Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#39


__ADS_3

"Mas, Azam kok datang ke mimpiku," ucap Silvira yang belum sadar juga. Azam tersenyum semakin lebar, dia gemas dengan tingkah istrinya.


"Hmm, senyummu Mas, maa syaa Allah," Silvi masih bermimpi. Azam kemudian mencubit pipi Silvira.


"Aww sakit Mas, kok bisa sakit ya di mimpi, jangan-jangan aku gak mimpi," Silvira segera bangun dan duduk.


"Iya, aku di sini, kamu gak mimpi," ucap Azam sambil memandang Silvira dan menopang dagu dengan tangan kanannya.


"Owh,... ha.. Mas, kok bisa di sini?" tanya Silvira.


"Iya, jam makan siang, aku takut kamu kesepian makanya aku pulang, mau makan siang bareng kamu," ucap Azam.


" Bekalnya?" tanya Silvira yang merasa membawakan bekal makan siang untuk Azam tadi pagi.


"Tuh disiapin bu Wati buat kita makan, makan yuk, keburu habis jam makan siangnya," ucap Azam sambil menggendong tubuh Silvira tanpa menunggu jawaban.


"Mas, turunin, malu sama bu Wati," ucap Silvira sambil menutup mukanya.


"Udah diam, gak papa ya Bu," ucap Azam seraya meletakkan Silvira di kursi makan. Bu Wati hanya tersenyum kemudian pergi ke belakang rumah karena tidak tahan melihat keuwuan majikannya.


"Beib, ada tugas negara yang harus aku lakukan," ucap Azam sambil menyendok makanan dari piringnya.


"Apa itu?" tanya Silvira.


"Aku besok dapat tugas ke luar kota selama tiga hari, aslinya bukan aku sih, aku cuma gantikan Milda yang mendadak cuti melahirkan,"


"Kok cuti melahirkan mendadak?" tanya Silvira.


"Iya, belum waktunya, aslinya masih dua bulan lagi, tapi qodarullah bayinya lahir prematur," jawab Azam.


"Terus, berapa hari? Sama siapa?" tanya Silvira lagi.


"Sama Hendra dan Nania," jawab Azam, muka Silvi berubah masam mendengar ada nama wanita.


"Hendra teman kuliah aku dulu, kalau Nania itu yang mana?" tanya Silvi.


"Nania anak baru, pegawai kontrak, baru tiga bulan ini, percaya sama aku ya beib," ucap Azam sambil mengelus punggung tangan Silvira.


"Iya, jangan khawatir, Mas naik apa? Baru saja Mas mengalami kecelakaan, aku yang ketakutan Mas," ucap Silvira sambil berdiri lalu menuju lemari es mengambil puding yang tadi dia buat.

__ADS_1


"Naik kereta, tenang beib, pasrahkan semua pada Allah, mau dimanapun, naik apapun, kalau saatnya ajal menjemput pasti mati," ucap Azam.


"Hmm, iya, kita hanya bisa berdoa semoga kita dipersatukan Allah dalam waktu yang sangat lama," ucap Silvira sambil menyajikan puding untuk Azam.


"Puding?" tanya Azam.


"Cobain deh, itu tadi pakai susu rendah lemak punya Mas, sama gulanya sedikit kok, jangan khawatir," sahut Silvira yang paham suaminya tidak suka makanan manis.


"Hmm maa syaa Allah, enak banget sayang, haduh gimana ini," ucap Azam.


"Gimana apanya Mas?" Silvira mendadak bingung.


"Aku jadi semakin berat meninggalkanmu, yuk ganti baju, aku antar ke klinik," ucap Azam.


"Hah iyakah?" Silvira segera lari ke atas untuk berganti pakaian.


***


Esok paginya Silvira menemani Azam ke stasiun kereta, jadwal kereta Azam pukul 10.00, sedangkan ini masih pukul 09.30, masih 30 menit lagi sebelum kereta berangkat. Mereka menunggu di lobi. Azam tidak sedetikpun melepaskan tangan Silvira dari genggamannya.


"Beib, selama aku pergi, baik-baik di rumah ya, aku akan sering menelponmu, in syaa Allah," ucap Azam.


Tak lama kemudian Nania datang hampir bersamaan dengan Hendra.


"Assalamualaikum," sapa Hendra.


"Waalaikumusalam," jawab Azam dan Silvira.


"Sehat Sil?" tanya Hendra.


"Alhamdulillah," jawab Hendra.


"Nan, kenalin ini Silvira istriku," ucap Azam mengenalkan mereka.


"Oh iya, kenalkan saya Nania, juniornya Mas Azam," ucap Nania yang selalu ceria, sambil mengajak Silvira bersalaman. Silvira pun menyambut tangan Nania.


"Silvira," ucap Silvira.


"Mas, aku ke toilet ya," ucap Silvira.

__ADS_1


"Iya Beib," sahut Azam. Mendengar Azam memanggil istrinya dengan Beib, dan melihat Azam tak melepas genggaman tangannya dengan Silvira, terbesit rasa iri di hati Nania.


"Eh tunggu Mba, sama aku ya," ucap Nania mengikuti Silvira.


Sesampainya di toilet, Silvira segera masuk ke wc, belakangan ini dia suka beser. Setelah selesai Silvira mencuci tangannya di wastafel, di sana sudah ada Nania.


"Mba sudah lama menikah dengan Mas Azam?" Tanya Nania.


"Belum sih, kenapa?" tanya Silvira balik.


"Gak papa sih Mba, cuma aku pengen aja menikah dengan lelaki seperti Mas Azam, dia terlihat sangat menyayangi Mba," ucap Nania.


Mendengar ucapan Nania hati Silvira seakan teriris, suaminya diinginkan wanita lain. Namun dia menahan diri, dia hanya bisa diam sekarang, karena dia percaya Azam tidak akan mengkhianatinya.


"Mba, kenapa wajahnya ditutup cadar seperti itu? Kalau Mba cantik, gimana bisa dilihat orang kecantikan Mba?" tanya Nania.


Silvira memandangi Nania yang memakai gaun selutut dan kardigan, teringat dirinya yang dahulu sebelum bertemu keluarga Ammar dan menikah dengan Azam.


"Itulah yang Mas Azam inginkan, kecantikan aku, seluruh bagian tubuhku hanya bisa dilihat olehnya," ucap Silvira sambil meninggalkan toilet itu dan kembali ke tempat Azam.


"Keretanya sudah datang, aku masuk dulu ya beib, ingat pesan aku tadi ya," ucap Azam seraya mengecup kening Silvira. Mereka berpisah di sana. Azam, Hendra, dan Nania masuk ke dalam. Silvira kembali ke mobil.


Mereka naik kereta ekonomi, karena jarak kota tujuan mereka cukup dekat, yaitu hanya tiga jam perjalanan. Tempat duduk mereka berurutan, Nania di tepi jendela, Azam di tengah, dan Hendra yang paling pinggir.


Azam sebenarnya tidak tahan duduk dengan wanita yang bukan mahramnya, ingin bertukar tempat dengan Hendra, namun Hendra tidak mau. Dan bangku di depannya pun penuh penumpang. Azam hanya bisa pasrah.


Azam sangat tidak nyaman melihat Nania mengenakan gaun pendek, otomatis pahanya terbuka setengah. Azam melepaskan jaketnya dan menyelimutkannya ke Nania. Nania tersenyum senang dengan sikap Azam.


"Terima kasih Mas," ucap Nania. Azam hanya mengangguk, kemudian Azam bersendekap dan memejamkan matanya ingin tidur saja, agar tidak perlu melihat yang tidak-tidak di sampingya itu. Akhirnya Azam tertidur betulan.


Melihat Azam tidur, Nania mengambil kesempatan, menyandarkan kepalanya ke bahu kekar milik Azam. Dan satu tangannya menyentuh lengan Azam.


"Oh, keras sekali lengannya," batin Nania yang kesenangan menikmati moment bersandar di bahu Azam.


Setelah beberapa lama Azam terbangun karena pegal di bahunya, dia sangat terkejut Nania tidur di bahunya. Azam kemudian melepas pecinya dan menggunakannya untuk mengalasi tangannya memindahkan kepala Nania dari bahunya ke jendela. Sebisa mungkin tidak mau menyentuh wanita yang bukan mahramnya.


Kemudian dia berbincang dengan Hendra, yang tersenyum-senyum melihat Azam. Hendra tahu bagaimana rasanya ditempeli wanita yang bukan mahramnya, Hendra sendiri juga sangat baik dengan agama.


"Tega benget lu Bro," gerutu Azam.

__ADS_1


__ADS_2