
Andra dan Azimah dalam perjalanan pulang, selama perjalanan hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka. Azimah hanya menatap keluar jendela sementara Andra fokus dengan jalanan walau sesekali ia masih menoleh pada Azimah.
Sama seperti beberapa saat tadi, Azimah masih tetap diam dan tak bicara apapun lagi. Sesekali terdengar segukkan sisa dari tangisnya. Andra sebenarnya ingin menggenggam tangan Azimah namun ia takut ia semakin menyakiti Azimah.
Untuk kesekian kalinya, tanpa Andra sadar ia sudah menyakiti Azimah lagi dan mungkin lebih parah dari sebelumnya. Dan ia hanya bisa melihat Azimah tanpa bisa melakukan apapun untuk menenangkannya.
Kadang Andra pikir apakah mereka akan bisa bertahan dengan pemikiran Azimah yang luar biasa dan Andra yang tidak peka akan hal tersebut. Namun saat melihat Azimah seperti ini, terutama saat Azimah mengutarakan semua isi dalam hatinya, Andra yakin mereka bisa melewati semuanya. Karena tidak akan ada orang yang bisa mengertinya melebihi Azimah. Dan Andra bersyukur akan hal itu.
Sekitar lima ratus meter menuju gerbang rumah, Azimah mengusap wajah sembabnya dengan tisu. Ia memperhatikan lagi wajahnya agar terlihat segar dan tidak menimbulkan kecurigaan dari orang rumah. Masalahnya dan Andra sudah sangat menyita perhatiannya, ia tidak mau menambah masalah baru dengan pulang membawa muka sembab dan mata berair.
Tak lama mereka pun tiba di kediaman Keluarga Lu. Saat Andra mematikan mesin mobilnya dengan cepat Azimah turun tanpa menghiraukan Andra lagi. Andra hanya bisa memandang punggung Azimah yang kian lama kian menjauh darinya.
'Aku sadar, aku sudah banyak menyakitimu, Azimah. Tapi aku tidak akan menyerah karena aku harus membayar semua luka hatimu itu dengan hidupku' batin Andra.
Andra ikut turun dari mobil dan langsung menuju paviliun. Pikirannya kacau, hatinya sedang tidak bersemangat. Wajah Azimah yang menangis membuat Andra lemah. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup ia merasa menjadi tidak berguna seperti saat ini.
Flashback On.
Andra masih memeluk Azimah dengan erat sementara Azimah tidak meresponnya sama sekali. Berulang kali kata maaf ia ucapkan dan kembali tidak ditanggapi Azimah.
Andra frustasi dengan diamnya Azimah, terlebih air mata Azimah tidak henti-hentinya mengalir bak sumber air yang tidak pernah kering.
"Antar aku pulang!" kata Azimah datar.
"Sayang, kita tidak bisa pulang dalam keadaan seperti ini. Tenangkan dirimu dan kita bicarakan semuanya hingga tuntas" kata Andra membujuk Azimah.
"Tidak semua hal bisa dibicarakan, And. Ada kalanya diam itu lebih baik saat kata-kata tidak bisa membuat seseorang mengerti" jawab Azimah masih dengan nada datarnya.
__ADS_1
"Aku menyayangimu, sungguh! Aku pun mencintaimu! Sudah aku katakan aku tidak tahu bagaimana cara mencintaimu agar kau bahagia. Jadi katakan agar aku bisa berhenti menyakitimu tanpa sadarku" jelas Andra.
"Kalau kau memang memiliki itu semua, maka tanpa aku jelaskan kau akan menyadarinya" jawab Azimah.
"Untuk sementara mungkin lebih baik kita sendiri-sendiri dulu, And. Mungkin waktu bisa membawa kita pada kebahagiaan yang kita inginkan dan juga menyadarkan kita dimanakah seharusnya kita berdiri" lanjut Azimah.
Andra menggelengkan kepalanya berulang kali karena itu bukanlah hal yang ia harapkan. Andra baru saja merasakan cinta setelah kekosongan hati yang melandanya. Kini Azimah berniat pergi meninggalkannya seperti Adelina, maka ia tidak akan biarkan hal itu terjadi.
"Aku tidak bisa, Azimah! Aku ingin kita seperti kemarin. Kita sudah merencanakan pernikahan kita. Tolong pikirkan lagi, aku mohon, Azimah" mohon Andra.
"Kau lupa bahwa yang menikah saja bisa bercerai, apalagi yang baru merencanakan pernikahannya" jawab Azimah yang membuat Andra kehabisan kata-katanya.
"Aku tidak ingin menjalani hubungan yang terpaksa di mana kau berdiri di ambang masa lalumu. Jika kau sudah ikhlas pada masa lalumu, kau bisa kembali lagi padaku. Dan aku berharap saat itu aku belum menyerah pada perasaanku" tambah Azimah yang kemudian langsung berdiri meninggalkan Andra terlebih dahulu.
Flashback Off.
Andra tidak lagi merasakan pedih di luka tangannya, yang ia pikirkan saat ini bagaimana agar Azimah memaafkannya.
"Bantu aku, Tuhan. Aku tidak ingin kehilangannya" lirih Andra.
Andra meraih ponselnya. Ia tidak ingin menyerah begitu saja dan berlarut-larut dalam kesalahannya. Memang Andra akui, ia menyesal. Namun ia tidak akan membiarkan Azimah pergi begitu saja setelah apa yang sudah mereka lalui.
'Sayang, jangan lupa mandi dan beristirahat. Aku mencintaimu.' Andra mengirimkan pesan tersebut seperti tidak memiliki masalah apapun pada Azimah. Walau ia tahu bahwa cara ini tidak efektif, namun setidaknya ia ingin Azimah melalui hari-harinya dengan sedikit cerita tentang Andra.
Andra meletakkan ponselnya, ia tahu bahwa pesannya tidak akan di balas Azimah. Namun ia tidak akan berhenti sampai di sini. Ia akan lebih sering mengirimi Azimah pesan setiap harinya. Dengan harapan yang sama, agar Azimah tidak meninggalkannya.
Sementara itu, setelah Azimah masuk kekamarnya, perasaannya kian kacau. Ia yang tadinya sudahbisa mengontrol emosinya dan tidak menangis lagi, tapi ketika sampai di kamarnya, Azimah malah menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Niat hati hanya ingin menggoda Andra malah berakhir dengan pertikaian batin yang sulit ia mengerti.
Azimah masuk ke dalam kamar mandi dan memutar shower untuk meredam tangisannya yang kian terisak.
"Jika aku bisa sedikit saja bersikap egois, aku ingin memilikimu seutuhnya tanpa adanya orang lain di hatimu sekalipun itu mendiang istrimu" lirih Azimah.
"Tapi kenyataannya hatiku tidak bisa menerima semua itu. Aku tidak ingin menyakitimu dengan memaksamu melupakan semua kenangan indah kalian. Bagaimana pun akan ada saatnya Anas menanyakan ibu kandungnya. Dan aku tidak ingin dianggap jahat karena menjauhkan kalian dari orang yang paling menyayangi kalian."
*
Andra masih termenung dengan semua pikirannya. ia malas untuk melakukan aktivitas. Beruntung Anastasia masih berada di tangan Azimah sehingga ia tidak harus bicara atau pura-pura bahagia di depan anaknya itu.
Saat Andra tengah menuangkan wine yang baru saja ia ambil, Andreas masuk kekamarnya dan kaget dengan keadaan Andra yang begitu kusut.
"Ada apa denganmu, And?" tanya Andra penasaran.
"Aku hanya ingin minum" jawab Andra beralasan.
"Ayolah, kita bersahabat dari kecil apa menurutmu aku akan percaya dengan alasan itu, huh?" kata Andreas.
"Kenapa kau kemari? Apa ada masalah?" kata Andra mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, semuanya lancar-lancar saja. Aku hanya ingin membicarakan langkah selanjutnya denganmu" jelas Andreas.
"Duduklah, dan kita bicara sambil minum" ujar Andra.
"Tidak, kau saja yang minum. Selma masih marah padaku dan jika dia tahu aku minum maka malam ini kamarku akan pindah ke kamar tamu" jawab Andreas setengah bergurau.
__ADS_1
Andra tersenyum, Andreas yang ia kenal tidak takut pada siapapun kini bertekuk lutut dihadapan istrinya. Betapa hebatnya cinta menguasai kehidupan seseorang.