
Silvira benar-benar terkejut, namun dia mencoba menahan diri dengan tenang. Dia meraih tangan Azam sehingga Azam mendekat, kemudian di depan Nania, Silvira memeluk suaminya itu.
"Beib, maaf ya aku ganggu kerja kalian," ucap Silvira. Azam mengelus punggung Silvira.
"Gak ganggu sayang, aku senang kamu di sini, semalam aku gak bisa tidur karena gak ada kamu di sampingku," sahut Azam.
Hendra yang keluar dari kamar mandi terkejut melihat Silvira dan Azam berpelukan. Dan di belakangnya Nania sedang manyun melihat orang pelukan.
"Hey Sil, masuk yuk," ucap Hendra. Silvira kemudian melepaskan pelukannya.
"Hey Ndra, maaf ganggu ya," ucap Silvira.
"Gak kok, masuk yuk masa mau di depan pintu terus," sahut Hendra.
"No no no, aku sudah punya kamar di depan sini, nanti kalau sudah selesai, aku mau ngajak teman kamu honeymoon," ucap Silvira.
"Okelah," sahut Hendra.
"Sayang, aku tunggu kamu di kamar depan ya," ucap Silvira kemudian pergi meninggalkan mereka menuju kamar depan.
"Yuk kita kerjain biar cepat selesai, biar ganti gua kerjain bini gua," ucap Azam dengan semangat.
Hendra dan Nania mengumpulkan bahan, kemudian Azam yang mengolah data di laptop. Azam sengaja mengerjakannya dengan cepat agar cepat selesai agar Silvira tidak terlalu lama menunggu.
"Maa syaa Allah Zam, cepat banget ngetiknya, udah gak sabaran ya," ucap Hendra.
"Hahaha, iya bro, tau aja," sahut Azam. Nania hanya terdiam, semenjak kedatangan Silvira tadi dia lebih jadi pendiam, segala usaha agar Azam dan Silvira salah paham dan bertengkar telah gagal.
Jam sepuluh malam, akhirnya mereka menyelesaikan bahan untuk persentasi besok.
"Alhamdulillah kelar, sekarang kamu yang harus belajar, kamu besok yang menyajikan ya," ucap Azam kepada Hendra.
"Oke, sahut Hendra, selamat berjuang di ranjang bro," goda Hendra. Azam tersenyum lebar.
"Yuk Nan, kita keluar, kalian gak boleh berduaan di dalam ruang tertutup," ucap Azam. Nania hanya mengangguk dan mengikuti Azam keluar kamar dan masuk ke dalam kamarnya.
Azam mengetuk pintu kamar Silvira, dan muncul Silvira dari balik pintu.
"Sayang.." ucap Silvira dan menarik Azam masuk ke dalam kamarnya.
Azam memeluk erat istri tercintanya.
__ADS_1
"Hmmm, cintaku sayangku..." ucap Azam sambil mengelus kepala Silvira.
"Duduk Mas, aku buatin teh hangat ya," ucap Silvira. Azam pun duduk di sofa. Silvira segera menyiapkan teh untuk Azam dan menyajikannya.
"Kamu gimana bisa sampai di sini?" tanya Azam sambil membuka baju atasannya, dia merasa gerah seperti biasanya.
"Bareng sama Aditya dan Silvia istrinya, tadi aku ke tempat Mami sama Papi, terus kata mereka aku kelihatan kusut banget, aku bilang lagi kangen ditinggal Mas pelatihan, terus sama Aditya diajak ke sini sekalian dia lihat klinik cabang sini, ya udah aku ikut sekalian menyapa karyawan klinik, terusnya aku minta antar ke hotel ini," kata Silvira menjelaskan.
"Terus mereka kemana sekarang? Aku mau ucapkan terima kasih sudah mengantar dan menjaga bidadariku ini," tanya Azam sambil menyentil hidung Silvira.
Silvira tersenyum lebar menutupi luka di hatinya.
"Mereka nginap juga di hotel ini, udah malam, besok pagi saja ketemuannya, ntar kita ganggu mereka," jawab Silvira.
"Hmm begitu, tapi sepertinya ada sesuatu yang tersembunyi di hati kamu," ucap Azam yang melihat kesedihan di sudut mata istrinya itu, dan Azam penasaran mengapa dia tidak bereaksi apapun melihat Nania di kamar bersamanya tadi.
"Emang mas tahu dalam hatiku?" tanya Silvira.
"Mas gak tahu apa itu Beib, tapi di dalam sini ada sesuatu yang sepertinya ingin kamu simpan sendirian," ucap Azam. Silvira mendekatkan tubuhnya ke badan Azam, Azam membimbingnya hingga Silvira duduk di depannya dan bersandar pada badan Azam, kemudian Azam memeluknya dari belakang.
"Iya, hatiku sedang sakit Mas," ucap Silvira kemudian.
"Mas," sahut Silvira.
"Hah, aku??" Azam terkejut.
"Hmm, sakit sekali jauh dari Mas," ucap Silvira.
Azam mengeratkan pelukannya dan menghirup bau shampo yang segar dari rambut Silvira, dan juga semerbak wangi parfum yang biasa Silvira pakai ketika bersamanya.
"Maafin Mas Beib," ucap Azam.
"Tadi pagi aku telepon Mas,"
"Iyakah?" Azam kemudian memeriksa catatan panggilan di ponsel miliknya. Ternyata benar ada panggilan masuk.
"Siapa yang jawab?" tanya Azam.
"Nania, dia bilang, Mas masih di kamar mandi, dan dia juga sedang menunggumu, kan aku jadi takut Mas,"
"Takut kenapa.. kan kamu percaya Mas tidak akan berbuat seperti itu."
__ADS_1
"Istri manapun yang mendengar kata seperti itu dari wanita lain yang berani mengangkat ponsel suaminya pasti sama perasaannya denganku Mas," Silvira kemudian memutar badannya hingga menyamping dan menyandarkan kepalanya di bahu Azam.
"Kalau wanita tahu menutup aurat, dan lelaki selalu menundukkan pandangannya, maka hal semacam perselingkuhan akan mudah dihindari, tapi di sini posisi wanita pakaiannya terbuka, dan dua hari ini aku lihat pahanya terlihat setengah, aku takut, takut kehilangan Mas," ucap Silvira.
"Gak usah fikir macam-macam, percaya dirilah kalau kamu yang terbaik di mataku, mau di depanku ada sepuluh Nania, aku pasti akan berjalan ke arahmu," tegas Azam. Azam merasakan hembusan nafas Silvira membelai lehernya membuat hasratnya bangkit.
"Sepertinya kamu harus dihukum habis-habisan malam ini karena sudah curiga sama Mas," Azam kemudian menggendong Silvira ke ranjang.
"Mas, ampun, aku gak curiga, aku cuma takut suamiku dicuri orang," ucap Silvira..
"Sudah diam, kalau kamu takut, kamu harus layani aku dengan baik, Hmm,"
****
Keesokan paginya, Azam berjalan sendirian ke restoran hotel untuk sarapan. Hendra dan Nania sudah menunggunya di sana.
"Wuoy yang baru hanimun, sampe kesiangan, buruan ambil makanan," ucap Hendra.
Nania terdiam saja, dia berpikir haruskah dia menyerah mengejar Azam, atau dia terus maju..
Sejenak kemudian Azam datang dengan sepiring penuh nasi goreng dengan berbagai lauk, serta segelas susu coklat.
"Wait wait, gak salah bro makan sebanyak itu," ucap Hendra yang tahu seperti apa makanan Azam biasanya.
"Diem lu, laper banget, gak punya tenaga lagi, dah habis buat semalem," ucap Azam sambil mengunyah makanannya.
"Mba Silvi mana Mas?" tanya Nania.
"Dia masih tidur, habis subuh minta nambah lagi, gak tau tuh, bisa jalan apa gak," sahut Azam sambil cekikikan, Hendra menggelengkan kepalanya.
"Maa syaa Allah, luar biasa lu bro," ucap Hendra.
"Nanti kalian berdua ya yang persentasi, aku ngantuk banget," ucap Azam.
"Jangan bilang lu gak tidur semalaman," tukas Hendra.
"Ya begitulah," sahut Azam sekenanya.
"Mas Mas aku naik duluan ya," ucap Nania kemudian meninggalkan mereka.
"Assalamualaikum Mas Azam," sapa seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri Azam.
__ADS_1