Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#86


__ADS_3

Dua bulan kemudian...


"Beib, sayang, bangun sayang," ucap Azam sambil membelai pipi istri kesayangannya itu.


"Hmmh..." Silvira menggeliat sambil mengeriyipkan matanya, kemudian bangkit untuk duduk dan mengambil baby F dari box bayi di sampingnya, kemudian menyusuinya.


Iya, Ibu dan ayah sudah kembali ke kota apel sebulan yang lalu, jadi selama sebulan ini Azam dan Silvira merawat baby Fatimah sendiri. Setiap malam mereka tidur di kamar baby Fatimah. Selama itu juga setiap malam Azam membangunkan Silvira ketika bayinya akan menyusu, sekitar dua jam sekali. Pagi harinya, mereka kembali ke kamar atas untuk Silvira melayani Azam bersiap kerja, sedangkan baby Fatimah bersama pengasuhnya Yuni, keponakan bu Wati yang tidur di kamar belakang dekat dapur.


Saat itu masih pukul tiga dini hari, Azam turun dari tempat tidur.


"Aku ke kamar mandi dulu Beib," pamit Azam, Silvira mengangguk, Azam kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Baby Fatimah rupanya sudah kenyang, setelah bersendawa, dia kembali tertidur. Silvira masih mendekap bayi mungilnya itu.


Tak lama kemudian, Azam keluar kamar mandi dengan wajah dan lengan serta kali yang basah, rupanya dia telah mengambil wudhu. Kemudian ia berganti baju, menggelar sajadah dan mendirikan sholat sunnah.


Selesai sholat, Azam merapikan sajadah dan melepas kembali kurtanya, seperti biasa dia membiarkan dadanya terbuka ketika tidur. Dan seperti biasa, Silvira tetap terpesona kepada suaminya itu.


Azam kembali ke sisi Silvira, dan berbaring di sebelah Silvira yang masih terduduk.


"Tidur lagi Beib, masih ada waktu sebelum subuh," ucap Azam. Silvira berbaring menuruti suaminya, namun dia menghadapkan tubuhnya ke arah Azam, dan membelai dada Azam yang bidang, juga roti sobek enam biji yang akhirnya kembali muncul.


"Mas,"


"Hmm," sahut Azam sambil terpejam.


"Mas belum tahu ya,"


"Apa?" tanya Azam yang masih terpejam.


"Nifas aku sudah selesai," Azam langsung membuka matanya dan menatap wajah istrinya.


"Serius kamu? Mulai kapan?" tanya Azam.


"Se...pekan lalu," jawab Silvira dengan terbata.


"What!! Beib kenapa kamu tega sekali, kenapa baru bilang, hmm, gak kasihan suamimu ini sudah puasa selama itu," ucap Azam memelas.


"Maaf Mas, bukannya begitu, aku cuma..."

__ADS_1


"Cuma apa? Hmm.. males,"


" Bukan.."


"Lalu??"


"Aku ta.. takut,"


"Hey.. Beib? Apa selama ini aku menakutkan bagimu," tanya Azam dengan lembut.


"Bukan takut yang seperti itu Mas, aku takut sakit," ucap Silvira sambil meringis.


"Ah.. itu.." ucap Azam yang baru menyadari, setelah melahirkan istrinya takut bagian intinya kembali merasakan sakit, namun ia tak kehabisan akal, ia tetap berusaha tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah lama ia nantikan.


"Sayang, dengerin aku," Azam memiringkan tubuhnya dan menarik dagu Silvira agar wanita itu memandangnya. Mata bulat Silvira melihat penuh ke arah wajah suaminya. Azam menangkup pipi Silvira.


"Jangan takut, aku akan membuatmu nyaman dan rileks, mau ya,"


Silvira terdiam sejenak, mencoba tenang, namun masih tak dapat menyembunyikan ketakutannya.


"Hmm? Aku akan berusaha selembut mungkin, kalau kamu masih kesakitan, kita berhenti, aku janji," ucap Azam mencoba merayu Silvira. Silvira mengangguk pelan. Matanya terpejam, ia berusaha menerima dan menikmati apa yang diberikan suaminya.


.


.


"Aku mandi di atas, sekalian ganti baju," ucap Azam hendak keluar kamar.


"Tunggu Mas, pakai kurtanya, biasanya Yuni sudah bangun jam segini, aku gak mau dia melihat pemandangan indah milikku," sergah Silvira. Azam meraih kurtanya kemudian memakainya.


"Aku segera naik, jadi Mas langsung mandi aja, biar aku siapin bajunya," ucap Silvira.


"Iya," sebenarnya ia tak ingin merepotkan Silvira untuk naik dan menyiapkan baju untuknya, namun apalah daya, dia sendiri tidak tahu dimana baju dalamnya disimpan, benar-benar Silvira membuat Azam tergantung padanya.


Saat keluar kamar, di depan pintu Azam terkejut. Benar saja yang dikatakan Silvira kalau jam segini Yuni sudah bangun, dan dia sedang menyapu ruang tamu.


"Selamat pagi Pak Azam," sapa Yuni.


"Pagi, eh sudah bangun kamu," sahut Azam.

__ADS_1


"Iya Pak,"


"Itu bajumu,"


"Baju saya kenapa Pak?" Yuni jadi melihat bajunya, iya dia memakai piyama tidur pendek.


"Kalau keluar kamar pakailah baju panjang, dan pakai juga kerudung mu," ucap Azam lalu begitu saja meninggalkan Yuni yang terdiam sambil memegangi rambutnya yang diikat ke belakang.


Silvira yang mendengar semua itu dari dalam kamar tersenyum simpul. Kemudian berdiri menggendong Fatimah untuk diajak naik ke kamar atas.


Yuni segera bergegas ke kamar untuk ganti baju dan memakai kerudung.


Azan subuh berkumandang, Azam keluar kamar dan si kembar yang juga telah siap ke masjid menunggunya di dekat kamarnya.


"Ma saya Allah jagoan nabati sudah siap semua, sudah siap menjadi manusia kaya,"


"Hah manusia kaya?" tanya Fahri. Farhan juga tidak mengerti.


"Dua rokaat sebelum subuh, itu jauh lebih baik daripada dunia seisinya, bayangkan bila kalian mendapat kebaikan lebih daripada dunia seisinya, bukankah itu hal yang hebat?" ucap Azam.


"Oh iya, kita juga pernah belajar itu, tapi lupa," sahut Farhan.


"Yuk kita berangkat, biar bisa sholat sunnah dulu," ajak Azam. Mereka bertiga menuruni tangga dan berangkat ke masjid.


Dari dapur, Yuni melihat tuannya itu sambil tersenyum sendiri, tentu saja dia sangat terpesona dengan Azam. Belum pernah ia bertemu langsung dengan pria dewasa ya g tampan dan berbadan bagus seperti Azam.


Silvira sebelumnya berulang kali berfikir, tentang memakai pengasuh untuk membantunya merawat baby Fatimah, dia tidak mau fokusnya kepada Azam terbagi lagi. tetapi Yuni baru lulus SMA, bagai bunga yang baru mekar, gadis itu ayu, pasti setiap lelaki ingin mendekatinya. Tapi Silvira tentunya percaya kepada Azam, Azam akan setia kepadanya.


Selepas sholat subuh, Silvira membawa baby F turun ke lantai bawah. Dia meletakkan Fatimah di kereta bayinya. Fatimah yang kekenyangan masih terlelap.


"Kamu duduk sini, jagain Fatimah ya, saya mau siapkan sarapan," ucap Silvira. Yuni duduk di kursi makan di samping kereta Fatimah, sambil melipat baju-baju Fatimah.


Sementara itu Silvira mengeluarkan ayam katsu dari freezer yang ia buat kemarin, juga rolade daun singkong yang siap digoreng, kemudian mengiris-iris cabai, bawang merah dan putih, juga serai untuk sambal matah, ketika akan menuang minyak kelapa, ia urungkan karena Azam yang baru datang dari Masjid memanggilnya.


"Beib," panggil Azam.


"Iya Mas," sahut Silvira sambil menutup kembali botol minyak kelapa.


"Sini," panggil Azam. Silvira segera melepas celemek nya dan mencuci tangannya. Lalu datang memenuhi panggilan suaminya.

__ADS_1


"Iya Mas," ucap Silvira lagi ketika di dekat Azam. Azam meraih pinggang Silvira dan membisikkan sesuatu di telinga Silvira. Silvira terbelalak matanya dan menutup mulutnya seperti terkejut, kemudian ia bersama Azam naik ke atas menuju kamar mereka.


Yuni yang melihat mereka naik jadi terbengong, mereka ngapain lagi di kamar?


__ADS_2