Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#84


__ADS_3

Silvira berjalan ke ruang tamu dengan percaya diri, dia berhasil menyembunyikan kemarahan dan seluruh emosinya dengan tersenyum ke arah Karina dan Azam.


"Gimana Mba? Tanya apa tadi?" tanya Silvira seolah tak tahu.


"Eh itu, bolehkah aku nginap di sini malam ini, aku masih pengen bersama baby Fatimah," tanya Karina yang sedikit terkejut melihat Silvira sangat tenang.


Silvira masih terdiam dan tetap tersenyum.


"Kata Mas Azam gak boleh, apa kamu juga gak bolehin aku di sini? Berarti kamu insecure dong sama aku kalau gak bolehin..." lanjut Karina.


"Oh, itu, insecure gak lah, aku percaya sama Mas Azam, buktinya dia tetap memilih bersamaku daripada rujuk lagi dengan Mba Karin waktu itu, dan baby Fatimah itu anak aku, hasil buah cinta aku sama Mas Azam, yakin Mba gak papa dengan itu, dan kalau Mba nginap di sini, Mba yakin bisa tahan dengan pemandangan di sini tiap hari..." tanya Silvira kembali.


"Pemandangan apa?" tanya Karina, Azam pun juga bertanya-tanya, pemandangan apa itu.


"Silakan Mba Karin lihat sendiri,"


Silvira mendekat ke arah Azam lalu meraih tengkuk Azam dan mengecup bibir suaminya itu, iya Azam terkejut namun menurut saja membalas kecupan istri cantiknya itu. Karin yang merasa tak enak jadi salah tingkah melihatnya.


"Kalian ini apa-apaan sih, aku pergi dulu," ucap Karin sembari menyambar tasnya dan buru-buru keluar dari rumah itu.


Setelah yakin Karin pergi, Silvira segera mendorong Azam agar terlepas. Kemudian berlari ke kamar. Azam yang masih terkejut dengan kejadian itu, segera menyadarkan diri, kemudian masuk ke kamar ibu dan Fatimah.


"Bu, Karin udah pulang, Fatimah udah tenang?" tanya Azam dari pintu.


"Sudah ini, lagi tidur," ucap Ibu sambil mengayun baby stroller dimana Fatimah ditidurkan.


"Alhamdulillah, Bu nanti Ammar sama teman-teman datang, Ibu temani dulu ya, aku mau ke atas, Silvira marah kayanya," ucap Azam.


"Iya jelas aja marah, kebangetan tuh si Karin, cepat susul istrimu, bujuk dia, minta maaf bila perlu, walaupun bukan kamu yang salah,"


"Iya Bu," ucap Azam kemudian menutup pintu kembali dan segera naik ke atas menuju kamarnya.


"Beib," panggil Azam.


Silvira duduk di kasur membelakangi pintu, Azam segera menghampirinya.


"Kenapa Beib? Kamu marah?" tanya Azam.


"Menurut Mas?"

__ADS_1


"Makanya Mas tanya kamu kenapa.."


"Marah, kesel," sahut Silvira.


"Iya, kesel sama siapa? Sama Mas?"


"Ga tau Mas, kesel banget sampe pengen nangis,"


"Ya udah, nangis aja, sini.." ucap Azam seraya memeluk Silvira dan menenggelamkan kepala Silvira di dadanya.


"Nangis aja Beib, keluarin semua emosi, amarah, kekesalan kamu, kecewa kamu, keluarin aja semuanya di sini, Mas ada buat kamu," ucap Azam. Silvira menangis sesenggukan di sana meluapkan segala emosinya seperti kata Azam.


Setelah beberapa lama, Silvira mulai tenang dan melepaskan pelukan Azam.


"Mas jahat banget sih," ucapnya kemudian.


"Aku, jahat kenapa?" Azam masih belum tahu apa salahnya.


"Dia tamu istimewanya Mas?" tanya Silvira.


"Dia? Dia siapa? Karin?" Azam balik tanya.


"Iya,"


"Trus siapa tamunya?"


"Belum datang, nanti kamu lihat sendiri sayang, Hmm,"


"Itu trus kenapa Mba Karina ke sini?" tanya Silvira.


"Ya mana aku tahu, dia pengen lihat Fatimah dan kirim pesanan masakan mungkin," jawab Azam tenang, sebisa mungkin ia membuat Silvira tenang juga.


"Kenapa pesan ke dia lagi masakannya? Tadi siang kan aku sudah marah," ucap Silvira terus mengejar.


"Itu udah sekalian sama yang tadi pagi sayang, aku lupa mau cerita ke kamu, maafin Mas ya," ucap Azam.


"Mas tahu gak tadi, dia tuh seolah nyonya rumahnya, aku babunya,"


"Emang kamu diapain?"

__ADS_1


"Tadi aku tawarin dia minum, eh dia malah nyuruh aku buat beresin dan nyajikan masakan yang dia bawa," ucap Silvira kesal.


"Oh, dasar tuh Karin, mas samperin dia ya, biar mas marahin, seenaknya aja nyuruh bidadari mas ini," ucap Azam.


"Gak usah Mas, biarin aja, aku yakin dia pikir-pikir lagi kalau mau ke sini lagi karena tadi," ucap Silvira akhirnya lebih tenang.


"Tadi kamu dengar semuanya dari dapur?" tanya Azam. Silvira mengangguk.


"Lantas kenapa kamu bisa setenang itu mendengarnya?"


"Itu aku tahan Mas, aslinya juga merah telingaku mendengar semuanya, tapi aku baca taawudz, minum air biar dingin, istighfar jangan sampai marah, jangan sampe nangis pokoknya," sahut Silvira.


"Oh, ma syaa Allah, pinternya istriku, trus gimana bisa kepikiran nyium Mas di depan dia?" tanya Azam.Silvira tersenyum dan memerah pipinya.


"Haaa... gak tahu Mas, tiba-tiba aja pengen nyium Mas, tapi sebenarnya gak boleh ya mengumbar kemesraan di depan orang, tapi berhasil juga kan bikin dia nyerah mau nginep sini," sahut Silvira.


"Iya, kamu berhasil bikin dia angkat kaki, kalau tadi dia gak nyerah juga gimana?"


"Gak tau deh Mas, mau gimana lagi,"


"Kita doakan aja, semoga dia cepat dapat jodoh yang baik, biar gak ganggu kita lagi," ucap Azam akhirnya, karena azan Isya sudah terdengar.


"Beib, aku perlu baju ganti nih, lihat baju aku basah kena airmata sama ingus kamu," ucap Azam sambil menunjuk bagian depan bajunya yang basah.


"Oh iya," Silvira segera berdiri lalu ke arah lemari dan memilihkan kurta untuk Azam.


Azam segera mengganti bajunya dengan kurta yang dipilihkan Silvira.


"Aku ke masjid dulu Beib," pamit Azam. Silvira mengangguk dan tersenyum melepas Azam ke masjid.


Silvira ke kamar mandi untuk mencuci mukanya yang sembab agar terlihat segar kembali.


Kemudian dia segera turun ke dapur meneruskan pekerjaannya membuat minuman tadi. Dan menyiapkan piring dan alat makan yang akan digunakan nanti.


"Siapa sih sebenarnya tamu istimewanya Mas Azam, tadi kok gak nanya berapa jumlah tamunya, nanti kurang gak ya," gumamnya.


"Apalagi ya, kuenya udah habis dari tadi siang, disuguhin apa nih buat camilan pas ngobrol," gumamnya lagi, karena dia memang sedang sendiri di dapur. Silvira membuka kulkas, namun tidak ada ide, kemudian ia membuka lemari persediaan, dia melihat satu dus kripik buah.


"Oh iya, Mba Sofia tadi bawa keripik buah, itu aja buat suguhan,"

__ADS_1


Silvira segera mengambil beberapa toples tupuware dari lemari bawah meja dapur, dan mengisinya dengan keripik buah yang dibawakan kakak iparnya itu. Ada keripik apel, nangka, strawberry, mangga, salak. Entah bagaimana prosesnya, namun kripik itu sangat enak dan dari buah asli yang dikeringkan. Setelah selesai ia membagi toples-toples itu di ruang tamu dan ruang keluarga.


"Ting..tong..." bel pintu berbunyi.. Silvira segera ke depan, tak lupa dia memasang cadarnya.


__ADS_2