
"Hmm maa syaa Allah masakanmu benar-benar enak Dik, hmm tapi kamu tahu banyak sekali kalorinya, ada udang, cumi, telur, baso ikan, wah siap-siap nanti malam kita bakar kalori sama-sama," ucap Azam sambil melahap makan malamnya.
"Iya iya, pasrah deh Mas," ucap Silvi sambil merem melek menikmati makanan itu. Selesai mereka makan, Silvi segera membereskan dan mencuci bekas alat makan mereka. Ponsel Azam berbunyi, dia segera melihat dan mengangkat telepon itu sambil berjalan ke ruang tv.
Selesai Silvira beres-beres, dia menyusul Azam di ruang tv. Azam sudah selesai menelpon namun masih asyik dengan ponselnya.
"Telepon dari siapa sih Mas? Kok jauh banget jawabnya," tanya Silvira.
"Dari bengkel, katanya malam ini sebenarnya mau ngantar mobilnya, tapi karena hujan deras, ditunda besok pagi, sayang katanya habis dicuci mobilnya, jadi besok aku naik motor saja, dan aku minta tolong ya misal besok kamu tungguin mobilnya diantar dulu baru kamu ke klinik gimana?"
"Iya, baik Bos," ucap Silvi sambil bergelayut manja di pelukan Azam.
"Sepi ya Mas, tanpa si kembar, aku kangen banget sama mereka," kata Silvi.
"Iya, besok kita jemput mereka ya, kamu ini sehari saja sudah kangen bukan main sm mereka, padahal mau aku ajak honeymoon,"
"Iyakah, kapan itu, kita ajak saja anak-anak," ucap Silvira yang membuat Azam gemas.
"Sayang, bukannya aku tidak mau mengajak mereka, tapi aku hanya ingin meminta waktu berdua denganmu, anak-anak biar di kota apel sama keluargaku, terus kamu kuajak honey moon, anak-anak lain waktu bisa kita ajak berlibur juga," pinta Azam.
"Hmm baiklah, Mas atur saja, pokoknya tidak mengganggu sekolah mereka," ucap Silvira akhirnya menyetujui.
"Dek, aku mau cerita sesuatu juga, tapi coba nanti kamu pikirkan cerita ini dari sudut pandang aku juga, sebenarnya ini masalah gak penting buat aku, tapi aku takutnya kamu tahu dari orang lain yang memicu salah paham di antara kita," ucap Azam sambil merangkul bahu Silvi dengan tangan kanannya.
Silvira menarik napas panjang, sepertinya ini masalah serius, aku harus hadapi dengan sabar dan kepala dingin, sabar, sabar, sabar, bismillah.. batin Silvira.
"Baiklah Mas, aku siap mendengarnya," ucap Silvira kemudian.
"Kita memang baru menikah, baru, sangat baru, bahkan belum ada sepekan, tapi Mas sangat berharap kamu mempercayai Mas, Mas mengambil tanggung jawab atas kamu dan anak-anak di dunia dan akhirat, dan itu bukan perkara sepele, langsung bertanggungjawab di hadapan Allah nanti,"
"Iya Mas, aku percaya, Mas akan bersikap baik kepadaku dan anak-anak," ucap Silvira sambil tersenyum kepada Azam.
"Tadi siang Karin datang ke kantor, mungkin karena tidak tahu alamatku sekarang dan aku sudah memblokir nomor ponselnya,"
__ADS_1
"Karin siapa Mas?" tanya Silvi.
"Eh maaf, kamu belum tahu ya, Karin itu mantan istriku," jawab Azam. Silvira serasa tercubit hatinya mendengar jawaban Azam, bagaimanapun juga wanita itu pernah dicintai Azam sebagai istrinya, cemburu pasti, tapi dia menahan diri, karena sudah berjanji akan memgahadapi dengan kepala dingin.
"Terus mau apa dia nemui Mas? Kalian bertemu berdua saja?" tanya Silvira yang mulai tidak bisa menyembunyikan cemburunya.
"Berdua? Pasti tidak lah, dia bersama ibunya, mereka ingin minta maaf pada Mas dan keluarga atas kesalahannya dulu,"
"Mas teruskan ya," ucap Azam
"Hem," jawab Silvi.
"Eh tunggu, Mas maafin dia?" tanya Silvira tiba-tiba.
"Udah dari dulu Mas maafin dia,"
"Ok, sudah dimaafin, terus maunya apa lagi?" tanya Silvira.
"Dia meminta rujuk kembali," jawab Azam, Silvi sontak menegakkan duduknya menjauhi Azam.
"Ya gak lah, Mas khan sudah menikahimu,"
"Kalau belum nikah, Mas mau kembali?"
"Gak kepikiran ke arah itu, Mas juga manusia biasa yang bisa sakit jika dikhianati,"
"Katanya sudah memaafkan," ucap Silvira sambil menundukkan kepalanya.
"Hey, memaafkan itu bukan berarti menerima kembali, kenapa kamu jadi gitu? Haaa cemburu ya? Cemburu kan??" goda Azam sambil menggelitik pinggang Silvi, Silvi yang merasa kegelian jatuh terbaring di sofa dengan Azam berada di atasnya bertumpu pada kedua lengan kekarnya. Mata mereka bertatapan, kemudian mata Azam menjelajahi seluruh wajah Silvi. Namun Silvira terasa membeku saking gugupnya.
Ketika Azam hendak mendaratkan ciumannya, adzan Isya berkumandang.
"Ada panggilan dari Allah, kita sholat dulu ya Dek," ucap Azam, Silvi yang masih membeku hanya mengangguk-angguk. Kemudian Azam segera bangkit menuju kamar mandi di dekat dapur untuk mengambil wudhu.
__ADS_1
Silvira perlahan bangkit dan memegangi dadanya yang masih berdegup kencang. Dan berjalan menyusul Azam yang sudah bersiap sholat. Malam itu hujan juga tak kunjung reda sehingga Azam memutuskan sholat berjamaah di rumah.
Selepas sholat, Azam menagih janji kepada Silvira untuk berolahraga bersama.
"Yuk ganti baju gih, aku tunggu di sana ya," ucap Azam sambil menunjuk ke arah mini gym.
"Mas, dingin banget hawanya, kita tidur aja yuk, paling enak pake selimut tebal ini," ucap Silvira.
"Hmm jadi kamu maunya olahraga yang lain ya, hmm," ucap Azam bersemangat menggoda Silvira.
"Bukan itu, kita tidur aja,"
"Gak bisa, Mas gak mau besok pagi perut Mas jadi buncit, ayo sini kita olah raga di kamar," ucap Azam sambil mengangkat tubuh Silvira ke kamar.
🏍️🏍️🏍️🏍️
Pagi itu Azam berangkat ke kantor naik motornya. Setelah mengantar kepergian Azam, Silvira kembali ke dalam rumah. Bu Wati sudah kembali bekerja, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah.
"Duh, pengantin baru, saya kok sueneng lihat Mba Silvi sama Pak Azam, serasi gitu, semoga selalu bahagia ya Mba," ucap Bu Wati sambil mengelap meja makan.
"Aamiin, minta doanya saja Bu, saya ke atas dulu ya Bu, mulai sekarang kamar saya biar saya sendiri yang beresin ya Bu," ucap Silvi.
"Iya Mba," sahut bu Wati, paham bahwa majikannya ingin mengurus semua keperluan suaminya sendiri.
Silvira segera ke atas, dia mencuci baju Azam, dia membeli mesin cuci baru yang dia letakkan di kamar mandinya, dia juga menyetrika sendiri baju Azam. Sedangkan bajunya sendiri, bu Wati yang menyiapkan.
"Ting tong.." bel pintu berbunyi, bu Wati segera ke depan melihat siapa yang datang.
"Siapa ya?" tanya Bu Wati kepada seorang perempuan yang berdiri di depan pintu.
"Saya kerabatnya Pak Azam, baru dari luar negeri sehingga waktu pernikahannya kemarin gak bisa hadir, boleh saya masuk?"
"Tapi Pak Azam ke kantor,"
__ADS_1
"Istrinya ada kan? Saya ingin bertemu, ini saya bawakan kue untuk mereka," ucapnya sambil menunjukkan paper bag berisi kue bolu.
"Baiklah silakan masuk," ucap bu Wati sambil membukakan pintu untuk tamu itu.