
Hari berganti hari, tak terasa sebulan berlalu. Ayah dan Ibu sudah kembali ke kotanya. Silvira juga semakin sehat. Tinggallah Azam yang masih meringkuk di dalam selimutnya, kelelahan karena semalaman melahap Silvira.
Silvira baru selesai mandi, dia kemudian membangunkan Azam.
"Sayang bangun, sebentar lagi Subuh, kamu harus ke masjid," ucap Silvira sambil menepuk pipi Azam dengan lembut. Si empunya terbangun, tersenyum melihat istrinya yang cantik membangunkannya.
Kemudian Azam pergi ke kamar mandi, diguyur air hangat dari pancuran membuatnya segar kembali. Sementara itu, Silvira menyiapkan pakaian Azam dan segera ke kamar si kembar untuk membangunkan mereka.
"Fahri, Farhan, bangun sayang, kalian harus ke masjid untuk sholat Subuh nak," ucap Silvira. Si kembar bangun dan Silvira menggiring mereka ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan berwudhu, kemudian mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang pantas untuk sholat.
Azam yang telah siap, menjemput mereka di kamar.
"Hey boys, yuk ke masjid," ucap Azam.
"Tapi kami masih ngantuk Abati," ucap Fahri. Kemudian Azam menggendong kedua bocah itu di kanan dan kiri lengannya menuju masjid. Lumayan, latihan angkat beban, batinnya.
Silvira juga mendirikan sholat Subuh di mushola dekat ruang makan. Kemudian ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, pagi ini dia memasak soto ayam dengan bumbu jadi yang telah dibuatkan ibu mertuanya, jadi selama di sini ibu membuat bumbu jadi aneka masakan agar Silvira mudah memasak.
Tak berselang lama, Azam dan si kembar kembali dari masjid. Mereka duduk di ruang makan. Azam membaca Al quran dan kedua bocah itu mendengarkan, begitu juga Silvira, bacaan Al'quran dari suaminya itu membuatnya merasa bahagia.
Setelah itu Silvira meminta si kembar untuk mandi dan bersiap ke sekolah.
"Kalian mandi dulu boys, seragamnya ada di lemari gantungan ya," ucap Silvira.
"Baik Umma," sahut keduanya. Dan mereka menuju kamarnya di lantai atas untuk mandi.
Azam menyusul Silvira yang sedang membuat jus dan menata bekal untuk Azam.
"Bikin apa sayang?" tanya Azam.
"Ehm, ini jus wortel, tomat, apel, terus ini bekal Mas ada nasi sama cha jamur dan ayam woku, dihabisin ya nanti," ucap Silvira.
"Baik Bos," sahut Azam.
"Dah beres, yuk ke atas Mas, aku bantu Mas siap-siap ke kantor," ucap Silvira. Dan mereka naik ke atas.
Saat hendak menaiki tangga, bu Wati datang.
"Maaf Mba saya terlambat, tadi cucunya rewel minta ikut," ucap Bu Wati.
__ADS_1
"Iya Bu, gak papa, udah beres kok, tinggal cuci piring aja," ucap Silvira sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Sayang, hari ini dinas luar atau tidak?" tanya Silvira sambil membuka lemari, mencari baju PDH Azam.
"Tidak beib, Mas pulang sore nanti," ucap Azam yang duduk di tepi tempat tidur menunggu Silvira menyiapkan pakaiannya.
"Memangnya kenapa Beib?" tanya Asam balik.
"Gak papa, kalau dinas luar kan bisa pulang cepet, hehehe," jawab Silvira.
"Beib, nanti mau dibeliin sesuatu?" tanya Azam.
"Gak ada, aku cuma pengen diizinkan ke klinik sebentar," ucap Silvira sambil mengancingkan baju Azam.
"Okay, tapi nanti sore saja ya, aku jemput sepulang dari kantor," ucap Azam.
"Kenapa gak boleh pergi sendiri sih? Aku bosan di rumah Mas" tanya Silvira.
"Ehm,, mauku sih kamu ku simpan di rumah, buat aku sendiri," ucap Azam sambil mencubit hidung Silvira.
"Aww, sakit Mas," ucap Silvira sambil menggosok-gosok hidungnya.
"Baiklah," ucap Silvira pasrah, bagaimanapun juga dia harus taat kepada suaminya, mungkin Azam masih khawatir dengan luka operasinya, batin Silvira.
"Turun yuk, anak-anak pasti sudah menunggu," ucap Azam sambil membelai rambut Silvira.
Kemudian mereka berdua turun ke bawah, dan benar saja si kembar sudah menunggu mereka untuk berangkat ke sekolah.
Silvira memeluk kedua buah hatinya, dan Azam ikut memeluk mereka. Azam sangat menyayangi anak sambungnya itu, pikir Azam mungkin Allah belum mengizinkan dia memiliki anak kandung agar bisa lebih banyak waktu lagi bersama kedua anak kembar ini.
"Umma kami berangkat dulu ya," ucap si kembar.
"Iya sayang, yang pintar ya di sekolah, gak boleh nakal, kalau kalian mau melakukan hal yang tidak baik, misalnya memukul teman atau apa, kalian ingat saja wajah Umma, bayangkan betapa sedihnya Umma kalau kalian jadi anak bandel," ucap Silvira.
"Iya Umma, kita sayang Umma," ucap Fahri.
"Sayang Abati juga," imbuh Farhan.
"Iya, Abati juga sayang kalian semua, berangkat yuk, nanti kita terlambat lho," ucap Azam.
__ADS_1
"Beib kita berangkat dulu ya," lanjut Azam sambil mengecup kening Silvira.
"Cepat pulang sayang, aku pasti merindukanmu," bisik Silvira di telinga Azam.
"Iya, aku usahakan, baik-baik di rumah ya," ucap Azam, mereka bertiga pun meninggalkan rumah itu.
Silvira kembali ke kamarnya, dia membersihkan kamar, kemudian mencuci pakaian. Setelah menjemur cuciannya di balkon kamarnya, Silvira turun ke bawah.
"Bu.. Bu Wati..." panggil Silvira mencari asisten rumah tangganya itu.
"Dimana sih bu Wati," gumamnya sambil mencari-cari di sekitar dapur.
"Iya Mba, Mba Silvi manggil saya?" tanya Bu Wati yang datang dari pintu belakang.
"Dari mana Bu?" tanya Silvira.
"Itu Mba habis jemur baju anak-anak di belakang, ada apa Mba?" tanya Bu Wati balik.
"Ini saya bosan banget di rumah, mau bikin sesuatu, tapi yang gak banyak mengandung gula dan lemak apa ya Bu? Tahukan Mas Azam gak suka camilan manis dan berlemak," ucap Silvira sambil membuka lemari es mencari sesuatu.
"Bikin puding saja Mba, pakai susunya pak Azam, terus takaran gulanya dikurangi," sahut Bu Wati memberi ide.
"Iya juga ya, okelah kita bikin yuk," ucap Silvira.
Selesai membuat puding, Silvira ke ruang keluarga, dia berbaring di sofa untuk beristirahat sejenak.
Azam membuka pintu depan, bu Wati yang sedang mengelap meja terkejut melihatnya.
"Lho Pak Azam kok sudah pulang," ucap Bu Wati.
"Ini jam makan siang Bu, ini bekal saya tadi, tolong siapkan, saya mau makan ini di rumah, Silvi mana?" ucap Azam sambil menyerahkan tas bekalnya.
"Itu.." sahut bu Wati sambil menunjuk ke arah ruang keluarga.
Azam tersenyum melihat istri kesayangannya tertidur di sofa. Bu Wati segera ke belakang melaksanan perintah majikannya itu.
Azam mendekatkan wajahnya ke arah Silvira, dia memandangi wajah seseorang yang selalu di sampingnya, selalu melayaninya. Kemudian ia membelai pipi mulus istrinya.
Silvira mengeriyipkan matanya, dia melihat Azam tersenyum di depannya.
__ADS_1
Mas Azam datang ke mimpiku? Apa aku serindu itu dengannya sampai bermimpi bertemu dengannya... batin Silvira.