
Seusai cuci piring dan mengelap meja, kedua bocil itu menghampiri Ummanya yang sedang menunggu Abatinya membeli susu.
"Umma sakit ya?" tanya Fahri sambil memijit kaki Silvira yang sedang berbaring di sofa ruang keluarga.
"Iya, Umma kok muntah-muntah, salah makan ya?" Farhan menimpali, tangan mungilnya juga memijit-mijit tangan Silvira.
"Hmm, nggak sayang, abang dan kakak pengen punya adik kan?" ucap Silvira sambil tersenyum ke arah dua buah hatinya.
"Iya Umma," sahut mereka berdua, sambil terus memijat dan merasa khawatir dengan Ummanya.
"Kalian selalu berdoa kan, minta adik sama Allah?" tanya Silvira.
"Tentu," jawab Fahri sang abang.
"Alhamdulillah, Allah telah mengabulkan doa kita, doa abang, kakak, abati, juga umma, sekarang ada adik bayi di perut umma," ucap Silvira.
"Hmm iyakah? Kok perut Umma kecil gak gede?" tanya Farhan yang masih heran.
"Iya belum kelihatan sayang, karena adik bayinya masih sangat kecil, keciil sekali," jawab Silvira.
"Masih lama jadinya ya Umma?" tanya Fahri.
"In syaa Allah adik bayi lahirnya enam bulan lagi," jawab Silvira.
"Waah masih lama juga ya... padahal aku sudah gak sabar pengen ketemu adik bayi," Farhan terlihat lesu mendengar jawaban Ummanya.
"Ya sabar lah kak, gitu juga sudah Allah kabulkan doa kita, jadi perlu sabar menunggu adik tumbuh dulu di perut Umma," si abang Fahri nampak lebih bisa bersabar.
"Assalamualaikum, lagi ngomongin apa nih?" Azam yang baru tiba dari mini market menyapa mereka.
"Waalaikumusalam," jawab mereka.
"Aku kasih tahu kalau mereka mau punya adik bayi," jawab Silvira.
"Ooh, kalian senang mau punya adik bayi?" tanya Azam sambil berjongkok dan melebarkan kedua tangannya berharap kedua bocah kembar itu menghampirinya. Dan benar saja keduanya melompat ke pangkuan Azam.
"Karena doa kita sudah dikabulkan, sekarang doanya ganti, minta kesehatan dan keselamatan umma dan adik bayi, ya anak sholihnya abati," ucap Azam dengan penuh kasih kepada kedua anak sambungnya itu.
__ADS_1
"Baik Abati," sahut mereka nyaris bersamaan.
"Sayang..." Silvira memanggil Azam.
"Iya Beib," sahut Azam sambil mendongak ke arah Silvira.
"Susu aku mana?" tanya Silvira yang sedari tadi ingin minum susu.
"Oh iya, sebentar, kalian di sini dulu ya sama Umma, abati buatkan umma susu dulu,"
"Iya abati," sahut bocah kembar itu seraya turun dari pangkuan Azam dan kembali memijat kaki dan tangan Silvira lagi.
"Mas, pakai es batu ya," seru Silvira melihat Azam yang akan melangkah menuju dapur, Azam pun menghentikan langkahnya dan mengacungkan jempol pertanda ok.
Azam membuka kantong kresek yang dibawanya tadi dari minimarket, dia mengeluarkan susu ibu hamil dan kuaci yang dipesan Silvira, juga eskrim untuk kedua anaknya. Tak lupa ia membeli beberapa bungkus biskuit untuk camilan Silvira kalau mual. Sebelumnya dia melihat artikel di internet tentang ibu hamil, dia mencari info sebanyak-banyaknya karena ia harus menjadi suami siaga bagi Silvira.
Dia membaca cara membuat susu di kotak susu, kemudian mengikutinya, dan menambahkan sedikit es batu sesuai permintaan Silvira tadi. Kemudian mengambil tiga mangkuk kecil beserta sendoknya untuk memakan eskrim bersama si kembar. Selanjutnya dia memindahkan biskuit ke dalam toples kecil seperti yang dilakukan Silvira biasanya. Menaruh semuanya di atas nampan kemudian membawanya untuk ia nikmati bersama istri dan anak-anaknya.
"Pesanan datang," ucap Azam ala-ala pramusaji restoran.
"Ini susu Umma,"
"Ini eskrim buat dua jagoan abati, hadiah karena kalian sudah bantu abati bersih-bersih halaman, dan jagain umma waktu abati tinggal ke minimarket,"
"Alhamdulillah...!!" si kembar berseru kegirangan.
Silvira meminum susu yang dibuatkan Azam, dia menghabiskan hampir setengah gelas, kemudian menikmati kuaci yang ingin dimakannya dari tadi. Sedangkan si kembar menikmati eskrim bersama Azam.
"Mas jangan banyak-banyak makan reskrimnya, ntar buncit lhoh perutnya..." ucap Silvira mengingatkan Azam.
"Hmm, iya, cuma pengen aja makan eskrim bareng mereka, tapi kayaknya nti malam ada yang janji nemenin olahraga kok," sahut Azam sembari menggoda istrinya. Spontan Silvira langsung terkejut kemudian tersenyum ke arah Azam.
"Kakak juga mau olahraga biar badannya bagus kaya abati," celetuk Farhan.
"Iya Kak, Abang juga mau?" tanya Azam.
"Iya Abati,"
__ADS_1
"Kalian belum boleh olahraga berat seperti Abati, mungkin nanti kalau sudah lulus SMP baru boleh,"
"Oh, gitu," sahut Fahri.
"Kalau gitu, kita bolehnya olahraga apa Abati?" tanya Farhan.
"Ya yang masih ringan, lari, main badminton, lompat tali, seperti itu saja, tapi yang paling penting, jangan malas menggerakkan tubuh, kalian bisa merapikan tempat tidur sendiri, mencuci piring makan kalian, seperti itu saja juga sudah menjaga badan kalian tetap sehat dan bugar," Azam menjelaskan panjang lebar.
Silvira tersenyum melihat interaksi mereka, sejak awal bertemu, mereka sudah sangat saling menyukai, Azam sendiri ataupun si kembar.
Silvira menghabiskan susunya hingga tetes terakhir kemudian membawa gelas kosongnya ke dapur tanpa disadari oleh para lelaki kesayangannya itu. Di dapur dia mengambil beberapa buah apel manalagi yang dia bawa dari rumah mertuanya, dia mencuci dan mengeringkannya. Sambil mengamati suami dan anak-anaknya, entah apa yang mereka bicarakan sampai mereka tertawa lebar.
Selesai mengelap apel-apel itu, Silvira membawanya kepada keluarga kecilnya itu.
"Yuk dimakan dulu apelnya," ucap Silvira sambil meletakkan piring berisi apel di tengah mereka.
"Wah, jazaakillaahu khayran Umma," seru mereka bertiga seraya berebut mengambil apel dari piring. Apel berwarna hijau segenggam tangan itu sangat manis mereka makan beserta kulitnya, menyisakan bagian tengah berbijinya saja.
Azam sangat bersyukur bisa diterima di tengah mereka, dia berharap ini semua tidak akan berkahir, dia berada di tengah mereka selamanya.
"Umma, ini hari libur, kita gak jalan-jalan?" tanya Fahri.
"Hmm, perut Umma masih gak enak sayang, apa kalian jalan-jalan sama abati saja?"
"Tapi kasihan Umma kalau di rumah sendirian," sahut Farhan.
"Iya sih, ya udah kita main di rumah saja, hampir lupa, abati punya sesuatu buat kalian," ucap Azam sambil berlari kecil menuju Range Rover nya, dia membuka bagian belakang mobil itu dan mengeluarkan kotak pipih besar, dan segera membawanya ke ruang keluarga setelah menutup dan mengunci kembali mobilnya.
Fahri dan Farhan juga Silvira penasaran apa isi kotak itu. Azam dengan sigap membukanya dan mengotak-atik isinya. Dan jadilah...
"Tara...!!" seru Azam.
"Waah tenda.." ucap Fahri. Sedangkan Farhan tetap melongo.
Mereka tak nenyangka Azam membelikan tenda dalam rumah. Kedua bocil itu segera berlari ke dalamnya. Dan tiduran di sana.
Azam tersenyum lebar melihat dua anak itu senang akan hadiahnya. Dia duduk di sofa melihat kajian di tv, sedangkan Silvira tidur di pangkuannya.
__ADS_1