
Selepas Isya, sesuai rencana, Azam mengajak keluarganya makan di luar, mereka makan di restoran ayam kampung terkenal di kotanya.
Azam telah mem- booking sebuah privat room untuk keluarganya. Mereka duduk melingkari meja makan lesehan itu, berbagai menu dengan bahan utama ayam kampung tersaji di atas meja. Ada ayam bakar madu, ada ayam kremes, ada ayam goreng lengkuas, lengkap dengan sambal dan lalapannya.
Silvira sibuk mengambilkan makanan untuk Azam, sementara Azam memperhatikan ibunya yang sedang melayani kedua bocah kembarnya. Azam merasa lega melihat wajah ibunya telah berubah menjadi lebih ceria, seakan tidak terjadi apapun. Dam Ayah yang sempat tegang sudah bisa santai menikmati makan malamnya.
Azam tahu ibunya sangat terluka melihatnya diceraikan Karina dulu, saking terluka dan kepikiran dengannya, waktu itu Ibu sampai sakit dan harus dirawat di rumah sakit.
"Buruan dimakan sayang, pumpung masih hangat," bisik Silvira di telinga Azam sehingga menyadarkan pikiran Azam.
"Apa mau disuapin?" tanya Silvira. Azam hanya tersenyum dan segera melahap makan malamnya.
"Ayah, Ibu, makan yang banyak, besok butuh tenaga ekstra untuk menjamu kerabat dan saudara," ucap Silvira.
"Baik Nak," sahut Ayah, sedangkan ibu hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
Silvira makan dengan lahap menutupi hatinya yang sedang khawatir juga, bagaimana proses khitan kedua putranya besok, dan juga janjinya yang dia ucapkan kepada ibu mertuanya tadi. Janjinya bahwa dia akan membuat Azam selalu bahagia. Dia sebaik mungkin berusaha menepati janji itu. Sama halnya dengan Azam yang berjanji akan selalu membahagiakan Silvira dan juga Fahri Farhan.
"Uti.. yang ini apa sih coklat-coklat, gurih rasanya?" tanya Fahri kepada Ibu, sambil menunjuk sesuatu di piringnya.
"Itu lengkuas sayang," jawab Ibu.
"Hmm iya enak, Umma kapan-kapan di rumah bikin ya," ucap Farhan.
"Iya sayang, in syaa Allah." jawab Silvira. Dia merasa tenang dan senang karena Ibu menganggap Fahri dan Farhan layaknya cucu kandung beliau sendiri.
Selesai makan malam, mereka segera kembali ke rumah.
Malam ini si kembar tidur di kamar tamu bersama Uti mereka, sedangkan Ayah mengalah dan tidur di kamar si kembar.
Dua sejoli Ammar dan Silvira juga sudah di kamar mereka.
"Mas.." panggil Silvira sambil mengoleskan pasta gigi di sikat giginya.
"Iya Beib," sahut Azam di sampingnya yang sudah gosok gigi duluan.
__ADS_1
"Bolehkah malam ini aku langsung tidur?" tanya Silvira kemudian mulai menggosok gigi. Azam masih belum bisa menjawab karena mulutnya masih penuh busa dari sikat gigi.
Azam heran, biasanya kalau tidak sedang sakit atau haid, setiap malam Silvira menawarkan dirinya, tapi malam ini dia meminta tidur duluan.
"Kenapa?" tanya Azam setelah berkumur. Silvira menghentikan sejenak sikat giginya untuk menjawab pertanyaan Azam.
"Aku gugup dan tegang Mas, besok bagaimana anak-anak," sahut Silvira.
Azam tersenyum melihat istrinya dari cermin di depannya, kemudian mencuci mukanya. Silvira juga menyudahi gosok giginya dan mencuci muka juga. Azam mengambil dua handuk kecil di laci dan memberikan satu kepada Silvira. Setelah mengeringkan mukanya, Azam berdiri di belakang Silvira dan menyandarkan dagunya di bahu kanan Silvira.
"Hmm kamu tegang, aku akan bikin rileks badan kamu," ucap Azam.
Hadeh, mulai nih, alamat gagal tidur duluan... batin Silvira.
****
Esok paginya selepas Subuh, Azam bersama anak istri dan orangtuanya berkumpul di ruang keluarga untuk membaca Al quran bersama-sama.
Bacaan Al'quran mereka menyejukkan hati dan rumah, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Silvira menyiapkan pakaian si kembar yang sedang mandi, kemudian sirwal dan kurta untuk Azam, dia juga berganti pakaian dengan setelan gamis serta cadar bandananya.
Pukul tujuh pagi, Azam dan Silvira serta Ayah membawa Fahri dan Farhan ke tempat dokter bedah untuk di khitan. Dia adalah Dokter Nasir yang juga merupakan teman Azam waktu SMA, sama-sama berasal dari kota apel juga.
Pukul setengah delapan, Amir dan Sofia serta Dhana putra mereka datang. Mereka disambut Ibu yang memang sengaja tinggal di rumah untuk menyambut tamu.
Petugas katering juga sedang menyiapkan meja dan makanan. Namun Karina tidak terlihat, entah ada pekerjaan lain atau dia takut bertemu Ibu Azam lagi sehingga bisa merusak acara Azam.
"Bu, maaf ini ada titipan dari Ibu Karina untuk Mas Fahri dan Mas Farhan, katanya maaf tidak bisa hadir mendampingi acara hari ini," ucap petugas katering kepada Ibu sambil menyerahkan dua kado kepada Ibu.
"Iya, baiklah, ucapkan terima kasih ya," sahut ibu sambil menerima kado-kado itu dan menyimpannya di kamar tamu.
Kira-kira pukul delapan si kembar dan mereka tadi yang mangantar tiba di rumah. Azam dan ayah memapah si kembar masuk ke dalam rumah. Mereka di dudukkan di sofa di ruang tengah. Ternyata semua keluarga sudah datang, termasuk keluarga dari papanya si kembar.
"Gimana boy sakit?" tanya Aditya.
__ADS_1
"Sedikit," sahut Fahri.
"Nangis gak?" tanya Amir.
"Gak dong," jawab Farhan.
Azam menengok ke belakangnya mencari Silvira yang tadi berjalan di belakang mereka, namun matanya tidak menemukan istrinya itu.
"Dia ke dapur," sahut ibu yang tahu anaknya itu mencari istrinya. Azam segera ke dapur menghampiri Silvira.
"Kamu kenapa Beib?" tanya Azam kepada Silvira.
Dahi Silvira berkeringat, mukanya pucat membuat Azam semakin bingung.
"Aku nyeri haid Mas, gak biasanya gini, mungkin karena stress, jadi lebih nyeri," sahut Silvira sambil duduk di bangku bar dan meminum air dari gelas di tangannya.
"Haid, tapi semalam kan.."
"Iya baru pagi tadi setelah mengaji keluarnya," ucap Silvira.
"Apa yang harus aku lakukan untukmu sekarang?" tanya Azam.
"Tolong temui saudara-saudara saja, aku gak papa, aku mau istirahat sebentar di kamar tamu," ucap Silvira.
"Baiklah, yuk aku antar Beib," ucap Azam kemudian membawa Silvira masuk ke kamar tamu.
Azam membaringkan Silvira di tempat tidur, kemudian mengusap perut bawah Silvira.
"Hmm maa syaa Allah, nyaman sekali Mas usapan mu," ucap Silvira.
"Kalau begitu, aku akan di sini saja mengusap perutmu sampai sembuh," ucap Azam.
"Jangan sayang, nanti dicari sama saudara-saudara, Mas keluar saja, minta tolong bu wati bikinkan susu jahe saja, aku mau minum itu," sergah Silvira.
"Baiklah, apa ada lagi yang dipingini?" tanya Azam sebelum beranjak.
__ADS_1
Silvira menggeleng, Azam dengan berat hati meninggalkan istrinya. Dia mengecup kening Silvira sebelum pergi. Dan...
"Astaga... kalian ngapain?"