuanya!" tegas Azimah yang merasa dirinya benar.


"Apa yang harus aku akui? Aku tidak menyembunyikan apapun darimu ataupun berbohong sesuatu hal terhadapmu. Itu hanya asumsi atau perasaanmu saja. Jadi katakan jika kau merasa bahwa aku memang telah melakukan itu semua" pinta Andra dengan nada lembut.


Azimah diam sesaat. Ia menatap tajam ke dalam mata Andra. Dan mata itu begitu menatapnya penuh kekhawatiran.


"Tatapan macam apa itu? Apa dia mengkhawatirkan dirinya atau diriku?" tanya Azimah salam hati.


"Azimah ..., katakan, cepat!" desak Andra.


"Kau ..., kau berselingkuh, bukan?" teriak Azimah tanpa membalas tatapan Andra.


Andra melepaskan kedua tangannya di pundak Azimah. Ia menatap Azimah tak percaya. Tuduhan yang ia tujukan pada dirinya bukanlah tuduhan yang ringan. Selingkuh, kata laknat itu tidak pernah mungkin Andra lakukan karena ia sendiri membenci hal tersebut.

__ADS_1


"A-apa y-yang kau katakan, Azimah? A-aku berselingkuh?" tanya Andra gagap.


"Iya. Kau berselingkuh. Dan wanita itu dengan sekretarismu!" jelas Azimah.


Andra makin tidak percaya mendengarnya. Azimah begitu lugas menuduhnya dan itupun dengan sekretarisnya sendiri.


"Apakah sedikit saja kau tidak bisa mempercayaiku, Azimah? Kau sadar dengan tuduhanmu itu? Kau, kau, kau sudah keterlaluan!" kata Andra dengan mata memerah menahan kemarahan.


Azimah menatapnya dan merasakan sakit di relung hatinya. Ia sedikit ragu dengan apa yang baru saja ia katakan pada Andra.


"Apakah aku melakukan kesalahan?" batin Azimah.


"Jangan menatapku begitu, And. Jangan menatapku seperti aku-lah yang telah melakukan kesalahan!" ujar Azimah menolak percaya dengan apa yang ia lihat kini.


"Apa kau punya bukti sehingga kau begitu yakin bahwa aku berselingkuh darimu?" tanya Andra.


"Ya, kau, kalian sangat akrab dan hangat berbincang. Dan jangan lupakan dengan hadiah yang kau beli untuknya. Kau bahkan membelikan dia hadiah, And. Hadiah!" teriak Azimah yang masih kekeh dengan pendiriannya.


"Hadiah apa, Azimah? Tidak ada wanita yang aku berikan hadiah selain kau dan Adelina. Kau terlalu mengada-ada. Kau terlalu meyakini apa yang kau rasakan hingga kau tidak bisa melihat semuanya dengan jelas!" teriak Andra kesal.


"Aku tidak akan menuduhmu jika aku tidak yakin. Kau memang berselingkuh dariku dan kau menikmatinya!" kata Azimah penuh keyakinan.


"Sepertinya kau memang tidak pernah mempercayaiku. Jadi percuma aku menjelaskan apapun, kau tidak akan percaya. Dan sekarang, kau bisa memilih sendiri keputusanmu!" ujar Andra menahan kemarahannya.


"Apa maksudmu?" tanya Azimah tidak mengerti.


"Jika kau sangat yakin dengan semua tuduhanmu itu kau bisa memutuskan pertunangan kita. Kau bisa memilih apakah aku layak menjadi suamimu atau tidak!" tegas Andra yang berbalik dan meninggalkan Azimah sendirian.


Azimah terpaku di tempat. Selama ini Andra tidak pernah mengatakan kata perpisahan. Dan sekarang ia mengucapkan semua itu. Hal ini semakin membuat Azimah yakin kalau Andra memang telah mengkhianatinya.


Mendapati hal itu Azimah menyusul Andra di kamarnya. Dengan keras ia membanting pintu kamar hingga membuat Andra menatapnya dengan mata yang menyala.

__ADS_1


"Kau ingin membatalkan pertunangan kita, bukan? Baiklah, aku turuti semua kemauan! Kau tidak perlu menempatkan aku pada pilihan atas semua kesalahan yang telah kau lakukan padaku, Andra. Kau ingin membatalkan semua rencana kita. Baik! ANDRA KITA TIDAK AKAN PERNAH MENIKAH!" teriak Azimah sambil melepaskan cincin dari jari manisnya dan melemparkannya pada Andra kemudian berbalik meninggalkan Andra.


__ADS_2