Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#20


__ADS_3

Silvira selesai sholat, bersamaan dengan itu, Azam keluar dari kamar mandi, rupanya dia telah mandi.


"Kamu mau kemana?" tanya Azam ketika melihat Silvira berusaha berdiri, kemudian dia segera membantunya.


"Mau pee," jawab Silvira.


"Yuk sama Mas," ucap Azam kemudian memapah istrinya itu ke kamar mandi. Setelah selesai, Azam membawa Silvi kembali ke tempat tidur.


"Mas kok sudah pulang?" tanya Silvi.


"Iya siapa suruh matikan ponsel, jadi aku khawatir, tadi bu Wati bilang kamu di kamar, diketok pintunya diam saja katanya, siapa yang gak panik," ucap Azam.


"Iya maaf, sebenarnya dari bangun tidur sudah ngerasa gak enak badan aku, tapi gak aku rasain, tetap aktifitas seperti biasa, eh tadi kok jadi pusing banget, makanya aku tidur, tapi serius lho Mas, Mas gak balik ke kantor?"


"Tadi aku dinas luar, udah kelar kerjaannya, jadi pulang aja. Tadi bu Wati bilang ada tamu, siapa?"


"Iya, perempuan cantik, wah selera Mas boleh juga ya," jaaab Silvira.


"Kok aku?? Emang siapa sih?" Azam masih bingung.


"Namanya Karin," sahut Silvi.


"Hah, Karin?? Ngapain dia ke sini?"


"Ya seperti Mas bilang dia mau rujuk sama Mas," jawab Silvi datar.


"Dia gak mengatakan hal yang menyakitimu kan?"


"Iya Mas pikir aja, ngapain dia repot-repot nemuin aku kalau bukan untuk itu,"


"Dia bilang apa?" tanya Azam.


"Apa aja ya udah lupa tadi udah nangis jadi lupa,"

__ADS_1


"Bisa gitu ya, nangis langsung lupa, maa saya Allah," ucap Azam sambil mengelus kepala Silvira.


"Tapi semua kata yang menyakitkan itu gak akan aku anggap Mas, aku lebih percaya sama Mas," ucap Silvira, Azam segera memeluk Silvira.


"Terima kasih sayang, terima kasih sudah mempercayai Mas, Mas janji akan melakukan yang terbaik untukmu dan anak-anak," ucap Azam lega, karena goncangan badai Karin tidak akan mampu merobohkan bahtera rumah tangga mereka.


"Satu lagi Mas, mba Karin ke sini bawa kue, bolu coklat, katanya kesukaan Mas, tapi dari baunya manis dan moist banget kuenya, wangi butter juga, kebayang banyak banget kalorinya, jadi daripada Mas makan terus maksa aku nemenin olahraga lagi, kuenya aku kasihkan bu Wati buat cucunya, maaf ya Mas," ucap Silvira.


"Kenapa minta maaf? Udah bener kok, aku dulu memang suka, tapi sudah setahunan ini aku gak makan, ngomongin makanan jadi laper,"


"Mas belum makan siang ya, aku masakin ya," ucap Silvira.


"Jangan, Mas masak sendiri saja, Mas ke bawah sebentar ya," ucap Azam.


"Iya Mas," sahut Silvira.


Azam segera ke bawah menuju dapur untuk membuat makan siang untuk dirinya. Azam memanggang ayam filet di atas teflon dan membumbuinya dengan lada dan garam himalaya. Lalu mengukus brokoli dan bunga kol untuk sayurnya, dan dia membuat saus lada hitam untuk pelengkapnya. Kemudian dia menyantapnya dengan semangkuk nasi putih.


"Hmm wangi banget Mas," bisik Silvira di telinga Azam, yang diam-diam tanpa Azam sadari sudah di sampingnya.


"Hmm memang Mas ini paket komplit deh, suka bantuin istri di dapur, bisa masak lagi, maa syaa Allah, pantesan mba Karin ngotot banget pengen balikan," ucap Silvira.


"Udah makan dulu, mulutnya masih penuh jangan ngomong aja," sahut Azam.


Selepas makan, mereka sholat Ashar dan bersiap menjemput si kembar di sekolah.


"Kamu beneran mau ikut? Sudah gak papa?" tanya Azam dibalik kemudi kepada Silvi yang duduk di sampingnya.


"Iya, sudah seharian dirawat suami, alhamdulillah langsung sembuh," ucap Silvira.


"Okelah, subhanalladzi sakhorolana hadza wama kuna lahul mukrinin fa inna ila robbina la munkolibun," ucap Azam, berdoa agar kendaraannya mudah dikendalikan.


Mereka segera menuju sekolah si kembar. Sesampainya di sana, Azam turun dari mobil untuk menyapa teman-teman kajiannya. Sedangkan Silvira memilih duduk di dalam mobil saja.

__ADS_1


"Abati..!!!" teriak Fahri dan Farhan sambil berlari ke arah Azam. Azam menoleh ke arah mereka dan mereka langsung menghambur ke pelukan Azam.


"Jagoan abati, akhirnya kita ketemu juga, abati kangen kalian, gimana kalian senang main sama Salman dan Rayhan?" tanya Azam.


"Senang sekali, seru banget," jawab Farhan.


"Iya Abati, kapan-kapan ganti Salman dan Rayhan yang main ke rumah kita boleh?" tanya Fahri.


"Boleh dong, yuk masuk mobil, sudah ditunggu Umma," jawab Azam.


Mungkin yang belum baca novel sebelumnya Rayhan dan Salman adalah anak-anak Ammar. Salman adalah anak Ammar dengan Fitri istri pertamanya, dan Rayhan adalah anak Arum dengan suaminya yang sudah meninggal. Ammar menikahi Arum yang sudah punya satu anak yaitu Rayhan, dan Ammar sendiri sudah punya dua anak, yaitu Salman dan Hanna. Kemudian dengan Fitri dikaruniai bayi perempuan lagi bernama Maryam, namun Fitri meninggal setelah melahirkan. Di hari yang sama Ammar dengan Arum juga dikaruniai bayi kembar Ayya dan Abdullah, sehingga kini Ammar membesarkan enam orang anak dari dua istri.


Mobil Azam sampai di halaman rumah mereka. Si kembar segera naik ke atas untuk mandi. Begitu juga dengan Azam dan Silvira yang juga menuju kamar mereka untuk bersih-bersih dan berganti pakaian.


"Mas, aku akhir pekan ini mau ke klinik cabang di kota M, Mas mau antar atau aku nyetir sendiri?" tanya Silvi.


"Aku antar saja, ehm aku boleh tanya sesuatu?"


"Tanya apa Mas?"


"Gimana klinik kamu? Apa sudah ada kepala cabangnya?" tanya Azam.


"Sudah sih Mas, tapi mereka laporannya juga tetap ke aku, jadi masih sibuk seperti biasa,"


"Ehm, begitu, aku mau ngomong sesuatu ya," kata Azam.


"Apa Mas?" tanya Silvi.


"Kamu kan ada empat cabang, memang sudah dibantu dengan para kepala cabang, tapi tidak adakah orang yang bisa kamu percayai mengelola dua klinik untuk dia awasi sendiri? Jadi kamu tinggal terima bagian profit kamu,"


"Memangnya kenapa Mas? Aku kurang baik ya melayanimu?" tanya Silvi sedikit takut.


"Bukan, kamu sungguh baik melayaniku, dan merawat anak-anak, tapi aku lihat kamu sakit seperti tadi jadi gak tega, kamu terlalu berat bekerja, sementara bukan kewajibanmu mencari nafkah," ucap Azam.

__ADS_1


"Iya Mas, aku juga ada gambaran mau menyerahkan tanggung jawab dua klinik ke adiknya Mas Adam, papanya si kembar. Sekarang ini dia sudah aku tunjuk sebagai kepala cabang di kota M, dan rencananya yang di kota S aku mau dia juga yang pegang, sampai si kembar dewasa dan bisa mengelola klinik sendiri. Keempat klinik kecantikan itu semua atas nama si kembar Mas," ucap Silvira.


"Iya, yang terbaik buat kita sajalah, mungkin kamu gak mudah berjuang sampai bisa punya empat klinik, tapi percayalah. Meski cuma punya dua klinik, atau tidak punya sama sekali, rezekimu akan tetap sama, namun jalannya berbeda,"


__ADS_2