
Hari ini Azam sudah mulai bekerja, si kembar juga kembali sekolah. Silvira paling sibuk pagi ini. Mulai memasak sarapan, menyiapkan bekal dan snack untuk mereka juga.
"Yuk, yuk yuk berangkat," ucap Azam sambil melihat jam di tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 06.30, itu artinya mereka harus segera berangkat.
"Iya Mas sebentar, aku pakai niqab dulu," ucap Silvira sambil menyambar cadar di kursi makan dan memakainya, kemudian berlari ke arah anak-anak dan suaminya yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Ini tas bekal kalian, dihabiskan ya," ucap Silvi sambil menyerahkan satu tas bekal untuk Azam dan satu lainnya untuk si kembar.
"Baik Umma," sahut si kembar, sedangkan Azam tersenyum dan mengangguk mengerti.
Silvira yang menyetir karena kaki Azam belum begitu kuat. Ia mengantarkan si kembar terlebih dahulu ke sekolah.
"Umma.." ucap Farhan.
"Iya sayang," sahut Silvira sambil menyetir.
"Kami pengen dikhitan," ucap Fahri. Rupanya semalam si kembar telah berdiskusi.
"Hmm kenapa tiba-tiba pengen khitan?" tanya Azam sambil menengok ke belakang.
"Hampir semua teman di sekolah sudah khitan Abati," sahut Fahri.
"Iya, bahkan Khalid sama lima kakak adiknya itu dari bayi sudah khitan," imbuh Farhan.
"Beneran sudah berani?" tanya Silvira.
"Nanti pas waktunya, kabur," goda Silvira.
"Iya Umma beneran kok," jawab Farhan.
"Gimana Mas?" tanya Silvira pada Azam.
"Kalian bisa bersabar sebentar ya," pinta Azam.
"Kenapa Abati?" tanya Fahri.
"Nunggu Abati bisa baikan sedikit lagi, paling gak bisa nyetir mobil sendiri," jawab Azam.
"Memangnya kenapa Mas?" tanya Silvi.
"Ya kasihan kamu nanti, jadi semakin repot ngurus kita bertiga," jawab Azam.
__ADS_1
"Aku sih gak papa Mas," ucap Silvira.
"Jangan, jangan, nanti kamu pasti kecapekan," sahut Azam.
"Kalian bisa nunggu sebentar lagi kan?" tanya Azam kepada si kembar.
"Baik Abati," sahut keduanya.
Merekapun sampai di sekolah si kembar, setelah menurunkan keduanya, Silvira melajukan mobilnya ke arah kantor Azam.
"Mas, nanti jam makan siang aku ada rapat sama rekanan, mau ada produk baru, Mas ikut ya, biar sekalian belajar." ucap Silvira kepada suaminya.
"Dimana pertemuannya?" tanya Azam.
"Awalnya sih di cafe sebelah klinik, tempat Mas minta ta'aruf dulu," jawab Silvira sambil tersenyum mengingat kejadian dulu.
"Tapi aku pindah ke cafe dekat kantor Mas saja biar gak kelamaan di perjalanan, waktu Mas kan terbatas
"Iya, baik beib," ucap Azam.
"Ok Mas, nanti aku jemput ya in syaa Allah," sahut Silvira sambil membelokkan mobil mereka di halaman kantor Azam, Silvira mencium punggung tangan Azam, kemudian Azam mengecup kening Silvira, dan mereka berpisah di sana.
Azam masuk ke dalam kantor setelah melihat mercy Silvira pergi.
"Waalaikumusalam," jawab Azam.
"Gimana sudah kuat buat kerja?" tanya Azam.
"Alhamdulillah," sahut Azam. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruangannya, para pegawai yang lain menyapa Azam yang lama tidak bekerja karena cuti sakit itu.
Silvira sampai di klinik kecantikan, dia memarkir mobilnya namun tidak langsung keluar. Dia memandangi gedung berlantai tiga peninggalan suaminya Rahimahullah. Sepeninggal Adam papanya si kembar, Silvira menghabiskan hari-harinya di klinik ini, menenggelamkan dirinya dalam kesibukan, berkunjung ke cabang satu ke yang lainnya di luar kota. Namun kini dia sudah menikah, ada kewajiban dan tanggung jawab baru yang dia emban, yaitu menjadi seorang istri.
Dan sesuai kesepakatan, Azam akan membantunya mengelola klinik ini, dan otomatis Silvira tidak sering-sering lagi datang ke klinik, apalagi jika nanti dia sudah punya bayi.
"Tok..tok..tok..!" seseorang mengetuk kaca jendela Silvira membuyarkan lamunannya. Rupanya Pak Burhan satpam kliniknya yang mengetuk.
Silvira kemudian membuka pintu mobil dan keluar.
"Iya Pak ada apa?"
"Assalamualaikum Bu Silvi," sapa Pak Burhan.
__ADS_1
"Waalaikumusalam," jawab Silvira.
"Itu tadi saya nunggu Ibu kok gak keluar-keluar, saya takut Ibu sakit atau kenapa," kata Pak Burhan.
"Oh, nggak kok Pak, tadi saya cuma pengen duduk dulu di dalam mobil, masih pagi juga," sahut Silvira.
"Oh begitu, saya kira kenapa, eh iya Bu, suami Ibu bagaimana?" tanya Burhan.
"Alhamdulillah, ini tadi sudah mulai bekerja lagi, saya ke dalam dulu ya Pak," ucap Silvira sambil berjalan menuju pintu masuk kliniknya. Dia bertemu Ryan petugas kebersihan sekaligus penjaga malam klinik kecantikan ini. Ryan menempati mess yang ada di lantai tiga.
"Assalamualaikum Ryan," Sapa Silvira.
"Waalaikumusalam Bu," jawab Ryan yang sedang bersih-bersih lobi depan. Silvira segera memasuki ruangannya.
Silvira merasa tidak enak badan, pinggang belakangnya terasa sakit, dia memijit-mijit pinggangnya dengan satu tangan, gejala akan datang haid pikirnya. Tapi dia mengingat-ingat kembali seharusnya haidnya datang dua pekan yang lalu. Silvira terkejut dan mengambil tes kehamilan yang dia beli beberapa hari yang lalu ketika menebus resep obat Azam.
"Masa iya aku sudah hamil," gumamnya sambil ke kamar mandi di sudut ruangannya. Silvira cemas menunggu hasilnya, dia memandangi alat tes kehamilan itu. Dan hasilnya, satu garis... dua garis.. Silvira terbelalak matanya melihat dua garis pink itu.
"Alhamdulillah, alhamdulillah, Ya Allah," ucapnya menitikkan air mata bahagia. Dia segera keluar kamar mandi, dan mengambil ponselnya hendak menelpon suaminya. Tapi kemudian dia mengurungkan niatnya.
"Nanti sajalah sepulang kerja aku kasih tahu langsung, penasaran sama ekspresinya mendengar kabar ini," ucap Silvira sambil tersenyum-senyum.
Siang harinya, sesuai janjinya tadi dia rapat dengan rekanan bersama Azam, mereka rapat di restoran dekat kantor Azam. Rapat itu mengenai pengadaan produk baru. Azam banyak belajar dari rapat ini, dia jadi tau tentang produk klinik.
Sore hari pukul setengah empat, Silvira menjemput Azam. Dia menyetir sambil meringis kesakitan di perutnya.
Azam yang melihat mobil istrinya segera menghampirinya. Azam melihat Silvira menyandarkan kepalanya di atas kemudi. Dia segera mengetuk kaca jendela mobil itu.
"Sayang, kenapa kamu? Buka pintunya gih," ucap Azam merasa khawatir. Silvira membuka pintu mobilnya. Dia terlihat pucat dan berkeringat walaupun suhu di dalam mobil itu sangat dingin.
"Mas," rintihnya.
"Kamu kenapa Beib," tanya Azam.
"Perut aku sakit banget," sahut Silvira sambil meringis menahan sakit.
"Sakitnya gimana? Kita ke Rumah Sakit ya," ucap Azam.
"Nggak Mas, kita pulang aja, ini kayaknya aku pipis, kok bawahku basah semua," ucap Silvira.
"Ya udah, ayo kamu pindah ke sana, biar Mas yang nyetir," ucap Azam sambil meraih pundak Silvira membantunya bangkit, ketika Silvira berhasil berdiri, Azam terkejut melihat kursi kemudi yang basah oleh darah. Namun ia diam saja, takut Silvira panik.
__ADS_1
"Mas, sakit banget perut aku," lirih Silvira yang kemudian pingsan.
"Beib, kamu kenapa?" Azam menjadi panik.