Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#19


__ADS_3

Bu Wati menghubungi Silveira menggunakan inter phone dari dapur, bahwa ada tamu yang menunggu. Silvira meminta bu Wati menyampaikan kepada tamu itu untuk menunggu sebentar.


"Sebentar ya Mba, Mba Silvi masih di atas, sebentar lagi turun," ucap bu Wati sambil menghidangkan secangkir teh kepada tamu.


"Silakan diminum, saya tinggal ke belakang dulu," lanjut bu Wati.


"Iya Bu, terima kasih," ucap tamu itu.


Silvira berganti pakaian dengan gamis kaos rumahan berwarna moka dan jilbab lebar berwarna senada, karena bu Wati bilang tamunya perempuan maka dia tidak memakai cadarnya. Dia tetap terlihat cantik walau tanpa riasan. Silvira segera turun ke bawah, dari tangga terlihat ada seorang wanita, berambut lurus sebahu, memakai gaun lengan pendek di atas lutut yang memperlihatkan sebagian pahanya ketika duduk.


Ketika Silvira semakin mendekat, wanita itu menoleh ke arahnya, dan berdiri memyalami Silvira.


"Ini istrinya Mas Azam? Kenalkan saya Karin, mantan istrinya," ucap wanita itu yang ternyata adalah Karin.


Degg... Silvira terasa sedikit gugup, baru semalam dibicarakan eh paginya sudah bertemu, Silvi tidak pernah menyangka Karin akan menemuinya. Namun Silvira tetap tersenyum menutupi kegugupan itu.


"Ehm, iya, silakan duduk Mba, ada perlu apa ya datang kemari?" tanya Silvira. Mereka berdua kemudian duduk.


"Saya datang untuk menyapa, ini saya bawakan kue kesukaan Mas Azam," jawab Karin.


"Oh iya, terima kasih Mba," ucap Silvira.


"Saya mau bilang, kalian kan baru saja menikah, sebelum terlalu lama, pumpung masih baru, batalkan saja pernikahan kamu sama Mas Azam, karena dia akan kembali padaku," ucap Karin tanpa basa-basi.


"Maksudnya apa Mba?" tanya Silvira yang jadi bingung, ini wanita nekat banget sih.


"Kamu kenal sama Mas Azam juga baru kan? Kamu sama sekali gak kenal dia, gak tau apa yang disukainya, apa yang selalu dihindarinya, bagaimana sifatnya, aku yang sangat mengenalnya, aku yang bersamanya mulai dia dari nol," imbuh Karin.


"Ya jelaslah Mba, Mba pernah menikah dengannya lima tahun, sedangkan saya baru lima hari menikah, dan kami juga memang masih saling mengenal, jadi masih butuh waktu untuk saling mengenal. Tapi Mba kenapa begitu percaya diri Mas Azam mau kembali sama Mba?"


"Karena dia dulu bersikukuh tidak mau bercerai denganku berarti dia sangat mencintaiku," ucap Karin.

__ADS_1


"Itu dulu Mba, sekarang sudah beda," sahut Silvira.


"Apa kamu tahu, dia menikahimu hanya karena kekayaanmu," ucap Karin mengada-ada.


"Lho Mba belum tahu kalau memang dianjurkan memilih wanita karena hartanya, dan bagi Mas Azam pernikahan bukan untuk main-main, dia bertanggung jawab langsung nanti di hadapan Allah, dan kalau Mba Karin begitu percaya kalau Mas Azam mau kembali bersama Mba, harusnya Mba gak perlu repot-repot nemui saya seperti ini, pasti Mas Azam sendiri yang akan bilang kepada saya," ucap Silvira tetap berusaha tenang.


"Kamu lihat saja, Mas Azam pasti akan kembali kepadaku," pungkas Karin kemudian segera keluar dari rumah itu.


Silvira ke halaman belakang menemui bu Wati yang sedang menyapu.


"Bu, nanti kalau ada orang bengkel antar mobil Range Rover, bu Wati terima ya kuncinya, gak usah dikasih apa-apa karena sudah dibayar sama Bapak, saya mau istirahat di atas gak ngantor, kalau bu Wati sudah selesai bersih-bersih bisa pulang, kue yang di atas meja Ibu bawa aja buat cucu Ibu," ucap Silvira menyampaikan amanahnya.


"Iya Mba," ucap Bu Wati, dia sebenarnya bertanya-tanya namun tidak mau mencampuri urusan majikannya.


Silvira segera ke kamarnya, mengirim pesan kepada asistennya kalau dia tidak ke klinik hari ini. Kemudian ia melepas jilbabnya dan menenggelamkan kepalanya dalam selimut. Dia tidak setegar itu, dia memang sangat percaya kepada suaminya, namun dia tidak pernah membayangkan pagi-pagi diajak ribut dengan wanita yang tidak dia kenal itu, dan mengatakan hal-hal yang tentu saja menyakitinya. Dia menangis sesenggukan di balik selimut, hingga akhirnya tertidur.


"Kring..kring..." ponsel bu Wati berbunyi, rupanya Azam yang menelpon.


"Halo, Pak Azam, ada apa?"


"Oh, Mba Silvi tadi istirahat di atas, gak ke klinik katanya, itu Pak, tadi itu habis ada tamu perempuan, setelah tamunya pulang, Mba Silvi ke atas, tadi juga pesen kalau orang bengkel datang saya disuruh nerima kuncinya, ini tadi saya ketuk pintu kamarnya, gak dibukain Pak, apa Bapak pulang sebentar lihat Mba Silvi, saya kok khawatir Pak,"


"Oh baiklah, saya segera pulang, kebetulan ini lagi dinas luar dan sudah beres, saya langsung pulang ya Bu,"


Azam segera meluncur pulang setelah berpamitan kepada teman-teman kantornya yang sedang dinas di luar kantor bersamanya.


Sesampainya di rumah, Azam segera naik ke atas, membuka pintu kamarnya dan melihat Silvira tertidur, dia mendekatinya. Meletakkan punggung tangannya ke dahi Silvira.


"Ya Allah, panas sekali badannya," ucap Azam.


Ia segera meminta bu Wati menyiapkan nasi dan sup ayam. Ia juga mengganti baju Silvi dengan yang lebih tipis agar demamnya lekas turun.

__ADS_1


"Tok..tok.." bu Wati mengetuk pintu kamar mereka.


"Iya Bu Wati, masuk," ucap Azam sambil mengancingkan baju Silvira.


"Mba Silvi sakit Pak?" tanya bu Wati sambil meletakkan nampan berisi nasi dan sup ayam yang dipesan Azam tadi.


"Badannya demam, bu Wati tau ndak dimana biasanya Silvi menyimpan obat-obatan?"


"Ada lemari dekat kamar si kembar Pak, sebentuk saya ambilkan obat penurun panasnya," ucap bu Wati segera pergi mengambil obat dan segera kembali lalu menyerahkan obat itu.


"Terima kasih Bu, kalau pekerjaannya sudah selesai, Bu Wati bisa pulang, biar Silvi saya yang jaga," ucap Azam.


"Baik Pak, ini kunci mobilnya tadi sudah diantar dari bengkel," ucap bu Wati sambil menyerahkan kunci mobil.


Azam segera menyuapi Silvi makan dan obatnya. Sejenak kemudian Silvi sudah terlihat lebih baik.


"Mas," ucapnya.


"Kamu kenapa?" tanya Azam. Silvira malah memeluk Azam.


"Sebentar Mas, begini dulu sebentar saja, aku pengen bersama Mas," ucap Silvi. Azam hanya diam mendekapnya.


"Kamu sudah sholat Dhuhur?" tanya Azam. Silvira menggeleng.


"Sholat dulu ya, kamu masih demam, bertayamum saja, aku ambilkan jilbab kamu ya," ucap Azam sambil meraih jilbab di gantungan baju.


Setelah Silvira bertayamum, Azam membantunya memakai jilbab lebar dan selimut untuk menutup aurat Silvi.


"Gak ada keringanan apa Mas buat orang sakit, kok tetap disuruh sholat," ucap Silvi.


"Sayang, Allah sudah berikan keringanan, dengan bertayamum, dan duduk apabila tidak kuat berdiri, dan berbaring apabila tidak kuat duduk, namun selama nyawa belum sampai ke kerongkongan sholat itu tetap wajib bagi umat muslim," kata Azam menjelaskan kepada Silvira.

__ADS_1


"Iya Mas," sahut Silvira.


"Kamu sholat dulu, Mas mau bersih-bersih badan dulu, gerah," ucap Azam.


__ADS_2