Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#78


__ADS_3

Usia kehamilan Silvira sudah masuk pekan ke 39. Azam memintanya tinggal di rumah agar lebih fokus mempersiapkan kelahiran bayi mereka. Azam yang memegang kendali klinik kecantikannya agar Silvira tidak khawatir dan memikirkan hal lainnya.


Seperti biasa ketika Azam ke kantor, dan anak-anak sekolah, Silvira membersihkan kamarnya, kamar mandi, mencuci baju, kemudian menjemur pakaian Azam di balkon. Tapi hari ini dia merasa pinggangnya agak sakit.


"Ah, mungkin aku kelelahan, kurang sedikit lagi," gumam Silvira, kemudian segera menyelesaikan jemurannya.


Setelah selesai menjemur, dia berbaring di tempat tidur. Dia mencoba memejamkan matanya, rasa sakit itu perlahan hilang, dia bisa tertidur sebentar, namun rasa sakit itu muncul lagi setelah tiga puluh menit, dan kali ini perut bagian bawahnya ikut sakit.


"Astagfirullah, kenapa ini? Hari perkiraan lahir masih pekan depan," Gumamnya.


"Apa karena semalam mas Azam kelamaan nengokinnya, biasanya setengah jam, semalam hampir sejam, semoga kamu baik-baik saja di dalam sini sayang," ucap Silvira sambil mengelus perutnya.


Silvira bangkit untuk duduk dan mengambil ait minum di atas nakas. Ia kemudian meneguk air itu. Lalu menyeka keringat di dahinya, dia merasa gerah walaupun pendingin kamar itu menyala. Rasa sakit itu kemudian datang lagi, kali ini jaraknya semakin dekat, dari tiga puluh menit sekali, menjadi dua puluh menit sekali, sekarang lima belas menit sekali, dan yang membuatnya panik, ada bercak darah di kasur yang ia duduki.


"Oh, kenapa ini," lirihnya.


Ia segera meraih ponselnya dan menelpon Azam.


"Halo Assalamualaikum Beib," sapa Azam di seberang.


"Waalaikumussalam, Mas sibuk?" tanya Silvira sambil meremas sprei di sampingnya, pasalnya rasa sakit itu datang lagi.


"Ehm, ga juga, ada apa sayang?" tanya Azam balik.


"Aku ngeluarin darah, hari perkiraan lahir masih pekan depan kan Mas?"


"Iya masih pekan depan, apa karena semalam aku kelamaan ya sayang, aduh maafin Mas ya,"


"Aaahhh....ssssshhh!!!!" Silvira tak tahan dan mendesis kesakitan.


"Beib, kamu kenapa?" Azam ikut panik mendengar Silvira kesakitan.


"Sakit, perut aku,"

__ADS_1


"Oke sekarang kita ke rumah sakit ya, kamu bisa nunggu aku atau sama pak Budi aja, ini aku izin pulang," ucap Azam sambil menyambar kunci mobil di atas meja kerjanya, seraya memberi isyarat kepada rekannya kalau dia izin pulang dulu.


"Ah, aku tunggu Mas aja, bisa panggilin bu Wati, aku mau ganti baju, ahhh ssst sakit Mas," ucap Silvira.


"Iya kamu tarik nafas dan buang pelan-pelan, aku telpon bu Wati dulu,"


Silvira menutup teleponnya, tak lama kemudian bu Wati datang ke kamarnya.


"Bu, bantu saya ganti baju ya, saya mau ke rumah sakit," ucap Silvira.


"Lha ini sepertinya Mba sudah mau lahiran," ucap Bi Wati setelah melihat darah di baju bagian bawah belakang Silvira.


"Iya Bu, tolong ambilkan gamis warna hitam, sama jilbab dan cadarnya juga, jangan lupa kaos kakinya Bu," pinta Silvira. Bu Wati bergegas menujublemari, kemudian mengambil apa yang diminta majikannya itu.


"Ahhh... ssst, astaghfirullah sakit," lirih Silvira.


Bu Wati ikutan panik dan mempercepat gerakannya mengambil baju. Lalu membantu Silvira berganti pakaian, juga memakaikan kaos kaki pada kaki Silvira.


"Maaf ya Bu, sampai harus bantu saya pakai kaos kaki,"


"Kaki juga aurat Bu, wajib ditutupin, nanti kalau di jalan kaki saya kelihatan gimana," sahut Silvira sambil meringis menahan sakit.


Setelah Silvira selesai berpakaian, Azam datang.


"Beib, kamu sudah siap?" tanya Azam. Silvira mengangguk, Azam segera menggendong Silvira dengan bridal style.


"Mas, aku berat, aku jalan aja," ucap Silvira merasa tidak enak Azam membawa badannya yang sebesar itu.


"Gak papa biar cepat sampai mobil Beib, tenang aja, aku kuat kok," ucap Azam bersikukuh agar istrinya cepat sampai mobil dan segera berangkat ke rumah sakit.


"Pak Budi tolong bawakan koper merah di dalam kamar itu, masukkan mobil ya," ucap Azam ketika melewati Pak Budi yang ada di luar kamar.


"Baik Pak Azam," sahut pak Budi, kemudian segera melakukan perintah Azam itu.

__ADS_1


Mereka naik mercy Silvira yang disopiri pak Budi.


"Sebentar Beib aku kirim pesan ke Mas Amir dulu," satu tangan Azam memeluk Silvira,, tangan satunya meraih ponsel dan mengetik pesan kepada kakaknya, ia minta ayah ibu segera datang. Padahal rencananya masih besok ayah ibu datang ke sini.


Sesampainya di rumah sakit Azam menggendong Silvira ke IGD, dan langsung ditangani oleh bidan yang bertugas.


"Ibu Silvira sudah pembukaan delapan Pak, kita segera pindahkan ke ruang bersalin," ucap Bidan itu sambil mendorong brankart Silvira.


"Baik, apa saya boleh menemani istri saya melahirkan?" tanya Azam.


"Iya Pak, nanti persalinannya akan ditolong oleh dokter Rina, bapak boleh menemani," jawab Bidan itu.


Di dalam ruang bersalin hanya ada satu bed, jadi bisa menemani Silvira melahirkan, karena tidak ada pasien lain.


Azam yang sudah memakai pakaian khusus, duduk di samping Silvira.


"Mas, aku takut..." ucap Silvira.


"Gak papa sayang, jangan takut, Bismillah ya, in syaa Allah kita bisa, aku di sini gak akan kemana-kemana kok," ucap Azam yang tak terlepas tangannya dari genggaman Silvira, dia sendiri juga gugup dan takut, karena ini pertama kalinya mendampingi istri yang akan melahirkan, namun mencoba tetap tenang, agar bisa membuat Silvira tenang juga.


.


.


.


Sementara itu, ayah, ibu, Amir, Sofia, dan Dhana, dan baby Dhea anak Amir yang berusia 4 bulan berangkat dari rumah menuju kota Azam.


"Pelan-pelan saja Pak Min, mau secepat apapun, nyampe sana pasti Silvira sudah lahiran," ucap Ayah yang kala itu mereka diantar pak Min sopir mereka.


Pak Min mengangguk mengiyakan.


"Semoga diberikan kelancaran pada proses persalinan anakku Silvira," ucap Ibu penuh harap, ibu cemas karena sudah berjanji menemani Silvira melahirkan, namun qodarullaah persalinannya maju dari hari perkiraan lahir, sehingga ibu yang harusnya besok berangkat ke sana jadi tidak bisa menemani proses persalinannya.

__ADS_1


Baby Dhea terlelap di car seat untuk bayi, di tengah Ibu dan Sofia, Amir di belakang bersama Dhana, sedangkan Ayah menemani Pak Min di depan.


Baby Dhea lahir sepuluh hari sebelum Azam bangun dari koma. Kala itu keluarga itu repot ke sana kemari, menjaga Azam dan menemani Sofia melahirkan. Ayah terawang membayangkan masa itu, alhamdulillah semua terlewati, sekarang giliran Azam yang akan menjadi ayah, dan beliau juga berdoa penuh harap semoga Silvira selamat dan bayinya juga sehat tanpa kurang suatu apapun


__ADS_2