Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
79


__ADS_3

Azimah tiba di rumah Andra, ia masuk dengan tergesa-gesa mencari keberadaan Andra. Saat pertama masuk, Azimah sudah di sambut Maria yang tengah turun dari kamar Andra. Perasaan Azimah semakin tidak karuan melihat hal tersebut.


"Di mana Andra?" tanya Azimah pada Maria.


"Tuan dikamarnya" jawab Maria masih menampakkan wajah yang tidak bersahabat pada Azimah.


Tanpa menghiraukan keberadaan Maria, Azimah segera naik ke lantai atas menuju kamar Andra.


"Belum menjadi istri saja sudah seenaknya, bagaimana kalau dia menjadi istrinya" cemooh Maria.


Saat tiba di depan kamar Andra, Azimah menarik nafas panjang berharap ketika ia membuka pintu tidak ada hal yang membuatnya curiga tentang turunnya Maria dari kamar Andra.


Perlahan Azimah memegang handle pintu, lalu menariknya ke bawah dan membukanya sedikit. Setelah merasa cukup siap, dengan cepat Azimah membuka pintu lebar-lebar.


Andra terkejut mendapati pintu kamarnya di buka begitu saja. Hal yang membuat ia lebih terkejut lagi ketika mendapati Azimah yang berdiri sambil memegang handle pintu.


"Azimah ...," panggil Andra dengan raut wajah herannya.


Azimah hanya tersenyum canggung ketika mendapati Andra tengah duduk di sofa sambil menyesap kopinya.


"Hei, kau masih tetap ingin berada di sana, huh?" tanya Andra.


Azimah tersentak dan melangkahkan kaki masuk ke kamar Andra. Saat Azimah masuk, ia sedikit terkejut melihat nuansa kamar Andra yang sudah berbeda dari terakhir kali ia memasukinya.


Azimah mencoba mengamati sekitar kamar tersebut dan benar dugaannya, semua telah berubah. Bahkan sangat berbeda dari sebelumnya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Andra mendekat dan menarik Azimah dalam pelukannya.


"Andra, ini ...,?" tanya Azimah menuntut penjelasan.


"Kenapa? Kau tak suka?" Andra bertanya lagi karena mengetahui apa yang sedang Azimah pikirkan.


Kamar Andra kini sudah berubah, di mana kamarnya kini sudah tidak ada hal yang berbau Adelina lagi. Andra mengubah warna kamarnya menjadi warna abu-abu tua kombinasi putih dan gold. Dan itu warna kesukaan mereka berdua.


Andra yang memang memiliki latar belakang sebagai arsitek menjadikan kamar itu berubah dengan tata letak dan nuansanya, interior serta dekorasi pun ia rubah sepenuhnya.


Ranjang, lemari, meja hias, semuanya berubah. Di kamar itu tidak ada lagi tempat peralatan make up seperti sebelumnya. Kini di ganti dengan lemari kecil yang hanya dijadikan sebagai pemanis ruangan. Langit-langit kamar sekarang pun lebih redup karena memang Azimah tidak menyukai kamar yang terang.

__ADS_1


"Kau suka, Sayang?" tanya Andra tepat di sisi telinga Azimah.


"Kau merubahnya untukku?" tanya Azimah tidak percaya.


"Tentu saja. Aku ingin bagian dari dirimu ada di kamarku. Kau suka? Atau ada yang perlu di ubah dan di ganti lagi?" tanya Andra lagi.


"Tidak perlu, aku suka. Sangat suka!" jawab Azimah cepat.


"Di balkon itu sudah aku siapkan sofa santai untuk kita bersantai menghabiskan malam. Kamar ganti sudah aku tambahi lemari untuk pakaianmu. Rak sepatu juga. Apa aku harus menambah ruang kerja untukmu, hah?" tanya Andra meminta saran.


"Andra, sudahlah. Jangan berlebihan seperti ini. Lagi pula aku tidak tinggal di sini, jadi kau tidak perlu merubah semuanya" jawab Azimah yang kini berbalik badan menghadap Andra yang masih mendekapnya dengan erat.


"Aku hanya mempersiapkan semuanya. Jadi setelah kita menikah, kita tidak perlu berkemas untuk merenovasinya lagi" jelas Andra.


Muka Azimah memerah mendengar hal tersebut. Andra bahkan sudah mempersiapkan semuanya untuk menyambut pernikahan mereka nanti.


"Lalu kapan kau merubah semua ini?" tanya Azimah.


"Kemarin!" jawab Andra santai.


Andra menganggukkan kepalanya dan membawa Azimah untuk duduk di sofa yang terdapat dalam kamarnya.


"Aku mengerjakan semuanya karena Iyas mengatakan padaku semuanya sudah selesai. Aku tidak ingin menunggu waktu lebih lama lagi. Setelah ini aku ingin melamarmu dan menikahimu secepatnya" kata Andra serius.


"Tapi kenapa buru-buru sekali, And? Bukankah kita sebaiknya menikmati masa-masa kita dulu. Setelah menikah akan banyak hal yang harus kita kerjakan dan semuanya akan berbeda karena kita sudah sering bertemu. Kita tidak akan merasakan saling merindukan lagi, kita pula akan kehilangan moment berdua. Dan banyak lagi" keluh Azimah.


"Tidak, kali ini kau yang harus menurut padaku! Aku ingin menikahimu dalam waktu cepat" tegas Andra.


"Tapi ....,"


"Tidak ada tapi-tapian, Sayang. Kau tahu, berkencan setelah menikah itu jauh lebih menyenangkan di mana kita bebas melalukan semuanya tanpa harus takut apapun!" jelas Andra.


Azimah nampak ragu, tapi yang Andra katakan ada benarnya. Jika mereka hanya menjadi sepasang kekasih, maka ia tidak akan bisa leluasa bertemu dengan Andra karena Selma pasti akan terus mengawasinya. Belum lagi waktu yang terbuang sia-sia. Andra dan Azimah memiliki perbedaan usia yang sangat jauh. Walau memang wajah dan tubuh Andra tidak menyiratkan lelaki yang sudah tua seperti halnya umurnya, namun tetap saja usia tidak bisa di kelabui.


"Kau sudah bicara pada ayah?" tanya Azimah kemudian.


"Aku ingin meminta persetujuanmu terlebih dahulu, urusan Selma dan Iyas mereka mudah" jawab Andra enteng sambil kembali menyesap kopinya.

__ADS_1


"Baiklah, aku mau" jawab Azimah yang membuat Andra tersenyum senang.


"Sini, peluk aku, Nyonya Lee" goda Andra pada Azimah.


Andra dan Azimah pun berpelukan mesra.


"Tapi ada satu hal lagi ..." kata Azimah tiba-tiba sambil mengurai pelukannya dari Andra.


"Apa, Sayang?" tanya Andra penasaran.


"Aku tidak ingin Maria ada di sini lagi" kata Azimah yang membuat Andra sedikit mengerenyitkan dahi.


"Kenapa?" tanya Andra yang ingin mengetahui alasannya.


"Karena aku tidak ingin melihat dia ada di sini!" jawab Azimah sekenanya.


"Tidak bisa begitu, Sayang. Aku tidak mungkin memecat seseorang tanpa ada kesalahan yang jelas. Lagipula selama ini kinerja dia cukup baik" ujar Andra.


"Iya, sangat baik karena hampir membuat Anas celaka. Kau lupa itu?" tanya Azimah mencoba mengingatkan Andra lagi pada kelalaian Maria.


"Tetap saja, aku tidak bisa memecat dia dengan alasan yang sudah lalu. Biarkan dia di sini. Lagi pula nanti kita perlu dia untuk menjaga Anas, ya" bujuk Andra.


"Kalau begitu pernikahan kita undur saja!" kata Azimah kekeh.


"Azimah, aku rasa kecemburuanku itu berlebihan, Sayang" ujar Andra.


"Terserah. Aku ingin dia tidak ada di sini lagi. Entahlah, tapi aku tidak suka melihat kedekatan kalian berdua. Iya, aku akui aku memang cemburu padanya. Tapi sikapnya yang tidak pernah bisa bersahabat denganku ini membuat aku jengah ketika melihatnya" jelas Azimah.


"Bagaimana orang akan bersahabat denganmu kalau kamu sendiri tidak bisa bersahabat dengannya" tukas Andra.


"Coba pikirkan lagi, Azimah. Aku bisa saja menuruti keinginanmu itu tapi ini tidak hadir lagi Maria. Masalah yang sudah berlalu biarkan saja berlalu, maafkan saja kesalahan dan coba lebih berdamai dengan hatimu agar masalah ini tidak menganggu hari-hari kita nanti" saran Andra.


"Kau membelanya, And. Aku tidak suka!" kesal Azimah yang langsung memalingkan muka dari Andra. Andra merasa serba salah dibuatnya.


Tanpa mereka sadari dari balik pintu, Maria mendengar semua percakapan Andra dan Azimah. Ia mengepalkan tangan ketika mendengar bahwa Azimah ingin mendepaknya dari rumah tersebut.


"Aku tidak semudah itu untuk kau singkirkan, anak muda" gumam Maria sambil tersenyum licik dan segera meninggalkan tempat itu sebelum diketahui Andra dan Azimah.

__ADS_1


__ADS_2