
Malam hari selepas Isya, Azam duduk di karpet bersandar sofa di belakangnya. Silvira tiduran di sofa, miring menghadap Azam dan satu tangannya memeluk Azam dari belakang. Mereka melihat kajian di tv sunnah berlangganan.
"Sayang..." panggil Silvira.
"Iya Beib,.." sahut Azam.
"Aku ngantuk, ke atas yuk, hoaam," ucap Silvira sambil menutup mulutnya yang sedang menguap dengan tangan kiri.
"Iya, sini tolong pegang Farhan sebentar,"
Silvira bangkit kemudian berjongkok, mengambil kepala Farhan yang tertidur di paha kanan Azam, sedangkan Fahri di paha kiri Azam.
Azam meraih Fahri dan menggendongnya di bahu kiri, kemudian meraih Farhan dari pangkuan Silvira dan menggendongnya di bahu kanan.
"Satu-satu aja Mas," ucap Silvira.
"Sekalian aja gak papa, suamimu ini masih kuat kok," sahut Azam sambil bangkit kemudian berjalan menuju lantai atas ke kamar si kembar, Silvira mengekor di belakangnya. Si kembar pun tetap terlelap dan nyaman dalam gendongan Azam.
Azam menurunkan Fahri di atas tempat tidurnya, Silvira bergegas menyelimuti anak bujangnya itu. Kemudian Azam menurunkan Farhan di ranjang sebelahnya dan menyelimutinya. Mereka berdua bergantian menciumi bocah kembar itu, pumpung tidur dan masih mau diciumi, karena suatu saat akan tiba si bocah beranjak dewasa dan ogah diciumi seperti bayi.
Kemudian Azam berdiri di antara kedua tempat tidur itu, merangkul Silvira, dan memandangi keduanya.
"Mereka juga bagian dari hidupku Beib,, jangan khawatir ya," ucap Azam yang teringat kekhawatiran Silvira kemarin.
"Hmm, iya Mas, makasih, jazaakallaahu khayran,"
"Waiyyaki, yuk ke kamar kita, istirahat, kamu pasti capek seharian ada tamu," sahut Azam, Silvira mengangguk dan mengikuti Azam ke kamar mereka.
Setelah berganti pakaian, cuci muka, dan gosok gigi, mereka sudah siap ke alam mimpi.
"Beib..." panggil Azam.
"Iya Mas," sahut Silvira yang sudah sangat mengantuk.
"Kemarin tanya dokter Rina gak, aman gak kalau adik bayi ditengokin abatinya?"
Seketika Silvira terbelalak matanya mendengar pertanyaan Azam. Jangan-jangan Azam minta jatah malam ini, duh badannya pasti remuk redam besok pagi, tapi secapek apapun tidak boleh dia menolak, dan lebih baik dia menawarkan duluan.
"Gak nanya Mas, malu, apa dicobain aja ya??" Silvira balik nanya, walaupun dengan berat hati dia menawarkan diri.
"Gak sekarang, kamu kecapekan ntar, besok aja ya," sahut Azam.
__ADS_1
"Hmm," Silvira lega mendengar jawaban Azam, malam ini dia bisa tidur nyenyak.
"Sini Beib," ucap Azam sambil berusaha menjangkau perut Silvira. Silvira segera menggeser tubuhnya ke arah Azam.
"Sayangnya abati, yang pinter ya sayang, sehat terus dan jangan nyusahin umma, sayang kamu nak," ucap Azam.
" Dia belum bisa dengar Mas,"
"Dia bisa dengar lewat ummanya, dia bisa merasakannya," sahut Azam. Akhirnya mereka berdua tertidur.
***
Keesokan paginya..
Hari itu hari Ahad, Azam dan si kembar masih libur. Selepas subuh, mereka bersama-sama membaca Al quran dan dzikir pagi. Setelah itu Silvira ke dapur menyiapkan sarapan, sedangkan Azam bersama Fahri dan Farhan membersihkan halaman. Walau mereka berkecukupan dan ada art, namun Azam tidak ingin memanjakan anak-anaknya, dia tetap mengajari si kembar bersih-bersih halaman waktu hari libur dan membersihkan kamar mereka sendiri setiap hari.
"Umma masak apa?" tanya Farhan dari jendela luar.
"Hai sayang, Umma masak soto ayam kampung, mau?"
"Mau dong," sahut Farhan sambil menahan air liurnya menetes.
"Iya, selesaikan dulu nyapu halamannya, habis itu kita sarapan," ucap Silvira.
"Abang, abang, yuk cepat selesaikan, Umma bikin soto ayam, yuk buruan," teriak Farhan kepada Fahri.
Akhirnya mereka selesai menyapu, setelah beristirahat sebentar untuk menghilangkan keringat, mereka mandi.
Seperti biasa, Silvira menunggui Azam mandi dan duduk di atas kasurnya. Berbaring sebentar, meredakan pinggangnya yang pegal.
Perlahan Silvira membuka matanya, Azam sudah ikut tiduran miring di sampingnya sambil tersenyum.
"Mas, kok gak bangunin, aku ketiduran," ucap Silvira sambil bangkit lalu duduk.
"Hmm, mana tega mas bangunin kamu, kamu terlihat capek, jangan capek-capek Beib, kita cari art yang mau tinggal gimana? Atau bu Wati kita minta tinggal," ucap Azam.
"Coba nanti kita bicarakan sama bu Wati, Mas turun dulu, pasti anak-anak sudah nungguin, aku mau ganti baju dulu, bau kompor," Silvira segera berdiri, tak nyaman jika Azam mencium bau tak sedap dari tubuhnya.
"Baiklah sayang, kami tunggu di meja makan ya," Azam segera turun dan benar saja si kembar sudah bermain perang-perangan di dekat meja makan.
"Hey boys, tunggu umma sebentar ya, masih ganti baju," ucap Azam.
__ADS_1
"Iya abati," sahut mereka berdua, dan melanjutkan acara perang-perangan. Tak lama kemudian Silvira turun sudah berganti bajunya.
"Yuk makan," ucap Silvira.
Mereka semua menuju meja makan untuk sarapan. Anak-anak makan dengan lahap, begitu juga Azam. Silvira pun tidak nampak tanda-tanda mual atau muntah.
"Bu Wati kok belum datang Beib? Kamu suruh libur apa gimana?" tanya Azam.
"Ehm, iya Mas, aku minta beliau libur, ini kan kalian di rumah semuanya, aku pengen melayani kalian semuanya sendirian," ucap Silvira bersemangat.
Setelah sarapan saat hendak membereskan meja, mendadak perut Silvira tidak enak.
"Mas aku ke kamar mandi sebentar ya," ucap Silvira sambil berjalan cepat ke kamar mandi, sebelum Azam sempat menjawabnya.
"Umma kenapa Abati?" tanya Fahri.
"Umma mungkin tidak enak badan, kalian bisa bawa piring kotornya ke tempat cuci piring? Dan sisa sayurnya kalian bawa ke dapur?" tanya Azam.
"Baik abati," sahut mereka berdua, dan tangan-tangan mungil itu meraih satu persatu peralatan makan yang kotor dan menaruhnya di wastafel cuci piring.
Sementara Azam menghampiri Silvira di kamar mandi, benar saja Silvira memuntahkan semua isi perutnya.
"Mas," ucap Silvira yang terlihat pucat waktu keluar dari kamar mandi.
"Yuk," ucap Azam seraya memapah Silvira dan membawanya ke ruang tengah untuk berbaring di sofa. Silvira melirik anak-anak yang sedang mencuci piring sambil bermain.
"Sudah Mas, biar seperti ini, gak perlu art tinggal, sekalian ngajari si kembar untuk lebih mandiri dan peduli dengan sekitarnya," ucap Silvira.
"Iya terserah kamu saja, eh iya kamu mau susu? Mas belikan ya di minimarket itu, kamu mau rasa apa?" tanya Azam.
"Ehm, rasa coklat Mas,"
"Merknya apa ya Beib?"
"Apa ajalah,"
"Oke, selain itu mau dibelikan apa?"
"Aku mau makan kuaci," sahut Silvira.
"Baiklah, Mas pergi dulu ya," ucap Azam. Dia pergi ke minimarket dekat rumah.
__ADS_1
Selesai mencuci piring, dua bocil itu mengelap meja dapur dan meja makan, sepertinya karena terbiasa melihat orang tuanya dan juga bu Wati yang mengelap meja selesai digunakan. Sungguh orang tua adalah teladan anak-anaknya, dan anak-anak adalah peniru orang tuanya.