Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#61


__ADS_3

"Oh itu," ucap Ammar yang sedikit terkejut mendengar pertanyaan Azam.


"Aku bukannya menutupinya, tapi aku pikir, itu sudah masa lalu, aku masih jahiliyah, hihihi, dan itu bukan lagi sesuatu yang penting dalam hidupku, dan terkadang aku lupa kami pernah ada ikatan, aku anggap dia dulu teman kuliah gitu aja," ucap Ammar mencoba menjelaskan dengan baik, takut kalau Azam salah paham dan marah.


"Iya, Silvi juga bilang gitu, sudahlah, yang penting sekarang kita sudah bahagia dengan keluarga masing-masing," sahut Azam sambil tersenyum. Ammar membuang napas lega mendengar sahutan Azam. Azam adalah salah satu sahabat Ammar selain Hendra dan Beny. Meskipun Azam hanya selisih dua tahun lebih tua dari Ammar tapi dia sangat dewasa, buktinya dia baru sekarang menanyakan hal itu dan itupun tidak dengan marah kepadanya.


Azam sekilas memandang Silvira sedang membantu Arum menjaga tiga bayinya bermain, dia tersenyum lebar mengingat dalam hitubgan bulan dia akan menjadi ayah seutuhnya juga.


"Habis mandang Silvi senyum-senyum, secinta itukah kamu padanya..." goda Ammar yang dari tadi memperhatikannya.


Azam menjawabnya dengan senyum lebar juga kepada Ammar.


"Hmm, iya aku sangat mencintainya, dan alhamdulilllah Mar, dia sedang mengandung anakku sekarang," ucap Azam dengan mata berbinar.


"Hah? Apa? Waw.. Ma syaa Allah, luar biasa Zam, setelah sekian lama menunggu, akhirnya..." ucap Ammar.


"Iya, sekian lama, baru kamu yang tahu Mar, aku belum sempat kabarin ayah ibu," sahut Azam.


"Iyakah??"


"Heem, yuk kita jalan lagi, dingin lama-lama diam terus dalam air," ucap Azam dan segera meluncur untuk berenang lagi disusul Ammar.


Di suasana yang sangat bahagia dan ceria itu, qodarullah hujan turun tiba-tiba..


Silvira, Arum, dan Rani sang pengasuh segera menggendong masing-masing satu bayi. Azam dan Ammar menggandeng anak-anak, sedangkan bu Wati mengemasi makanan yang ada di luar lalu membawanya ke dalam.


Mereka berkumpul di teras belakang dapur. Azam dan Ammar segera memakai handuk kimono menutupi dada mereka yang terbuka. Silvira membawa Arum beserta bayi-bayinya di ruang keluarga mereka yang baru, kemudian kembali lagi ke belakang untuk membantu Azam membilas anak-anak.


"Sudah Beib, biar aku aja, kamu bawa Hanna ke dalam saja," ucap Azam. Silvira tersenyum lewat matanya dan mengangguk. Kemudian membawa Hanna kepada Arum yang bersama adik-adiknya.


Setelah selesai bilasan dan berganti baju, keempat anak cowok itu menyusul ke ruang keluarga.


"Kamu mandi di sini ya Mar, aku ke atas aja," ucap Azam. Ammar mengiyakan sang tuan rumah. Kemudian Azam berjalan ke atas menuju kamarnya. Melihat Azam yang menuju kamarnya, Silvira segera berdiri.


"Bentar Mba, sepertinya Mas Azam mau mandi itu, aku tinggal siapin bajunya dulu ya," pamit Silvira pada Arum.

__ADS_1


"Iya," sahut Arum sambil tersenyum melihat Silvira yang segera mengejar Azam ke dalam kamar.


Silvira memasuki kamarnya, terdengar bunyi shower dari dalam kamar mandi, pertanda suaminya sedang mandi. Dia kemudian segera menyiapkan pakaian untuk suaminya. Lalu duduk di tepi ranjangnya. Ponsel Azam bergetar di atas nakas, rupanya ada pesan masuk, terlihat sekilas dia baca... Dari Disha, isinya ada kata-kata "Makasih Mas". Pesan itu berhasil membuatnya curiga dan merasa cemburu.


Pintu kamar mandi terbuka, Azam keluar dan berganti pakaian dengan apa yang disiapkan Silvira. Silvira berdiri dan memeluk suaminya yang masih setengah jalan berpakaian itu.


Azam tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Dia membenarkan resleting sirwalnya dan membalas pelukan Silvira.


"Kenapa sayang, my baby honey.." ucap Azam.


Silvira menggeleng dan menenggelamkan kepalanya ke dada Azam yang masih belum tertutup baju.


"Pengen aja, si bayi pengen dipeluk abatinya setiap waktu," sahut Silvi.


"Modus, bayinya apa Ummanya nih," goda Azam.


"Tahu aja.. Mas,"


"Hmm.."


"Jangan tinggalin aku ya," ucap Silvira kemudian.


"Banyak banget yang naksir suami aku, aku takut kalau dia melirik wanita lain yang lebih cantik,"


"Mana ada yang seperti itu, mas bilang ya, di mata mas cuma kamu segalanya, aku cuma milikmu Beib,, jangan khawatir lagi ya," ucap Azam. Silvira hanya mengangguk, kemudian mengusap kedua pipi Azam.


"Turun yuk, gak enak kan ada tamu masa dibiarin,"


"Baik Mas, pake baju dulu tapi, aku turun duluan ya," ucap Silvira dengan berat hati melepas pelukannya, dan segera turun ke bawah menemui Arum dan anak-anaknya, dan ternyata Ammar juga sudah di sana.


Ketiga bayi Arum terlelap di karpet yang sudah dialasi kasur busa.


"Mba Silvi, makan siangnya sudah siap," ucap Bu Wati.


"Oh iya.. Mba makan dulu yuk, yuk Mar makan dulu dah disiapin bu Wati," ajak Silvira.

__ADS_1


"Itu bayi-bayinya biar saya tungguin," ucap bu Wati.


"Iya, bu Arum, biar saya juga jagain mereka, toh lagi bobok," sahut Rani pengasuhnya.


"Sebentar Sil, nungguin Azam," ucap Ammar.


"Bentar lagi pasti turun mas Azam,"


Mereka akhirnya menuju meja makan bersama si kembar, Salman, Rayhan, dan Hanna. Tak lama kemudian Azam turun dan menyusul mereka ke meja makan.


"Kok masih anteng, kurang suka ya menunya?" tanya Azam yang melihat Ammar dan Arum masih belum menyentuh makanan itu.


"Nunggu tuan rumah bro," sahut Ammar. Mereka akhirnya makan siang sambil berbincang.


"Ayuk lah kapan-kapan kita ke rumahku, itu anak-anak pasti senang main di kebun apel, ntar nginap di villa ayah," ucap Azam.


"Iya, pasti seru ajak Hendra dan Beny juga biar tambah rame," sahut Ammar.


"Iya, besok coba kita bicarakan di kantor,"


"Mba, ma syaa Allah enak banget ayam goreng lengkuasnya, masak sendiri?" tanya Arum pada Silvira.


"Hmm, ya jelaslah bu Wati, aku ga bisa masak Mba," sahut Silvira. Semua jadi terkekeh.


"Dia bisanya masak makananku aja yang simpel, kalau makanan yang rumit dan banyak bumbu seperti ini, dia nyerah katanya," sahut Azam membela istrinya walaupun Arum dan Ammar tidak menghinanya.


"Emang makanan Mas Azam seperti apa?" tanya Arum penasaran.


"Azam tuh kaya Londo Dik, jarang makan nasi, sayur asem apalagi pepes, dia tuh makannya kentang, stik," goda Ammar.


"Siapa bilang, nih buktinya aku makan nasi sama sambel, pake tangan lagi," Azam membela diri.


"Hehehehe iya iya bro, canda, tapi bener, Azam itu makanannya dijaga, makan makanan sehat, kurangi, gula, garam, pokoknya sehat lah," sahut Ammar yang juga salut dengan sahabatnya itu.


"Hmm, padahal menurutku, masak seperti itu susah, dan kalau gak terbiasa makan, bisa gak doyan," ucap Arum.

__ADS_1


"Bener Mba, aku dulu juga ga doyan, lama-lama suka, dan belajar masakin Mas Azam, terus sekali-sekali kalau kangen masakan berbumbu banyak, aku minta bu Wati yang buatin," Sahut Silvira.


Kebahagiaan sangat terasa di rumah itu, sudah tidak ada lagi, marah atau cemburu, yang ada saling mengerti satu sama lain.


__ADS_2