
Silvira menghempaskan tubuhnya yang lelah di atas kasur di home stay yang dia sewa. Silvira memutuskan tinggal di situ sendirian, sementara Fahri dan Farhan ikut Amir pulang bersama ayah dan ibu. Sekejap kemudian dia mandi dan sholat Isya. Selesai sholat, Silvira duduk di atas tempat tidur, bersandar pada sandarannya dan mengganjal belakang perutnya dengan bantal. Masih 4 bulan usia kandungannya, mungkin karena kelelahan rasanya sedikit pegal di daerah situ.
Silvira kemudian meraih ponsel yang tadi ia letakkan di atas nakas. Kemudian mengetik pesan dan ia kirim kepada Ammar.
Bismillah... Ammar maaf mengganggu, aku mau mengabarkan, kalau aku, mas Azam, serta si kembar mengalami kecelakaan saat perjalanan ke rumah orang tua Mas Azam...
Pesan itu terkirim pada Ammar, namun Ammar belum membacanya. Silvira mengabarkan kepada Ammar tentang kecelakaan mereka bukan karena Ammar adalah mantan pacarnya, namun selain rekan kerja Azam, Ammar dan keluarganya sudah seperti keluarga bagi Azam dan Silvira, juga anak-anak mereka sekelas dengan si kembar.
Saat ini Silvira butuh teman untuk bicara, bagaimana izin ke kantor Azam, karena Azam pun juga belum sadarkan diri.
Drrt...drrtt...drrt... ponsel Silvira bergetar, terlihat nama Ammar di layarnya.
"Halo Assalamualaikum," sapa Silvira.
"Waalaikumussalam Sil, kamu dimana sekarang? Bagaimana keadaan kalian semua?"
"Aku di home stay sebelah rumah sakit tempat Azam di rawat, alhamdulillah aku baik, si kembar juga baik, mereka di rumah orang tua Mas Azam, sedangkan mas Azam mengalami cedera otak berat, tadi dioperasi, dan sekarang masih di ICU," jawab Silvira.
"Innalillahi wa ina ilaihi roojiun," ucap Azam.
"Kandungannya gimana Mba?" tanya Arum, rupanya Ammar menyetel mode loud speaker.
"Alhamdulillah gak papa, cuma aku juga sempat pingsan sekitar satu jam, habis itu pas sadar, mas Azam sudah di dalam ruang operasi," sahut Silvira.
__ADS_1
"Sekarang Mba sendiriankah di home stay?" tanya Arum.
"Iya Mba," jawab Silvira singkat.
"Mba pasti sedih, peluk dari sini Mba," ucap Arum.
"Iya Mba, makasih," sahut Silvira.
"Sil, mengenai kantor, gak usah kamu pikirin biar aku yang urus izinnya," ucap Ammar.
"Hmm, iya itu Mar, aku juga mau minta tolong itu tadi sebenarnya, tolong mintakan izin untuk mas Azam," sahut Silvira lega, karena Ammar tahu yang juga dicemaskannya.
"Eh aku tutup telponnya dulu ya Mar, Mba Arum, aku gak bisa lama-lama, takut nanti rumah sakit gak bisa hubungi aku karena dalam panggilan lain, dah Assalamualaikum," ucap Silvira.
"Waalaikumusalam," jawab Arum dan Ammar kemudian menutup ponselnya.
"Sayangnya Umma dan Abati, lapar ya sayang, tunggu sebentar, kita makan kok habis ini, tapi sekarang minum susu dulu ya, sabar ya Umma bikin dulu," kata Silvira kepada janin yang dikandungnya.
Silvira mengambil kotak susu bubuk dari tasnya, kemudian menuju dispenser air di sudut ruangan, dia mengambil gelas kertas yang biasanya dipakai untuk menyeduh kopi--yang juga tersedia di sana, dan membuat susu hangat.
Ia duduk di sofa samping tempat tidurnya. Menyeruput susu hangatnya--tentu saja setelah membaca Bismillah. Tak terasa air matanya jatuh. Karena selama ini tak sekalipun Azam absen membuatkan susu untuknya.
"Mas Azam..." lirihnya.
__ADS_1
"Nak, kamu pasti kangen ya dengar suara abati yang tiap hari ngajakin kamu bicara, dan juga elus-elus perut Umma, iya abati sedang berjuang di sana, kita berdoa ya, kita minta sama Allah, supaya abati cepat bangun dan pulih seperti sedia kala..." ucap Silvira sambil mengelus perutnya, dia merasakan gerakan di perutnya walaupun gerakan itu masih lemah.
Silvira melihat pamflet rumah makan di meja, rupanya pamflet rumah makan sebelah home stay. Di situ tertera 'Layanan Pesan Antar hubungi 08xxxxxxxxxxx.
Silvira meraih kembali ponselnya dan memesan seporsi soto ayam, ya dia ingin makan makanan hangat berkuah.
Kehamilan ini menjadi terasa sangat berat untuk Silvira, karena biasanya Azam tak pernah luput memperhatikannya, membelikan makanan apapun yang Silvira inginkan, tengah malam sekalipun. Azam juga membelikan beberapa daster cantik, sepatu tanpa hak yang nyaman dipakai jalan-jalan, bahkan gamis khusus ia pesan yang USG friendly-- bagian perutnya dipasang resleting, sehingga mudah sewaktu kontrol dan USG.
Azam juga sering memijit kaki Silvira walaupun dia sendiri juga lelah bekerja. Sampai segitunya Azam memperlakukan Silvira yang sedang hamil, mungkin karena ini pertama kalinya mendampingi istri yang sedang hamil. Sehingga kini Silvira merasa sangat kehilangan walau masih beberapa jam mereka berpisah. Silvira menangis sesenggukan mengingat itu semua.
"Tok..tok..tok..." ada yang mengetuk pintu. Silvira segera menghapus air matanya lalu menyambar jilbab yang ia gantung di depan kamar mandi dan memakai cadar. Lalu membuka pintu sedikit. Rupanya pesanannya sudah datang.
Dia membawanya ke meja dan perlahan memakannya. Walau tidak bisa menikmati, tapi dia paksa makan, karena ada tubuh kecil di dalam perutnya yang butuh makan.
"Kita makan ya sayang, biar kita berdua kuat, biar kamu di dalam situ sehat terus," ucap Silvira kepada janin di dalam perutnya.
Selesai makan ia membawa mangkok bekas makannya itu keluar kamar, kemudian ke kamar mandi untuk berwudhu sebelum tidur, entah nanti dia bisa tidur atau tidak, tapi tetap saja dia lakukan sunnah-sunnah sebelum tidur. Setelah itu ia kembali ke tempat tidur, bersandar dan meluruskan kedua kakinya.
Dia mengambil ponsel Azam dari tasnya, kemudian mencoba mengaktifkannya, dan benar saja, puluhan pesan masuk, bahkan ada catatan panggilan tak terjawab. Satu persatu Silvira membuka dan membaca pesan, yang inti isinya sama, yaitu menanyakan keadaan Azam. Namun tidak satupun pesan-pesan itu ia jawab. Tapi ada satu pesan yang mencuri perhatiannya, pesan itu dari Rania kampus, ah mungkin dia teman kuliah Azam, pikir Silvira. Dan isinya...
(Zam, aku dapat kabar katanya kamu kecelakaan, aku harap kamu segera pulih, biar nanti kita bisa jalan lagi, balas pesanku kalau kamu sudah baca)
"Apa lagi ini... hufh,"
__ADS_1
Silvira menghembuskan napas, lalu menutup pesan itu. Saat ini dia tidak mau memikirkan hal lain, yang dipikirkan Silvira hanyalah kesembuhan Azam. Meskipun hatinya tidak bisa berbohong, merasa sedih membaca pesan itu. Akhirnya dia matikan kembali ponsel Azam, toh keluarganya kalau butuh pasti langsung menghubunginya.
Dia letakkan kembali ke dalam tas, kemudian dia ambil mushaf Al Quran kecil yang selalu ada di dalam tasnya, dan mulai membacanya, hanya ini yang dia pakai untuk mengobati luka hatinya dan menjernihkan pikirannya.