Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
21


__ADS_3

Azimah dan Andra tiba di kantor. Tanpa kata ia turun dari mobil meninggalkan Andra yang masih lekat menatapnya.


"Jika dia belum yakin lalu kenapa dia menciumku?" geram Azimah.


Azimah masuk lift sambil mengingat kembali apa yang terjadi di mobil tadi. Seketika wajah Azimah memerah. Azimah memegang bibirnya lalu tersenyum kecil.


"Itu ciuman pertamaku ...," lirih Azimah.


Ting ...


Lamunan Azimah terbuyar saat mendengar suara lift yang terbuka. Sebisa mungkin ia menepiskan semua bayangan tautan bibirnya dan Andra beberapa waktu lalu dan fokus dengan pekerjaannya.


Sementara itu, di kantor Andra, Andra menghempaskan tubuh ke kursinya. Menyadarkan kepalanya dan memejamkan matanya sejenak.


Ia tersenyum saat mengingat betapa manisnya bibir Azimah dilidahnya. Gerakan yang kaku dari Azimah semakin menyunggingkan bibir Andra.


"Itu pasti ciuman pertamanya, dan akulah yang mengambilnya!" ucap Andra pelan dan penuh rasa bangga.


Andra mengusap wajahnya kasar. Ia mengingat kembali betapa menderitanya Azimah saat mencurahkan semua perasaanya tadi. Betapa tak pernah ia sadari jika selama ini ia sudah begitu menyakiti Azimah. Andai saja ia bisa tersadar lebih awal, mungkin Azimah tak akan terluka dan dirinya tak akan kesulitan lagi memulihkan kepercayaan Azimah terhadapnya. Mengingat hal itu ia menjadi kesal sendiri.


Ia meraih ponsel dan menelpon Charlotte.


"Hallo, Chloe!" panggil Andra dengan nama panggilan Charlotte.


"Aku ingin bertanya padamu, apa yang harus di lakukan untuk membuat suasana hati wanita membaik?!" tanya Andra cepat.


"Ada apa kau bertanya seperti ini? Kau sedang bertengkar dengan kekasihmu?" tebak Charlotte.


"Jangan banyak tanya. Jawab saja!" kata Andra tak sabaran.


"Setiap wanita ingin di bujuk, namun caranya berbeda-beda. Aku tak bisa memastikan hal ini akan berhasil. Namun 80% wanita suka di bujuk dengan sesuatu yang manis!" jelas Charlotte.


"Makanan apa yang menurutmu manis?" pertanyaan konyol itu seketika keluar begitu saja..


"Maksudku bukan makanan, Andra. Sebuah kejutan kecil atau rayuan-rayuan kecil." jelas Charlotte.


Andra berpikir sejenak.


"Tapi tak ada masalah juga dengan makanan. Kau bisa membelikannya coklat atau makan romantis berdua. Atau hal yang lebih gampang, belikan saja bunga. Kau cukup mengatakan apa yang ingin kau katakan untuk membangkitkan kembali mood-nya!" lanjut Charlotte..

__ADS_1


"Apa kau yakin ini akan berhasil?" tanya Andra ragu.


"Entahlah ..., tapi kau bisa mencobanya!" tantang Charlotte.


"Bagaimana jika dia tak membaik dan bisa jadi kian badmood?" tukas Andra yang membuat Charlotte menghembuskan nafas panjang.


"Andra..., takkan ada wanita yang kian memburuk jika seorang pria mengajaknya makan romantis berdua atau membelikannya sesuatu yang manis seperti bunga dan lain-lainnya. Selama wanita itu normal!' kesal Charlotte.


"Begitukah? Baiklah jika begitu, terimakasih!" ujar Andra bersemangat.


Andra diam sejenak untuk melakukan hal selanjutnya. Kemudian ia tersenyum lalu memanggil sekretarisnya.


"Mario, keruanganku sekarang?" pinta Andra.


Tak lama kemudian Mario pun datang menghadap pada Andra.


"Ada apa, Pak?" tanya Mario heran melihat ekspresi Andra hari ini.


"Belikan aku satu buket bunga mawar merah. Dan tuliskan ini di kertas pesannya!" kata Andra sambil menyodorkan sebuah kertas pada Mario. Mario mengambilnya dan kemudian pergi meninggalkan ruangan Andra.


"Azimah ..., mungkin ini terlambat. Tapi aku tak akan menyerah!" ucap Andra dengan sungguh-sungguh.


Waktu berlalu tanpa di sadari. Kini sudah tiba waktu makan siang. Azimah pun meninggalkan ruangannya bergegas menuju kantin kantor.


"Ada apa?" tanya Azimah heran.


"Ada kiriman untuk anda, Manager Azimah." jawab resepsionis tersebut sambil menyodorkan buket bunga pada Azimah.


Azimah tersenyum canggung pada resepsionis tersebut. Ia mengambil buket bunga itu dan membuka kertas pesannya.


"Aku tak pandai dalam mengungkapkan rasa, aku tahu kau terluka dan kecewa. Maaf karena datang sangat terlambat. semoga kau masih mau membukakan pintu untukku! dari seseorang yang akan memperjuangkanmu!" Azimah tertegun melihat isi pesan di kertas itu. Ia coba menerka siapa yang mengirim bunga ini padanya. Sejenak terlintas Andra dalam pikirannya namun segera ia tepis karena yang ia tahu Andra bukanlah tipe pria romantis. Bahkan ia teringat dulu Adelina sering mengeluh dengan sikap cuek yang dimiliki Andra. Bahkan ada suatu ketika ia mendengar ibunya dan Adelina bicara berdua dan saat itu Adelina kesal karena Andra hanya mengucapkan selamat ulang tahun padanya, tanpa cake tanpa bunga. Hanya ucapan saja. Jadi tidak mungkin jika Andra yang mengirimnya. Pikir Azimah.


Azimah membawa buket bunga itu kembali keruangannya sambil memikirkan siapa yang mengirimkan bunga padanya. Namun Azimah selalu tak ingin mencari tahu apa yang sedang ia pikirkan. Ia terlalu malas menebak-nebak. Azimah pun mengabaikannya dan beranjak kembali ke kantin kantor.


Makan siang pun berlalu, Azimah kembali keruangannya dengan perut kenyang dan siap berkonsentrasi dengan pekerjaannya lagi.


Fokus dengan beberapa proyek yang sedang ia tangani Azimah pun mengabaikan panggilan dari Andra. Hingga tanpa di sadari hari sudah mulai sore. Pintu ruangan Azimah pun di ketuk menampakkan Andreas yang sedang berdiri memandang dirinya.


"Sangat fokus hingga tak menyadari Ayah yang sudah lama berdiri di sini" kata Andreas mendekat ke meja Azimah.

__ADS_1


"Maaf, Ayah. Aku benar-benar tak tahu!" jawab Azimah seadanya.


"Sudah sore, kau mau pulang atau masih tetap ingin di sini?" tanya Andreas pada anak tirinya itu.


"Aku akan menyelesaikan semuanya dahulu, 'Yah. Besok semua brkas ini di perlukan. Aku tak ingin menundanya!" ujar Azimah pelan.


"Baiklah jika begitu, Ayah akan pulang sekarang. Kau hati-hati pulang nanti. Jangan terlalu lelah dalam bekerja!" peringat Andreas di iringi anggukan dari Azimah.


Andreas pun berlalu dan Azimah kembali fokus dengan berkas-berkas yang ada di hadapannya.


Hari semakin gelap, Azimah menoleh keluar jendela. Setelah memastikan pekerjaannya benar-benar selesai Azimah pun bersiap untuk pulang. Membersihkan mejanya lalu mengambil tasnya. Mata Azimah tertuju pada buket bunga yang hari ini ia terima. Ia tersenyum sambil membelai kelopak mawar di dalamnya.


"Siapa pun dirimu, aku mengucapkan terimakasih untuk hadiah manis ini!" seru Azimah.


Azimah berjalan keluar ruangan. Menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai satu sambil bersenandung kecil dengan lagu favoritnya.


Tiba di lantai satu, semuanya sudah sepi. Azimah melirik pada pergelangan tangannya..


"Jam tujuh malam. Lebih baik aku pesan taksi saja" batin Azimah..


Azimah pun mengeluarkan ponselnya untuk memesan taksi online. Belum sempat jarinya bergerak Azimah tertegun dengan seorang yang berdiri di pintu masuk.


"Andra?" gumam Azimah.


Nelihat kehadiran Azimah, Andra mendekat dan tersenyum kearahnya..


"Aku kira kau sudah pulang!" kata Andra pada Azimah.


"Ada apa Paman kemari?" tanya Azimah bingung.


"Menjemputmu pulang!" jawab Andra canggung.


Azimah mengerenyitkan dahinya. Membersihkan lubang telinganya untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar.


"Paman ..., sakit?" tanya Azimah ragu.


"Tidak. Aku kemari untuk pulang bersamamu. Ayo!" ajak Andra menarik tangan Azimah.


Azimah tak sempat bereaksi, ia hanya mengikuti apa yang Andra lakukan. Tidak lama kemudian ia pun sudah berada di dalam mobil Andra.

__ADS_1


* * *


...Bersambung ......


__ADS_2