
Silvira menceritakan keadaan Azam kepada budhe Harti, barulah beliau paham.
"Kalau begitu, kalau memang Nak Azam ini pilihanmu, budhe merestui kalian, toh dia juga putranya teman baik budhe, jadi sudah saling kenal, budhe doakan semoga kalian bisa bahagia," ucap budhe Harti.
"Alhamdulillah, kalau sudah dapat restu dari Budhe, saya minta izin mau menikahi Dik Silvi pada hari Jumat nanti," ucap Azam.
"Iya, cepat sekali ya, iyalah kalian sudah dewasa, lebih cepat lebih baik, itu si kembar juga biar tidak kesepian lagi," sahut budhe Harti.
Setelah mendapat restu dari budhe Harti, Azam dan keluarganya pamit pulang. Mereka berpisah dengan mobil bapak, karena langsung pulang menuju kotanya.
Sekitar pukul 01.00 dini hari mereka sampai di rumah Silvira. Azam menyisakan sebagian apel di mobilnya dan menurunkan peti apel dan memasukkannya ke rumah Silvi. Kemudian dia melihat Silvira yang susah payah membangunkan si kembar yang masih tidur di dalam mobil.
"Sudah biarkan saja, biar aku gendong," ucap Azam. Silvi pun menyingkir dan membiarkan Azam menggendong Farhan. Silvi mengikuti dari berjalan di depan Azam dan menunjukkan jalan ke kamar anak-anak.
Setelah menurunkan Farhan di tempat tidur, Azam turun lagi, Silvi hendak mengikutinya namun Azam melarangnya.
"Kamu di sini saja, aku sudah tahu jalannya," ucap Azam, dia sebenarnya tidak ingin Silvi bertambah capek setelah perjalanan jauh ditambah bolak-balik naik turun tangga.
Azam kembali ke mobil dan menggendong Fahri, dia kembali lagi naik ke atas ke kamar mereka. Setelah menurunkan Fahri, dia mengecup kening kedua bocah kembar itu. Silvira yang melihat, tidak menyangka sebesar itu.
"Aku pamit dulu ya, gak usah ngantar ke depan," ucap Azam, sambil masih tetap menjaga pandangannya.
"Baik Mas, terima kasih,"
"Assalamualaikum," ucap Azam.
"Waalaikumusalam," jawab Silvi.
Azam meninggalkan rumah itu bersama pak Min, lalu menuju tempat kost nya.
"Nginap di tempat kost saya ya Pak, nanti paginya saya antarkan ke halte bus," ucap Azam.
"Iya Mas," sahut Pak Min.
🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏
Pagi hari, setelah mengantarkan Pak Min ke halte bus, Azam langsung ke kantor. Dia bertemu Ammar setelah selama satu pekan Ammar mengambil cuti karena masih berkabung.
"Assalamualaikum bro, gimana kabarmu?" sapa Azam.
"Waalaikumusalam. Iya Alhamdulillah, masih butuh waktu untuk move on," jawab Ammar.
"Eh habis ini kita ngobrol ya, sebentar aku taruh ini di pantry dulu," ucap Azam sambil membawa sekardus apel ke pantry yang biasanya tempat para pegawai membuat minuman dan istirahat untuk menyantap camilan. Kemudian dia segera kembali menemui Ammar.
"Gimana bro, sekarang pasti sudah lebih baik kan?" tanya Azam kepada Ammar.
__ADS_1
"Iya Alhamdulillah, juga aku masih punya Arum yang ada di sampingku," jawab Ammar.
"Kamu sendiri gimana? Masih mau lanjut ta'aruf dengan Silvira?" tanya Ammar.
"Sebelumnya aku minta maaf, maaf banget ya Mar," ucap Azam.
"Kenapa? Kalian batal kah?" ucap Ammar bertanya-tanya.
"Aku gak berani hubungi kamu karena keluarga kalian masih berduka, jadi aku ambil keputusan duluan," sahut Azam.
"Lho gimana sih Zam, aku masih bingung, kenapa dibatalin?"
"Hey, siapa yang bilang batal??" ucap Azam semakin membuat Ammar bingung.
"Lha terus gimana sih?"
"Makanya dengerin dulu aku ngomong, jadi kemarin itu aku sudah melamar Silvira, dan dia menerima, keluargaku dan keluarganya sudah bertemu, dan sudah fix Jumat nanti kita akad," kata Azam.
"Wah maa syaa Allah, kok cepet banget, gimana ceritanya..." ucap Ammar yang masih tidak percaya.
"Ceritanya nanti aja, tapi tenang bro, sebisa mungkin aku tetap bertaaruf sesuai syariah, sampai sekarang aja aku gak tahu nomor hp dia, jadi sekarang mau minta tolong kalian lagi kalau gak keberatan," ucap Azam.
"Iya aku percaya, prosesmu bertaaruf itu baik, tapi minta tolong apa ini?" tanya Ammar.
"Ini ada uang cash sepuluh juta, aku bingung mau transfer juga kemana, karena aku sangat blind tentang dia, itu untuk baju akad dia, keperluannya seperti seperangkat alat sholat, terus seserahan, juga catering untuk makan keluarga pas akad nanti, kalau kurang nanti tambahin lagi," ucap Azam.
"Oh gitu, baiklah, tapi ini aku tambahin lagi dua juta, siapa tahu kurang nanti, tapi gimana aku belanjanya, masa iya aku beli keperluan perempuan sendirian," ucap Azam.
"Ajak aja si kembar, sebelumnya suruh cari tahu dulu ukuran emaknya berapa, kalau sudah dibeli semua, taruh di toko aku nanti biar dibungkusin sama karyawan aku," sahut Ammar memberi saran.
🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏
Sesuai saran Ammar, sepulang kerja Azam menelpon si kembar untuk mengajak mereka berbelanja.
📲 "Assalamualaikum boys," sapa Azam.
📲 "Waalaikumusalam Om," jawab si kembar bersamaan karena mereka menyalakan loud speaker.
📲 "Mama kalian ada?" tanya Azam.
📲 "Ada, tuh mau pergi, Om mau bicara sama Mama?"
📲 " Eh nggak nggak, tolong tanyakan Mama, apa boleh Om ajak kalian jalan-jalan sore ini?" pinta Azam.
📲 "Iya sebentar,"
__ADS_1
"Ma... kami boleh ikut Om Azam jalan-jalan?" tanya Fahri kepada Silvi.
"Iya boleh, tapi mandi dulu kalian, pulangnya jangan malam-malam, Mama pergi dulu ya, ke rumah tante Arum," jawab Silvi sambil keluar rumah.
📲 "Halo, Om boleh kata Mama," ucap Farhan.
📲 "Baiklah, Om meluncur ke sana sekarang, tapi sebelum itu Om punya misi rahasia buat kalian,"
📲 "Apa itu Om?" tanya si kembar.
📲 "Kalian ke kamar Mama ya, sudah?"
Si kembar segera pergi ke kamar Mamanya.
📲 "Kalian jangan bilang Mama ya, nanti Om yang akan cerita sendiri ke Mama,"
📲 "Baik Om," ucap si kembar.
📲 "Tolong lihatkan gamis Mama di lemari, di bagian belakang leher ada ukurannya, itu ukuran apa,"
📲 "Ini L Om," jawab Fahri.
📲 "Bagus, lalu kamu tahu baju dalaman Mama yang atasan?" Azam merasa kikuk menanyakannya sebenarnya.
📲 "Itu bra ya Om?"
📲 "I iya, ada nomornya, nomor berapa?"
📲 "Itu nomornya .... Om,"
📲 "Ok, lanjutnya sepatu Mama, ukuran berapa?"
📲 "39 Om,"
📲 "Okelah, terima kasih sayang, Om ada di depan kalian buka pintu ya,"
Si kembar segera lari ke depan untuk membuka pintu.
"Om Azam!!!!" seru mereka sambil berlari memeluk Azam.
"Kalian sudah mandi? Bu Wati mana?" tanya Azam, sambil mencari-cari keberadaan bu Wati.
"Bu Wati sudah pulang, kami baru saja mau mandi, Om tunggu di sini ya,"
"Iya iya, Om duduk di sini ya,"
__ADS_1
"Oke Om.."