Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#6


__ADS_3

Azam dan Amir sampai di Rumah Sakit, mereka langsung menuju IGD.


"Mba mau nanya, korban kecelakaan di depan minimarket area agro wisata petik apel apa dibawa kemari?" tanya Amir kepada perawat jaga.


"Oh iya Pak, itu sedang persiapan mau dibawa operasi," jawab perawat jaga sambil menunjuk bed pasien yang ada di ujung ruangan.


"Baik Mba terima kasih," ucap Amir, Azam segera berlari menuju tempat yang dimaksud.


"Lhoh kok," ucap Azam.


"Kenapa?" tanya Amir seraya melihat sang pasien.


"Bukan Silvira ternyata," ucap Azam.


Pasien itu memang wanita berbaju biru, namun dia bukan Silvira.


Azam duduk berjongkok di lantai, bersandar pada tembok IGD itu, tangannya menutup mukanya kemudian mengacak-acak rambutnya. Dia bersyukur Silvi bukan korban kecelakaan itu, di sisi lain dia sangat khawatir karena Silvira belum ditemukan.


"Silvira, kamu dimana..." lirih Azam.


"Mas Azam,"


Terdengar suara wanita yang sangat dikenalnya, yang sangat ia harapkan untuk bertemu, Azam kemudian menoleh ke arah sumber suara itu. Ternyata Silvira berdiri tak jauh darinya.


"Silvira..." ucap Azam. Yang hanya bisa berdiri menatapnya, ingin dia berlari dan memeluknya, namun apa daya Silvira belum menjadi mahramnya. Amir yang melihatnya menahan tawa, batinnya aduh kasihan banget adikku, pengen meluk tapi belum bisa.


"Kamu kemana saja?" tanya Azam.


"Iya Mas maaf, hp aku kehabisan baterai, ini mau pinjam telpon rumah sakit, mau ngabarin kalian," ucap Silvi.


"Tadi pas selesai telpon budhe, ada kecelakaan di sana, terus mbak nya itu keluarganya agak jauh rumahnya, jadi aku panggilkan ambulans sama aku antar ke sini, ini keluarganya sudah datang, kita balik yuk Mas," kata Silvira menjelaskan kejadian yang dialaminya tadi.


Setelah berpamitan ke pasien itu dan keluarganya, Azam, Amir, dan Silvi kembali ke rumah orang tua Azam.


"Mama...!!!" seru Farhan dan Fahri setelah melihat mamanya datang. Mereka berhambur memeluk Silvi. Silvi pun menceritakan kejadian tadi. Hingga tak terasa adzan maghrib berkumandang.


"Oh begitu, alhamdulillah kamu gak papa, sudah Adzan, ayo kita sholat dulu, cucu-cucu kakung ikut ke masjid ya," ucap bapak mengajak si kembar ke masjid. Silvi sangat senang bapaknya Azam menyebut anak-anaknya sebagai cucunya, karena ayahnya Silvi sudah tidak ada, sementara kakek dari pihak papanya ada di luar negeri.

__ADS_1


Silvira sholat berjamaah di rumah bersama ibu dan mba Sofia istrinya mas Amir.


Selepas sholat Maghrib, mereka makan malam bersama.


"Mas, nanti kita mampir ke rumah budhe ya, pumpung masih di sini," ucap Silvira.


"Rumahnya mana Nduk budhemu?" tanya Ibu.


"Itu Bu, rumah makan ayam betutu di jalan Gajah Mada, budhe yang punya rumah makan itu, beliau tinggal di sana juga, di lantai dua," jawab Silvi.


"Lho itu teman Ibu, mbak Harti, iya to Nduk kamu keponakannya mba Harti?" tanya Ibu.


Budhe Harti merupakan teman Ibunya Azam, suaminya sudah meninggal, dan memiliki seorang anak perempuan bernama Dita yang sudah menikah dan mengikuti suaminya.


"Iya Bu, budhe Harti namanya, ayah saya adiknya budhe Harti," jawab Silvi.


"Maa syaa Allah, kalau begitu Ibu sama Bapak ikut sekalian ya, kalau budhe setuju, kita nikah hari Jumat nanti saja," ucap Azam.


Silvira hanya terdiam, namun mengangguk pada akhirnya. Dia merasa terlalu cepat, namun untuk apa lama-lama ditunda juga, kalau mereka segera menikah, anak-anak pasti senang, pikirnya.


"Kok buru-buru to Le, kan butuh banyak persiapan untuk menikah," kata bapak.


"Akad nikah saja Pak, resepsi bisa menyusul kapan-kapan," ucap Azam.


"Iya wes, kita ke sana, bawa apel, sama kripik buahnya Sofia saja, lha wong mendadak gini gak ada persiapan sama sekali," ucap Ibu, kebetulan di rumahnya Sofia memproduksi keripik buah yang dijual di kebun apel.


"Ndak papa Bu, budhe pasti mengerti, kalau gitu saya kabari budhe dulu kalau kita malam ini mau ke sana," ucap Silvi.


" Kalian nanti nginap sini kan?" tanya bapak.


"Ndak Pak, besok kami harus bekerja, anak-anak juga sekolah, dari budhe nanti kita langsung pulang ya Pak," jawab Azam.


"Kalau gitu biar diantar Pak Min saja Zam, kamu pasti capek, besok biar Pak Min balik ke sini naik Bus," ucap Amir.


"Iya Mas," Azam menyetujui, pasalnya dia merasa lelah seharian ini.


Setelah selesai dengan persiapan sederhana, bakda Isya mereka meluncur ke rumah budhe Harti.

__ADS_1


Mereka pergi menggunakan dua mobil, mobil Azam dan mobil bapak yang disopiri Amir, sedangkan Sofia dan Dhana tidak ikut, karena Dhana sudah mengantuk.


Mobil Azam disopiri Pak Min seperti kesepakatan tadi. Jadi Azam duduk di depan menemani Pak Min, sopir keluarganya yang sudah belasan tahun ikut keluarga Azam.


"Ini apel banyak sekali sampai satu peti, kalian semua yang petik?" tanya Silvira sambil menunjuk peti buah di jok belakang.


"Iya Ma," jawab si kembar.


"Banyak sekali, kalian merepotkan Om pasti," ucap Silvi yang merasa tidak enak dengan Azam.


"Gak papa, santai saja," ucap Azam yang mendengar mereka.


"Tapi apel sebanyak ini, mana habis, nanti sayang kalau sampai busuk," ucap Silvi.


"Iya, nanti sebagian ditinggal di mobil saja, besok aku bagikan ke teman-teman kantor," pungkas Azam.


"Iya Mas," ucap Silvi akhirnya.


Mereka sampai juga di rumah makan ayam betutu milik budhe harti, rumah makan itu cukup ramai, namun budhe Harti menyiapkan tempat makan VVIP untuk mereka.


Budhe Harti menyambut mereka dengan senang, terlebih lagi beliau adalah teman ibunya Azam.


"Gak disangka kita bertemu lagi seperti ini Dik Wid, kita makan dulu ya," ucap budhe Harti.


"Iya Mba, Alhamdulillah, tapi gak usah repot-repot, kita baru saja makan malam semuanya," jawab Ibu Azam.


"Kalau begitu minum saja ya," ucap budhe Harti, tak lama kemudian pelayan membawakan beberapa gelas kopi susu, udara di kota apel memang dingin, jadi cocok sekali minum kopi susu.


"Jadi kedatangan kami kemari mbak Harti, untuk meminta Nak Silvira untuk kami nikahkan dengan anak kedua kami Azam," kata Bapak menyatakan maksudnya.


"Azam itu, yang teman sekolahnya Dita ya?" tanya budhe Harti.


"Dita? Pramudita maksudnya? Iya Dita teman saya waktu SMA," sahut Azam.


"Lho sebentar, Dik Wid, bukannya putramu sudah menikah semuanya?" tanya budhe Harti.


"Iya Mbak, Azam memang pernah menikah lima tahun yang lalu, namun sudah bercerai enam bulan ini," jawab Ibu Azam.

__ADS_1


"Hah bercerai?" budhe Harti terkejut dengan jawaban Ibu Azam itu.


__ADS_2