Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#52


__ADS_3

Silvira menatap stik kehamilan di tangannya, hanya terlihat satu garis berwarna kemerahan. Dia terdiam dan masih terduduk di atas kloset. Sebenarnya dia tidak apa-apa, tapi bingung bagaimana menyampaikan kepada Azam. Karena Azam sangat menginginkan seorang bayi darinya. Dengan gontai dia berjalan keluar kamar mandi. Dia putuskan untuk diam saja, tidak menceritakan hal itu kepada Azam sampai Azam sendiri yang menanyainya.


Silvira menatap suaminya yang masih terlelap di atas kasur, separuh ke bawah tubuhnya tertutup selimut, sementara bagian atas seperti biasa, terbuka lebar menampakkan dadanya yang bidang. Silvira segera naik kembali ke tempat tidur dan menyusul Azam ke dalam selimut dan melingkarkan tangannya ke dada Azam. Azam sadar ada yang memeluknya menggeliat sejenak, lalu mengeriyip, kemudian tersenyum melihat istrinya.


"Beib, jam berapa ini?" tanya Azam.


"Jam empat pagi, maaf sayang aku membangunkanmu," sahut Silvira.


"Kamu..." ucap Azam.


Deg..deg.. deg deg... Silvira deg deg dan mendengar Azam, takut akan menanyakan perihal tes kehamilan itu.


"Udah baikan Beib?" tanya Azam.


"Iya Alhamdulillah," jawab Silvira, seraya melega dan merenggangkan pelukannya karena Azam hendak bangun.


"Hmm ini akhir pekan, mau kemana kita?" tanya Azam seraya duduk dan melakukan peregangan bangun tidur.


"Hmm, aku kangen sama Ibu, kita ke sana yuk Mas," ajak Silvira sambil ikut terbangun dan bergelayut manja di punggung Azam. Azam tersenyum lebar mendengar permintaan istrinya itu. Dia langsung menyetujuinya.


Setelah sarapan mereka meluncur menuju kota apel ke rumah orang tua Azam.


Perjalanan mereka tempuh sekitar dua jam, anak-anak tertidur di belakang. Tidak lupa mereka mampir ke klinik kecantikan cabang sana. Azam dan Silvira melihat-lihat klinik dan menyapa pegawai di sana. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke rumah orang tua Azam.


"Oh iya Beib, kamu sudah tes?" tanya Azam ketika hendak melajukan mobilnya.


"Hmm sudah Mas," jawab Silvira lirih, akhirnya dia harus menghadapi Azam.


"Belum positif ya?" tanya Azam.


"Iya Mas, belum, kok Mas bisa tahu?" tanya Silvira kembali.


"Kalau positif pasti kamu sudah kegirangan dan cerita sama Mas kan,"


"Iya, maaf ya Mas, aku belum bisa hamil lagi," ucap Silvira.


"Kenapa minta maaf, kamu tidak salah, semua sudah kehendak Allah, mungkin Allah ingin kita lebih banyak waktu bersama dulu, santai saja ya," ucap Azam sambil membelai tangan Silvira mencoba menenangkannya.


"Si kembar gak ada suaranya," ucap Azam sambil menoleh ke belakang diikuti Silvira, rupanya Fahri dan Farhan sedang asyik membaca buku. Azam telah menyiapkan buku bacaan tentang siroh nabawiyah / cerita tentang Rasulullah, dan sahabat-sahabat beliau juga.

__ADS_1


Mereka sampai juga di rumah ayah dan ibu Azam. Mereka disambut Ibu yang sudah menunggu di depan rumah.


"Assalamualaikum Ibu," sapa Azam dan Silvira sambil bergantian menyalami beliau.


"Waalaikumusalam," jawab Ibu, kemudian memeluk dan mencium si kembar.


"Ayo masuk yuk," ajak Ibu.


"Ayah mana?" tanya Azam.


"Lagi di kebun depan, bantuin Amir, lagi rame kebunnya," ucap Ibu.


"Alhamdulillah, kalau gitu aku ke sana dulu ya Bu, pengen lah sekali-kali ikut melayani tamu," ucap Azam.


"Iya, ayahmu pasti senang," ucap Ibu.


"Baiklah, aku tinggal dulu Beib, gak papa kan?" pamit Azam.


"Iya Mas," sahut Silvira. Kemudian Azam pergi ke kebun agro wisata petik apel miliknya bersama kakaknya itu, yang selalu ramai waktu akhir pekan.


Si kembar sudah bermain dengan Dhana anak Mas Amir di halaman belakang rumah. Sedangkan Silvira mengikuti Ibu ke dapur.


"Iya Bu,"


"Kamu duduk sini dulu, minum dulu, pasti capek perjalanan panjang," ucap Ibu sambil menuangkan jus apel yang baru ia buat dan memberikannya segelas untuk menantunya itu.


"Terima kasih Bu," ucap Silvira kemudian meminum jus itu. Setelah itu ia membantu Ibu menyiapkan bahan dan masak masakan kesukaan Azam kalau pulang.


Setelah selesai memasak, ibu mengemas beberapa porsi, untuk makan siang Amir, Azam, dan ayah. Mereka sangat sibuk hingga makan siang harus diantar ke kebun.


"Nanti kamu yang antar ya, makan siang buat ayah, Azam, dan Amir," ucap Ibu.


"Baik Bu," sahut Silvira sambil memakai kembali jilbab dan cadarnya yang sempat ia lepas sewaktu memasak, karena di dalam rumah tidak ada siapapun selain ibu.


Silvira segera memasukkan ketiga kotak makan di hadapannya itu ke dalam tas yang telah ibu siapkan.


"Kamu nanti langsung pulang ya, makan di sini sama ibu dan cucu-cucu ibu," pesan Ibu.


"Iya Bu," sahut Silvira sambil tersenyum, kemudian keluar menuju agro wisata petik apel milik Azam dan Amir di depan rumah itu.

__ADS_1


Silvira melihat rombongan yang baru datang sedang mengantre masuk, kemudian dia berjalan mendekati petugas yang memasang gelang pengunjung di pintu masuk.


"Assalamualaikum Mba, saya istrinya Pak Azam, mau ngantar makan siang," ucap Silvira.


"Oh iya, baik Bu, silakan masuk," ucap Mba petugas itu.


"Iya, makasih Mba," ucap Silvira dan segera masuk ke dalam. Silvira menengok ke kiri kanan, mencari keberadaan suaminya.


Ayah Azam yang duduk sebagai kasir toko oleh-oleh, melihat menantunya terlihat kebingungan.


"Silvi..!" panggil ayah seraya melambaikan tangan ke arah Silvira.


"Assalamualaikum Ayah," sapa Silvira sambil mencium tangan ayah mertuanya itu.


"Waalaikumussalam, kamu di sini,"


"Iya, diminta ibu ngantar makan siang buat Ayah, mas Amir, dan mas Azam," ucap Silvi sambil menyerahkan satu kotak makan.


"Oh iya, terima kasih Nak, suamimu ada di ruang ujung itu sama Amir, kamu ke sana saja," ucap Ayah sambil menunjuk ke ruangan yang dimaksud.


"Oh iya, baik Ayah, selamat makan, saya ke sana dulu," ucap Silvira, kemudian segera menuju ruangan dengan pintu kaca.


Silvira membuka sedikit pintu itu, terlihat Amir dan Azam sedang duduk mengawasi monitor cctv membelakangi pintu, tanpa Amir dan Azam sadari Silvira mendengar perbincangan mereka.


"Poligami kan dibolehkan Zam, coba kamu tanya istrimu lah," ucap Amir.


Sebelum Azam menjawab, Silvira masuk mengejutkan mereka.


"Assalamualaikum, makan siang datang," ucap Silvira dengan mata berbinar seolah tak mendengar apapun, lalu meletakkan dua kotak makan.


"Waalaikumusalam," sahut Azam dan Amir yang tentu saja sangat terkejut melihat Silvira.


"Kamu temani Azam makan di sini ya, aku mau gantiin Ayah di kasir," ucap Amir kemudian meninggalkan ruangan itu.


"Kamu temani Mas ya makan di sini, kita berbagi," ucap Azam sambil membuka kotak makannya.


"Tapi tadi ibu pesan, aku disuruh langsung pulang, buat makan sama beliau,"


"Biar aku yang telpon Ibu, bilang aku minta kamu temani makan di sini," ucap Azam kemudian mengambil ponsel dan menelpon ibunya.

__ADS_1


__ADS_2