Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#82


__ADS_3

"Catering mana?" tanya Silvira penasaran.


"Karina," sahut Azam singkat.


"Hah? Apa? Karina? Sang mantan?"


"Iya," sahut Azam.


"Mas,"


"Apa? Emang kenapa?"


"Jadi Mas diem-diem chat-chat an gitu sm Mba Karina," ucap Silvira yang jadi manyun dibuatnya.


"Namanya mau kasih kejutan, ya diem-diem lah, kalau mas bilang kamu, namanya bukan kejutan," ucap Azam mencoba bersabar.


"Tapi kenapa musti mantan sih,"


"Lah kamu sendiri kemarin pas syukuran renovasi rumah juga pesen di catering Karin kan??" Azam tak mau kalah.


"Itu kan aku yang pesan, kalau ini Mas yang chat dia sendiri tanpa tahu aku," Silvira makin dibutakan oleh kecemburuannya.


"Ye, kan aku chat juga cuma buat pesen, bukan janjian kencan Beib," Azam masih membela diri.


"Halah alasan aja, bilang aja mau nostalgia sama mantan Istri," gumam Silvira, namun Azam tetap bisa mendengarnya.


"Hmmmhh..." Azam menghembuskan nafas dengan berat, dia mencoba bersabar, Silvira habis melahirkan, mungkin hormonnya bikin mood naik turun, pikirnya.


"Ya udah, maafin aku, lain kali aku gak akan pesan catering dia lagi, aku cuma ingat dia pernah minta bantuan kita dulu, kalau ada acara dia minta kita pakai catering mamanya itu, dia pengen kita tetap berteman dengannya, namun kalau kamu keberatan ya aku minta maaf Beib, aku gak akan ngulang lagi," ucap Azam mencoba memberi pengertian pada istrinya.


"Trus, mana dia? Kenapa gak ke sini kalau anggap kita teman?"


"Ya mana aku tahu, aku gak nanya, sungkan paling sama keluarga besar kita," sahut Azam.


"Hmm, iya dimaafkan, Mas janji ya jangan ninggalin aku, apalagi mau balikan sama mantan, aku sudah gendut gini habis ngelahirin anak Mas," ucap Silvira akhirnya.


"Iya, janji sayangku, bagaimanapun kamu, I love u Beib," ucap Azam sambil mengecup punggung tangan Silvira.


"Hey tuan rumah, tuh tamunya ditemenin, banyak tamu malah asyik pacaran di sini," ucap Amir setengah berteriak mengagetkan Azam dan Silvira. Yang mendengar pun jadi ikut tersenyum melihat mereka. Azam menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Akhirnya Azam dan Silvira bubar di sana, Azam pindah menemani tamu lelaki, sedangkan Silvira pergi ke kamar memompa Asi.

__ADS_1


"Kamu ngapain di kamar sendiri?" tanya Ibu yang masuk ke kamar Bayi.


"Pumping asi Bu, sama Mas Azam disuruh pumping tadi, buat nanti malam, kata Mas Azam Ibu mau tinggal di sini kan?" tanya Silvira ganti.


"Ya, gak lama tapi, gimana ayahmu nanti kalau ibu di sini..."


"Ayah sekalian aja Bu, biar tambah rame rumah ini," ucap Silvira membujuk Ibu.


"Ya nanti dibicarakan sama Azam dan ayah, juga Amir ya," ucap Ibu.


"Baiklah,"


"Ibu paham perasaanmu, baru melahirkan pasti ingin ditunggui orang tua ya, Ibu senang juga kok ngerawat kamu dan bayimu, kamu kan juga putri ibu, tapi apa kami gak ganggu kamu dan Azam nantinya?" ibu akhirnya menyampaikan kekhawatirannya.


"Gak kok Bu, kami senang kok kalau ada ayah ibu di sini, lagian saya sama mas Azam di atas, Ibu di kamar bawah sini, kamar kami sangat privasi kok Bu, jadi jangan khawatirkan akan mengganggu kami," Ucap Silvira.


"Tapi apa gak papa Ibu malam tidur sama Fatimah? Mas Azam maunya gitu Bu, saya sudah bilangin, pasti Ibu capek kalau malam jagain Fatimah,"


"Gak papa, Ibu sangat-sangat bahagia, setelah sekian lama Azam dikaruniai keturunan juga, jangan pikirkan itu, yang penting kamu tetap merawat anaknya Ibu, yaitu suamimu Azam, kalau gak Ibu bawa pulang lagi anak ibu," canda Ibu.


"Ya jangan Bu... in syaa Allah saya akan tetap mengutamakan mas Azam," ucap Silvira akhirnya.


Ba'da Ashar para tamu berpamitan pulang, sekarang tinggallah mereka berlima bersama ayah ibu yang masih tinggal dan bu Wati yang membantu bersih-bersih.


Silvira ditemani ibu dan Azam memandikan baby Fatimah di kamar bawah. Azam dan ibu membereskan hadiah-hadiah dari para tamu tadi sembari melihat lucunya baby Fatimah dimandikan, anteng tidak menangis dan merasa nyaman dibelai ummanya.


Setelah bersih dan wangi, baby Fatimah menyusu ummanya, hingga kenyang dan terlelap.


"Sini biar sama uti aja mba Fatimah, Umma sama Abati biar istirahat dulu," ucap Ibu yang mengambil Fatimah dari gendongan Silvira.


"Iya Uti..." sahut Silvira dengan nada anak kecil.


"Mba Fatimah yang pinter ya, gak boleh rewel dan nyusahin uti, sekarang Ummanya buat abati dulu ya," ucap Azam seraya mencium kening bayi mungil itu.


"Kami ke atas dulu ya Bu, mau beberes koper," pamit Silvira yang keluar kamar bersama Azam.


"Capek Beib?" tanya Azam ketika mereka mulai menaiki tangga.


"Gak juga, senang banget hari ini, alhamdulillah, alhamdulillah," ucap Silvira sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mas capek ya?" Tanyanya kemudian.


"Bukan capek sih, low batt. Tapi gak bisa nge charge," sahut Azam.


"Sini in tangannya," ucap Silvira. Ketika mereka memasuki kamar.


"Mau dibawa kemana tangan aku," ucap Azam bingung.


Silvira menarik jari-jari tangan Azam hendak mencolokkannya ke lubang saluran listrik.


"Eh Beib..." ucap Azam yang kaget seraya menarik tangannya kembali.


"Katanya mau di charge, sini aku colokin," sahut Silvira sambil tertawa. Azam juga ikut tertawa mendengarnya, bisa ae nih bini.


"Maksud aku bukan itu Beib, charger aku ada di kamu," ucap Azam.


"Iya aku tahu, sabar dulu, baru kemarin melahirkan... Mas mandi duluan? Aku siapin airnya ya.."


"Kamu juga pasti capek, biar Mas sendiri aja yang siapin," ucap Azam.


"No no no, aku gak pengen ada yang berubah di antara kita Mas, aku pengen melayani mu dengan pelayanan prima seperti biasa,"


"Mandiin sekalian kalau gitu..." ucap Azam.


"Hah..eh, iya deh," Ucap Silvira yang bingung.


"Gak gak sayang takut khilaf.. aku mandi sendiri aja, siapin airnya ya, berendam enak nih," ucap Azam, Silvira segera masuk kamar mandi dan mengisi bathub dengan air hangat.


"Sudah siap Mas," teriaknya dari dalam kamar mandi. Azam segera datang dan berendam dalam bathub yang disiapkan Silvira.


Silvira membuka koper dan mulai mencuci pakaian Azam yang dipakai di rumah sakit kemarin, sedangkan pakaiannya juga pakaian bayinya bu Wati yang mencuci.


Silvira melirik Azam yang tengah berendam, ia tersenyum melihat Azam terpejam matanya dan mulai rileks, kemudian ia keluar kamar mandi dan bersih-bersih kamar.


Silvira duduk sejenak setelah beberes kamar.


"Beib, habis maghrib ada tamu lagi, kamu bersiap ya," Ucap Azam ketika keluar dari kamar mandi. Silvira segera berdiri dan membantu Azam menghanduki rambutnya yang basah.


"Tamu siapa Mas?"

__ADS_1


"Tamu istimewa, kamu lihat saja sendiri,"


__ADS_2