Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
69


__ADS_3

Andra masuk rumah dengan terburu-buru, ia mencari Azimah kesana-kemari untuk menjelaskan masalah mereka. Andra sudah mencari ke semua ruangan di lantai satu, namun ia tidak menemukan Azimah. Andra berniat untuk naik ke lantai dua, namun ia menghentikan langkahnya saat di tangga dasar. Andra memilih mengambil ponselnya untuk menghubungi Azimah.


Panggilan pertama, kedua dan ketiga tidak menemukan jawaban. Andra semakin merasa jika Azimah sedang mendiamkannya.


'Jika aku naik, nanti bertemu Selma dan semuanya akan buruk. Namun jika aku tidak naik maka masalah ini tidak akan selesai. Oh Tuhan, aku benci berada di pilihan seperti ini' gerutu Andra.


Dengan mengumpulkan keberanian, Andra kembali melanjutkan langkahnya untuk menaiki anak tangga namun lagi-lagi terhenti karena sebuah suara menahannya.


"Andra ...," seketika Andra menoleh pada sumber suara, dan ia sedikit canggung ketika melihat Selma berdiri sambil menatapnya penuh tanda tanya.


"Selma ...," panggil Andra canggung.


"Ada apa kau ingin ke atas? Kau mencari Azimah?" tanya Selma memastikan.


Dengan ragu Andra menganggukkan kepalanya. Selma berjalan mendekat pada Andra dan membuat wajah Andra kian tidak tenang. Namun sedetik kemudian Selma tersenyum, senyuman yang hampir tidak pernah ia lihat lagi selama tinggal di kediaman keluarga Lu satu bulan terakhir ini.


"Azimah ada di halaman belakang bersama Anas. Mereka sedang berkebun" ujar Selma menjelaskan.


"Ah, i-i-iya. Aku akan ke sana" jawab Andra gugup.


Tanpa menunggu lagi, Andra berlari menuju halaman belakang. Meninggalkan Selma yang masih berdiri dengan wajah bingungnya.


Saat menuju pintu belakang, Andra mengatur nafasnya. Ia mengelap keringatnya yang juga menempel di dahinya saat ini.


Perlahan ia melangkah menuju halaman belakang. Di sana ia melihat Azimah sedang menaruh sesuatu ke dalam tanah dengan Anastasia yang mengamatinya dari samping. Mereka begitu serius membuat Andra menyunggingkan senyuman terbaiknya.


"Ehm...," Andra berdehem untuk mengalihkan perhatian kedua wanita yang paling ia sayangi saat ini.


Azimah dan Anastasia menoleh pada sumber suara, saat mengetahui itu Andra, Anas segera berlari dan memeluknya.


"Ayah ...," ujar Anastasia berteriak memanggil Andra.


Dengan cepat Andra meraih Anastasia dan membawanya dalam gendongannya. Anastasia tersenyum yang di balas pelukan dan kecupan ringan di sebagian wajahnya.


"Anas merindukan Ayah!" ujar Anastasia dengan senyum yang menampilkan gigi putih bersihnya.


"Ayah juga merindukan Anas" jawab Andra sambil melirik pada Azimah. Namun Azimah masih sibuk dengan tanah dan cangkulnya.

__ADS_1


"Apa Anas dan Kak Azimah sedang berkebun?" tanya Andra yang sudah melangkah mendekati Azimah.


"Iya. Kak Azimah mengajarkan Anas caranya berkebun dan itu sangat menyenangkan" jawab Anastasia antusias.


"Wah, apa Ayah boleh ikut membantu?" tanya Andra masih mencoba menarik perhatian Azimah.


Bersamaan dengan itu, Azimah berdiri sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangannya, membersihkan tanah yang masih melekat di telapak tangannya.


"Sudah selesai, Sayang" ujar Azimah yang masih mengabaikan Andra.


'Dia benar-benar marah' batin Andra.


"Sekarang Anas cuci tangannya hingga bersih dan tunggu Kakak di ruang keluarga" kata Azimah pada Anastasia.


Anastasia turun dari gendongan Andra dan berlari ke wastafel dapur untuk mencuci tangannya. Sementara kini, Azimah sudah menatap pada Andra.


"Ada apa?" tanya Azimah pada Andra.


"Itu, aku, ah tidak, maksudku, aku hanya ingin melihatmu saja" jawab Andra asal.


'Kenapa aku mengatakan hal yang berlainan' rutuk Andra pada dirinya sendiri.


'Ah, aku membuatnya semakin marah' batin Andra lagi.


"Azimah, Sayang. Tunggu!" kata Andra yang sudah mencekal tangan Azimah.


Azimah menoleh dengan tatapan bingung namun ia tidak melepaskan genggaman itu.


"Ada apa? Bukankah kau mengatakan bahwa kau hanya ingin melihatku saja. Sekarang kau sudah lihat. Lalu ada apa lagi?" Rentetan pertanyaan Azimah membuat Andra menelan salivanya dalam-dalam. Bingung harus memulai semuanya dari mana.


'Kenapa di saat seperti ini otakku malah tidak bisa bekerja dengan baik. Tuhan, bantu aku" ujar Andra kembali merutuki dirinya sendiri.


Saat tatapan mereka saling beradu, Andra menarik tangan Azimah dan merentangkan telapak tangan Azimah. Membersihkan tanah halus yang masih tersisa di sana. Azimah kian menatapnya bingung.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Azimah yang langsung menarik tangannya dari Andra.


Andra mengangkat kepalanya dan menatap Azimah dengan lekat. Barulah Andra sadar jika ada yang berbeda dari wajah Azimah. Matanya sembab membuat Andra kian merasa bersalah.

__ADS_1


"Kenapa dengan matamu?" tanya Andra cepat hendak menggapai wajah Azimah namun segera Azimah tepis.


"Katakan, And. Di sini panas!" desak Azimah.


"Maaf ...," ucap Andra tulus sambil menatap ke dalam mata Azimah. Azimah pun demikian, namun sedetik kemudian keningnya berkerut. Bingung dengan apa yang Andra ungkapkan padanya.


"Maaf untuk apa?" tanya Azimah tajam.


"Maaf karena memanggil Adelina di depanmu tadi malam!" jawab Andra memberanikan diri.


Azimah menarik nafas, mengerti kemana arah pembicaraan kekasihnya itu.


"Tidak masalah, lagi pula sekeras apapun aku berusaha, Bibi Adel akan selalu menyertaimu" ujar Azimah berusaha menerima keadaannya.


"Tetap saja, aku merasa bersalah karena hal itu. Aku bermimpi tentangnya tadi malam dan ak ...,"


"Kau panggil dia lewat mimpimu, And" sela Azimah cepat. Andra menundukkan kepalanya.


"Alam bawah sadarmu memilih dia. Walau mungkin itu dalam mimpi. Kau bahkan menangis karenanya! Itu menandakan bahwa Bibi Adelina masih sangat bertahta di hati dan pikiranmu hingga bisa masuk ke alam mimpimu" lanjut Azimah.


Azimah berbalik dan meninggalkan Andra. Andra langsung mengejarnya dan menahan tangannya.


"Kita selesaikan semuanya, ya. Kau tahu aku tidak suka berada dalam pertengkaran yang cukup lama" ujar Andra.


"Lalu apa kau tahu apa hal yang tidak aku sukai?" tanya Azimah tajam.


"Azimah ...," panggil Andra lirih.


"Sudahlah, aku jengah bersaing dengan seseorang yang tidak memiliki wujud namun begitu kuat memilikimu. Mungkin terlambat bagiku mengatakan ini, tapi aku rasa hubungan kita tidak akan berhasil. Kau tahu, aku tidak suka saat milikku masih menginginkan masa lalunya" jelas Azimah menghempaskan tangan Andra.


Azimah berjalan dengan Andra yang masih berdiri mematung. Sementara itu, Azimah tersenyum saat berlalu dari Andra. Ia menikmati bagaimana wajah bersalahnya Andra saat menjelaskan semuanya.


'Salah siapa membuat aku tidak bisa tidur semalaman. Sekarang giliranmu yang harus tersiksa. Andra Lee, bagaimana rasanya diabaikan oleh orang yang kamu cintai?!' batin Azimah tertawa.


Azimah melangkahkan kakinya menuju kamar. Setelah sampai di kamar, ia tertawa keras saat kembali membayangkan wajah Andra yang lemah tidak berdaya dengan semua kata-katanya.


"Untuk sekarang, ayo kita bermain-main sebentar. Aku terlalu baik padamu selama ini, And. Mungkin ini juga yang membuatmu merasa semuanya baik-baik saja setelah mengucapkan maaf. Berjuanglah sedikit lagi untuk meyakinkanku, aku hanya ingin lihat sejauh mana kamu mencintaiku?!" gumam Azimah yang mulai membaringkan diri di atas ranjangnya sambil menarik nafas lega.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2