Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#85


__ADS_3

"Assalamualaikum," Silvira terkejut ketika membuka pintu.


"Waalaikumusalam," ucapnya, dan masih terbengong kala melihat segerombolan orang di depan pintu. Bukan orang mau berdemo, atau mau arisan, apalagi mau lihat konser. Tapi mereka adalah teman-teman kantor Azam beserta keluarganya.


Iya, mereka adalah...


Ammar bersama Arum istrinya dan ketiga anaknya, Salman, Rayhan, dan Hanna.


Hendra bersama Asfi istrinya dan putrinya Safira yang berusia dua tahun.


Benny bersama Naura istrinya dan putrinya Aisyah yang seusia Hanna.


Juga tak ketinggalan si jomblo Hilmy...


"Ma saya Allah... mari masuk-masuk semuanya, Mas Azam masih ke masjid, baru saja," Ucap Silvira.


"Oh iya kah? Apa kita nyusul aja ya.." ucap Ammar.


"Bisa deh, belum iqamah juga masjidnya," ucap Silvira.


Ammar bersama Hendra, Benny, Hilmy, juga Salman dan Rayhan pergi ke masjid juga. Sedangkan yang lainnya masuk ke dalam rumah.


"Kita duduk di ruang tengah aja yuk, nti cowok-cowok biar di ruang tamu, mau sholat juga sekalian?"


"Iya, kita sholat dulu aja yuk," ajak Arum dan yang lainnya setuju.


"Kalian bisa wudhu di situ kamar mandinya, aku panggil Ibu dulu ya, biar ikut sholat sekalian, santai aja ya," ucap Silvira agar tamunya merasa nyaman.


Silvira segera pergi ke kamar bayinya untuk menemui Ibu mertuanya.


"Bu, itu tamunya sudah datang, yang laki-laki nyusul ke masjid, yang perempuan bersiap sholat juga, kalau Ibu mau ikut berjamaah sekalian saya bisa jagain Fatimah," ucap Silvira kepada ibu.


"Oh iya, enaknya ibu ikut sholat sekalian ya, Fatimah juga lagi tidur ini," sahut ibu.


Mereka berdua segera keluar kamar, Ibu menuju mushola tempat mereka sholat, sedangkan Silvira mendorong baby stroller Fatimah menuju dapur, dan menyiapkan minuman lagi karena yang tadi dirasa masih kurang.


"Jadi kalian ini teman-temannya Azam dan Silvi?" tanya Ibu selepas sholat bersama mereka.


"Iya Bu," sahut Naura.


"Ohh, kenalkan saya Ibunya Azam, sudah lama kalian kenal mereka?" tanya Ibu sambil menggiring mereka ke ruang tengah.

__ADS_1


"Kalau Mas Azam sudah lama juga, kalau Mba Silvi baru pas mereka mau nikah, saya yang menjodohkan mereka Bu," sahut Arum.


"Oh iya kah? Eh silakan duduk," ucap Ibu sambil mempersilahkan mereka duduk di ruang tengah.


"Iya Bu, terima kasih," ucap Naura dan Asfi seraya duduk bersama anak mereka.


"Iya Bu, Mba Silvira itu teman kuliah Mas Ammar, Mas Hendra, dan Mas Beny, sejak lulus kuliah mereka ndak pernah ketemu, dan waktu bertemu dengan kami, Mba Silvira lagi cari ayah buat Farhan dan Fahri, jadi kami jodohkan dengan Mas Azam yang baru bercerai," ucap Arum menjelaskan kepada Ibu Azam.


"Oh begitu, takdir Allah memang begitu indah ya, Ibu sangat bersyukur, Azam sekarang sudah terlihat sangat bahagia, ma syaa Allah, ini karunia Allah, juga karena bantuan kalian yang menjodohkan mereka," ucap Ibu.


"Wah lagi ngomongin apa ini, kelihatannya seru sekali," ucap Silvira yang datang dari dapur bersama baby Fatimah.


Silvira mendorong kereta bayi itu sampai di dekat ibu lalu kembali ke perbatasan ruang tengah dan ruang makan untuk menutup tirai pembatas, agar tamunya merasa nyaman bisa melepas cadar mereka tanpa terlihat dari ruangan lain.


"Ngomongin kamu," sahut ibu.


"Hah, iya kah? Eh cadarnya bisa dilepas biar nyaman," ucap Silvira. Dan ketiga tamu wanita dewasa itu hampir bersamaan melepas cadar mereka.


"Itu, ternyata Nak Arum ini yang menjodohkanmu dengan anak Ibu," ucap Ibu.


"Oh... iya Bu," ucap Silvira sambil tersenyum mengingat dulu berkenalan dengan Azam.


"Waalaikumusalam," jawab yang di rumah.


"Itu mereka sudah datang, suruh makan duluan aja, sudah kamu siapkan tadi?" tanya Ibu.


"Sudah Bu, sebentar saya bilangin Mas Azam supaya mengajak mereka makan duluan," ucap Silvira yang mengenakan kembali cadarnya dan menuju balik tirai untuk menemui suaminya.


"Silakan duduk dulu ya," ucap Azam kepada tamunya agar duduk di ruang tamu bersama ayah, sedangkan para bocah bermain di halaman belakang.


Azam ke ruang makan mencari Silvira yang kebetulan baru keluar dari ruang tengah.


"Beib,"


"Iya Mas, kalian makan duluan aja, ini udah aku siapin," ucap Silvira.


"Hmm, iya sayang, makasih ya sudah siapin ini semua," ucap Azam sambil mendekat dan merengkuh pinggang istrinya itu.


"Ehem... puasa dulu Zam puasa, baru lahiran tuh bini," goda Ammar yang berjalan menuju kamar mandi melewati mereka.


"Awas lu Bro," ucap Azam sambil tertawa, Silvira pun memerah pipinya karena malu.

__ADS_1


"Udah makan dulu sana, ambil trus dibawa ke belakang, dekat kolam, biar istri mereka gantian makan juga," ucap Silvira.


"Baik Beib," Azam mengelus jemari Silvira yang ada di genggamannya.


"Aku kembali dulu ya, Fatimah juga waktunya minum," pamit Silvira, Azam mengecup jemari istrinya itu dan melepaskannya agar sang istri bisa kembali menemani tamu mereka.


"Ma syaa Allah lucunya Fatimah," ucap Asfi yang menggendong Fatimah yang rupanya terbangun.


"Mirip siapa nih, campuran kayanya, perpaduan Mas Azam sama Mba Silvi, Mas Azam pasti seneng ini, jadi princess kamu nak," Ucap Arum sambil gemes-gemes pengen gigit baby Fatimah.


"Iya seneng, tapi alhamdulillah masih sama sayangnya buat si kembar juga," sahut Silvira.


"Harus itu, anak kembar itu juga cucu Ibu," imbuh Ibu.


Para lelaki sudah mengambil makan dan memakannya di tepi kolam sambil melihat Fahri Farhan bersama Salman dan Rayhan bermain.


"Itu sepertinya mereka sudah selesai ambil makannya, makan gih Mba biar aku yang bawa Fatimah, jamnya minum ini," ucap Silvira sambil meraih bayinya dengan hati-hati, lalu segera menyusuinya.


Para tamu wanita bersama ibu menuju meja makan untuk mengambil makanan dan kembali ke ruang tengah.


Di halaman belakang, mereka berbincang setelah makan, ayah pamit ke kamar atas untuk istirahat.


Azam terlihat bahagia bersama teman-temannya.


"Seneng banget Zam," ucap Beny.


"Iya se senang itu aku, akhirnya ngerasain juga punya bayi," ucap Azam yang masih tersenyum lebar.


"Sebahagia itukah punya anak mas? Jadi pengen juga," tanya Hilmy.


"Jangan macem-macem Hilmy,, nikah dulu," cetus Hendra.


"Iya itu maksudnya, mau nikah dulu," sahut Hilmy.


"Emang udah ada calonnya?" tanya Ammar.


"Belom sih, cariin dong Mas," sahut Hilmy.


"Cari yang bagaimana Hilmy?" tanya Azam.


Begitulah mereka berlima, di kantor mereka satu ruangan, ketika di luar mereka berteman, bermain, dan datang ke kajian bersama. Azam yang lebih tua tiga tahun dari Ammar, Beny, dan Hendra sama sekali tidak terlihat tua di antara mereka, namun Hilmy yang lebih muda setahun dari Ammar, Hendra, dan Beny, dan empat tahun dari Azam, menjadi adik bagi mereka, ma syaa Allah, indahnya persahabatan mereka.

__ADS_1


__ADS_2