Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#68


__ADS_3

Keesokan harinya, Silvira bersiap ke Rumah Sakit, untuk melihat Azam. Sebelumnya dia minum susu, sarapan, dan minum vitamin. Silvira berjalan kaki menuju Rumah Sakit, karena memang jaraknya cukup dekat dengan tempat menginapnya sekarang.


Langkah demi langkah dia tapaki sambil beristighfar. Harapan dia dengan beristighfar, Allah akan mengabulkan doanya, yaitu kesembuhan Azam. Dia melewati koridor panjang, dan di depan pintu lift ternyata ada Amir dan Sofia. Namun Silvira masih belum menyadarinya, dari tadi pun pandangannya selalu ke bawah, sesekali melihat depan agar tidak menabrak.


"Dik Silvira," panggil Sofia. Silvira mengangkat kepalanya yang sebelumnya menunduk.


"Oh, Mas Amir, Mba Sofia, sudah datang?" ucap Silvira.


"He em Dik, yuk naik sama-sama," ajak Sofia sambil menggandeng tangan Silvira.


Di dalam lift, Sofia tetap menggenggam tangan Silvira, dan tangan lainnya membelai tangan Silvira. Dia tahu Silvira sangat sedih dengan kejadian yang menimpa mereka.


Tiba di lantai tiga, mereka segera menuju ke ruang ICU. Di dalam ruangan mereka hanya biss memandangi Azam dari kaca pembatas. Air mata Silvira meleleh dengan sendirinya. Di dalam, seorang perawat sedang menyuntikkan obat melalui saluran infus.


"Mas Azam..." lirihnya.


"Bagaimana keadaan adik saya Mas," tanya Azam kepada perawat yang tadi merawat Azam.


"Kalau untuk saat ini masih sama Pak, belum ada perkembangan yang signifikan, namun keadaannya masih stabil atau tidak memburuk, jadi kita tunggu saja sampai pasien bangun," jawab perawat itu.


"Hmm, iya Mas, terima kasih, boleh kami masuk sebentar?" tanya Amir lagi.


"Iya, tapi bergantian ya," sahut perawat itu, kemudian ia permisi kembali ke ruang perawat.


"Kamu masuk dulu Dik," ucap Sofia, Silvira mengangguk kemudian masuk ke ruangan Azam.


Silvira mendekati Azam, mengelus tangannya.


"Assalamualaikum Mas, ini aku datang sama calon bayi kita, Mas segera bangun ya, kami kangen suaramu, perhatianmu, semuanya, ya adik bayi ya, tuh dia gerak Mas, gak sabar aku pengen menikmati pergerakannya di perut ini bersamamu," ucap Silvira sambil tangan satunya mengelus perutnya, yang satunya memegang tangan Azam.


Sehari, dua hari, hingga satu pekan Azam belum bangun juga, Dokter Radit juga melakukan serangkaian tes untuk Azam, namun hasilnya juga masih dalam batas normal.


Setiap pagi juga Silvira datang, Amir juga datang, entah bersama Sofia, Ibu, atau Ayah bergantian, karena mereka bergantian juga menjaga anak-anak.


Sampai pada suatu pagi, Silvira bertemu Ammar, Hendra dan Benny.


"Sil, Assalamualaikum," sapa Ammar.


Silvira melihat Ammar sejenak, lalu menunduk kembali.

__ADS_1


"Waalaikumusalam," jawab Silvira singkat.


"Kamu sendirian?" tanya Ammar.


"He em, biasanya mas Amir datang, tapi dia bilang terlambat hari ini, karena ada kunjungan dari pemerintah kota ke kebun mereka," sahut Silvira.


"Kalian sudah lama di sini?" tanya Silvira.


"Belum juga, baru lima menitan ya Ben?" sahut Ammar sambil menyenggol lengan Benny dengan lengannya.


"Hmm iya Mba, baru saja kok," sahut Benny.


Sejenak kemudian mereka meminta izin masuk ke kamar Azam, dan seperti biasa bergantian.


Ketika tiba giliran Silvira...


"Assalamualaikum sayangku.. seneng ya hari ini di kunjungin sahabat-sahabat kamu Mas.. harapan kamu membawa mereka ke kota ini dikabulkan Allah Mas, tapi dengan keadaan yang berbeda, makanya cepat bangun, kita main ke kebun, nginap di villa seperti rencana kalian dulu," ucap Silvira.


.


.


"Iya Mar, kenapa?" tanya Silvira.


"Sudah satu pekan lebih mereka tidak sekolah, apa gak kasian mereka pasti ketinggalan pelajarannya," ucap Ammar.


"Mau bagaimana lagi Mar, aku belum bisa meninggalkan mas Azam untuk kembali pulang ke rumah," sahut Silvira.


"Itu dia, mereka biar sama aku saja, kamu percaya kan sama aku dan Arum," ucap Ammar.


"Hmm, aku takut mereka merepotkan kalian, sementara kalian sudah merawat enam anak di rumah, dan lagi kata dokter belum tahu kapan mas Azam bangun," sahut Silvira.


"Hey, kaya sama siapa aja, lagian Rayhan dan Salman juga Hanna pasti senang mereka tambah saudara, sambil menunggu Azam bangun, biar mereka sama aku ya," bujuk Ammar.


"Hmm, sebentar aku telpon ibu dulu, dan tanya ayah juga mas Amir," ucap Silvira kemudian.


Silvira lalu menjauh dari mereka untuk menelpon ibu mertuanya. Tak lama kemudian ia kembali.


"Iya Mar, sebentar lagi mereka datang diantar mas Amir," ucap Silvira setelah kembali.

__ADS_1


"Alhamdulillah, okey kami tunggu," sahut Ammar.


"Oh iya Mba, ini dari kantor dan teman-teman sekantor," ucap Hendra sambil menyerahkan amplop coklat kepada Silvira.


"Apa ini?" tanya Silvira.


"Kami tahu kalian punya lebih banyak dari ini, tapi terima saja Mba, ini bentuk perhatian dan kasih sayang teman-teman kantor kepada Azam sekeluarga," ucap Hendra lagi.


" Baiklah, aku terima, tolong sampaikan terima kasihku pada teman-teman dan juga bapak kepala dinas, jazaakumullaahu khayran," ucap Silvira sembari menerima amplop itu.


"Ini juga ada titipan dari Arum buat nemani kamu di home stay katanya," ucap Ammar sambil menyerahkan paper bag hitam kepada Silvira.


"Oh, jazaakumullaahu khayran," ucap Silvira sambil meraih paper bag itu dari tangan Ammar.


Selang beberapa waktu kemudian, Amir dan Ibu datang bersama si kembar. Fahri dan Farhan langsung berhamburan memeluk Silvira.


"Umma.." panggil mereka berdua.


Silvira, Ammar, dan teman-temannya menyapa Ibu dan mas Amir.


"Mas Amir, maaf tadi aku minta mas Azam dipindahkan ke ICU yg VIP, karena tadi aku lihat pasien sebelahnya perempuan, aku takut dia merasa gak nyaman, maaf aku gak tanya kalian dulu," ucap Silvira.


"Iya gak papa, demi kenyamanan Azam saja, yang penting dia segera bangun dan sembuh," sahut Amir.


"Tadi aku juga sudah izin perawatnya kalau anaknya mau ketemu, alhamdulillah diizinkan tapi gak boleh lama-lama," ucap Silvira.


"Kalau gitu biar masuk sama aku," ucap Amir kemudian. Ia lalu membawa si kembar ke dalam ruang rawat Azam.


"Nak Ammar, Ibu titip cucu-cucu Ibu ya," ucap Ibu.


"Iya Bu, in syaa Allah akan saya jaga seperti anak-anak saya sendiri, Ibu, dan Silvi jangan khawatirkan mereka," kata Ammar.


"Mereka semua teman kuliah saya satu angkatan dan satu kampus Bu, tapi beda jurusan, jadi sudah kenal lama, seperti saudara," Silvira menjelaskan kepada Ibu mertuanya.


"Iya Bu, dan Azam itu tiga tahun di atas kami semua, tapi penampilannya lebih muda dari kami, jadi kami manggilnya Azam aja, gak pakai Mas," seloroh Hendra.


Ibu tersenyum melihat mereka, mereka terlihat baik, jadi yakin juga bahwa Azam adalah anak yang baik juga.


"Terima kasih kalian telah menjadi keluarga Azam di kota yang asing baginya," ucap Ibu akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2