Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#76


__ADS_3

Selepas subuh Azam menemani Silvira berjalan-jalan di sekeliling halaman rumah mereka yang lumayan luas. Anak-anak juga ikutan bermain di halaman sambil menyapu.


"Ini sudah berapa putaran ya Mas?" tanya Silvira yang sudah banyak keringat.


"Hmm, mungkin mau sepuluh putaran, kamu lelah Beib?" tanya Azam yang setia menemani sang istri sambil merangkul pinggangnya.


"Iya pengen duduk sebentar," sahut Silvira.


"Kita duduk dekat Fahri Farhan ya, dikit lagi," ucap Azam sambil menggosok punggung Silvira.


"Iya, baiklah,"


Kemudian mereka berjalan sekitar 5 meter lagi untuk sampai bangku di dekat anak-anak yang sedang berbaring di atas rumput jepang yang baru mereka sapu.


"Anak-anak sholih sudah selesai nyapunya?" tanya Silvira.


"Sudah Umma," sahut Fahri.


"Capek ya," ucap Azam sambil membawa Silvira duduk di bangku.


"Lumayan Abati, tapi seru sambil main," jawab Farhan.


Mereka berbincang, sambil sesekali bercanda dengan anak-anak. Sampai bu Wati datang.


"Assalamualaikum," sapa Bu Wati yang menghampiri mereka.


"Waalaikumussalam," sahut semuanya.


"Ini rempeyek pesanan Mba Silvira sudah saya bawakan," ucap Bu Wati sambil menunjuk bungkusan plastik hitam di tangannya.


"Oh iya Bu, taruh toples seperti biasa aja, trus kita nanti sarapan pecel aja Bu, sama goreng tahu, tadi sudah saya siapin sayurannya, minta tolong direbusin ya, trus tadi mas Azam sudah masak nasi juga," ucap Silvira menjelaskan tugas bu Wati pagi ini.


"Baik Mba, kalau gitu saya masuk dulu, mari Pak," bu Wati undur diri dan masuk ke dapur lewat pintu belakang.


"Iya Bu," sahut Azam.


"Kita masuk yuk, siap-siap sekolah kalian," ucap Silvira mengajak kedua anaknya masuk ke dalam. Si kembar segera bangun dan berlari menuju kamar mereka.


"Mas mandi juga ya, aku siapkan seragamnya," ucap Silvira yang naik tangga satu-persatu sambil memeluk lengan Azam.

__ADS_1


"Kamu ikut mandi sekalian ya," bisik Azam. Silvira tersenyum, batinnya suaminya nih aneh-aneh aja maunya, tapi bersyukur suaminya sudah benar-benar pulih dan sehat.


"Seneng ya ada yang mandiin, kok senyum-senyum gitu," sahut Azam sambil ikut tersenyum memandang Silvira. Mereka sampai juga di kamar, dan menutup pintu.


"Ya kan nanti Mas mintanya yang aneh-aneh kan," ucap Silvira.


"Hahahaha," Azam tertawa lepas mendengar jawaban istrinya yang menggemaskan itu.


"Emang kamu gak suka?" tanya Azam. Mereka berdiri berhadapan sekarang, dan kedua tangan mereka bersatu.


"Aku wanita dewasa yang normal dan sehat, ya pasti suka lah Mas, tapi untuk saat ini lebih ke perasaan lega dan bersyukur, tiga bulan loh aku nungguin Mas bangun dari koma," ucap Silvira kemudian memeluk erat suaminya itu.


"Jangan tinggalin aku lagi Mas," lirih Silvira, namun Azam masih jelas mendengarnya.


"Iya Beib," sahut Azam sambil menciumi rambut Silvira.


Di dapur, bu Wati sibuk melaksanakan perintah Silvira tadi. Bu Wati menggoreng tahu, merebus daun kelor dan kecambah, dan mencairkan bumbu pecel. Juga membuat jus jeruk. Sedangkan susu ibu hamil, Azam melarang bu Wati membuatkannya selama Azam ada di rumah, karena Azam ingin dia sendiri yang membuatkan susu untuk istri tercintanya.


Satu persatu hidangan sudah di bawa ke meja makan, Fahri dan Farhan juga sudah siap di kursi mereka. Silvira dan Azam tampak menuruni tangga dengan berhati-hati. Keduanya tampak sumringah dan bahagia.


"Bu Wati siapkan sarapan untuk pak Budi juga ya, nanti bisa sarapan sama-sama bu Wati," pinta Azam.


"Kamu duduk dulu Beib, aku panggil pak Budi," ucap Azam sambil berjalan ke arah depan.


"Assalamualaikum Pak," sapa Azam.


"Waalaikumussalam Pak Azam," sahut pak Budi.


"Mari sarapan Pak, di dalam," ajak Azam.


"Nanti saja Pak Azam," ucap Pak Budi menolak karena merasa tidak enak.


"Sudah disiapkan bu Wati di dalam, yuk Pak, jangan terlalu sungkan sama saya, Bapak sudah kami anggap keluarga, yuk Pak mari," ajak Azam lagi, Pak Budi pun pasrah mengikuti majikannya ke dalam rumah.


Sebenarnya Azam meminta bu Wati dan Pak Budi makan di meja yang sama dengannya, namun mereka menolak, Pak Budi memilih makan di bangku di teras belakang rumah, Azam mengizinkannya agar mereka merasa nyaman.


"Mas nanti bekalnya biar diantar pak Budi ya, Mas mau apa?" tanya Silvira.


"Apa aja Beib, kalau kamu capek ga usah bikin, aku beli aja sama teman-teman," jawab Azam.

__ADS_1


"Dilihat nanti aja ya, aku kabarin kalau mau kirim makanan," ucap Silvira.


"He em," sahut Azam sambil menikmati sarapannya.


"Abati, kapan kita ke rumah Uti dan Kakung lagi?" tanya Farhan.


"Iya uda kangen sama Uti dan Kakung," imbuh Fahri.


"Ehm sebentar lagi Umma melahirkan sayang, jadi ga bisa ke luar kota dulu, nanti kalau harinya sudah dekat, Uti sama Kakung ke sini nemenin kita rawat adik bayi, kalian seneng gak punya adik bayi?" tanya Azam.


"Ya seneng lah Abati," sahut Fahri.


"Mau punya adik banyak kaya Salman dan Rayhan, adiknya empat," kata Farhan menimpali.


Silvira dan Azam terkekeh mendengarnya.


"Coba bisa langsung empat, empat, kembarnya," celoteh Fahri.


"Hahahaha, emangnya Umma kamu ini kucing, sekali lahiran langsung empat," sahut Silvira.


"Iya, kalau Allah menghendaki, semua itu bisa terjadi, tapi lihat Umma hamil satu adik saja kalian bisa lihat, Umma bersusah payah, butuh banyak berjuang, Abati gak bayangin kalau kembar banyak," ucap Azam.


"Iya Abati, Umma pasti sakit ya waktu melahirkan kami dulu," lirih Farhan.


"Pastinya sayang, Umma sudah hamil kalian dengan susah payah, lalu melahirkan kalian dengan bertaruh nyawa, karena itu berbaktilah kepada Umma, jadilah anak yang sholih," ucap Azam.


"Baik Abati," sahut Fahri dan Farhan.


"In syaa Allah Abati sama Umma juga pengen punya banyak anak, tapi ya kalau bisa satu-persatu hamilnya, atau kembar dua seperti kalianlah maksimal," ucap Silvira.


"Yakin Beib?" tanya Azam.


"In syaa Allah, karena Allah telah siapkan pahala yang banyak buat ibu yang hamil, melahirkan, menyusui, dan membesarkan anak-anaknya," jawab Silvira.


"Yes, alhamdulillah, semoga Allah mudahkan semua kehamilan dan melahirkan mu Beib," ucap Azam penuh harap.


"Aamiin Allahumma aamiin," ucap Silvira mengamini.


Saat ini yang dirasakan Silvira hanyalah perasaan bahagia dan penuh syukur, memiliki Fahri dan Farhan, Azam sebagai suami yang bertanggung jawab, dan janin yang ada dalam kandungannya akan segera lahir. Melihat mereka bertiga di meja makan saja sudah membuat hati ayem.

__ADS_1


'Yaa Allah, semoga kebahagiaan ini terus ada sampai nanti kami berkumpul lagi di surga Mu, aamiin'


__ADS_2