Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#33


__ADS_3

"Mas, sakit banget perut aku," lirih Silvira yang kemudian pingsan.


"Beib, kamu kenapa?" Azam menjadi panik. Ia sekuat tenaga menggendong Silvira ke kursi penumpang, kakinya yang belum pulih benar dikuat-kuatkannya.


"Kenapa Zam?" tanya Ammar yang menghampiri Azam yang terlihat buru-buru membersihkan darah di kursi kemudi.


"Ini Silvira pingsan, sepertinya dia perdarahan, aku harus membawanya ke Rumah Sakit," sahut Azam sambil menggosok-gosok tissue basah ke kursi itu.


"Mar, aku minta tolong bawa si kembar pulang dari sekolah ke rumahmu dulu ya," ucap Azam kemudian.


"Iya, kamu jangan khawatir dengan si kembar. Tapi apa kamu sudah bisa menyetir?" tanya Ammar.


"In syaa Allah bisa, aku harus cepat, aku duluan ya," ucap Azam sambil menutup pintu mobilnya dan buru-buru ke Rumah Sakit.


Kakinya memang sedikit kaku karena lama tidak menyetir, namun dia tetap berusaha segera sampai di Rumah Sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit, Silvira segera ditangani oleh suster dan dokter jaga. Azam menunggu di ruang tunggu.


"Keluarga Ibu Silvira.." panggil seorang perawat.


"Saya Sus, saya suaminya Ibu Silvira," ucap Azam sambil menghampiri perawat itu.


"Iya Bapak, dokter jaga ingin bertemu dengan anda, mari ikuti saya," ucap perawat itu. Azam hanya menurut mengikuti perawat itu.


"Anda suami Bu Silvira?" tanya dokter jaga.


"Iya Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Azam.


"Iya, istri bapak mengalami perdarahan, tadi juga mengeluh perutnya sakit, saat ini sudah kami berikan anti nyeri. Cuman tes kehamilannya positif. Namun karena adanya perdarahan dan nyeri perut, maka ibu Silvira perlu kami observasi lebih lanjut, apakah ada komplikasi di dalam rahimnya, ini tadi juga kami konsultasikan ke dokter kandungan, dan beliaunya sekarang dalam perjalanan kemari," kata dokter jaga itu.


"Jadi istri saya hamil Dok?" tanya Azam.


"Belum tentu, nanti dokter kandungannya yang akan menjelaskan lebih lanjut," jawab dokter jaga.


"Kalau begitu, saya boleh menemui istri saya Dok?" tanya Azam. Dokter itu mengangguk mengiyakan.


Azam segera menemui Silvira, terlihat istri kesayangannya itu terbaring lemah.


"Sayang," ucap Azam sambil menggenggam tangan Silvira. Perlahan Silvira membuka matanya.


"Mas, aku kenapa?" tanya Silvira yang masih bingung.


"Kamu pingsan tadi, perutmu sakit dan kamu kehilangan banyak darah," jawab Azam.

__ADS_1


"Apa aku keguguran Mas?" tanya Silvira.


"Belum tahu, kita tunggu dokter kandungannya dulu, beliau masih perjalanan kemari," ucap Azam.


"Memangnya kamu hamil?" tanya Azam.


"Tadi pagi aku pakai tes kehamilan, hasilnya positif, mau kasih kejutan Mas sore ini, gak taunya.."


"Iya Mas benar-benar terkejut beib,"


Tak lama kemudian dokter kandungan datang bersama seorang bidan yang membawa alat usg.


"Assalamualaikum Bapak, Ibu, saya dokter Rina, saya yang akan menangani Ibu Silvira," ucap dokter Rina.


"Iya Dok, silakan, apa saya boleh ikut melihat Dok?" tanya Azam.


"Iya Pak boleh, baiklah kita mulai ya," ucap Dokter Rina, sambil memulai usg pada Silvira. Dokter itu cukup lama memeriksa. Setelah selesai kamudian dia mulai menjelaskan kepada Azam dan Silvira.


"Jadi ibu Silvira ini mengalami kehamilan ektopik,"


"Apa itu Dok?" tanya Azam.


"Kehamilan yang terjadi ketika telur yang dibuahi diimplan di luar uterus. Jadi telur yang telah dibuahi tidak dapat bertahan hidup di luar uterus. Dan jika dibiarkan tumbuh, kondisi ini dapat merusak organ terdekat dan menyebabkan kehilangan darah yang mengancam jiwa. Melihat keadaannya Ibu Silvira harus segera dioperasi, bagaimana Bapak? Kalau setuju selepas Maghrib kita akan lakukan," ucap Dokter Rina.


"Bismillah, kita ikuti kata Dokter ya sayang," ucapnya.


"Baik Mas," ucap Silvira dengan matanya yang sayu namun tetap berusaha tersenyum agar suaminya tidak terlalu cemas.


"Baik Dok, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya," ucap Azam.


Selepas Maghrib sesuai yang direncanakan Silvira dioperasi. Azam menunggu dengan cemas. Namun dia berdzikir agar lebih tenang. Azam kemudian menghubungi Amir kakaknya, dan Aditya adik ipar Silvira, untuk meminta bantuan doa agar operasi berjalan lancar dan Silvira bisa selamat dan pulih kembali.


Azam terus menunduk berdoa untuk istrinya, sampai-sampai tak sadar ada Ammar yang datang menemaninya. Ammar mengelus punggung Azam. Tersadar ada yang duduk di sampingnya, Azam menoleh.


"Assalamualaikum Zam," sapa Ammar.


"Waalaikumusalam, bro kamu di sini," sahut Azam.


"Iya, aku keluargamu di sini," ucap Ammar. Ammar tahu betul sahabatnya itu sedang butuh seseorang untuk menemaninya.


"Iya bro jazaakallahu khayran," ucap Azam.


"Wa jazaakallahu khayran," jawab Ammar. Keduanya pun terdiam dan berdoa dalam hati mereka untuk keselamatan Silvira yang masih berjuang di meja operasi.

__ADS_1


Dalam diamnya, Azam teringat di mana dirinya dan Silvira. Pernah berandai-andai suatu saat nanti ingin punya putri kecil.


Flash back...


Rintik hujan malam itu membuat malam semakin dingin sehingga mereka segera melompat ke kasur dan bersembunyi di balik selimut, Azam sengaja tidak menutup gorden pintu kaca menuju balkon agar mereka bisa melihat hujan dari dalam kamarnya.


Azam duduk bersandar pada sandaran kasur dengan Silvira yang bergelayut manja di dadanya.


"Mas,"


"Hmm, apa beib?" sahut Azam.


"Mas mau punya bayi?" tanya Silvira.


"Tentu.." jawab Azam singkat.


"Boy or girl,"


"Apapun itu, alhamdulillah," ucap Azam.


"Kalau diberi kesempatan memiliki bayi perempuan kita pasti sangat senang ya Mas,"


"Iya, dia akan cantik dan pintar sepertimu,"


"Kalau laki-laki.."


"Akan tampan sepertimu Mas, aku harap mereka menurun sifat baikmu juga, Hmm aku mau punya banyak anak Mas,"


Flash back off..


Azam menitikkan air mata mengenang itu semua. Ammar yang melihatnya langsung mengelus punggungnya.


"Kamu tahu Mar, dari dulu aku sangat menginginkan anak dari benihku sendiri, tapi sekarang Allah belum mengizinkannya," ucap Azam.


"Iya, aku tahu itu, bersabarlah, Allah pasti berikan yang lebih baik, menangislah sepuasmu sekarang, luapkan semuanya, tapi nanti di depan Silvira kamu harus kuat, dia pasti lebih terpukul dengan keadaannya," sahut Ammar.


"Iya Mar," lirih Azam.


"Kalian sama saja, dulu waktu Silvira menunggumu di depan pintu kamar operasi, dia begini juga, terlihat sama sedihnya denganmu, maa syaa Allah kalian begitu saling mencintai, semoga Allah terus mempersatukan kalian," ucap Ammar.


"Aamiin, iyakah.. Jadi sesedih ini juga dia menungguku," ucap Azam.


Pembicaraan mereka terhenti setelah pintu kamar operasi terbuka, dan muncullah dokter Rina, dokter kandungan yang menangani Silvira. Azam dan Ammar segera berdiri menghampiri dokter itu.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"


__ADS_2