
Andreas dan Azimah pulang bersamaan sementara mobil Azimah dikendarai supir pribadi Andreas. Mereka tiba di apartemen Azimah, Andreas melepas Azimah hingga sampai ke pintu masuk...
"Jangan lupa telepon ibumu sesekali, kau tahu ayah selalu ditanyai ibumu saat pulang kantor..." keluh Andreas..
Azimah hanya mengacungkan jari jempolnya..
"Masuklah..."
"Ayah hati-hati, samapikan salamku pada ibu dan juga Axel..." balas Azimah kemudian berbalik meninggalkan Andreas..
Andreas menghampiri mobil hitam yang terparkir tak jauh dari gedung apartemen Azimah..
Pengemudi mobil tersebut menurunkan kaca jendelanya setelah mengetahui Andreas menuju padanya...
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Andreas tajam...
"Aku hanya mengamati Azimah..."
"Apa kau sekarang merubah profesimu menjadi penguntit?" tanya Andreas pada lawan bicaranya yang tak lain adalah Andra..
Andra hanya diam mendengarnya...
"And, biarkan Azimah sendiri yang memilih. Jangan paksa dia dengan sikapmu ini, itu kembali menyakitinya..." jelas Andra menurunkan nada bicaranya..
"Azimah sudah memilih, bukankah Azimah dan Ronald sudah resmi berkencan? Bahkan Azimah mengatakan jika mereka akan segera bertunangan..." Tukas Andra yang membuat Andreas mengerenyitkan dahinya..
"Kau tak tahu?" Tanya Andra melihat wajah kebingungan Andreas..
"Aku memang tidak tahu, tapi aku bahagia mendengarnya..."
Andra kini menatap Andreas bingung..
"Karena kau sudah mengetahui jalan tujuan Azimah, aku harap kau tak akan menghalanginya..." pinta Andreas kemudian berlalu meninggalkan Andra dan mobilnya...
Andra mengamati kepergian Andreas dengan mata menyelidik. Otaknya berpikir keras mencerna keadaan saat ini. Wajah kebingungan Andreas seperti mengisyaratkan sesuatu. Sudut bibir Andra menaik sebelah, Ia pun turun dari mobil dan berjalan menuju apartemen Azimah..
Tak butuh waktu lama Andra pun tiba di depan pintu apartemen Azimah. Ia menekan bel, cukup lama ia menunggu kemudian ia menekan kembali dan kali ini segera mendapat jawaban. Pintu terbuka dan Azimah sedikit terkejut melihat Andra yang berdiri di depan pintu apartemennya..
Andra masuk tanpa meminta persetujuan Azimah, Azimah masih mematung dan terdiam di muka pintu. Andra berbalik dan menarik tangan Azimah yang masih memegang daun pintu. Menutup pintu tersebut dan berbisik tepat di telinga Azimah..
"Kau tak berniat mengganti pakaianmu? Kau menggodaku dengan penampilan seperti ini..."
Mata Azimah membulat, Ia menatap tajam pada dirinya sendiri dan menyadari bahwa ia masih mengenakan handuk. Azimah segera menarik tubuhnya dari Andra dan memberika tatapan tajam pada Andra...
"Dasar mesum..." kata Azimah kemudian ia berlari kekamarnya sementara Andra memilih duduk di sofa sambil terus tersenyum melihat wajah Azimah yang bersemu merah karena ucapannya..
"Itulah akibatnya jika kau berani berbohong padaku!" teriak Andra dari ruang tamu..
__ADS_1
Azimah keluar masih menatap tajam pada Andra..
"Apa yang paman lakukan disini?" tanya Azimah ketus..
"Ingin menghukum orang yang telah berbohong paddaku..." jawab Andra santai...
Azimah mengerutkan dahinya tak mengerti..
"Telepon kekasihmu, aku ingin bertemu!" titah Andra..
"Untuk apa paman bertemu dengannya? dia sibuk!" elak Azimah..
Andra menatap lekat pada Azimah namun Azimah membuang muka. Ia merasa terintimidasi dengan tatapan Andra..
"Kenapa kau membuang muka dariku?"
Azimah diam..
"Kenapa kau berbohong?" tanya Andra yang mulai bicara dengan nada serius..
"Aku tak berbohong, aku dan Ronald memang berkencan..." jawab Azimah berusaha untuk tenang walau hatinya kini sudah gusar..
"Iyas tak tahu tentang ini?!"
"Aku memang belum memberitahu ayah dan ibu..."
"Tidak semua hal harus diketahui orangtua. Aku punya kehidupan pribadiku sendiri..."
Andra tersenyum kecil mendengarnya..
"Kau bukan Azimah yang kukenal. Azimah yang kukenal akan terbuka pada orangtuanya karena merasa kebahagiaannya harus dibagi pada mereka, keluargamu..."
"Kau yang merubahku. Setelah semua yang terjadi, aku kembali berpikir jika harus terbuka pada ayah dan ibu. Cukup masalah terakhir yang membuat Ayah murka. Aku tak ingin menambah hal lainnya. Lagi pula, sejak kapan aku bahagia? Sejak mengenalmu aku merasa kebahagiaanku terenggut secara perlahan..." lirih Azimah..
Andra menelan salivanya. Ia terus memandangi Azimah yang bicara tanpa melihat wajahnya. Ia menghela nafas kasar..
"Kau tak akan memberiku minum sebagai tamu?" tanya Andra mencoba mengalihkan pembicaraan..
"Tidak ada air juga paman bukan tamuku..." jawab Azimah ketus..
"Sebenci itukah kau padaku sekarang?"
Azimah kembali diam. Andra pun diam. Hening sejenak. Andra berdiri dan mendekat pada Azimah. Berdiri tepat dibelakang Azimah dan membungkukkan badannya. Mencium puncak kepala Azimah dan berkata...
"Aku merindukanmu..., sungguh..." ujar Andra pelan...
Azimah tetap diam hingga akhirnya Andra berlalu meninggalkannya. Ia menarik nafas panjang setelah kepergian Andra. Mengusap wajahnya kasar dan berusaha menenangkan hatinya...
__ADS_1
Setelah hari itu, Andra lebih sering mengunjungi Azimah. Kadang sendiri kadang pula bersama Anastasia. Kadang memaksa Azimah untuk menemaninya makan di apartemen atau memaksa Azimah untuk memasakkannnya. Azimah selalu menolak namun akhirnya ia menyerah karena Andra selalu menggunakan cara yang sama jika Azimah tak menuruti keinginannya. Ya itu, tak akan pergi hingga Azimah menuruti keinginan Andra. Azimah pun terpaksa melakukannya..
"Dia kemari lagi?" bisik Mei yang melihat Andra dengan santai menonton televisi di ruang keluarga bersama Anastasia. Dengan lemah Azimah mengangggukan kepala pada Mei..
"Padahal malam ini aku ingin mengajak kau jalan-jalan diluar, sepertinya tak akan bisa..."
"Bagaimana lagi, ada Anas bersamanya. Jika tak ada aku pasti sudah meninggalkan dia dan memilih pergi denganmu..." gerutu Azimah..
Mei tersenyum sendiri ketika ia memandang Andra dan Anastasia lalu berbalik memandang pada Azimah..
"Hei, apa yang membuatmu tersenyum begitu?" tanya Azimah heran..
"Kalian seperti keluarga harmonis. Kau sedang memasak untuk anak dan suamimu..., wah aku iri padamu..." goda Mei dengan mata memicing...
"Tutup mulutmu.." kesal Azimah hingga terdengar oleh Andra dan Anastasia..
Azimah hanya tersenyum menanggapinya sambil menggelengkan kepala..
"Aku harus pulang, Ronald akan menjemputku!" kata Mei tiba-tiba..
"Kalian pergi bersama?" tanya Azimah memastikan..
"Tadinya ingin bertiga, tapi kau sedang sibuk..., apa aku batalkan saja?" bingung Mei..
"Kenapa harus dibatalkan, pergi saja..." sahut Azimah..
"Dia mengajakkun karena ingin pergi denganmu." jelas Mei..
Azimah nampak berpikir sejenak, ia melihat bahan makanan yang ia masak saat ini, ia pun tersenyum..
"Ajak Ronald makan malam bersama disini, aku masak banyak hari ini!" seru Azimah..
"Kau yakin akan menggabungkan si dingin es itu dengan Ronald? Tak takut kebohonganmu terbongkar?" tanya Mei yang di tanggapi langsung oleh Azimah dengan senyuman lebarnya..
"Ya sudah, aku akan mengajak Ronald kemari..., selesaikan masakmu dan aku akan menunggu Ronald, oke?"
"Oke.." balas Azimah..
Secara tak sengaja Andra mendengar semua percakapan Azimah dan Mei...
"Kebohongan? Kebohongan apa itu Azimah?" pikir Andra gelisah..
****
Jangan lupa Like, Coment dan Favoritkan ya. Agar kalian tahu perkembangan ceritaku..
Makasih...
__ADS_1