
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu si kembar, yaitu hari pernikahan Silvira dan Azam. Rumah Silvira sudah dihiasi dekorasi sederhana di ruang tamunya untuk pelaksanaan akad nikah yang akan dimulai sebentar lagi. Azam dan keluarganya sudah ada di sana. Pagi itu Azam memakai setelan jas warna hitam dengan dasi warna silver dan memakai peci warna hitam pula.
Sedangkan Silvira pagi itu memakai gamis walimah yang dia beli dari Arum kemarin, dia me make up sendiri wajahnya, tanpa bulu mata palsu, tanpa cukur alis, dia tetap terlihat cantik. Silvira duduk di dalam kamarnya bersama Arum dan mbak Dita sepupunya, menunggu hingga ijab kabul selesai.
Karena wali nikah dari nasab Ayah sudah tidak ada, maka hakim sebagai wali nikahnya.
Tak lama kemudian terdengar kata "Sah!!!" dari para saksi dan keluarga yang menyaksikan akad itu.
"Alhamdulillah," ucap Silvira.
"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir." ucap Arum mendoakan Silvira.
"Selamat ya Dek, sudah jadi nyonya Azam sekarang, dia teman SMA aku, jadi tahu, dia orang yang baik," ucap Dita memberi selamat pada sepupunya itu.
"Iya Mba," ucap Silvira.
Kemudian Silvira dipanggil ke bawah untuk tanda tangan dokumen. Setelah tanda tangan, dia diminta mencium tangan Azam, dan Azam menyentuh pucuk kepala Silvira dan berdoa sesuai sunnah.
"Bismillah,
Allahumma barikly fiyha wa barik laha fiy
Ya Allah berkahilah dia untukku, dan berkahilah aku untuknya.
Allahumma inni as-aluka khaira-ha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa a-‘udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi
Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa."
Kemudian Azam mengecup kening Silvira. Kemudian memberikan mas kawin yang berupa kalung berlian.
Setelah penghulu pulang, tamu-tamu berdatangan. Seperti yang direncanakan, mereka mengadakan syukuran, Azam mengundang teman kantornya, dan Silvira mengundang karyawan di klinik kecantikannya.
Dan sesuai dengan keinginan Azam, tempat tamu laki-laki dan perempuan dipisahkan, agar tidak terjadi ikhtilat atau campur baur laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Tamu perempuan di teras rumah yang bisa langsung masuk ke dalam rumah, dan tamu laki-laki di halaman rumah.
Sesuai dengan undangan, Azam dan Silvira tidak menerima amplop sumbangan, namun para tamu yang hadir hampir semuanya membawa hadiah untuk mereka.
__ADS_1
Silvira di dalam rumah menyambut tamu perempuan, dan Azam di halaman bersama tamu laki-laki. Dan acara mereka berakhir tepat sebelum sholat Jumat.
Ketika waktu sholat Jumat tiba, Azam dan keluarganya pergi sholat Jum'at di masjid dekat rumah mereka. Farhan dan Fahri begitu senang, akhirnya Om Azam idola mereka itu sudah menikah dengan mamanya.
Sepulang sholat jumat, terlihat petugas katering dan tukang dekorasi membereskan rumah Silvira.
"Le, Ibu pulang dulu ya, sudah gak ada tamu kan, kalian biar bisa istirahat," ucap Ibu Azam berpamitan. Begitu pula dengan keluarga budhe Harti, mereka ikut berpamitan juga.
Rumah sudah sepi, tinggal mereka berempat ditambah bu Wati yang masih bersih-bersih.
"Mas sudah makan?" tanya Silvi.
"Belum, kamu?"
"Aku juga belum, Mas mau makan sekarang atau ganti baju dulu?" tanya Silvi karena dia masih melihat Azam memakai kemeja dan celana yang dipakai akad tadi, sedangkan jasnya sudah dia lepas ketika akan berangkat sholat Jumat.
"Kamu siapkan dulu saja, aku mau mandi dulu, gerah," ucap Azam sambil berlari menuju kamar Silvira.
Silvi segera menyiapkan makan siang untuk Azam dan kedua putranya. Setelah selesai mandi, Azam segera turun untuk makan siang bersama keluarga barunya.
"Maaf ya Mas, kita makan siangnya menu prasmanan tadi," ucap Silvira.
"Iya, gak papa, aku gak pilih-pilih makanan kok," sahut Azam.
Mereka sama sekali tidak mengenal satu sama lain sebelumnya, agar tidak canggung dan agar Azam merasa nyaman di rumahnya, sedapat mungkin Silvira berinteraksi, begitu pula dengan Azam berusaha sebaik mungkin agar Silvira dan kedua anaknya merasa nyaman dengan kehadirannya.
"Kalian senang ada Om Azam?" tanya Silvi.
"Tentu senang dong," sahut Fahri dan Farhan.
"Tapi Ma, Om Azam kan sudah jadi suami Mama, artinya jadi papa kita, masak kita panggilnya Om," ucap Farhan.
"Iya juga ya, gak mau panggil Om ah," sahut Fahri menimpali.
"Terus maunya panggil apa?" tanya Silvira.
__ADS_1
"Apa ya? Daddy?" kata Farhan.
"Om Azam mau dipanggil apa?" tanya Fahri.
"Kalau Om, dari dulu cita-citanya kalau punya anak pengen dipanggil Abati sama anak-anaknya," jawab Azam.
"Okelah kita panggil Abati, tapi kok gak cocok sama Mama," Kata Fahri. Silvi terkekeh mendengarnya, ada-ada saja nih bocil.
"Abati itu biasanya sama Ummati, tapi kalian panggilnya sudah Mama, biar gampang panggil Umma gimana?" tanya Azam memberi saran.
"Umma?" tanya Farhan.
"Tapi kalau kalian panggil Mama juga gak papa," ucap Azam.
"Ma..Ma..Umma.., okelah Umma gimana Bang?" tanya Farhan pada Fahri.
"Oke Umma, Abati," ucap Fahri, dan semua setuju.
"Ehm, Abati mau ngomong sekarang, karena Abati sudah menikah dengan Umma kalian, berarti sekarang kalian adalah tanggung jawab Abati, itu sangat berat ya Bang Fahri, Kak Farhan, karena bertanggung jawab langsung di hadapan Allah nanti, maka dari itu, Abati minta bantuan kalian, supaya jadi anak yang sholih, yang baik, nurut kata Umma dan Abati," ucap Azam.
"Iya Abati," sahut Fahri dan Farhan. Silvira tersenyum mendengar penuturan Azam yang siap bertanggung jawab atas dirinya dan anak-anaknya di dunia dan akhirat.
Setelah makan siang, Azam menemani Fahri dan Farhan bermain di ruang keluarga. Silvira membereskan meja makan bersama Bu Wati.
"Mba Silvi, rumah sudah bersih, gak ada setrikaan juga, kalau boleh besok saya libur dulu ya," ucap Bu Wati.
"Iya Bu, istirahat dulu saja, saya di rumah kok, Bu Wati datang lagi hari Selasa atau Rabu saja," ucap Silvi.
"Baik Mba, kalau gitu, ini sudah beres, saya pamit dulu ya,"
"Iya Bu, ini lauknya dibawa pulang saja, nanti malam saya mau masak aja," ucap Silvi.
"Iya Mba,"
Setelah Bu Wati pulang, Silvi naik ke kamarnya, membereskan koper Azam dan menatanya di lemari. Silvira merasa heran melihat tumpukan kotak seserahan di kamarnya, padahal dia tidak memintanya, tapi Azam memberi segini banyaknya, mulai dari sepatu, tas, gamis, jilbab, peralatan sholat, baju tidur, pakaian dalam, paket kosmetik, hingga sabun mandi.
__ADS_1
"Kenapa begitu banyak, tapi ini semua ukuranku, bagaimana dia bisa tahu," ucap Silvira sendiri.