Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#10


__ADS_3

Setelah sholat Maghrib, Silvi memasak makan malam di dapur. Sepulang dari masjid, si kembar dan Abatinya pergi ke dapur dimana Silvi memasak untuk mereka.


"Umma masak apa?" tanya Fahri yang mulai membiasakan memanggil Umma.


"Umma bikin steak ayam krispi, sayuran kukus, sama kentang tumbuk, kalian mau saus black pepper apa barbeque?" tanya Silvi kembali.


"Black pepper!!!" jawab keduanya.


"Abati mau saus apa?" tanya Silvi kepada Azam sambil menggoreng fillet ayam krispi.


"Sama aja, kamu masak pakai jilbab besar gitu gak gerah, dilepas saja kalau gerah, toh aku juga berhak melihatnya," kata Azam.


Silvira menoleh Azam sekilas dan tersenyum.


"Ini jilbab kaos jadi gak gerah dipakai, kalau Mas gak keberatan, kita pelan-pelan dulu ya Mas," ucap Silvi sambil menumbuk kentang yang telah dikukus.


"Iya, baiklah," sahut Azam.


Tidak lama kemudian makan malam mereka siap. Mereka makan bersama sambil berbincang.


"Mas ada kebiasaan tertentu gak kalau pagi, misal minum teh atau kopi gitu," tanya Silvi.


"Gak ada sih, cuma minum jus buah atau sayur," jawab Azam.


"Makanan kesukaan kalian apa?" tanya Azam ganti, dia juga ingin tahu makanan favorit istri dan anaknya.


"Abang suka ayam," jawab Fahri.


"Kalau kakak juga ayam," jawab Farhan.


"Kalau Umma??" tanya Azam.


"Umma suka ikan, sea food, ayam, daging sapi masih bisa makan, kalau daging kambing no, gak bisa makan daging kambing," jawab Silvira.


"Ehm gitu," ucap Azam sambil mengangguk-angguk mengerti.


Adzan Isya berkumandang, Azam dan si kembar bersiap ke masjid.

__ADS_1


"Nanti sepulang dari masjid, minum susunya ya ini Umma siapin di meja," ucap Silvi sambil menaruh tiga gelas susu low fat di atas meja makan.


"Iya Umma!!!" seru si kembar sambil berlari keluar rumah menuju Masjid bersama Azam.


Silvi meneruskan cuci piring dan membersihkan dapur bekas memasak tadi. Selanjutnya dia ke atas menuju kamarnya.


Silvi merasa agak lelah akhirnya dia memutuskan untuk mandi, agar segar. Dia sebenarnya sangat gugup mengingat malam ini adalah malam pengantinnya. Apalagi Azam adalah orang asing baginya, dari awal kenalan sampai akad nikah mereka baru bertemu sekitar lima kali, dan kini harus sekamar, bahkan berbagi ranjang. Silvira memejamkan mata di dalam bathtub. Ternyata itu cukup membuatnya rilex.


Azam dan anak-anak pulang dari masjid dan langsung minum susu yang disiapkan Silvi. Kemudian naik ke atas untuk menggosok gigi dan tidur.


"Abati," panggil Fahri.


"Apa Abang?" sahut Azam.


"Bisa temani kami sampai kami tidur?" tanya Fahri.


"Iya, Abati temani kalian tidur," jawab Azam.


Tak lama kemudian Farhan dan Fahri sudah tidur. Azam kemudian pergi ke kamarnya.


Dia membuka pintu kamar dan tidak melihat Silvi, namun dia mendengar suara hair dryer dari dalam kamar mandi. Azam memutuskan untuk menunggu, karena dia akan menggosok gigi. Azam memutuskan untuk berganti pakaian dengan piyama, ketika Azam melepas baju atasannya, Silvira keluar dari kamar mandi.


"Apa sih kamu, kan sama suami sendiri, kalau gitu minggir sini, Mas mau ke kamar mandi," ucap Azam. Silvi segera menyingkir dari pintu kamar mandi dan melaksanakan sholat Isya.


Selepas sholat, ia kemudian menyisir rambutnya yang sebahu, dengan potongan oval dan ikal di bagian bawahnya. Dia memutuskan membuka jilbabnya di depan Azam, karena dia tidak bisa tidur dengan memakai jilbab.


Azam selesai berganti pakaian dan menggosok gigi, dia keluar kamar mandi dan terpana melihat Silvira yang menyisir rambutnya, memakai baju tidur sutra warna hitam selutut dengan kimononya. Azam duduk di tepi tempat tidur memandangi Silvira.


Tersadar Azam tidak melepaskan pandangannya, Silvi segera menutup mukanya.


"Mas apa aku pakai jilbab saja ya," ucapnya.


"Lho kenapa?" tanya Azam yang bingung.


"Habisnya Mas Azam gitu banget lihat aku, aku kan malu, aku sudah bilang, kita pelan-pelan dulu," ucap Silvira.


"Iya maafkan Mas, Mas cuma kagum, maa syaa Allah dikasih istri cantik sama Allah," ucap Azam sambil bangkit dan mendekati Silvira. Silvi spontan memutar tubuhnya ke arah lain.

__ADS_1


"Aku mau ambil kotak mas kawin ini, kamu takut banget sih Dek," ucap Azam sambil meraih kotak perhiasan di atas meja rias lalu membukanya dan mengambil kalung didalamnya.


"Mas kawin itu dipakai, bukan disimpan," ucap Azam sambil memakaikan kalung di leher Silvira. Silvi hanya mematung bahkan nyaris tidak bernapas karena saking gugupnya.


"Sudah tidur yuk, besok bangun sebelum subuh," ucap Azam, Silvira mematikan lampu kamar dan berbaring di samping Azam. Azam menyalakan lampu tidur di atas nakas dan melepas baju atasan yang dia pakai.


"Mas Azam mau apa?" tanya Silvira yang ketakutan.


"Maaf, aku gak bisa tidur kalau pakai baju," Azam kembali berbaring dan memejamkan matanya. Silvira yang tidak bisa tidur melirik Azam yang bertelanjang dada, terlihat badan Azam yang atletis karena sering berolah raga. Wajah Azam yang maskulin, hidung yang tegak, rahang yang tegas, jenggot yang sengaja dipanjangkan.


Tiba-tiba Azam memiringkan badannya ke arah Silvi dan membuka matanya, manik mereka bertemu.


"Kamu lihat apa?" tanya Azam, Silvi hanya terdiam, memerah pipinya karena ketahuan mengagumi suaminya.


"Misal Mas meminta hak Mas sekarang, apa akan kamu penuhi?" tanya Azam.


"Ehm.. itu.." Silvira terbata-bata menjawab pertanyaan Azam.


"Kita memang belum kenal satu sama lain, masih asing, tapi aku yakin setelah kita melakukannya, kita akan semakin dekat, dan ingatlah aku suamimu," ucap Azam.


Silvira terdiam sejenak, memikirkan apa yang Azam katakan.


"Baiklah Mas, aku siap melayanimu, semata-mata karena aku ingin taat padamu, dan suatu saat pasti bisa mencintaimu karena Allah," jawab Silvira.


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Sebelum Subuh Silvira terbangun, Azam masih terlelap karena kecapekan. Silvi beranjak dari ranjang dan segera ke kamar mandi. Badannya berasa remuk redam setelah kejadian semalam. Berendam air hangat seperti biasa bisa membuat tubuhnya lebih baik. Setelah mandi, dia juga menyiapkan air hangat untuk Azam. Dia telah berpakaian dan membungkus rambut basahnya dengan handuk.


"Mas, Mas Azam, bangun Mas. Sebentar lagi Subuh,"


Azam perlahan membuka matanya. Kemudian memberi seulas senyuman kepada Silvira. Silvira yang masih malu-malu segera manunduk.


"Hmmh, apa Dek,"


"Sudah mau Subuh, itu aku siapkan air hangat buat mandi," ucap Silvira.


Azam segera bangkit menuju kamar mandi. Silvira melihat punggung Azam menuju kamar mandi, seperti ada desiran di dadanya. Rupanya dia mulai terpesona dengan Azam.

__ADS_1


Sewaktu Azam berbalik badan hendak menutup pintu, lagi-lagi melihat Silvira yang bengong memandangnya.


"Kenapa? Mau ikut?" goda Azam.


__ADS_2