Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
32


__ADS_3

Seminggu sudah setelah kejadian Andra yang melecehkan Azimah. Azimah kini nampak lebih diam. Selma mempertanyakan keadaan Azimah yang tiba-tiba berubah setelah hari itu, namun baik Azimah maupun Andreas tak ada yang memberitahunya. Selma pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia membiarkan Azimah dengan kesendiriannya meski rasa khawatir sudah mendominasi dirinya.


Satu Minggu yang lalu...


"Andra, apa yang terjadi denganmu?" tanya Charlotte yang menemui Andra dalam keadaan berlumuran darah.


Andra tak menjawab, ia diam tak bicara. Charlotte pun tak banyak bertanya lagi. Ia membawa Andra pulang bersamanya. Charlotte tidak membawa Andra pulang kerumahnya karena Andra yang melarangnya. Ia tak ingin Anastasia melihatnya dalam keadaan yang seperti ini. Charlotte pun membawa Andra ke apartemen miliknya.


"Katakan padaku, apa yang terjadi?" tanya Charlotte tak sabar lagi melihat kebungkaman Andra.


"Aku melecehkan Azimah, Chloe!" Charlotte membelalakkan mata tak percaya.


"Apa kau serius?" tanya Charlotte memastikan.


Andra bungkam. Dengan geram Charlotte pun memukul pundak Andra. Mengabaikan keadaan Andra yang masih berlumuran darah.


"Apa kau gila? Seberapa kesepian kau sehingga kau bisa melakukan hal yang begitu memalukan. Kau tahu, Anas seorang perempuan?!" teriak Charlotte kesal.


Andra kembali bungkam. Kenyataan bahwa ia juga seorang Ayah menyadarkan dirinya bagaimana perasaan Andreas saat melihat keadaan Azimah karena ulahnya. Ia pun hanya menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Kau bisa membeli wanita panggilan jika memang kau kesepian. Kau bisa melakukannya, tidak ada yang melarang itu. Kenapa harus anak sahabatmu sendiri?!" Rentetan kemarahan Charlotte terdengar menggebu-gebu di telinga Andra.


"Aku mencintainya, Chloe ...," lirih Andra.


"Oh..., karena dia mencintaimu jadi kau bisa bersikap seenaknya begitu terhadap Azimah? Apa seperti ini caramu mencintai seorang wanita?" Charlotte tidak terima Andra membela dirinya atas nama cinta. Itu sangat omong kosong!


"Aku cemburu, Chloe. Aku cemburu! Aku marah saat melihat Azimah bersama dengan pria lain. Aku terluka saat melihatnya bisa tertawa lepas dengan pria lain namun saat bersama denganku dia menampakkan wajah sendunya. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku hilang kesadaran saat Azimah membiarkan dirinya lebih dekat dengan pria lain ...," emosi Andra memuncak mengingat kembali api yang membakar dirinya sesaat sebelum ia kehilangan akal terhadap Azimah.


Ada perasaan ngilu di dalam hati Charlotte saat mengetahui hati Andra yang sudah termiliki oleh Azimah. Namun ia kembali menyadari, bahwa perasaan seseorang tak bisa dipaksakan.

__ADS_1


"Kau marah saat Azimah bersama dengan pria lain? Memang apa hubungan kalian? Pernahkan kau menyatakan perasaanmu padanya atau pernahkan kau meyakinkan Azimah bahwa kau memang mencintainya?" ujar Charlotte menggebu-gebu.


Andra bungkam.


"Andra, kau melimpahkan semua kekuranganmu pada Azimah, jika Azimah bisa tertawa lepas dengan teman prianya yang lain namun hal sebaliknya terjadi saat Azimah bersama denganmu, pernahkan kau berpikir bahwa di sini siapa yang salah?" Charlotte tahu benar bagaimana sikap Andra terhadap seorang wanita. Dan itu pun berlaku dengannya juga Azimah.


Andra kembali bungkam.


"Kau menuding Azimah dengan mengatakan Azimah memberi celah untuk pria lain namun kau sendiri yang tak bisa menjaganya!" geram Charlotte.


"Aku benar-benar mencintainya, Chloe. Aku menyesal karena terlambat menyadarinya" lirih Andra lagi.


"Berhenti untuk membela dirimu di atas nama cinta, And. Kau tahu, kau tak hanya melukai Azimah kau juga melukai Tuan dan Nyonya Lu." Tegas Charlotte mengingatkan Andra.


Andra menyadari itu, namun semuanya sudah terlambat. Ia sudah melakukan kesalahan yang mungkin tak akan pernah bisa dimaafkan oleh Selma dan Andreas.


* * *


Meeting berjalan lancar, semua menyukai gagasan yang diberikan Azimah. Mereka pun akan segera mengembangkan ke tahap berikutnya.


Andreas mengajak Azimah untuk makan siang. Setelah kejadian hari itu, Andreas lebih sering menemani Azimah di waktu kosongnya. Meski tak ada yang bisa mereka bicarakan namun Andreas merasa Azimah perlu seseorang yang bisa menemaninya tanpa banyak bertanya.


Jam kantor pun usai. Azimah bisa melalui harinya yang berat dengan senyuman, walau sebenarnya ia menyimpan luka yang menganga di dalam hatinya.


Seperti biasa, setelah pulang mereka akan malam bersama. Di meja makan Azimah nampak memperhatikan Ayah dan ibunya bergantian. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan namun ia terlalu ragu untuk mengatakannya.


Andreas yang merasakan itu langsung menegur Azimah.


"Ada apa, Azimah? Kenapa kau selalu melihat ke arah Ibu dan Ayah secara bergantian?" tanya Andreas.

__ADS_1


Selma menghentikan aktivitas makannya setelah mendengar apa yang Andreas katakan.


Azimah nampak bingung namun Selma mendekatinya dan menggenggam jarinya. Berusaha untuk membuatnya percaya bahwa mereka akan selalu ada untuk Azimah...


"Katakan, Sayang. Ada apa?" kata Selma meminta dengan kelembutan.


"Aku, apakah aku boleh tinggal sendiri?!" tanya Azimah ragu.


Selma dan Andreas saling memandang. Mereka diam sejenak untuk mengetahui apa yang Azimah pikirkan di balik permintaannya saat ini.


"Apa ini ada hubungannya dengan keadaanmu belakangan ini?" tanya Selma memastikan.


Azimah mengigit bibir bawahnya. Ia merasa sudah tidak sanggup membohongi Selma lebih lama lagi, namun untuk mengatakan hal sebenarnya itu pun terlalu sulit bagi Azimah. Ia tak ingin memperkeruh keadaan dengan peristiwa minggu lalu.


"Tidak, 'Bu. Ini semua aku lakukan agar aku lebih bisa hidup mandiri. Aku mohon biarkan aku tinggal sendirian. Aku berjanji tak akan membuat kalian khawatir" kata Azimah dengan nada memohon.


Andreas nampak menghela nafas panjang. Begitu juga dengan Selma. Terlihat jelas dari wajahnya jika ia tak akan mengizinkan hal itu terjadi. Ia pun segera beranjak dari tempatnya. Meninggalkan makan malamnya dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


Andreas memandangi Azimah yang tertunduk lemah. Ia menyadari hal itu sulit baginya. Namun ia pun tak bisa membiarkan Azimah tinggal sendirian diluaran sana. Dalam jangkauannya saja Azimah bisa mendapatkan perlakuan buruk dari orang terdekatnya. Bagaimana jika Azimah di luar sana.


"Ada apa, Azimah? Katakan pada Ayah semuanya!" pinta Andreas.


"Aku ingin tinggal sendiri, Ayah. Aku sudah tak sanggup melihat Ibu bersedih dengan keadaanku. Aku sudah mencoba untuk bersikap seperti biasa namun itu terlalu sulit bagiku. Maafkan aku, Ayah" kata Azimah pelan. Tanpa sadar bulir bening jatuh dari kelopak matanya.


"Ayah akan berusaha bicara pada ibumu, jika ibumu tetap tak mengizinkan, Ayah harap kau bisa mengerti kekhawatiran Ibu. Dia sudah cukup khawatir dengan keadaan Alex dan juga Azirah di luar sana. Beruntung mereka tinggal di rumah Nenek. Jika mereka memilih tinggal sendiri mungkin ibumu sudah menjemput mereka sejak lama" Jelas Andreas mencoba memberi pengertian.


Azimah hanya diam. Ia melanjutkan makan malamnya meski selera makannya sudah hilang. Andreas tak bisa meneruskan makan malamnya, ia lebih memilih melihat keadaan Selma di kamar mereka.


* * *

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2