
"Kalian bisa istirahat di kamar tamu di dekat ruang makan," ucap Silvira.
"Kalian santai aja, kami ke atas duluan ya," ucap Azam.
Aditya dan Silvia juga memasuki kamar tamu yang dimaksudkan.
Sesampainya di kamar, Azam segera mandi karena seperti biasa, dia paling tidak tahan dan merasa gerah. Sedangkan Silvira berganti baju dengan daster mini warna kuning, mencepol rambutnya ke atas dan membongkar koper Azam. Dia mengambili baju Azam yang kotor, namun waktu mengambil jaket, baunya harum, namun Silvira tahu ini bukan parfum suaminya.
Silvira membawa pakaian-pakaian kotor itu ke kamar mandi, karena mesin cucinya ada di sana. Terlihat Azam sedang berendam di bathub. Silvira segera memasukkan pakaian yang ada di tangannya ke dalam mesin cuci. Kemudian menghampiri Azam yang tidak sadar akan kehadirannya karena Azam sedang terpejam.
Silvira mendekat ke arah Azam, dia berjongkok di dekat bathub dan mulai memijat bahu suaminya itu. Azam membuka matanya dan tersenyum kepada istrinya itu.
"Hey Beib,, mau gabung?" tanya Azam.
"No, cuma pengen mijat Mas, membuat Mas nyaman dan rileks," ucap Silvira.
"Okay," ucap Azam yang kembali memejamkan matanya dan menikmati pijatan Silvira.
"Sayang," panggil Silvira.
"Hmm, what?" tanya Azam.
"Tadi, pas aku ambil jaket Mas, kok baunya parfum, tapi bukan parfum Mas atau parfumku," ucap Silvira pelan-pelan agar suaminya tetap pada mood yang bagus.
"Iyakah?" tanya Azam kembali, namun dia tetap terpejam.
"Iya, nih," ucap Silvira sambil mengangkat jaket yang dimaksud. Azam membuka matanya dan menegakkan badannya. Lalu mengambil jaket dari tangan Silvira, dia cium, baunya memang bukan parfumnya, dia melihat-lihat jaket itu memastikan tidak tertukar dengan orang lain. Azam mengingat-ingat lagi.
"Oh iya, aku baru ingat Beib,, waktu berangkat aku selimutkan ke Nania, kamu tahu kan kenapa aku melakukan itu," ucap Azam.
"Oh, begitu," sahut Silvira, dia paham suaminya melakukan itu bukan karena dia perhatian pada Nania, tapi semata-mata agar tidak melihat paha Nania yang terlihat setengah itu.
"Mas, buruan, gantian mandinya, aku juga pengen berendam," ucap Silvira.
__ADS_1
"Kenapa nunggu gantian kalau mandi bersama itu bisa? Dapat bahagianya, dapat juga pahala sunnah nya, yuk masuk sini," ucap Azam sambil menggeser duduknya.
Selesai mandi, mereka berganti pakaian, Azam bersiap untuk ke masjid, sedangkan Silvira bersiap ke bawah untuk sholat bersama Silvia.
"Mas," ucap Silvira sambil mengancingkan baju Azam.
"Ya Beib,," sahut Azam.
"Tadi itu Nania minta tolong aku buat ngajarin dia sholat dan membaca Alquran, tapi aku bilang mau bicara dulu sama Mas," ucap Silvira.
"Ehm, kalau menurutmu bagaimana?" tanya Azam.
"Kalau setahuku, mengajarkan orang sholat itu akan dapat pahalanya juga, dan kalau mengajarkan alquran bisa dapat pahala setiap huruf yang dia baca tanpa mengurangi pahala murid tersebut, jadi aku ingin sih, tapi aku takut salah, aku takut sesuatu terjadi diantara kita Mas," ucap Silvira.
"Iya sayang, jangan pertaruhkan pernikahan kita, kalau dia sering ke sini otomatis Mas juga akan sering bertemu dengannya, Mas juga manusia biasa, yang bisa tergoda, jadi kita tutup kemungkinan itu terjadi dengan menolak permintaannya," ucap Azam.
"Terus apa nanti alasan aku menolaknya?" tanya Silvira.
"Biar aku yang cari alasannya nanti, dan juga kalau kamu pengen pahala-pahala yang kamu sebutkan tadi, in syaa Allah bisa sayang," lanjut Azam.
"Al Ummu madrasatul ula, artinya seorang ibu adalah sekolah pertama untuk anaknya. Kamu yang akan mengajari anak-anak kita kelak, bukan hanya sholat dan membaca Alquran, tapi juga segala ilmu kehidupan. Raup sebanyak-banyaknya pahala dari merawat dan mendidik mereka, kamu tahu kan Mas pengen kamu melahirkan banyak anak dari Mas," ucap Azam.
"Iya Mas, semoga Allah mudahkan, aamiin," ucap Silvira.
"Turun yuk, sudah Adzan tuh," ajak Azam. Silvira pun mengikuti Azam keluar kamarnya.
"Eh masuk lagi kamu," buru-buru Azam mendorong Silvira masuk ke kamar lagi.
"Kenapa Mas?" tanya Silvira bingung.
"Ada Aditya di bawah, kamu belum pakai jilbab dan kaos kaki," ucap Azam.
"Oh iya,"ucap Silvira yang segera memakai jilbab dan kaoskaki.
__ADS_1
"Banyak orang menganggap ipar adalah mahram, tapi itu bukan sayang, ipar bukan mahram kita," ucap Azam.
"Iya Mas," sahut Silvira.
Azam mengajak Aditya sholat ke masjid, sedangkan Silvira sholat berjamaah bersama Silvia di rumah.
Selepas sholat mereka berkumpul di dapur, Azam dan Silvira memasak makan malam dan Aditya dan Silvia menonton mereka dari bangku bar. Azam memarinasi daging ayam, dan membuat saus, sedangkan Silvira mengukus kentang dan sayuran sebagai pelengkap.
"Kalian mau makan pakai nasi apa kentang kukus?" tanya Silvira kepada kedua tamunya.
"Kentang sepertinya lebih enak," ucap Silvia.
"Iya, kentang aja Mba," sahut Aditya.
"Maa syaa Allah, kalian ini sangat serasi, sering masak barengan?" tanya Aditya.
"Nggak juga, kalau makan malam gini gantian, yang satu masak, yang satu ngajarin anak-anak mengaji," sahut Azam.
Aditya tersenyum bahagia, melihat kakak iparnya jauh lebih bahagia sejak ditinggalkan mas Adam kakaknya meninggal, Aditya juga lega bahwa lelaki pengganti kakaknya itu adalah lelaki yang baik yang sangat menyayangi mba Rosa dan anak-anak mas Adam.
"Sudah Isya, kita ke masjid dulu yuk Mas Aditya, nih tinggal grill steak nya aja," ucap Azam. Silvira juga mengajak Silvia sholat isya terlebih dahulu.
Sepulang dari masjid, Azam memanggang daging ayam itu, sedangkan Silvira menyiapkan sayuran pelengkapnya, menatanya di piring-piring bulat ceper. Kemudian dia memblender strawberry dan mencampurnya dengan susu menjadikannya milkshake strawberry, menuangnya dalam gelas-gelas tinggi. Aditya kemudian mengambil gelas-gelas itu dan menatanya di atas meja makan.
Azam juga selesai memanggang daging ayam, dia tata di samping wortel dan brokoli kukus yang ditata Silvira, kemudian menuangkan saus di atasnya, dan membelah kentang menjadi empat bagian dan menaburinya dengan lada dan garam himalaya, lalu menaruhnya di piring-piring yang sama tadi. Silvia mengambil satu-persatu piring itu dan menatanya di atas meja makan.
Mereka pun makan bersama, ini pertama kalinya Aditya dan Silvia makan malam di rumah namun menunya menu restoran. Jadi mereka terlihat sangat bahagia dan menikmati masakan Azam dan Silvira itu.
"Rumah ini sepi ya, aku kangen banget sama Fahri Farhan," ucap Azam.
"Iya Mas, sudah gak sabar pengen ketemu mereka," imbuh Silvira.
"Mba Rosa, betapa Allah sayang padamu, Allah mengirimkan mu suami yang maa syaa Allah, yang menyayangimu dan keponakanku dengan tulus," ucap Aditya.
__ADS_1
"Hmm, jangan bilang begitu, nanti bisa terbang dia karena pujianmu," sahut Silvira. Azam jadi tertawa mendengarnya.