
Setelah Azam berkenalan dengan para pegawai kebun, kemudian dia menuju lahan apel untuk melihat langsung bagaimana para pekerja merawat kebun. Tak sampai di sana, Azam juga mengajarkan cara-cara terbaru tentang perawatan kebun, sesuai dengan yang ia pelajari di kampus dan sesuai juga dengan pekerjaannya yang berkaitan dengan teknologi pertanian.
.
Di rumah ibu..
Silvira terlihat gelisah, pandangan matanya seperti tidak fokus. Arum dan Ammar menyadarinya.
"Susul aja kalau khawatir," ucap Ammar.
"Hmm.. apa Mar?" tanya Silvira yang memang tidak memperhatikan Ammar.
"Susul aja ke kebun, kamu itu gelisah banget dari tadi, ditinggal sebentar aja langsung gak fokus sama yang di sini," ucap Ammar.
"Hah, iya kah? Kelihatan ya?" tanya Silvira.
"Banget!!" tukas Arum.
"Yuk, kita ajak anak-anak ke kebun, sambil nyariin belahan jiwamu," ajak Arum.
"Hehehehe" Silvira tertawa jadinya, antara malu dan senang karena Ammar dan Arum memahaminya.
Mereka mengajak anak-anak ke kebun apel di seberang jalan. Arum menggendong Fatimah dengan gendongan yang menghadap depan, Arum menggandeng Aya, Ammar menggandeng Abdullah, dan Rani pengasuhnya membawa Maryam. Ketiga balita anak Arum itu memang sangat aktif, sehingga butuh satu orang untuk menjaga mereka. Sedangkan Anak-anak yang lebih besar bisa menjaga diri mereka sendiri dengan saling bergandengan.
Kebetulan Ayah sedang di pintu masuk, karena akan pulang sebentar.
"Eh cucu-cucu kakung, mau main ke kebun ya?" sapa Ayah.
"Iya Kung, kami mau main, kata Abati ada wahana baru di sini," sahut Fahri.
"Iya kalian boleh main sepuasnya, tapi makan apel secukupnya, kalau kebanyakan bisa sakit perut nanti," ucap Ayah.
"Iya Kung,"
Ayah kemudian membawa mereka semua masuk melalui pintu khusus pegawai. Dan memasangkan gelang tiket kepada mereka semua.
Di dalam kebun, anak-anak sudah berlarian menuju wahana yang mereka inginkan.
"Fahri, Farhan, kalau diajak orang yang gak dikenal jangan mau ya, ini ikut Om Amir nanti, kebun lagi rame banget soalnya," pesan Silvira. Si kembar pun patuh dan mengerti, begitu juga anak-anak Ammar.
"Titip ya Mas Amir," kata Silvira kepada Amir yang bersedia menemani mereka.
Silvira masih menengok ke sana kemari mencari dimana suaminya. Dan Ammar menangkapnya.
"Aku gak nyangka kamu bisa sebucin itu sama Azam," goda Ammar.
"Serba salah Mar punya suami ganteng, bingung, bingung nyembunyiin," sahut Silvira.
__ADS_1
"Hahahaha," Arum ikut tertawa, Silvira ini bisa saja.
"Kamu percaya saja sama Azam, dia orang yang setia, aku jamin itu," ucap Ammar agar Silvira lebih tenang.
"Iya, aku percaya, tapi ya masih gak rela aja dia didekati cewek-cewek itu," sambil melihat ke arah dimana ia akhirnya melihat Azam, Azam terlihat sedang memberi contoh dan mengarahkan pegawai, namun banyak juga pegawai wanita mengerubunginya sambil berselfi.
"Tuh lihat, emangnya suamiku artis, diajakin selfi," gumam Silvira.
"Hahahahah, bersyukur Mba, itu berarti suaminya Mba gantengnya kaya artis," ucap Arum.
"Heh dilarang memuji suami orang, apalagi di depan suami sendiri," Ammar jadi sewot.
"Bukan gitu Mas, suamiku tetap ganteng nomor satu," ucap Arum memuji suaminya.
Silvira ikut tersenyum karenanya. Diam-diam ia melihat ke arah Ammar sebentar. Lalu menunduk lagi, ia jadi teringat waktu jaman mereka kuliah dulu, waktu masih berpacaran...
'Ah andai saja aku tetap menjaga komunikasi ku dengan Ammar, mungkin kami akan bersama sampai sekarang, eh eh gak boleh gitu, kalau aku tidak menikah dengan mas Adam Rahimahullah, aku tidak akan punya Fahri dan Farhan, dan juga sekarang Allah telah memberiku jodoh yang luar biasa bagiku, yaitu mas Azam...' batin Silvira.
"Beib..."
"Ah.. Mas, kok sudah di sini, sudah sama cewek-ceweknya?" tanya Silvira yang terkejut Azam sudah di depannya.
"Sewot terus dari tadi istrimu Zam, cemburu kayanya," ucap Ammar.
"Apa sih Mar," gumam Silvira.
"Gak papa, aku senang dia cemburu, itu artinya dia benar-benar mencintaiku," ucap Azam yang tidak mengalihkan pandangannya dari Silvira.
"Oke, selamat bersenang-senang," ucap Azam. Setelah Ammar dan anak istrinya pergi, Azam kembali fokus kepada Silvira dan Fatimah yang digendongnya.
"Biar aku yang gendong Fatimah Beib, kamu pasangin ya," pinta Azam, Silvira segera mengoper gendongan Fatimah ke badan Azam.
"Ma syaa Allah," ucap Silvira ketika melihat Azam, dengan gendongan bayi di dadanya tidak mengurangi kerennya suaminya itu, malah terlihat seperti hot daddy.
"Mau kemana kita Beib?" tanya Azam.
"Eh, anak-anak kemana?" belum dijawab, Azam sudah bertanya kembali.
"Sama Mas Amir, aku pengen makan bakso," sahut Silvira.
"Oh ok, kita ke food court ya, ada bakso kok di sana," ucap Azam sambil menggandeng tangan Silvira menuju food court.
Setelah mereka tiba di tempat makan yang mereka inginkan, Azam meletakkan Fatimah di karpet dan memakai selimut sebagai bantalnya, karena Fatimah telah tidur pulas.
"Mau pesan apa Beib?" tanya Azam.
"Baso biasa aja, pake lontong, aku laper banget," sahut Silvira. Azam segera memesankan apa yang diinginkan Silvira.
__ADS_1
"Itu istrinya pak Azam," Bisik pegawai kebun.
"Kok pak Azam sudah nikah sih, huh mana ganteng banget, nge fans aku tuh," sahut yang lainnya.
Mereka berbisik, namun Azam tetap bisa mendengarnya. Lalu Azam menghampiri mereka.
"Eh Pak Azam datang tuh,"
"Ih jadi deg-degan,"
"Maaf," ucap Azam sambil sekilas melihat papan nama di dada kedua pegawai itu.
"Iya Pak,"
"Nadia dan Safitri," ucap Azam memanggil nama mereka.
"I iya Pak," sahut kedua pegawai itu.
"Saya dan istri saya pengen makan dengan tenang di sini, jadi kalian hentikan bisik-bisik nya, kalian di sini digaji untuk bekerja, bukan untuk ngomongin orang, makasih," ucap Azam.
"Baik, Pak maaf," sahut salah satu pegawai itu.
Azam terlihat ramah, namun dia juga mencoba tegas kepada pegawainya, agar mereka tidak bersikap seenaknya.
Azam kembali duduk di karpet lesehan di samping Silvira.
"Mas," ucap Silvira sambil bergelayut manja di lengan Azam.
"Iya Beib,"
"Makasih ya,"
"Kenapa?" tanya Azam.
"Mas selalu berusaha membuatku nyaman," ucap Silvira.
"Sudah seharusnya Beib, dan aku ingin kamu nyaman bersamaku, dan terus saling menjaga kepercayaan kita, ya,"
Silvira hanya mengangguk.
"Nanti malam mau kemana?" tanya Azam.
"Di kamar aja sama Mas," celetuk Silvira.
"Yang bener, oke," ucap Azam dengan senang.
"Aduh jangan, jangan Mas, kalau kita di kamar anak-anak gimana? Mereka liburan gak kemana-kemana," Silvira menarik kata-katanya tadi.
__ADS_1
"Wah, kamu itu Beib, PHP aja,"
"Iya iya, maaf sayang,"