Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#23


__ADS_3

Waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. Silvira bangun dari tempat tidur, dia menutupi tubuh polos Azam yang sudah terlelap. Kemudian segera menuju kamar mandi. Berendam air hangat ampuh meredakan pegal-pegal di tubuhnya.


"Ting tong...!!" bel pintu berbunyi, Silvira tidak mendengarnya karena dia menyalakan kran air di kamar mandi.


"Ting tong..!!" bel berbunyi lagi. Azam akhirnya terbangun, dia mendengar suara kran dari kamar mandi, pasti Silvi sedang mandi.. pikirnya. Dia menyambar celana piyama dan kaos tanpa lengan lalu turun untuk membuka pintu.


"Karin!" seru Azam yang terkejut melihat mantan istrinya ada di depannya.


"Hai Mas," sapa Karin, dia juga terpesona melihat tubuh Azam yang semakin atletis, jauh beda ketika dia tinggalkan dulu.


"Kamu kok bisa masuk ke sini?" tanya Azam heran.


"Salah sendiri gak ngunci pagar," ucap Karin sambil nyelonong masuk. Azam baru tersadar, dia tadi lupa mengunci pintu pagar.


"Kamu mau ngapain ke sini malam-malam begini?" tanya Azam.


"Mau ketemu Mas, aku kangen sama Mas,"


"Jangan gila kamu, kita sudah bercerai Karin, kamu gak boleh kaya gini,"


"Aku lagi sakit Mas,"


"Sakit apa? Kalau sakit harusnya kamu istirahat, bukannya kemari,"


"Kata dokter aku anemia," jawab Karin sambil melirik ke arah tangga, yang ternyata Silvira turun mendekati mereka. Dan dengan tiba-tiba dia menjatuhkan dirinya ke pelukan Azam.


"Mas aku pusing,"


"Eh apa sih kamu, bangun!" ucap Azam.


Silvira datang dan menarik bahu Karin dan mendudukkannya ke sofa. Kemudian Silvi menarik Azam mundur menjauh dari Karin. Karin terlihat kesal dibuatnya.


"Mba, kalau kelakuan Mba ini bertujuan membuat saya kesal, okey Mba berhasil karena saya benar-benar kesal. Tapi kalau ingin membuat Mas Azam kembali rujuk dengan Mba, aku rasa Mba gak akan berhasil," ucap Silvira. Karin hanya terdiam.


"Mba Karin kalau beneran sakit, sebaiknya istirahat di rumah," lanjutnya.


"Aku cuma kangen sama Azam," lirih Karin.


"Mba, sadarlah, Mas Azam sekarang menjadi suami saya yang sah di mata hukum dan agama, Mba sudah gak berhak lagi atas tubuh dan hati Mas Azam, hargailah diri Mba, jangan seperti ini," ucap Silvira, dan Karin tetap terdiam.


"Kamu naik apa ke sini?"tanya Azam.

__ADS_1


" Taksi," jawab Karin.


"Aku pesankan taksi, ayo ku antar ke depan," ucap Azam.


Karin berdiri dan keluar dari rumah Silvira. Azam memegang tangan Silvira.


"Sayang aku antar dia ke depan ya, kamu tunggu sebentar," ucap Azam.


"Iya, langsung ke atas ya Mas, aku siapin air mandi, jangan lupa kunci pintu," pesan Silvira.


"Okay," ucap Azam, dan dia berjalan menyusul Karin yang sudah lebih dulu keluar.


Karin berdiri di depan rumah Azam menunggu taksi datang. Azam berdiri di sampingnya.


"Kita bukan suami istri lagi, tapi kita tetap bisa berteman, namun tidak meninggalkan kaidah agama, kita bukan mahram lagi," ucap Azam.


"Iya," ucap Karin sambil tertunduk, air matanya berlinang, banyak penyesalan di dirinya. Mengapa dia dulu meninggalkan Azam dan memilih Albert.


"Sebagai seorang teman aku selalu doakan kamu, semoga mendapat suami yang jauh lebih baik dari aku, semoga kamu selalu bahagia, dan kalau aku boleh beri saran, pakai kembali jilbabmu seperti dulu," ucap Azam. Karin mengangguk, lalu segera masuk ke dalam taksi yang berhenti di depannya.


Azam menghela napas melihat taksi yang dinaiki Karin pergi meninggalkannya. Ada rasa sedih dan iba melihat Karin, tapi sekarang ada hati yang harus lebih dia jaga, yaitu Silvira istrinya. Dia segera masuk, mengunci pintu dan naik ke atas.


Dia melihat Silvira sedang menjemur bajunya di jemuran balkon. Lalu berjalan menghampirinya, dan memeluknya erat.


"Hmm, gak papa Mas, aku cuma ingin menyiapkan segala keperluan Mas dengan tanganku sendiri," jawab Silvira.


"Maa syaa Allah, bidadari ku,"


"Sudah, mandi sana, airnya keburu dingin lagi nanti," sahut Silvi. Azam dengan berat melepaskan pelukannya. Dan berjalan gontai ke kamar mandi. Dan, terlintas ide nakal di benaknya.


"Dek,"


"Iya Mas, ada apa?"


"Mau bantu gosok punggung Mas?" tanya Azam. Silvira tersenyum dan mengangguk. Dalam hati Azam bersorak gembira, bagaimana istrinya ini begitu taat kepadanya.


🛁🛁🛁🛁


Azam membantu mengeringkan rambut Silvira dengan hairdryer. Silvira terpaksa mandi lagi, karena kenakalan Azam yang menariknya hingga dia terjatuh di bathub juga.


"Mas mau minuman hangat?" tanya Silvira.

__ADS_1


"Mau, susu coklat hangat, tapi kita sholat Isya dulu, kamu belun sholat kan?"


"Iya belum," ucap Silvi sambil berdiri dan menyiapkan peralatan sholat untuk mereka.


Selepas sholat Silvira segera berdiri merapikan peralatan sholat mereka.


"Mas aku ke bawah dulu ya, mau angetin susu," pamitnya kepada Azam.


"Iya sayang,"sahut Azam yang melepas kurtanya. Azam lebih suka bertelanjang dada di dalam rumah. Kemudian dia turun menyusul Silvira di dapur.


" Lho sudah di sini, baru saja aku mau ke atas Mas," ucap Silvira sambil membawa dua mug berisi susu coklat hangat pesanan Azam.


"Hmm," sahut Azam yang duduk di bangku bar.


Silvi meletakkan dua mug itu di meja depan Azam, dan duduk di samping Azam. Mereka menikmati malam sambil menyeruput susu coklat itu.


"Begitu ya Mas rasanya, kalau sudah kehilangan baru terasa, seperti aku yang melihatmu dipeluk Mba Karin, rasanya hmmmmh, sakit, jadi sekarang aku mau peluk Mas terus ah," ucap Silvira sambil memeluk Azam dari samping. Azam terkekeh mendengarnya.


"Yuk kita tidur, Mas sudah ngantuk, udah jam sebelas ini," ucap Azam. Silvira mengangguk lalu membereskan mug bekas susu tadi, dan naik ke atas bersama Azam.


🏊🏻‍♂️🏊🏻‍♂️🏊🏻‍♂️🏊🏻‍♂️


Esok paginya selepas subuh, Silvira dan Azam membaca Al quran bersama, setelah itu Silvira sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi, sedangkan Azam berenang di kolam renang belakang rumah.


"Assalamualaikum," ucap Bu Wati.


"Waalaikumusalam, Bu Wati sudah datang," sahut Silvira.


"Mba Silvi masak apa?" tanya Bu Wati.


"Ini Bu, manggang ikan tuna, sama kentang dan sayuran kukus, sausnya lada hitam," jawab Silvira.


"Hmm pasti enak itu Mba, saya bantuin apa nih?"


"Bersih-bersih halaman depan saja Bu, sebentar lagi saya berangkat bareng bapak kerja,"


"Baik Mba," ucap Bu Wati kemudian menuju halaman depan untuk bersih-bersih.


Silvira sudah selesai makan, dia menghampiri Azam sambil membawakan handuk kimono untuknya.


"Sudah jam enam Mas, gak naik? Ntar telat lho," ucap Silvi. Azam kemudian menepi lalu naik dari kolam renang.

__ADS_1


"Seger banget sayang, kamu gak pengen berenang?" tanya Azam sambil memakai handuk kimono yang dibawakan Silvi tadi.


"Nanti aja pas Mas libur, kalau hari kerja Mas, aku sibuk nyiapin sarapan dan bekal buat Mas," ucap Silvira. Mereka segera naik ke atas untuk mandi dan bersiap ke kantor.


__ADS_2