Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#69


__ADS_3

Setiap paginya, Silvira berjalan pergi pulang dari home stay ke ruang rawat Azam, dengan harapan hari itu Azam akan bangun. Juga Selepas Maghrib ia menemui Azam lagi dan kembali ke home stay selepas Isya. Jika hari itu Azam belum bangun, di jalan pulang dia berharap esok hari Azam akan bangun. Setiap datang, Silvira mengajak Azam berbincang, menceritakan perkembangan janin mereka, juga menceritakan si kembar yang setiap hari menelpon untuk menanyakan keadaan Azam, atau membaca Al Quran di dekat Azam.


Setiap hari seperti itu, hingga bulan berganti, dan ini sudah tiga bulan berlalu. Rindu dengan Azam, dan juga si kembar pastinya, yang tinggal jauh darinya, namun dua pekan sekali Ammar datang mengantarkan mereka bertemu Silvira dan melihat Azam.


Malam ini Silvira berjalan perlahan menuju home stay, dia berjalan pelan-pelan karena perutnya juga sudah bertambah besar--usia kandungannya sudah 7 bulan jalan 8 bulan.


Silvira sebisa mungkin, mencegah dirinya untuk stres, karena tentu saja tidak baik untuk dirinya juga janin dalam kandungannya. Kalau ngidam, atau ingin makan sesuatu, dia berusaha mencari lewat aplikasi ojek online. Dia ingin ketika Azam bangun, ia juga bisa merasakan kebahagiaan yang sama dengannya.


Satu-satunya ngidamnya yang belum terlaksana yaitu makan soto ayam disuapi Azam, di kehamilan ini dia sering sekali ingin makan makanan hangat berkuah kuning itu.


Malam itu dia pergi ke supermarket di seberang home stay. Di halaman supermarket itu banyak sekali counter makanan dan minuman, malam itu ia ingin membeli kentang panggang dan susu almond hangat, udara malam hari di kota apel memang sangat dingin, hingga setiap malam ia selalu mencari makanan dan minuman hangat.


Setelah mendapat yang diinginkannya, ia kembali ke kamarnya. Membersihkan diri dan berganti pakaian.


"Sayangnya Umma dan Abati, kita makan kentang panggang ya malam ini, kamu tahu sayang... kentang itu makanan kesukaan abati, tiap hari harus ada kentang di makanan abati, bahkan sering juga abati mengganti nasinya dengan kentang kukus...." ceritanya pada janinnya.


Setelah menghabiskan dua buah kentang panggang dan segelas susu almond hangat ukuran besar, Silvira menggosok giginya kemudian berwudhu untuk bersiap tidur.

__ADS_1


Esok subuhnya, ia bangun melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, kemudian membaca Al Quran.


Di waktu yang sama di rumah Ammar. Si kembar sedang menambah hafalan ayat baru bersama Salman, Rayhan, dan Hanna, tentunya dengan bimbingan Ammar. Arum memasak di dapur, sedangkan ketiga bayi bermain bersama Oma mereka di kamar mereka dibantu Rani pengasuhnya.


Tepat pukul 5.30, anak-anak pergi mandi, begitu pula Ammar. Arum masih sibuk menata makanan dan bekal untuk Ammar. Setelah itu dia pergi mandi dan membantu Ammar berpakaian.


Pukul enam mereka semua sudah siap sarapan di meja makan, lima anak usia sekolah-- termasuk Fahri dan Farhan, juga tiga bayi berusia 9 bulan yang masing-masing duduk di kursi makan untuk balita. Arum sengaja membiarkan ketiga bayinya makan sendiri, memang terlihat kotor dan belepotan, namun si bayi bisa berlatih motorik mereka, untuk memegang makanan dan memasukkannya ke dalam mulut mereka. Dan pukul setengah tujuh, Ammar mengantar lima anak yang bersekolah di sekolah yang sama itu.


Setiap pagi seperti itu, ketambahan dua anak lagi setelah mereka memiliki enam anak, rumah bertambah ramai, repot.. itu pasti, tapi mereka dengan senang hati menerima Fahri dan Farhan di rumah mereka, dan pahala serta ridho Allah yang Ammar dan Arum harapkan karena membantu teman mereka yang tertimpa musibah.


Pukul tujuh pagi, Silvira selesai mandi, kemudian langsung menjalankan sholat dhuha. Ia juga berdoa untuk kesembuhan suaminya. Selesai sholat, ia melipat sajadahnya.


Drrtt...drrttt... ponselnya berbunyi. Ia segera meraih benda pipih di atas nakas. Dia lihat ternyata rumah sakit yang menelpon, dia segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.


"Iya, assalamualaikum," ucap Silvira.


"Waalaikumussalam, ini dengan keluarga bapak Khoirul Azam?"

__ADS_1


Silvira bergegas pergi ke kamar rawat Azam setelah menutup sambungan teleponnya. Ia ingin sekali berlari agar cepat sampai di tempat Azam. Namun dia tak mampu berlari dengan perut sebesar itu, dia hanya berjalan sedikit lebih cepat.


Di koridor, ia berjalan sambil mengingat kejadian-kejadian yang lalu, yang telah ia lewati bersama Azam.


Pertama kali bertemu, di kantor Ammar, kemudian Ammar secara resmi mengenalkan mereka. Si kembar yang sangat menyukai Azam. Selanjutnya Azam mengkhitbah dan melamarnya. Akhirnya mereka menikah dengan akad dan resepsi sederhana yang kental dengan syariat.


Azam yang sangat menyayanginya, juga si kembar. Membimbing Silvira dan kedua anaknya dengan ilmu agama, memasukkan hafalan Al Quran kepada putra kembarnya.


Membuat Silvira dan anak-anak menyukai makanan sehat seperti dirinya, mengajak Silvira berolah raga. Mencukupi semua kebutuhannya lahir dan batin. Bahkan seringkali Azam membantu pekerjaan rumah Silvira. Serta semenjak hamil tak pernah absen membuatkan susu untuk istri kesayangannya itu.


Air mata Silvira tumpah mengingat setiap kehangatan, kasih sayang, dan cinta yang sangat besar, yang diberikan Azam kepada Silvira dan kedua anaknya. Rindu yang semakin membuncah.


Kakinya yang sedikit bengkak tetap dia langkahkan perlahan. Entah mengapa pagi itu ia merasa perjalanannya dari home stay menuju kamar rawat Azam terasa sangat jauh dan berat.


Silvira menaiki lift dan akhirnya sampai di kamar rawat Azam. Di sana Azam tak terlihat, karena dokter dan beberapa perawat sedang mengerubungi Azam.


"Mas Azam..." lirih Silvira.

__ADS_1


__ADS_2